Sudah beberapa lama saya kembali ke Jepara, namun baru sekarang sempat menulis kembali. Sepulang dari Jepara saya harus berbenah rumah dan mencuci banyak sekali pakaian dan lain-lain. Setidaknya 2 hari saya melakukannya. Juga menata kembali beberapa benda yang terpaksa saya jejalkan ke kamar karena tak mau spekulasi, seperti komputer. Meninggalkan rumah 2 minggu dan ada 5 anak-anak serta 4 orang dewasa yang tak mengenal komputer akan merepotkan jika ada anak yang menghidupkan karena penasaran. Capek? Lumayan. Apalagi 2 anak (keponakan) cantikku berlibur di Jepara. So.. lebih sibuk lagi.

Senin 24 Desember lalu termasuk hari istimewa bagi kami. Setelah agak lama di Purwokerto dan hanya di rumah saja, hari itu kami mengambil satu hari off. Istilah ini lebih tepat untuk suami yang harus membantu menjadi tangan-kaki bagi Bapak Mertua yang sakit. Kami berangkat pagi dan menuju Cikakak - Wangon. Saya memang ingin mengajak anak-anak melihat kera-kera jinak di area sekitar Masjid Saka Tunggal Cikakak. Meski cukup sering berlibur ke Wangon - Purwokerto, tetapi baru 2 kali ini saya ke sini. Kebetulan sekali berbarengan dengan anak-anak SD, jadi lebih relaks. Menurut info sekitar, kera-kera ini sering merebut barang kita jika tak diberi makan. Kehadiran puluhan siswa SD ini agak melegakan karena jumlah pemberi makan berlipat. :D

Awalnya Destin dan Binbin ragu mendekat. Tetapi lama kelamaan biasa saja meski tak mau mendekat. Mereka malah lebih tertarik pada alian air sungai yang sangat bening dan jatuh seperti air terjun mini. Hmm... rasanya ingin mandi. Di Cikakak juga ada sebuah masjid tua. Diklaim sebagai masjid tertua di Indonesia karena didirikan 1288 masehi. 2 abad sebelum masa Walisongo. Next time akan saya share secara khusus sejarah Masjid Saka Tunggal Cikakak.


Dari Cikakak kami silaturarrahmi ke rumah teman di Karang Tengah - Aji Barang. Cukup jauh namun terbayar lunas oleh pemandangan indah menuju Curug. Apalagi rumah teman ini sangat luar biasa. Saya benar-benar iri dengan keberuntungannya. Ya! SAYA IRI. Bukan karena kemewahan rumah atau kekayaannnya karena sejatinya rumahnya juga kecil sederhana. Rumahnya di desa, jauh dari tetangga. Tetapi di depan rumahnya terdapat hamparan sawah hijau. Air mengalir dari manapun. menurut info teman, sawah di depannya bisa panen 3xpertahun dan selalu dijual secara ijon. Saya takjub pada "selokan" di depan rumah yang sangat bening dan dialirkan langsung ke rumah karena berasal dari air terjun/curug. Memandang sawah dan diiringi musik air jatuh. Puluhan belalang beterbangan. Rasanya seperti berapa di taman dengan 7 curug (air terjun). Saya lebih takjub dan iri ketika melihat buah dan sayur berukuran lebih besar dari biasanya karena kesuburan tanahnya. LUAR BIASA.


Teman yang kami kunjungi ini mempunyai PokJa sapi perah. Tak heran jika jumlah pupuk melimpah. Tak pernah saya melihat buah Markisa selebat dan sebesar itu ukurannya. Saya juga takjub ketika menyimak pohon kapri dan melihat rimbunnya sayur ini. Sungguh. Tanpa ragu atau malu saya mengatakan, SAYA IRI PADANYA. Sudah sejak lama saya mengidamkan menjadi petani namun belum bisa membeli sebidang tanah atau lahan sawah. Aarrrgghh..... Do'akan saya... do'akan saya...