Saya tergelitik ingin mengisahkan tentang pertemuan saya dengan keluarga Pak Temporas pada saat melakukan perjalanan meneliti kehidupan di Karimunjawa. Keluarga ini, adalah salah satu contoh nyata warga yang hidup bergantung pada alam: hutan dan lautan. Jadi, cocok sekali jika diikutkan dalam lomba blog Blogger Perempuan dan Walhi bertema hutan sebagai sumber pangan. Yuk, ikuti kisah perjalanan saya.

keluarga-yang-tinggal-di-legon-lele-karimunjawa-dan-hidup-dari-hutan-kompetisi-blog-walhi-dan-blogger-perempuan



Legon Lele: kawasan konservasi Taman Nasional Karimunjawa

Keputusan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No.SK.79/IV/Set-3/2005 mengenai zonasi di kawasan Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ), memutuskan bahwa terdapat 7 (tujuh) zona konservasi meliputi zona inti, perlindungan, pemanfaatan pariwisata, pemukiman, rehabilitasi, budidaya dan zona pemanfaatan perikanan tradisional. Zonasi ini memasukkan hutan hujan tropis dataran rendah di Pulau Karimunjawa seluas 2.587 hektar sebagai zona perlindungan. Hal ini agak bertentangan dengan kehidupan masyarakat setempat yang mulai menikmati legitnya industri pariwisata Karimunjawa dan geliat budidaya rumput laut. Zonasi ini juga mempersempit area tangkapan ikan.

Urun rembuk terus dilakukan untuk mengakomodir suara warga, investor, akademisi dan pemerintah daerah. Hal ini dipandang penting karena Karimunjawa dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan dan sangat mengandalkan potensi sumberdaya alam sebagai obyek dan daya tarik wisata. 

Zonasi konservasi Taman Nasional Karimunjawa

Perubahan zonasi dilakukan kembali pada tahun 2014. Kawasan Legon Lele dimasukkan dalam zona pemanfaatan darat, bersama dengan Pulau Menjangan Kecil, Pulau Menjangan Besar, dan Nyamplung Ragas.

Penghasil Emas Cair

Selain berupa hutan tropis dataran rendah, Legon Lele juga merupakan sumber air utama di Karimunjawa. 1 dari 13 sumber air yang ada. Debit air yang dikeluarkan adalah 162 liter per detik. Air di sini dialirkan ke seluruh Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan melalui PDAM. 

Saking berharganya, TNKJ menyebutnya sebagai “emas cair” di Karimunjawa.... 

Karimunjawa tidak punya cekungan air tanah (CAT) namun bisa memiliki sumber air dengan debit yang lumayan besar. Hal ini terjadi karena berada di area rimba hutan hujan tropis dataran rendah. Pohon-pohon yang ada membuat lubang tanah penyimpan air. Vegetasi yang ada juga menahan air hujan agar tidak langsung melaju ke laut. Hutan mangrove juga berperan menahan intrusi air laut ke daratan. Dan yang juga sangat penting adalah ketersediaan lahan basah berupa sawah di daerah Cikmas, yang mempengaruhi ketersediaan air tawar. 

lumbung-padi-karimunjawa-di-cikmas
Jika lumbung padi terakhir di Cikmas ini berganti beton hotel dan tambak udang...
Maka kekeringan parah akan terjadi di Karimunjawa.

Cikmas adalah satu-satunya lumbung padi yang tersisa di Karimunjawa. Sebelumnya ada 3 areal persawahan. Areal persawahan di Legon Lele adalah yang paling luas, sebelum ditelantarkan. Area persawahan lainnya adalah Nyamplungan, yang saat ini sudah berganti menjadi tambak budidaya udang. 

Legon Lele dihuni kembali

"Legon Lele dihuni kembali...."

Itulah kabar yang diterima oleh tim Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa #2 yang terdiri dari saya (Susi), Mas Daniel, Mbak Ulin, Mas Hakim, Mas Tris. Mengenai Ekpedisi ini, saya telah menulis beberapa di kategori Ekspedisi Karimunjawa.

Sekadar informasi, pemukiman Legon Lele dibuka pada tahun 1960an. Pada tahun 2013, areal pemukiman tersebut sudah tidak berpenghuni, karena ditinggalkan seluruh warganya secara perlahan... dijual. Legon Lele menjadi dukuh mati.

Kami mengagendakan datang untuk meneliti kehidupan di sana. Beberapa pikiran liar sempat terlintas di benak kami, karena hasil dari penceritaan tentang kondisi Legon Lele yang cukup nggegirisi ati. Saya sudah menceritakan kenangan mantan warga Legon Lele, diwakili oleh suami istri Mulyanto dan Pak Lajamuna

Selain mereka, cerita tentang Legon Lele menjadi pemukiman yang ditinggalkan oleh seluruh warganya memang cukup membuat jerih: binatang liar, ular edor,  ular jinur, monyet Macaca yang rakus, landak, dan binatang liar lainnya. Padahal, ada kisah indah tentang asal muasal Legon Lele yang berkaitan dengan Sunan Nyamplungan.

jalan-menuju-legon-lele
Jalan sempit menuju Legon Lele. Kami berpapasan dengan istri dan anak Pak Temporas di jalan

Kami ke Legon Lele dengan mengendarai motor. Pilihan transportasi hanya 2, yaitu mobil off-road atau sepeda motor dengan kondisi baik. 

Kami mampir ke Pantai Legon Lele dahulu untuk melihat kondisi di sana. Pantai ini seperti sebuah tempat pembuangan akhir bagi apapun yang mengapung di lautan menuju Karimunjawa. Sampah di mana-mana, beberapa di antaranya berupa kayu-kayu gelondong yang bagi orang Jepara adalah emas yang dapat diolah menjadi kerajinan kayu. 

Dua tahun setelah kedatangan kami, saat ini, Pantai Legon Lele telah menjadi destinasi wisata. Semoga tidak merusak alam di sana!

pantai-legon-lele-yang-indah-sunrise-nya
Pantai Legon Lele, berupa cerukan yang menjadi penerima sampah laut di Karimunjawa yang berasal dari timur dan selatan.

Kami melaju ke bekas pemukiman warga Legon Lele. Perjalanannya cukup jauh. Mungkin sekitar 30 menit, menerabas jalan sempit beralaskan tanah lumpur berpasir. Jalan ini kebalikan dari kata mulus. Di kanan kiri kami, terdapat genangan air yang merupakan “emas cair” bagi warga Karimunjawa.

Bertemu Keluarga Pak Temporas

Kami sampai di sana, dan bertemu dengan Pak Temporas yang sedang memperbaiki mesin perahunya. Beruntung bagi kami, karena beliau sangat jarang berada di rumah.

Pak Temporas adalah suku Bajo yang menganggap ombak laut sebagai buaian bunda. Suku Bajo biasanya membuat rumah di tepi laut. 

Seperti yang lainnya, Pak Temporas bukanlah tipe orang yang betah di daratan. Ia dan anak sulungnya lebih banyak di lautan daripada di daratan. Ia tinggal di daratan demi istrinya. Bu Umi, warga asli Jepara (tepatnya Bandungharjo) dan putri remaja mereka yang menjadi difabel karena gizi buruk. 

kondisi-warga-legon-lele
Kami mendengarkan cerita Pak Temporas di depan rumah

Empat orang ini meminjam sebidang tanah di Legon Lele dan tinggal di rumah yang nyaris roboh. Sebenarnya, lebih tepat jika dikatakan Bu Umi dan anak perempuannya yang tinggal di sana, memanfaatkan sumber hutan sebagai pangan. Pak Temporas dan anak laki-lakinya hanya 2 hari di rumah, selebihnya menjadi nelayan.

Mungkin karena alasan keamanan, akhirnya mereka meminta sepupunya untuk tinggal bersama. Sepasang suami istri dan anak laki-laki. Hutan tropis dataran rendah di Legon Lele terlalu besar untuk mereka “kelola” sendiri. 

Kami datang pada bulan Agustus, itu artinya musim panen raya jambu mete oleh monyet-monyet macaca di hutan tropis Legon Lele!

Monyet macaca, si pemanen ulung atau si rakus?

Tanah luas Legon Lele memberikan rezeki bagi yang mau mencari. Salah satunya adalah memunguti biji-biji mete yang berserakan di bawah. Monyet macaca fascicularis karimoendjawae bergelantungan di atasdengan lahap memakan buah jambu mete dan membuang bijinya sembarangan. Sehari Bu Umi bisa mendapatkan ½ karung, jika musim panen raya jambu mete. Setidaknya, 3 kg biji yang masih basah itu bisa ditukar dengan uang Rp40.000,- per kilogramnya. Hasil hutan tak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga rezeki besar bagi keluarga Temporas di saat-saat tertentu. 

monyet-atau-kera-karimunjawa
Monyet macaca. Foto pinjam dari Mas Sitam, blogger dari Karimunjawa

Monyet Macaca adalah hewan endemik Karimunjawa. Termasuk monyet yang sangat rakus. Pemakan segala. Ia pandai memakan kelapa tua, juga memakan kepiting bakau. Jangan tanya apa saja yang dimakan, karena ia benar-benar pemakan segala. Salah satu cirinya adalah ia berekor panjang dan bunyi suaranya “Krra!”, melengking keras saat memanggil kawanannya. Monyet jantan memiliki panjang tubuh antara 385-648 mm dengan berat 3,5 – 8 kg, sedangkan betina 400-655 mm dengan berat 3 kg. Warna tubuh bervariasi: mulai dari abu-abu sampai kecoklatan, dengan bagian ventral berwarna putih. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. 

Psst, tahu bedanya monyet dengan kera? Jika monyet memiliki ekor yang terlihat panjang, sementara kera sebaliknya. 
Sekarang sudah tahu, kan?

Jambu Mete Karimunjawa

Jambu mete atau anacardium occidentale L adalah tanaman tropis. Tak banyak yang tahu jika biji tanaman ini, adalah “buah” yang sesungguhnya, sedangkan jambunya adalah buah semu. Yang kita sebut buah, aslinya adalah tangkai buah (peduncle) yang membesar. Tapi tetap saja harus disebut buah, ya. Oh, ya, namanya cashew apple. Mungkin belum tahu. 

Meski secara ilmiah disebut dengan buah semu jambu mete, saya tetap menyebutnya buah jambu mete, agar mudah menjelaskannya. Sepakat, ya.

jambu-mete-karimunjawa


Buah jambu mete Karimunjawa termasuk kecil jika dibandingkan dengan jambu mete Jepara, apalagi yang dari Sukolilo Pati. Mungkin karena jenis tanah dan kondisi alam Karimunjawa yang bagai cermin pemantul cahaya. Tapi secara umum, warna dan rasanya sama. Aromanya khas, dan jumlah vitamin C, 5 kali lebih tinggi dari buah jeruk manis. Tepatnya 147-372 mg per 100 gram. Juga mengandung vitamin BI, B2, niasin serta asam amino.

Buahnya berwarna merah, kuning dan jingga. Mungkin menarik diketahui, jika jambu mete warna kuning rasanya lebih manis, dan lebih harum. Gatal dan kelatnya (sepet) lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang berwarna merah dan jingga. 

Opor jambu mete yang lezat

Bu Umi adalah warga Jepara yang mengadu nasib di hutan konservasi Karimunjawa. Ia harus bisa mengolah bahan pangan dari hutan untuk mengganjal perut. Tak hanya kendala uang, akan tetapi juga kendaraan menuju ke kota, yang sangat jauh. Saya menemukan beberapa tanaman cabai dan sayur yang ditanam untuk kebutuhan sehari-hari. Lokasinya di sebelah dapur semi terbuka, terpisah dari rumah utama. 

Keluarga Temporas sangat bahagia menyambut kami, tim Ekspedisi yang dengan sabar mendengarkan kisah perimbaan mereka. Seperti keramahan khas wong cilik, kami ditawari menginap dan makan. Bu Umi segera memerintahkan keluarganya untuk mencari sayur dan lauk dari hutan. Cocok sekali untuk diceritakan dalam Forest Cuisine Blog Competition yang diadakan oleh WALHI.


resep-opor-jambu-mete
Keramahan khas wong cilik dan olahan sederhana nan leza

Opor jambu mete adalah menu yang ingin saya bagi di sini. Karena saya ingin teman-teman tahu bahwa buah semu pada jambu mete ini bukanlah pakan ternak. Ini adalah buah yang lezat, yang bisa dimasak menjadi apa saja. Jambunya yang segar bisa menjadikan sambal bercitarasa otentik. Saya pernah menulisnya dalam artikel berjudul Menikmati Legitnya Sambel Jambu Mete.

resep-sambel-jambu-mete-sederhana-enak-ala-susindra
Sambel jambu mete ala Susindra

Opor jambu mete buatan Bu Umi dari Legon Lele sebenarnya sulit saya sebut sebagai opor. Bahannya tidak lengkap. Tapi karena tempat makannya memang tiada duanya, apalagi ditemani kegelapan hutan dan ikan segar yang lezat... rasanya menjadi tiada duanya. 

Untuk teman-teman yang penasaran dengan resepnya, saya berikan versi komplit, ya. Agar lebih enak hasilnya, kecuali jika bisa menghadirkan ambiance hutan seperti yang kami alami.

Resep opor jambu mete

Opor jambu mete berbahan dasar buah jambu mete dan santan. Akan lebih enak jika ditambahkan ayam. Jadi, anak-anak akan ikut memakannya. Ini saya lakukan di rumah, karena tertarik makan ayam, anak kami akan mau makan opor jambu mete. 

Jadi ibu harus kreatif....

Meski resep ala Susindra, akan tapi saya harus minta maaf karena menggunakan foto opor jambu mete Bu Umi yang difoto pada malam hari dengan sedikit cahaya. Di sana tidak ada listrik, dan penerangan memang terbatas. 

Ah! Saya menyesal tidak pernah memotret hasil masakan opor jambu mete agar bisa menjadi contoh. Huhu.... nyesel banget. 

resep-opor-jambu-mete-yang-sederhana
Opor jambu mete

Bahan:

500 kg jambu mete
500 kg ayam (optional)
1 liter santan dari ½ butir kelapa

Bumbu A

5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
3 butir kemiri
2 ruas kunyit
1 ruas kencur
1 ruas jahe
¼ sendok ketumbar
¼ sendok merica

Bumbu B

2 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
1 batang sereh

Cara pembuatan

  1. Potong jambu mete menjadi 4 memanjang lalu direbus selama 5 menit. Hasil rebusan diperas airnya hingga hampir habis. Sisihkan,
  2. Potong dan cuci bersih ayam (jika memakainya),
  3. Semua bumbu A diulek hingga halus lalu ditumis sampai harum,
  4. Masukkan bumbu B ke dalam tumisan,
  5. Masukkan ayam dn sedikit air agar tidak gosong. Masak ayam sampai hampir matang,
  6. Masukkan jambu mete yang sudah diperas airnya,
  7. Masukkan santan,
  8. Koreksi rasa.
  9. Matikan segera setelah ada bagian yang mendidih, agar santan tidak pecah.
  10. Opor jambu mete siap dihidangkan.


Resep opor di atas, rasanya sangat lezat. Citarasa buah jambu mete yang spesifik berbaur dengan bumbu-bumbu yang ada. 

Resep lainnya

Air perasan jambu mete bisa menjadi sirup, sari buah, jeli, nata de cashew, wine, cuka, dan manisan. Ampasnya bisa menjadi abon jambu mete nan lezat.

Jambu mete peras bisa diolah menjadi pepes, oseng, botok, lodeh, opor, dan masih banyak lagi. Resep yang ini sudah lama saya ketahui dari kecil, karena ibu kami dari desa Kecapi Jepara, desa penghasil kacang mete di Jepara yang terkenal kelezatannya. Mete Kecapi lebih besar dari mete Karimunjawa, dan lebih kecil dari mete Sukolilo (Pati). Tapi... rasanya lebih manis dan legit, karena unsur hara di Kecapi memang sangat baik untuk tanaman kacang-kacangan.

warga-legon-lele-yang-tinggal-di-hutan-aneka-resep-jambu-mete
Aneka olahan jambu mete dan turunannya

Jambu mete yang telah diperas di atas, bisa juga dibumbui ala pepes, botok dan tumis. Rasanya enak sekali, dan khas. Adakalanya kami yang tinggal di dekat laut menjadikannya pengganti tomat pada pindang tetel, meski asamnya tidak terlalu terasa.

Yah, begitulah. Dari satu bahan, bisa menjadi beragam panganan. 

Pemanfaatan buah jambu mete di Karimunjawa selama ini masih sebatas bijinya saja. Buahnya tercecer di jalan, terlindas mobil, atau teronggok di sampah. Beberapa warga ada yang memberikan sebagai pakan ternak. 

jambu-mete-dijadikan-pakan-ternak
Buah jambu mete tidak diolah dengan baik


Syukurlah, pada event Barikan Kubro 2019, ada ada workshop pengolahan jambu mete yang diampu oleh Bu Umayah, warga setempat. Kelihatannya pendatang. Maka tak heran, jika masyarakat Karimunjawa tampak heran saat mengikuti workshop pengolahan buah jambu mete pada tanggal 3 September 2019 jam 10 pagi tersebut. Saya sedang tak ada kelas, sehingga bisa mendaftar sebagai peserta workhsop. Gratis! 

workshop-pengolahan-jambu-mete-dari-hutan-dan-kebun-warga
Workshop pengolahan jambu mete di Balai Desa Karimunjawa

menu-olahan-jambu-mete-di-karimunjawa
Produk olahan jambu mete Bu Umayah

Kami diajak mengolah jambu mete menjadi abon, sari buah, dan jeli. Bu Umayah membawa obat antibatuk dari jambu mete dan keripik jambu mete. Semua semangat belajar memasak. Bahkan, Mbak Sienny Ho, pemilik destinasi wisata dan pusat oleh-oleh Bukit Love menyatakan akan membeli berapapun hasil olahan dari jambu mete. 

Saat ini, saya membayangkan seandainya musim panen raya tahun 2020 ini, jambu mete telah menjadi welcome drink serta naik kelas menjadi menu restoran dan hotel... 

Ternyata, dari sebuah hutan tropis daratan rendah di Karimunjawa, ada banyak cerita yang bisa digali dan dibagi. Masih banyak Temporas lain di Nusantara yang menanti dikisahkan perjalanan hidup mereka dalam artikel blog bertema mengolah hasil pangan di hutan. Semoga kisah ini menginspirasi. 


Beberapa sumber:

  1. Mulyono, Edy et al. TT. Teknologi Inovatif Pengolahan Buah Semu Jambu Mete untuk Mendukung Agroindustri. Makalah Prosiding Seminar Nasional Teknologi lnovalif Pascapanen untuk Pengembangan lndustri Berbasis Pertanian 
  2. Sulisyati, Rohmani et al.. Revisi Zonasi Taman Nasional Karimunjawa Sebagai Upaya Kompromi Pengelolaan Sumber Daya Alam. Makalah Seminar Nasional Geomatika 2018: Penggunaan dan Pengembangan Produk Informasi Geospasial Mendukung Daya Saing Nasional.
  3. https://viqarchu.wordpress.com/2012/01/04/monyet-karimunjawa-macaca-fascicularis-karimoenjdawae-di-taman-nasional-karimunjawa-tnkj/