Rahasia Sukses Ibu Backpacker

Saya bukan backpacker yang mendedikasikan hidup untuk berpindah-pindah tempat dan menetapkan target mengunjungi destinasi wisata dalam kurun waktu tertentu. Saya hanya seorang ibu rumah tangga yang adakalanya menyicip kegiatan jalan-jalan beberapa hari menggunakan tas punggung praktis yang saya miliki. Pilihan hidup menjadi seorang istri dan ibu saya ambil karena itulah kodrat saya. Namun begitu, ketika ada kesempatan jalan-jalan, saya akan mengambilnya.

Sebagian kegiatan jalan-jalan saya adalah jalan-jalan gratis yang hanya membayar ongkos transportasi sampai lokasi. Sebagai blogger, saya sering mendapat kesempatan seperti itu. Saya menetapkan harus punya celengan me time yang bisa saya gunakan sesuai keinginan saya: beli baju, sandal, buku, atau jalan-jalan. Celengan me time ini hanya berkisar 10% dari pendapatan saya pribadi. Pelit? Menurut saya tidak. Sebagai seorang istri sekaligus ibu, saya harus pandai mengatur pengeluaran uang keluarga. Saya dan suami memang memakai sistem keuangan campur tanpa menghitung berapa besaran penghasilan masing-masing pasangan.


Asyiknya menjadi blogger adalah, ...tersedianya begitu banyak kesempatan untuk menjadi blogger reporter di kota tertentu. Biasanya, akomodasi di lokasi gratis. Saya yang biasa jalan-jalan hemat tentu saja merasa sangat terbantu. Sebuah tas punggung hitam dan sebuah tas kecil selalu menjadi teman seperjalanan saya. Karena saya sudah berkali-kali melakukannya dengan baik, saya membuat posting rahasia sukses ibu backpacker ini. Penasaran dengan tips saya?

Tips ibu backpacker:

  1. Buat daftar kebutuhan kita selama bepergian, kebutuhan keluarga yang kita tinggal di rumah serta bagaimana solusinya. Cari delegasi yang tepat menggantikan tugas domestik ibu rumah tangga sehingga liburan kita asyik, yang di rumah tetap nyaman. Sampaikan rencana perjalanan dan solusi yang kita siapkan agar suami dan anak setuju dengan rencana backpacking kita.
  2. Patuhi seluruh daftar ceklist yang kita buat sebelum berangkat. Salah satu ciri khas saya sebelum bepergian adalah memasak lauk dalam jumlah besar yang ditata di dalam almari es dan sampaikan instruksi makanan ini untuk berapa lama. Juga, sayur-sayur, buah, perlengkapan ngopi/ngeteh, serta camilan yang dibutuhkan. Karena sudah berkali-kali, suami saya sudah paham bagaimana mengelola isi lemari pendingin yang saya siapkan. Juga urusan baju dan yang lainnya.  
  3. Mengajak teman ketika backpacking akan menjadikan perjalanan kita menyenangkan. Tips ini harus saya akui sekali meskipun saya jarang mendapat kehormatan itu. Teman akan meringankan beban kita mulai dari membantu membawakan/sharing beberapa barang, teman berbicara, teman diskusi, membantu kita mengabadikan moment. Tentu menyenangkan sekali. Khusus bagi saya yang kurang nyaman di foto, backpacking sendiri tak jadi masalah karena saya jarang sekali mengabadikan diri di lokasi tertentu.  
  4. Pelajari destinasi wisata yang akan kita kunjungi. Misalnya kita ingin ke Taman Mini Indonesia Indah, pelajari ada apa saja di sana, apa yang akan kita lihat, mulai dari gerbang mana, dan berapa waktu yang kita butuhkan untuk sampai ke sana. Ini penting karena menurut saya, 1 hari tidak akan cukup jika kita mau mengunjungi seluruh TMII. Tips ini berlaku juga untuk destinasi lain misalnya ke pantai Kuta Bali atau lokasi lain.
  5. Pelajari mode transportasi menuju destinasi wisata yang akan kita kunjungi. Cara termudah adalah meminta rekomendasi teman yang tinggal di kota destinasi wisata. Bis apa yang harus kita ambil dari terminal utama ke lokasi wisata, berapa ongkosnya, tanda turun yang termudah, dan tiket yang harus dibayar. 
  6. Akrab dengan sumber informasi. Backpacker harus akrab dengan sumber informasi destinasi yang ingin dituju. Misalnya teman/kerabat, netizen, atau bahkan google. Kita butuh melakukan banyak riset sebelum bepergian. Minimal saya memegang 1 sumber informasi sebelum berangkat backpacking.
  7. Bawa barang seperlunya dan ringkas. Bawa baju ganti yang hanya memenuhi setengah tas ransel dengan bahan ringan dan mudah kering. Ketika bepergian cukup lama, saya membawa maksimal 4 stel pakaian yang tipis dan mudah kering serta sebuah handuk kepala. Saya memakai hijab, jadi meski tipis tetap tidak menerawang, apalagi kekecilan sehingga memperlihatkan lekuk badan. Tidak. Untuk penutup kepala, biasanya saya membawa 2 jilbab instan yang mudah dipadupadankan. 
    Baju yang pas tipisnya dan jilbab instant yang besar selalu jadi pakaian nyaman kala bepergian
  8. Obat, perlengkapan mandi dan dandan standar tetap harus dibawa. Set peralatan mandi ukuran travel saya pilih agar ringkas di satu dompet perlengkapan mandi dan dandan. Ini penting agar isi tas tetap rapi namun seluruh kebutuhan terpenuhi. Untuk obat, biasanya saya bawa obat flu, diare, salonpas, 1 pembalut, beberapa pantyliner, dan tisu.
  9. Sepatu atau sandal yang nyaman. Backpacking ada yang suka menggunakan tas sneaker yang nyaman. Saya setuju itu. Tetapi memakai sepatu sneaker juga berarti harus membawa sandal anti-air. Kecuali backpacking di lokasi yang tanahnya cukup ekstrem sehingga kaki saya butuh perlindungan penuh, biasanya saya memakai sepatu flat anti air yang berbentuk tali-tali. Jika kaki butuh perlindungan lagi, saya memakai kaos kaki. Sepatu flat anti air saya sebenarnya biasa saja, namun agar awet, saya menjahitkan solnya. Sepatu ini sudah menemani saya selama 7 tahun.
  10. Siapkan kamera, Hp dan baterai di tempat utama. Demi kepraktisan (dan memang tak punya kamera bagus, saya membawa sebuah HP, 2 powerbank dan charger ketika bepergian. Kamera HP saya posisinya stand by sehingga banyak momen yang terekam. 
  11. Jangan hanya di zona aman. Ketika meniatkan backpacking, jangan pasif di lokasi wisata. Bersapa dan beramahtamah dengan warga sekitar dan sesame pelancong. Adakalanya dari sini kita bisa mendapatkan liburan yang maksimal. Jika kebetulan bertemu dengan orang yang menyebalkan, jangan terpicu emosi. Tetaplah kalem dan jangan banyak berargumen. Ketika bepergian, saya lebih suka menjadi pendengar yang baik karena saya ingin mendapat banyak cerita dari tempat yang saya kunjungi serta keunikannya. 
  12. Berani ambil resiko. Namanya jalan-jalan, belum tentu segalanya sesuai bayangan kita. Akan ada banyak kejutan yang kita terima dan butuh reaksi cepat. Di situlah seninya. Bagaimana kita bereaksi terhadap sesuatu, berani mencoba hal baru, berani menapak di jalur yang tidak berani diambil orang biasa. Intinya jangan pasif dan buat liburan menyenangkan.
  13. Bawa uang secukupnya dan jangan takut makan makanan sederhana. Jika niat backpacking, jangan berfikir makan di warung makan mahal apalagi resto. Malahan, kalau bagi saya, roti pun sudah merupakan makanan pengganjal perut yang cukup. Bagi saya yang terpenting adalah ketersediaan air minum dan beberapa makanan kecil berbahan coklat sehingga ketika lapar, saya bisa memakan sedikit.
  14. Jangan lupa, bahwa sukses tidaknya kegiatan backpacking ibu-ibu sangat tergantung pada koordinasi dengan suami. Tentukan waktu telpon harian yang nyaman bagi kedua pihak. Ini penting agar kegiatan backpacking kita berjalan lancar. 

Ibu-ibu menjadi backpacker itu tidak dilarang, namun perlu usaha lebih daripada para single. Ketika memilih menjadi istri dan ibu, kita telah menandatangani kontrak kerja selamanya dengan pasangan dan keluarga yang kita ciptakan. Saya pernah mengalami kejadian lucu ketika pertama kali melakukan backpacking selama seminggu di setengah area Jawa Timur. Anak sulung saya masih TK kecil dan adiknya masih 2 tahun. Kami keluarga kecil mandiri yang tidak memiliki asisten rumah tangga. Untuk cuci-cuci memang saya memiliki seorang tetangga yang datang pagi pulang siang setelah pekerjaan selesai. Pun begitu, urusan menata lemari pakaian tetap saya yang melakukan. Karena belum punya pengalaman, suami saya menelpon sehari bisa 5 kali untuk pertanyaan sederhana seperti dimana baju ini, hari ini seragam sekolah siangnya yang mana? Dimana saya meletakkan benda ini? Meski ketika telpon ada rasa bahagia, tak urung, baterai HP saya lebih boros lagi karena durasi telpon yang menjadi lama karena bertukar kabar. Setelah itu saya dan suami menetapkan sehari telpon 2x: saat istirahat siang dan saat istirahat malam. Jika tak bisa menerima telpon, penelpon cukup sms saja jika benar-benar penting.
Saya dan tas andalan untuk perjalanan singkat 1-3 hari, tas hitam di depan saya sudah cukup

Bagaimana? Apakah menjawab banyak pertanyaan tentang bisakah seorang ibu rumah tangga bepergian ala backpacker dan sukses melakukannya? InsyaAllah saya sudah melakukannya berkali-kali, dan Alhamdulillah backpacking ala saya termasuk hemat namun sangat berkesan. Tentu saja, tips saya ini sangat personal dan sudah pasti ada teman yang memiliki tips lain yang belum saya ketahui. Untuk itu, silahkan membagi pengalaman tanpa sungkan ya.

30 Komentar

  1. Benerrrrrr....ibu2 yang melakukan perjalanan itu memerlukan usaha lebih ketimbang para single

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Di awal2 mungkin agak keteteran, wajar... krn kurang pengalaman. Lama2 akan tahu sela di antaranya dan semua nyaman. anak2 dah biasa saya tinggal. :)

      Hapus
  2. Klo aku gak bs diajak jd temen perjalanan yo mbak. Di bus hobinya tidur wahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ikut kalo mau. Beneran loh.
      Kalau tidur di bis sih dah biasa. Aku juga sering tidur tuk hemat tenaga

      Hapus
  3. makasih tipsnya mba, kalau ibu mau backpacker tuh bukan sibuk nyiapin perlengkapannya, tapi sibuk nitipin bocah kalau mereka ndak ikut hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mbak. Alhamdulillah anak-anak saya sudah menikmati dunia peergroup mereka. Sudah punya tim mbolang dengan teman2 SD-nya. Jadi sudah bisa ditinggal cukup lama.

      Hapus
  4. makasih tipsnya, barangkali suatu waktu saya juga berkesempatan bakcpacker sndiri..tapiii...ga kebayang nih ninggalin anak lama :D blm pernah soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Bisa jadi cara mengenalkan pada anak bahwa ibu kadang pergi sebentar dan akan segera kembali

      Hapus
  5. wah perlu di coba nih jalan-jalan ala backpacker. tapi maunya bareng mba Susi aja deh.

    BalasHapus
  6. Salut..., saya baru sebatas mimpi dan sampai sekarang belum bisa mewujudkannya. Ingin sekali saya mencoba menjadi backpacker dan merasakan berbagai pengalaman seperti yang dirasakan kebanyakan orang yang sudah melakukannya.

    Tips-tips yang dibagikan bisa dijadikan bahan untuk referensi bagi para backpacker pemula atau pun yang ingin mencoba menjadi backpacker.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas. Backpacking itu modal utamanya adalah berani mengambil satu langkah lebih jauh dari temannya. ;)

      Hapus
  7. belum pernah backpackeran mbak, tapi tipsnya noted bangetlah siapa tahu nanti backpackeran hehe... :)

    BalasHapus
  8. Aku belum berhasil jadi backpaker mbak, belum bisa memilih barang prioritas yang harus dibawa saat packing :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu dibiasakan mbak. hihi... saya sering lihat teman membawa apa saja di koper padahal hanya 1-2 hari. Gapapa... segala sesuatu ada prosesnya kok

      Hapus
  9. packing itu salah satu hal menyenangkan yah mbak. Dulu saya bisa lama banget habis waktu buat packing. Sekarang cukup 10 menit dan rampung. Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau sudah biasa, packing itu cepat. Apalagi daftarnya ya itu-itu saja.

      Hapus
  10. Bawa uang dan jangan lupa bawa ATM atau cc biar kalo kurang tinggal gesek hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adeh... kalo kehabisan uang tinggal gesek, gak macem menyebut diri backpacker to ya.... ;)

      Hapus
  11. iyeeee, aduh aku kalau jalan-jalan rempong beneer bawaannya, setuju juga untuk membawa baju ayng tipis namun tidak menerawang, itu mengurangi beban tas ya Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Sama2 bawa baju 3 stell, tasku selalu lebih ramping dan lengkap. hehehe

      Hapus
  12. Selama menikah, baru dua kali berlibur tanpa suami. Untungnya, suami dah biasa ditinggal sama keluarga waktu masih bujang, jadi dah ngerti harus bagaimana aja waktu istrinya pergi :)
    Tfs, Mak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak Rochma. Saya juga setahun paling 2 kali mbolangnya kok. hehehe.... Lumayan tuk refreshing dan memperpanjang usia.

      Hapus
  13. Aaaaah... ngiri. Pengen jadi backpacker! *lirik 2 balita* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tunggu sampe agak besar dan anak siap mbak. Atau... Mulai dari pergi sendiri dari pagi- sore tuk lihat kesiapan anak dan suami.

      Hapus
  14. wah makasih banget tips2nya mbak. membantu banget ini.... tapi tetep lebih enak backpacker-an sama bocah2 kalo saya hihi..... rempoong....

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)