Saat memasuki gerbang pernikahan, suka cita sangat terasa. Setelah itu, perkenalan akan kehidupan rumah tangga terjadi sesuai kondisi masing-masing. Makin lama, sejalan dengan waktu, pekerjaan rumah tangga perlahan menjadi kewajiban harian yang terasa tak ada habisnya. Beratnya berhubungan dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah, dan gaya hidup yang dipilih. Meski personal, tetap ada pola yang dapat dipelajari sini, dan saya ingin membagi tips meringankan pekerjaan ibu rumah tangga.



Setelah punya anak, rumah cepat sekali berantakan kembali. Sehari bisa 10 x membersihkan rumah jika ingin rumah selalu rapi. Saya tak punya waktu dan tenaga sebesar itu, juga tak punya ART. Tapi saya tetap bisa tersenyum saat menulis ini. Era stress melihat rumah berantakan sudah lewat....

Kabar sangat mengejutkan datang dari Marie Kondo, yang sangat sukses dengan Konmari-nya. Ia mengakui bahwa metode Konmaari tak selalu bisa dipakai jika punya anak kecil. Hal ini secara tak sengaja terungkap saat wawancara buku The Changing Magig of Tidying. Mempunyai anak membuat rumahnya tidak bebas dari kekacauan. Jadi, saatnya para Marie Kondo KW juga jangan stress sendiri menahan untuk tidak mengeluhkan sulitnya ber-Konmari jika punya anak. Enggak apa-apa kok, ... itu normal.

Sumber stress ibu rumah tangga.
Jika dirunut daftar kegiatan harian seorang ibu, akan terlihat bahwa sehari, seorang ibu bisa melakukan lebih dari 30 aktivitas. Jika aktivitas tersebut dikelompok-kelompokkan, akan tampak mana aktivitas sebagai pribadi, istri dan ibu. Jika fokus pada pekerjaan rumah saja, akan mengerucut 3 kelompok, yaitu:
1. Anak terurus dengan baik
2. Rumah selalu rapi
3. Makanan sehat untuk keluarga

Dari 3 pilihan itu, kita bisa mem-break down sumber stress seorang ibu rumah tangga. Rahasianya adalah, awali dengan memilih satu fokus di atas. Anak, rumah atau makanan? Pilih 1 untuk dikerjakan dan delegasikan 2 sisanya. Perlahan pelajari pilihan pertama tadi sehingga pekerjaan semakin ringan nanti. 

Jika, sejalan dengan waktu, pilihan pertama sudah dapat dilakukan dengan ringan hati tanpa stress, saatnya mempelajari pilihan kedua. Kerjakan sendiri 2 pilihan, dan delegasikan 1 pilihan. Lakukan hal serupa sampai berhasil melakukan 2 fokus/pilihan dengan ringan.

Saatnya masuk ke tahap terakhir yaitu mengerjakan ketiganya sendiri, sambil mempelajari cara menaklukkan pilihan ketiga tadi.

Teknisnya....
Buat pilihan dengan bantuan dan izin suami, mana fokus pertama, kedua, dan ketiga. Misalnya saya, fokus pada memasak (pertama), lalu anak (kedua), dan rumah (ketiga). Saya fokus pada menyajikan makanan sehat untuk anak, dari bahan yang ada. Sesuai daya beli. Saya memasak 2 atau 3x per hari. Lama-lama saya mempunyai keterampilan-keterampilan terkait menu kreatif dan teknik memasak super cepat. Jadi, pilihan kedua, yaitu anak, bisa saya pegang sekaligus. 

Bagaimana dengan rumah?
Rumah adalah kompromi terbesar saya. Memiliki anak laki-laki semua dan suami yang cuek dengan kondisi rumah, tak mengizinkan saya fokus pada kebersihan rumah. Baju kotor berserakan, benda jatuh tetap pada tempatnya sampai saya yang mengambil, dan hal semacamnya, bisa membuat saya mengomel tiap hari, jika saya tak berkompromi dengan diri saya sendiri. Cara ini benar-benar antistress. Saya juga jadi ringan hati dan tidak reaktif melihat rumah kembali berantakan, 10 menit setelah saya bersihkan.

Nah, sobat Cakrawala Susindra memilih apa, nih, urutan belajar meringankan pekerjaan rumah tangganya? Anak dulu? Rumah dulu? Atau makanan dulu? Cerita, yuk...