Suasana desa yang asri adalah dambaan saya selalu. Kerinduan yang tidak bisa saya cecap kecuali bersilaturrahmi ke rumah keluarga di desa dalam waktu yang lama. Karenanya, setiap kali saya menginap di desa, saya selalu menyempatkan waktu berjalan-jalan dan mengabadikan momen menarik bagi saya sambil mengenang sesuatu yang terlintas ketika melihatnya. Saya berandai-andai.... saya berharap.... satu atau dua tahun lagi saya bisa berbangga diri menyebut diri saya sebagai orang desa. 
Suasana asri desa - susindra


Bagi sebagian teman, tentu berfikir, “sok atuh... pindah ke desa saja.” Wajar... karena hidup itu pilihan dan ada banyak cara untuk mewujudkannya. Tentu saja, saya tak hendak menjawab beberapa kendala dan pengikat saya terhadap rumah yang saya tinggali sekarang. Tapi harapan saya yang terbesar, sebelum 5 tahun dari sekarang, saya bisa memiliki sebuah rumah idaman di desa. Sebuah rumah kecil berkamar 2 dengan pekarangan yang cukup luas untuk menanam bunga, buah dan sayur favorit saya. Sebuah sungai kecil berada di sebelah rumah akan menambah kesempurnaan rumah idaman saya. Apalagi jika di sebelah sungan ada deretan sawah membentang.... Subhanallah.... itu adalah surga dunia saya. 

Kembali ke cerita sekarang ini. Sudah satu minggu ini saya dan keluarga berlibur di rumah neneknya anak-anak dari pihak suami. Kebetulan rumahnya tidak terlalu di desa karena dekat kecamatan Wangon, tetapi suasana pedesaan masih sangat terasa. Mungkin karena dekat dengan gunung Slamet ya... sehingga sungai-sungai kecil berkelok-kelok dan bercabang di sana-sini. Meski rumah modern sudah banyak, tetapi keasrian desa masih sangat terjaga. Bahkan cara bergaul ala desa yang saling sapa dan saling bincang ketika bertemu di jalan pun masih selalu saya temui. Suasana nyaman dan selalu saya rindukan ini sangat sulit saya temui di desa asal ibu di Jepara yang sudah mulai tergerus roda industri mebel. Jika tak ada komplain dan peraturan ketat, saya yakin 7x20 jam deru mesin gergaji kayu tetap berbunyi. Yah... warga sepakat melarang lembur produksi mebel dalam bentuk apapun di malam jum’at karena ada banyak kumpulan bapak-bapak yang wajib diikuti.Pola pergaulan di desa ini pun sudah berbeda sekali. Semua ingin serba praktis, serba cepat, dan komunikasi lebih banyak saling sindir bahkan dalam pujian sekalipun. Berbeda jauh dengan suasana di desa mertua saya ini. Makanya, jangan heran jika 2 tahun ini saya aktif membujuk suami agar kembali ke kampung halamannya. Pendapatan kami dari kegiatan online sudah bisa mengcover kehidupan sederhana yang kami pilih. Semoga ia semakin yakin pulkam dan kami bisa hidup lebih damai. Aamiin. 
jalan di desa
Suasana desa yang kusuka. Saya akan nyaman melepas anak bersepeda di sini

Selama seminggu di rumah mertua, saya tak banyak keluar rumah kecuali ke rumah saudara dan kerabat suami. Kadang jalan kaki, lebih sering naik sepeda motor. Saya asyik membuat kreasi pita di sana karena ada pesanan. Juga, karena saya tidak sempat menyiapkan oleh-oleh berupa kreasi pita karena alhamdulillah kreasi saya jarang masuk stok. Karena mengejar biaya pulkam, kami ngebut menerima pesanan sehingga ketika berliburpun kami membawa alat dan bahan craft. Destin dan Binbin yang paling bahagia, kesana kemari, jalan-jalan, wisata kuliner bersama tantenya. Saya dan suami senang melihat mereka menikmati benar liburan kali ini. Meski tak banyak keluar, banyak memori indah yang saya abadikan dengan foto dan cerita.

pohon kelengkeng
Pekarangan impian
kolam ikan di samping rumah
kolam ikan kecil dengan sayur dalam pot

bermain di sawah
Anak bebas bermain di galengan sawah

Daun katuk
Pagar hidup untuk sayuran

daun kenikir
Daun bunga pun bisa disayur


sayur pohon kelapa
pohon kelapa bisa disayur

oyek - nasi singkong
Oyek - nasi dari singkong

rebung
Ambil rebung di pekarangan tetangga, tinggal ambil loh - setelah ijin

Oseng sayur lompong dengan tambahan dages
Oseng sayur lompong dengan tambahan dages

Makan siang anak, nasi merah dan nugget - diam-diam pinjam HP emaknya, hihi
Semoga teman-teman bisa menikmati cerita saya kali ini. Melalui memori yang saya abadikan di foto ini, saya ingin bercerita banyak. Tentang sukacita hati saya, tentang harapan saya, dan tentang apa yang saya nikmati selama di sini. Saat ini, kami bersiap pulang ke Jepara. Tapi... hati saya masih betah di sini. Padahal kan 2 hari lagi anak-anak harus sekolah ya...
Oh iya, sebelum saya mengakhiri cerita saya, saya mau bagi resep memasak sayur lompong nih. Siapa tahu teman-teman ada yang berminat. Tahukan sayur lompong itu apa? Itu loh... sayur daun talas. Katanya sih, sayur ini gatal. Sebenarnya kalau tahu caranya, ternyata tidak gatal loh. Rahasianya.. daun pohon talas harus sering dipotong sejak kecil. jadi kalau menemukan pohon talas yang gemuk daunnya, jangan langsung dimasak.... potong dulu daunnya beberapa hari sekali. Daun-daun yang tumbuh selanjutnya tidak akan membuat gatal dan siap dimasak kapan saja. Tak perlu diinapkan semalaman. Ambil di pagi hari dan langsung dimasak seperti biasa.
batang lompong
batang lompong/daun talas untuk sarapan
Resep sayur lompong sederhana:
Sayur lompong secukupnya (kira-kira cukup sepanci wajan di rumah saja)
Bawang merah
Bawang putih
Cabe
Dages/tempe gembos/tambahan lain yang disukai
(Semua takaran dan irisan sesuai selera dan kebiasaan memasak. )

Cara memasak:
Tumis  bumbu dasarnya sampai harum
Masukkan lompong dan tambahan yang dipilih bergantian
Aduk rata dan masak sampai matang
resep tumis daun talas

Resep sayur lompong yang sangat praktis kan? InsyaAllah tidak gatal. Rasanya? Sangat sedaaap....

Oh iya, sudah baca cerita saya tentang sayur batang kelapa saya kemarin? Jika belum, silahkan membaca posting saya sebelumnya, Memasak batang pohon kelapa. Silahkan membaca di sana untuk mengetahui kuliner unik yang ternyata ada di tiap walimah suku-suku sasak dan melayu. Saya sendiri masih terkesan dan terkejut mengetahui fakta itu.