Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah kalender lama yang menarik perhatian saya. Saya tak memfoto kalender tersebut karena sedang tidak membawa HP berkamera. Menyesal? Tidak. Karena kalender itu memberi saya obsesi baru yaitu melihat kota Jepara di waktu lalu. Obsesi tersebut berkembang dengan keinginan mencari buku-buku yang berisi Jepara Tempo Dulu. Atau lebih keren jika ditulis Jepara Tempo Doeloe. Hah.. maafkan jika ada salah kata.

Sungguh sangat disayangkan karena berita dan foto Jepara tempo doeloe tersebut lebih banyak saya temukan di posting blog non Jepara. Kemudian saya menenukan twitter @VisitJepara yang isinya... random. Apa saja ditwit meski bukan berita Jepara. Menyusuri ribuan Twit tak mudah dan saya pun menyerah demi waktu yang tak banyak tersisa. Untuk bukunya? Saya masih harus lebih banyak bersabar karena waktu baca-tulis saya tak banyak.
Saya memiliki hari-hari sibuk mendulang rupiah dari membuat bunga flanel dan pita yang terkadang sangat menyita waktu. Tapi, tanpa mengandaskan keinginan mengenal kota tempat tinggalnya dulu, saya tetap menyempatkan waktu mencari buku di perpustakaan setiap hari Sabtu selama 30 menit. What? 30 menit? Ya... baru itu alokasi yang dapat saya berikan. Dan jangan mencela saya karena bisa membuat saya frustasi. Hahahahaha.... becanda je.... Saya ingin pensiun dari tugas menjadi pembuat bunga tetapi profesi itu memberi saya tantangan dan sensasi lain. Walhasil, setelah 3 bulan berhenti, saya keranjingan membuat bunga hingga kewalahan. dan saat ini saya lagi-lagi kebanjiran order. Mimpi menjadi penulis harus saya geser sedikit jadwalnya.
Tourner au mouton, kembali ke alinea sebelumnya...
Karena baru foto dan keterangan singkat tentang Jepara Tempoe Doeloe yang dapat saya sajikan, monggo, silakan dinikmati. Siapa tahu memberi inspirasi baru bagi Sahabat Susindra yang membaca.

 
Add caption
 Sekelompok murid berjalan kaki di jalan Mangunsarkoro Jepara tempo dulu memberi saya gambaran dramatis, seperti itulah situasi jalan yang sekarang lebih dikenal karena ada SD 1 Jepara di situ.

 Kantor Polres Jepara Tempo Dulu
 Pos Polisi Gotri (Kalinyamatan) Jepara Tempo Dulu
 Kawasan Dagang Diponegoro atau warga Jepara menyebutnya Pecinan.
 BRI Jepara di unit desa diawali dengan sebuah gubug sederhana. Menarik.
 Tugu Pengkol Jepara. Tugu ini dapat ditemukan di dekat SMP 6 Jepara. Tentu saja bentuknya sudah lain sekarang. Oh ya, sekarang bernama Tugu Pemuda Jepara
 Seperti inilah Alun-alun kota Jepara Tempo Dulu. Tugu yang terlihat itu sekarang sudah sangat berbeda. Oh iya, sekarang bernama Tugu Pancasila.

Tugu PKK Jepara. Saya belum berhasil menemukan lokasinya dimana. Harus saya cari dulu sambil jalan-jalan sore.
Lembaga Pemasyarakatan Jepara Tempo Dulu. Ternyata bentuk gerbangnya tidak berubah sampai sekarang.
 Pegawai Negeri pulang kerja.
Para wanita mendengarkan sambutan RA Kartini.

Meski baru tahap jelajah foto, saya tersesat di banyak posting tentang Jepara Tempo Doeloe. Semangat saya mengenal Jepara tempo dulu lebih terpompa. Apalagi ketika saya tersesat di situs Magelang Tempoe Doeloe yang mengabarkan gaya hidup masa pra kemerdekaan yang sangat menarik minat saya. Digabung dengan minat saya pada karya NH Dini dan mbak Irma Devita (setting pra kemerdekaan - 1948), akankah kelak bisa menjadi cerita karya Susindra? Saya harap terwujud harapan itu. Saya belum tahu kapan karena saya sadar betul riset dan waktu yang dibutuhkan sangat lama dan membutuhkan dana. Saya belum bisa menyediakan 2 modal utama itu karena masih bergelut dengan roda ekonomi dan tugas rumah tangga yang cukup menyita waktu diantara semua daftar aktivitas harian saya. Apakah berpengaruh? Menurut pengakuan para penulis sukses yang saya baca, mereka perlu waktu menyepi cukup lama untuk mencipta. Saya? Aduh... saya baru pergi 3 hari saja rumah sudah berantakan dan budget belanja 3x yang dapat saya anggarkan. Hahaha.... Itulah dilema pasutri yang hidup sendiri tanpa keluarga yang bisa menyokong waktu dan bantuan tangan. Ttsah.... curcol di posting lagi.