Suasana malam di alun-alun Jepara pada tanggal 8 April lalu tampak unik.  Malam itu, ada acara Wilujengan Nagari. Semacam acara sedekah bumi (kabumi) tetapi penyelenggaranya adalah kota. Pada sore sebelumnya saya dan teman-temn dari Gerakan Pungut Sampah Jepara sempat sowan ke Gedung Setda Jepara demi menemui Pak Hadi Prayitno. Kami perlu menemui Kabag Humas Setda Jepara sekaligus ketua Festival Kartini terkait aksi sosial kami pada tanggal 9 April nanti. Pada hari itu akan ada Kirab Budaya dan Buka Luwur yang mengambil rute dari alun-alun Jepara sampai Masjid Mantingan. FYI, di Masjid Mantingan ada pemakaman Ratu Kalinyamat dan setiap tanggal 9 akan diadakan penggantian luwur/kain makam. Tentang kirab budaya dan GPS akan saya jelaskan di posting lain agar lebih gamblang. Yang jelas, sore itu, saya, Mbak Sari, Sinna dan Jiah menemui beliau terkait perizinan menjadi relawan sampah. Pak Hadi menyambut kami dengan ramah. Setelah perbincangan inti selesai, kami diajak mengikuti acara Wilujengan Nagari. Kami mendapat penjelasan konsep acara ini secara sekilas. Kabarnya, ada 467 tumpeng yang bisa dimakan bersama-sama. Waaah... siap kosongkan perut dan tinggalkan ikat pinggang di rumah!

Usai menemui Ketua Panitia Festival Kartini kami berfoto di lokasi acara. 
Sebelum Magrib, kami berempat menyempatkan diri berfoto alun-alun bersama. 4 perempuan dari Jepara yang ditemukan dalam beberapa kegiatan komunitas asyik di Jepara. Sebelum berpisah, kami berjanji akan bertemu di lokasi Wilujengan Nagari. 

Sekilas mengenai inti Wilujengan Nagari. Kegiatan berbudaya ini bukan hanya makan 467 tumpeng bersama, tetapi merupakan prosesi ruwatan massal atau simbol pembersihan diri, bangsa dan negara. Sambil bercanda saya mengatakan, ini adalah sedekah bumi (kabumi) ala kota. Ternyata zaman dahulu kegiatan ini rutin dilakukan. Sempat terhenti cukup lama sampai kemudian diadakan lagi bersamaan dengan Festival Kartini. Mungkin teman-teman belum paham mengapa disebut demikian. Tahun ini adalah Festival Kartini IV. Tidak hanya mengagungkan RA Kartini saja, karena pada tanggal 10 April, juga merupakan hari jadi kota Jepara. Tepatnya 467 lalu. Agenda acaranya ada puluhan, mulai dari tanggal 8 - 20 April. Di awali dengan Wilujengan Nagari dan diakhiri dengan Festival Lampion di Bandengan (Jepara Menerangi Nusantara). Ok, sudah jelas, ya. Saya lanjutkan ke Wilujengan Nagari kembali.

Malam harinya, saya tiba di sana sekitar pukul 7 malam bersama keluarga. Ah ya, bareng Jiah dan adiknya juga sebagai satpam pribadi. Ada nuansa “magic” yang diciptakan karena panggung berhias akar disinari lampu temaram. Saya yang sore sebelumnya sudah berfoto-foto di sana saja bisa takjub dengan aura yang dihasilkan dari tata panggung, apalagi warga yang baru datang. Harus saya akui, seniman Jepara bisa sangat kreatif jika dipercaya menggarap pesta ulang tahun kotanya. 

Tata panggung yang unik
Suasana temaram dan lautan manusia membuat saya pening mencari teman-teman. Daripada clingak-clinguk tanpa hasil, saya pun jepret-jepret tumpeng yang berjajar di depan. Rupanya, sebagian besar tumpeng adalah sumbangan dari instansi pemerintah, BUMD, BUMN, petinggi, sekolah, camat, puskesmas, rumah sakit, dan Masyarakat sekitar. Jadi bukan pemkab Jepara yang menyediakan sendiri. Ok I see.... 

Setelah sedikit bersusah mencari rombongan pemuda-pemudi yang saya kenal, akhirnya kami dipertemukan di karpet tengah agak dekat panggung. Kami cekikak-cekikik bersama karena datang hanya bermodal perut kosong dan air minum. Di sebelah-sebelah kami ada beberapa rombongan yang mengelilingi 1 tumpeng berempat, berlima, atau berenam. Mereka para pegawai negeri sipil, jika menilik catatan di tumpeng mereka. 


Acara dimulai jam 8 malam dengan gelaran budaya dan teatrikal. Temanya tentang kondisi bumi yang indah dengan alam cantik nan elok. Namun akibat keserakahan, bumi mulai kotor dan harus dibersihkan. Tak hanya kebersihan lingkungan tetapi juga kebersihan hati. Masyarakat bergotong-royong membersihkan kota. Teatrikal di akhiri dengan kedatangan raja dan ratu (atau kepala pemerintahan?). Di bagian akhir ini saya kurang paham. Pak hadi yang saya sebut di atas ikut aksi teatrikal dan gelaran budaya. Beliau memang sejarawan dan budayawan Jepara sekaligus Kabag Humas Setda Jepara.

Usai teatrikal, pidato sambutan ketua panitia dan Pak Broto selaku Wakil Bupati, doa bersama dipanjatkan. Beberapa peserta Wilujengan Nagari yang sudah lapar sudah mulai memakan tumpeng sebelum acara doa. Saya dan teman-teman sempat bingung dengan konsep acaranya, apalagi melihat para peserta di sekitar kami mulai makan bersama. Rupanya kebingungan kami terlihat jelas. Mungkin beberapa wajah lapar menarik simpati. Etahlah... tak jelas motifnya, yang jelas rombongan SMP Mayong 1 dan SMP Pecangaan 1 mengajak kami makan bersama. Semua langsung semangat makan sampai perut benar-benar penuh. Saya menatap iba pada nasi-nasi yang tersisa. Tetapi apa daya, menghabiskan semua bisa jadi mission impossible. Ketika saya melihat masyarakat yang melihat sambil berdiri di sekitar kami juga mulai bubar. Saya tidak ingat mereka pernah ikut duduk dan makan bersama. Saya hanya ingat ada rombongan yang bergerombol menikmati tumpeng yang terlalu banyak bagi mereka.


Tanpa bermaksud mengeritik panitia Wilujengan Nagari, saya ingin memberikan beberapa saran. Saya melihat masih banyak peserta Wilujengan Nagari yang “egois” melahap tumpengnya sendiri. Mereka tahu bahwa tumpeng sebesar itu takkan muat di perut 10 orang tetapi memaksa memakan bertiga atau berlima. Ujung-ujungnya dibungkus dan dibawa pulang. Padahal di sekitar kami banyak warga yang berdiri menonton. Saya dan teman-teman termasuk beruntung karena duduk di tengah-tengah sehingga mendapat limpahan 3 tumpeng untuk dimakan bersama. Tapi mungkin perasaan saya saja. Yang jelas, kontrol panitia terhadap peserta kurang tegas. Terbukti, ketika doa dimulai, sebagian peserta sudah pulang setelah puas makan ingkung ayam berlauk nasi. 


Saran saya sederhana saja, yaitu pertegas kewenangan panitia. Jika perlu tegaskan, bahwa tumpeng yang dibawa harus dilaporkan dan dikumpulkan atau ada sangsi. Toh tumpeng yang ada di sana sebagian besar memang dari sumbangan dari instansi pemerintah, BUMD, BUMN, petinggi, sekolah, camat, puskesmas, rumah sakit, dan Masyarakat. Hmm... tapi saya tidak yakin jika kewenangan panitia bisa sebesar itu, hehehe. Yang jelas, akan sangat asyik jika tumpeng yang dikumpulkan dibagi-bagi perporsi seperti sedekah jajan ala desa saya. Warga bebas membawa makanan untuk jajan mengaji, akan ada ibu-ibu yang membagi jajan yang tidak sama itu dengan asas kepantasan saja. 

Sebenarnya, jika memang peserta paham inti dari Wilujengan Nagari, kejadian yang menurut saya menyedihkan ini tak perlu terjadi. Katakanlah saya terlalu sensitif dengan urusan perut. Saya tak tega melihat sisa tumpeng yang banyak berserakan di rerumputan meski saya tahu akan ada yang membawa pulang untuk pakan ayam, misalnya. Tapi saya merasakan keengganan yang kuat ketika beranjak pulang. Para penonton dari umum yang berdiri juga enggan mendekat karena tak diajak serta makan. Jikalau semua paham makna Wilujengan Nagari atau sedekah bumi ini, mungkin semua akan guyup, memakan nasi secara kepungan. Tak perlu malu atau sungkan. Tengoklah saya dan pemuda-pemudi asal Jepara yang datang bergerombol lebih dari 20 orang hanya berbekal air putih dan perut yang dikosongkan. Bukankah nikmatnya makan kepungan tanpa mengenal nama dan latar belakang teman yang bertubrukan ketika mengambil lauk itu nikmatnya luar biasa?




Semoga tahun depan semua warga sudah paham makna di balik Wilujangen Nagari 

PS: Mungkin saya agak keras mengatakan egois, sehingga beberapa teman salah paham, maafkan saya. Saya hanya menggambarkan rasa kecewaa saya pada para peserta yang memakan sendiri tumpeng yang disiapkan kantornya karena menganggap itu jatah mereka.