Maharani Guesthouse Tebet

9.30 pagi, kereta yang saya tumpangi berhenti di stasiun Pasarsenen Jakarta. Saya berlambat-lambat keluar karena tak hendak berebut jalan dengan penumpang asli Jakarta yang serba terburu-buru. Hari ini saya tak punya banyak rencana, hanya ke Museum Nasional lalu menuju ke Maharani Guesthouse Tebet saja. Saya masih sempat membuat dua buah e-flyer untuk kulwap atau kuliah di WhatsApp sebelum menuju ke tujuan pertama. 


Mungkin karena lelah, saya kurang menikmati siang di museum. Pemicu utamanya adalah, bangunan utama sedang direnovasi sehingga kehadiran saya di sana nyaris sia-sia. Bahkan saat saya naik ke lantai enam, ruang pustaka, tak banyak yang saya temukan kecuali dokumen-dokumen berbahasa Belanda yang tak terbaca oleh saya. Jika tahu minat saya di sejarah, mungkin saya tidak mengambil kuliah bahasa Perancis. Kalau sekarang, saya hanya bisa mengenali beberapa kata untuk mencari judul buku/jurnal yang saya cari dan memotretnya. Pelan-pelan menerjemahkan menggunakan Google Translate atau jika sekira menarik, menawarkan ke teman yang bisa mengartikan. Pertukaran yang sama-sama menang, saya kira.

Pukul 2.30 siang, saya menuju ke Maharani Guesthouse Tebet menggunakan Grab. Dari Museum Nasional dan Monas menuju ke guesthouse tak seberapa lama dan tidak memerlukan biaya besar. Mas sopir mengajak saya melewati Bundaran HI. Ternyata memang cukup dekat dari sana. Hanya 7 KM saja. Lokasi yang dekat dengan tempat-tempat favorit di Jakarta menjadi keunggulan guesthouse ini. Hanya 7 KM dari Tanah Abang juga. Oh iya, meski di dalam sebuah gang beraspal, juga dekat dengan stasiun Cawang. Hanya 0,6 KM saja. 150 meter dari sana ada Indomaret dan Alfamart jika ingin memasak sendiri menu makan harian. 

Bergaya ala nyonya

Memasuki Maharani Guesthouse serasa memasuki sebuah rumah yang bersih dan tertata rapi. Kalau suka swafoto, banyak pojok yang instagramable. Bisa pura-pura di rumah sendiri. Saya tidak melakukannya karena akan langsung gagal pencitraan – selain karena belum suka selfie. Niat ini gagal karena bujukan maut Eva. Dia meminta saya duduk manis dan difoto-foto. 

Tinggal 3 hari 2 malam di sini menyenangkan bagi saya. Bukan karena pengalaman tinggal di rumah besar yang bersih, rapi, memiliki shofa-shofa empuk tanpa repot membersihkan dan merapikan. Guesthouse ini memang membuat penghuninya merasa berada di rumah.  Mas Azis yang ramah dan sigap membantu dan Mbak Endang yang hangat plus pandai memasak, membuat betah. Mereka menghargai kita sebagai tamu, dan jika kita mau, bisa menjadi teman ngobrol atau nonton TV yang asyik. Mas Azis termasuk bloger kawakan yang baru pulang dari perkebunan dan masih kaget dengan dunia bloger zaman sekarang. Jadi, diajak berbicara pun nyambung banget. 

Sedang asyik merampungkan gawean. Suara air bikin otak encer menulis

Kamar yang saya tempati memiliki empat kasur empuk yang punya dua sumber listrik dan kantong serbaguna untuk tempat kunci, HP, charger, juga benda-benda lain yang biasanya asal tergeletak. Ide sederhana yang sangat praktis. Yang membuat tenang saya adalah, ada denda yang lumayan besar bagi tamu kedapatan merokok di dalam kamar atau ruang bersama lainnya. Cocok untuk menginap sekeluarga, pikir saya.

Saya segera membersihkan badan di kamar mandi yang terdapat di sebelah kamar. Kamar mandi bersih yang shower-nya di kotak terpisah berdinding kaca buram, sehingga di kasus darurat ada yang sangat kebelet, bisa masuk bersamaan. Usai mandi, saya keluar sebentar karena sudah ada teman-teman blogger di depan. Ada Nuy, Ilham dan Tiwi yang mengajak asyik bercengkrama sambil makan pizza. Lumayan mengganjal perut sebelum waktu makan malam. Menjelang malam, Eva sampai dan kami ngobrol santai menunggu Evi. Malam ini saya, Nuy, Eva dan Evi memang menginap di Maharani Guesthouse Tebet untuk persiapan rapat koordinasi Warung Blogger. Besok, para admin lain akan datang. 

Pojok yang menyenangkan
Malamnya, saya tidur tanpa mimpi. Nyenyak sekali. Bahkan Idah yang sampai jam 5:30 harus menelpon saya dulu agar bangun. Lelah dan kasur empuk memang bisa membuat siapapun terlambat bangun. Ini bukan sekedar alasan lho. Guesthouse Maharani memang bebas dari suara bising kendaraan. Suara gemericik air mancur juga memberi kesan syahdu, seakan berada di sebuah rumah dekat sungai. 

Setelah semua teman datang, kami mulai dengan sarapan pagi yang lezat. Santapan selera nusantara Mbak Endang, koki, memang ngangeni. Jujur saja, saya masih terkenang dengan sayur gulai daun singkong yang disajikan pertama kali datang. Saya sempat mengira dia dari Sumatera karena mengingatkan saya pada gulai ala Padang, meskipun masakannya menggunakan gula. Ternyata Mbak Endang dari Tegal. Makan selanjutnya, lidah saya masih dipermainkan dengan rasa yang aduhai. Duh Mbak… enak banget… 

Sarapan ala keluarga yang pasti dirindukan

Diskusi asyik, saling memaparkan perkembangan bloger zaman sekarang
Hari itu, rapat Warung Blogger berlangsung seru. Meja kursi yang ada di situ disingkirkan agar bisa lebih santai. Mas Azis sudah menyiapkan meja dan kursi di dekat air mancur., tetapi, rasa-rasanya lebih enak di atas saja sambil lesehan. Sebuah proyektor dipinjamkan gratis sebagai penunjang rapat. Kami saling berbicara jujur dan dari hati ke hati, sehingga menumbuhkan semangat baru. Jam 20.00 WIB, terpaksa dihentikan, karena sebagian harus pulang. Sebagian keputusan ditulis di Berhenti Meretwet, dan sebagian lainnya masih kami garap. Bismillah, semoga tetap istiqomah ya. 

Malam ini kami mendapat dua teman menginap yaitu Nova dan Idah. Kami ngobrol ngalor ngidul sampai ngantuk. Saya tidak ingat jam berapa tertidur. Tahu-tahu sudah bangun saja, dan Mbak Ade Anita yang berkunjung. Memang menemui Idah, sih…. Tapi saya kecipratan berkah juga bisa ketemu teman blogger dan penulis yang hits. Lebih siang lagi ada 2 tamu blogger kawakan yang terkenal, yaitu Mas Anjarisme dan Babeh Helmi. Pas banget dengan tema besar Maharani Guesthouse yaitu menginap, bekerja dan berkolaborasi. Kami semua pun puas bisa bercengkrama seharian di sana. Bahasan yang seharusnya berat bisa mengalir lancar dan semua sepakat, untuk Warung Blogger yang Lebih Baik.

Butuh staycation asyik atau tenang menulis? Bisa langsung booking Maharani Guesthouse Tebet.

Comments

  1. Bagus ya tempatnya, cocok untuk kumpul sesekali. Sayang, area atasnya agak panas.

    ReplyDelete
  2. Salah satu tempat di Jakarta yang recommended buat kumpul-kumpul atau musyawarah besar. :D

    Kurang kolam renang aja, nih. Padahal lahan belakang cukup untuk dibuat kolam renang. HAHAHA.

    ReplyDelete
  3. kalau buat acara keluarga kayak gini pasti asik ya mak

    ReplyDelete
  4. Ada macam guesthouse kayak gini to di Tebet. Berarti deket dari rumahku ini guesthouse-nya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)