Wonderful Wife ala Susindra: 3 Kriteria Istri SAMARA untuk Keluarga Bahagia


Tahun ini adalah tahun kesepuluh pernikahan Susindra. Tepatnya, pada 11 Februari sepuluh tahun yang lalu, kami menikah dan secara resmi mengibarkan bendera SUSINDRA. Usia pernikahan yang cukup lama, tetapi tentu bukan tanpa aral. Sepuluh tahun juga sebenarnya masih singkat jika mengingat salah satu cita-cita pasangan suami istri adalah hidup bersama SELAMANYA. Saya ulang sekali lagi kata SELAMANYA dengan huruf kapital dan tebal. :)

Wonderful Wife ala Susindra 3 Kriteria Istri SAMARA untuk Keluarga Bahagia



Sepuluh tahun menikah bukan berarti hubungan suami istri sudah mapan dan aman dari segala ujian. Hati manusia mudah berubah. Banyak pernikahan yang akhirnya kandas karena kedua belah pihak tak mampu menjaga komitmen yang telah dibangun bersama.

Saya pernah menemani saudari dekat saya yang menggugat cerai atau rapak. Dari pengalaman itu, saya tahu bahwa persoalan komunikasi dan kurangnya nafkah dari suami menjadi masalah serius dalam rumah tangga. Bukan alasan yang mengada-ada, tentu saja. Namun, saya juga berpikir, banyak persoalan rumah tangga yang mungkin bisa dihadapi dengan lebih baik seandainya kedua belah pihak senantiasa mengingat makna SAMARA.

Kita tentu akrab dengan doa, "Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah." Doa yang selalu diucapkan untuk pasangan pengantin baru ini bukan ucapan kosong. Bukan pula sekadar doa standar yang diucapkan karena sudah menjadi kebiasaan. Sebenarnya, doa tersebut juga merupakan pengingat bagi siapa pun yang mengucapkannya.

Ketika mendengar kabar bahagia pernikahan seorang rekan, kita tak lupa mendoakan semoga mereka menjadi keluarga SAMARA. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa SAMARA juga merupakan kunci bagi pernikahan kita sendiri. Sebuah kunci yang mudah kita ucapkan, tetapi terkadang lupa kita gunakan untuk membuka dan menjaga keharmonisan rumah tangga sendiri.


Belajar Menjaga Rumah Tangga agar Tetap SAMARA

Selama sepuluh tahun menikah, saya menemui banyak ujian, baik ujian berupa kenikmatan maupun kesengsaraan yang mendewasakan. Pada awal pernikahan, kehidupan kami sangat-sangat memprihatinkan. Konsep makan sepiring berdua sehari dua kali benar-benar kami jalani. Beberapa bulan berikutnya, kami justru diuji dengan kelimpahan pendapatan hingga sempat lupa diri.



Pada tahun-tahun selanjutnya, kami mendapat ujian nikmat berupa keturunan yang tampan dan ceria. Tahun demi tahun, ujian nikmat dan sengsara terus bergantian untuk mendewasakan kami berdua. Bahkan, ujian berupa pertengkaran suami istri pun bisa datang kapan saja.

Akhirnya, kami sepakat membuat banyak rambu-rambu dan ranjau pengingat. Kami tak ingin lupa diri ketika diuji oleh Sang Maha Pencipta, baik melalui kesulitan maupun kesenangan. Ada banyak penyesuaian yang kami tetapkan bersama dan harus saling kami ingatkan. Semua itu kami lakukan demi mewujudkan keluarga SAMARA, sebuah pondasi penting bagi pasangan suami istri yang ingin menjaga kelanggengan rumah tangganya.

SAMARA sering diucapkan, tetapi terkadang lupa diterapkan.


Apa Itu Wonderful Wife? Menjadi Istri yang SAMARA

Mbak Ida Nur Laila pernah ingin mendapatkan masukan tentang tiga kriteria wonderful wife dan tips untuk mewujudkannya. Saya ingin ikut urun rembug, meskipun pengalaman berumah tangga saya mungkin belum sebanyak dan sehebat pengalaman Mbak Ida.



Menurut saya, kriteria wonderful wife adalah wanita yang menjadikan SAMARA sebagai kunci rumah tangganya. Wonderful wife adalah wanita SAMARA.

Lalu, apa sebenarnya arti SAMARA? SAMARA merupakan singkatan dari sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ketiganya menggambarkan ketenangan, cinta, dan kasih sayang yang diharapkan tumbuh dalam sebuah keluarga. Jadi, bagi saya, wonderful wife adalah wanita yang berhati tenang, penuh cinta, dan memiliki kasih sayang. Berikut tiga kriteria istri SAMARA yang menurut saya penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.


1. Wanita Sakinah: Istri yang Tenang dan Pandai Bersyukur

Wanita sakinah adalah wanita yang tenang dan tenteram. Ketenangan ini tak selalu bermuara pada materi atau kesejahteraan yang berlimpah. Sakinah lebih mengarah pada kemampuan mensyukuri dan mencukupkan rezeki yang diberikan Allah.

"Alhamdulillah, cukup makan, cukup tidur, cukup sehat, cukup... cukup... cukup..."

Ketika kita mampu merasa cukup atas apa yang dimiliki, lalu bersedia berbagi kelebihan dengan orang lain, hidup terasa lebih tenteram. Bukan berarti kita berhenti berusaha menjadi lebih baik, melainkan belajar bersyukur tanpa terus-menerus merasa kekurangan.

Wanita sakinah memahami bahwa hidupnya adalah berkah dari Allah yang patut disyukuri. Ia berusaha menghadirkan kebaikan dan ketenteraman bagi keluarganya. Sakinah juga berarti tahu cara menjaga diri dan cinta. Ia pandai merawat dirinya, bersolek untuk suami, dan menciptakan suasana nyaman di rumah. Ketika ada anggota keluarga yang bosan atau bersedih, ia berusaha menghadirkan keceriaan.

Bagi saya, rumah yang nyaman bukan semata-mata rumah yang bagus dan penuh barang mahal. Rumah yang nyaman adalah tempat setiap anggota keluarga bisa pulang, beristirahat, bercerita, dan merasa diterima. Bukankah menyenangkan jika rumah menjadi tempat yang selalu dirindukan?


2. Wanita Mawaddah: Istri yang Pandai Menjaga Nyala Cinta

Wanita mawaddah adalah wanita yang penuh cinta kepada pasangan dan keluarganya. Mawaddah sering dimaknai sebagai cinta yang mendalam dan menggebu-gebu. Ada kehangatan, ketertarikan, dan keinginan untuk terus dekat dengan pasangan. Dalam kehidupan rumah tangga, cinta seperti ini perlu dirawat agar tidak padam ditelan rutinitas.

Menurut saya, wanita mawaddah adalah wanita yang berusaha menjaga nyala api cintanya. Ia tetap ingin membuat suami tertarik kepadanya, sebagaimana ia pun ingin terus merasa dicintai oleh suaminya.

Percaya atau tidak, ketika cinta dan ketertarikan sudah terbangun dengan baik, seorang suami bisa melihat istrinya sebagai wanita yang istimewa dalam berbagai keadaan. Bukan semata-mata karena bentuk tubuh atau penampilan fisik, melainkan karena kedekatan dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Nah, para wanita, berbahagialah menjadi istri dan jagalah bara cinta itu!

Jadilah istri yang pandai bersolek untuk suami. Jangan sampai kita awut-awutan di rumah, tetapi tampil cantik dan penuh perhatian ketika berada di luar rumah. :D

Tentu saja, menjaga cinta bukan hanya soal penampilan. Komunikasi, perhatian kecil, waktu bersama, dan kesediaan mendengarkan pasangan juga menjadi bagian penting dalam merawat hubungan.

Sebab, cinta yang langgeng bukan cinta yang dibiarkan tumbuh sendiri, melainkan cinta yang terus dipelihara oleh dua orang yang sama-sama ingin mempertahankannya.


3. Wanita Rahmah: Istri yang Mengasihi dan Mampu Memaafkan

Wanita rahmah adalah wanita yang mengasihi. Rahmah berkaitan dengan kasih sayang, belas kasih, rahmat, dan kebaikan yang diberikan kepada orang lain. Jika mawaddah menggambarkan cinta yang menggebu, rahmah menghadirkan kelembutan sebagai penyeimbangnya. Cinta bukan hanya tentang rasa berbunga-bunga, tetapi juga tentang kesediaan memahami, merawat, dan menerima pasangan dalam berbagai keadaan.

Wanita rahmah tahu cara mengasihi dan memaafkan kesalahan pasangannya. Ia memahami bahwa tidak ada pasangan yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Kekurangan suami bisa menjadi ruang bagi istri untuk melengkapi, begitu pula sebaliknya. Bukan berarti kita harus membenarkan semua kesalahan pasangan atau memendam masalah sendirian. Namun, kita belajar melihat pernikahan sebagai perjalanan dua orang yang terus berusaha menjadi lebih baik. Cinta adalah salah satu hal yang mempersatukan keduanya.

Rahmah juga berarti menjaga komitmen yang telah disepakati bersama. Dalam rumah tangga, suami dan istri perlu menjalankan tanggung jawab masing-masing, saling menghormati, dan menjaga kepercayaan. Suami bertanggung jawab memberikan nafkah yang halal, sedangkan istri juga memiliki peran dalam membangun suasana keluarga yang penuh kebaikan. Keduanya perlu saling mendukung agar rumah tangga menjadi tempat tumbuhnya keberkahan bagi suami, istri, dan anak-anak.

Bagi saya, wanita rahmah bukan wanita yang selalu mengalah tanpa batas. Ia adalah wanita yang mengedepankan kasih sayang, tetapi tetap memahami pentingnya tanggung jawab, komunikasi, dan komitmen dalam pernikahan.


Tips Menjadi Wonderful Wife dan Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Dari ketiga kriteria istri SAMARA di atas, saya belajar bahwa keharmonisan rumah tangga tidak tercipta hanya karena cinta. Ada usaha, penyesuaian, dan kesediaan untuk terus belajar bersama. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk merawatnya adalah:

  1. Belajar bersyukur. Hargai hal-hal sederhana yang sudah dimiliki bersama, sambil tetap berusaha memperbaiki kehidupan keluarga.
  2. Menjaga komunikasi. Sampaikan perasaan dan kebutuhan dengan baik. Jangan berharap pasangan selalu bisa memahami sesuatu yang tidak pernah kita ceritakan.
  3. Merawat cinta. Luangkan waktu untuk pasangan, berikan perhatian kecil, dan jangan berhenti menunjukkan bahwa ia masih menjadi orang yang istimewa.
  4. Belajar memaafkan. Setiap orang memiliki kekurangan. Hadapi persoalan dengan kepala dingin dan cari jalan keluar bersama.
  5. Menjaga komitmen. Ingat kembali tujuan pernikahan dan kesepakatan yang telah dibangun, terutama ketika menghadapi ujian.
  6. Saling mengingatkan. Jangan merasa hanya satu pihak yang bertanggung jawab menjaga rumah tangga. Pernikahan adalah perjalanan bersama.

Tentu saja, setiap keluarga memiliki tantangan yang berbeda. Tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan bersabar atau saling memaafkan. Persoalan yang serius membutuhkan komunikasi yang sehat, tanggung jawab nyata, dan bantuan yang tepat jika diperlukan.

Bagi saya dan suami, rambu-rambu pengingat yang kami buat bersama membantu kami agar tidak mudah lupa diri ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.


Wonderful Wife ala Susindra: Sederhana, tetapi Bermakna

Begitulah kriteria dan tips menjadi wonderful wife menurut saya. Mungkin terdengar sederhana dan klise, tetapi itulah salah satu hal yang menjadi pemersatu cinta Susindra. SAMARA menjadi pondasi rumah tangga kami agar tidak mudah roboh ketika diguncang persoalan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar keluarga.




Sepuluh tahun pernikahan mengajarkan saya bahwa menjadi istri yang baik bukan berarti harus selalu sempurna. Menjadi wonderful wife berarti terus belajar menjadi wanita yang menenangkan, mencintai, dan mengasihi, sambil tetap bertumbuh bersama pasangan.

Semoga keluarga kita senantiasa diberi ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Semoga kita tak hanya pandai mendoakan keluarga SAMARA bagi pasangan pengantin baru, tetapi juga mampu menerapkannya dalam rumah tangga sendiri.

Semoga bermanfaat.


Sedikit Masukan untuk Blog Mbak Ida Nur Laila

Hampir lupa dengan permintaan sohibul hajat tentang masukan untuk keindahan blognya. Terima kasih kepada Mbak Ayunda Slamet yang sudah mengingatkan.

Saya penganut paham, "Sederhana itu indah, navigasi blog itu bonus."

Blog Mbak Ida termasuk sederhana dan memiliki navigasi yang lengkap. Jika pengunjung tertarik membaca tulisan lain, sudah tersedia label, arsip blog berdasarkan bulan, dan popular post. Template yang didominasi warna putih juga memberikan kesan bersih. Kurang lebih sama dengan blog saya yang dominan putih-biru.

Jika ada yang perlu dipindah, menurut saya, laman atau page yang memanjang di sidebar akan terlihat lebih elok jika dipindahkan ke bagian atas blog. Dua banner grup, KEB dan WB, juga mungkin lebih nyaman jika ditempatkan di pojok seperti di blog saya.

Cara memasangnya pun cukup mudah. Coba buka bengkel blognya Uncle Lozz Akbar. Tinggal menyalin dan menempelkan skripnya saja. Mudah, kan?

Saran kedua berkaitan dengan kewajiban memberikan tautan pada semua kata wonderful wife. Mohon maaf jika saya hanya memasang tautan pada dua kata saja.

Setahu saya yang masih awam ini, terlalu banyak tautan, apalagi menuju halaman yang sama, dalam satu artikel belum tentu memberikan manfaat SEO tambahan. Saya juga pernah memperhatikan bahwa ketika menulis artikel ulasan atau review, syarat penulisan sering kali hanya meminta satu tautan.

CMIIW (correct me if I'm wrong). Saya masih sangat awam dan baru kembali dari hiatus yang cukup lama, jadi mungkin pengetahuan saya perlu diperbarui lagi.

Namanya juga terus belajar, ya. :)

19 Komentar

  1. Terima kasih pencerahannya, Mbak... Ternyata samara juga bagian dari karakter wonderful wife itu sendiri agar bisa mewujudkan rumahtangga samara pula ya. *Pelajaran baru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak, terima kasih sudah berkenan membacanya. semoga bermanfaat. :)

      Hapus
  2. wah kriteria yang bagus banget..
    "Kelebihan suami adalah kekurangan istri, dan kelebihan istri adalah kekurangan suami.." setuju saling melengkapi,,
    mab ada yang kurang, kritik saran buat blognya mba Ida Nurlaila kok gak ada? ayo mba direvisi.. mumpung belum DL

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya mbak sudah diingetin.
      maturnuwun.

      Hapus
  3. Ika nyimak dan belajar ya Mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan mak.
      Saya hanya mampu menulis yang sederhana saja. Semoga yang sederhana ini bermanfaat

      Hapus
  4. whaa saya jadi terharu, ternyata menjadi seorang istri tidak mudah. Saya harus memperbaiki diri supaya istri menjadi pendamping yang sempurna

    BalasHapus
    Balasan
    1. :)
      Tak mudah pula menjadi suami, bang mandor.
      xixixi.. makasih ya

      Hapus
  5. sepuluh tahun sudah
    semoga senantiasa bahagia
    dalam rahmat dan ridha Allah Ta'ala

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah..
    Akhirnya bisa ngontes lagi..
    Semoga ketiga tipe ini ada pada bidadari kecil saya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alhamdulillah. tak berani janji muluk-muluk, cukuplah ada waktu membaca dan menulis kembali beberapa hari sekali. Mencukupkan saja.

      Hapus
  7. ikut nyimak dulu karena belum berkeluarga

    BalasHapus
  8. Sebenarnya itu adalah penggingat bagi pengucapnya ...

    Ini benar sekali ...
    Banyak kita lupa ... apa yang kita ucapkan dan doakan kepada orang itu ... hendaknya kita sendiri melakukannya

    salam saya Mbak Sus

    (11/3 : 9)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak, saya juga sering lupa loh. beruntung menulis ini, jadi ingat dan paham.

      Hapus
  9. makasih ya mak susi...jejaknya mepet nih

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)