Poligami pada Masa Kolonial: Raden Ayu, Syarat Wajib Menjadi Kandidat Bupati

Poligami tumbuh subur pada masa kolonial. Ada beberapa alasannya. Salah satu alasan adalah kebutuhan akan pendamping yang layak. Penguasa dari Belanda mengharuskan pegawai bumiputranya berasal dari kaum bangsawan, termasuk istrinya. Memiliki raden ayu menjadi syarat wajib saat menentukan calon bupati pada masa kolonial. Ini salah satu fakta sejarah yang jarang diketahui oleh khalayak umum.


Poligami pada Masa Kolonial: Raden Ayu, Syarat Wajib Menjadi Kandidat Bupati



Sebentar lagi bulan April. Saatnya menebar sedikit pengetahuan yang saya tahu tentang sejarah, terkhusus sejarah Kartini dan Jepara. Bulan ini memang bulan istimewa bagi masyarakat Jepara. Ada ulang tahun Kota Jepara pada tanggal 10 April, Festival Kartini sepanjang bulan April, dan perayaan beberapa komunitas sejarah di Jepara. 

Saya pun tak tinggal diam. Sebagai salah satu pemerhati sejarah Indonesia, terkhusus sejarah pendidikan dan sejarah perempuan, saya banyak membaca buku, jurnal, skripsi, disertasi, sampai tesis tentang sejarah ini. Sangat nyandu, menurut saya.

Membaca surat Kartini, saya sedikit menyelami perasaannya yang sangat mendalam. Bagaimana kehidupan di rumahnya membuat ia bersedih sekaligus amat sangat bersyukur. Ia memiliki ibu (di surat disebut Ma atau Hibu) yang baik namun kadang membuatnya kesal karena sering mencegahnya keluar. Ia memiliki ibu yang teramat sangat sedikit dikisahkan di surat namun tetap ia perhatikan. Dua ibu yang berbeda latar belakang namun sepakat menyeimbangkan pola asuh liberal suaminya. Seperti itulah interpretasi owner blog Cakrawala Susindra yang senang membahas tentang hati wanita yang tersentuh oleh poligami. 

Membaca interpretasi surat Kartini dalam bentuk jurnal maupun skripsi, bahkan tesis, nama Raden Ayu Moeryam/Woejam akan selalu ada. Seperti duri yang menusuk Mas Ageng Ngasirah, sang istri pertama yang harus mengalah menjadi selir. Yaaa... itu sih yang akan dipikirkan para milenial yang entah sampai kapan akan selalu antipoligami. Seakan Mulan akan selamanya menjadi duri bagi Maya yang sudah bahagia. Sungguh aneh dunia.

Waktu berubah, sebagaimana budaya juga akan bermetamorfosa sesuai zamannya. Istilah selir telah menjadi "orang ketiga" yang bermakna negatif. Padahal pada zaman dahulu, selir menjadi sebuah jalan untuk memperbaiki hidup. Agar kecipratan darah biru.




Film Kartini, lebih mudah pakai interpretasi dalam bentuk film, akan memberikan satu scene tentang penjelasan Ngasirah kepada putrinya, mengapa ia mau dimadu. Mengapa ia rela menerima seorang perempuan darah biru untuk menjadi permaisuri suaminya. 

Demi masyarakat Jepara.
Itu alasannya. 
Itulah mengapa ia mau dimadu. 

Ini bukanlah alasan yang mengada-ada. Suaminya, Wedono Samingun adalah seorang pemimpin kawedanan yang berprestasi. Ia fasih berbahasa Belanda, berani menjawab permasalahan di sekitarnya dalam bentuk petisi ke atasannya yang merupakan orang Belanda. Juga bisa menjawab banyak permasalahan di sekitarnya. 

Ia bukan putra mahkota atau anak laki-laki bupati pertama. Ia anak ketiga. Jabatannya masih wedono. Wedono Mayong, tepatnya. 
Masih ada jenjang selanjutnya, yaitu patih. Namun ia telah dipandang sebagai calon kandidat Bupati Jepara, Tjitrosoma (Ejaan Soewandi menjadi Citrasoma) yang tidak memiliki keturunan laki-laki.

Calon kandidat. Iya, masih calonnya calon. Ia harus punya istri dari kalangan priyayi darah biru agar bisa menjadi kandidat bupati. 
Jalan yang harus ditempuh adalah menikah dengan putri Bupati Tjitrasoma, agar bisa menjadi putra mahkota di kabupaten tempatnya mengabdi.

"Daripada orang yang sewenang-wenang menjadi bupati pengganti selanjutnya..." kalimat yang diucapkan di film.
Mungkin benar  adanya.




Tapi fakta yang paling jelas adalah, Wedono Samingun memang harus menikah kembali dengan seorang raden ajeng agar bisa menjadi bupati. Raden Ajeng Moerjam menjadi jalannya menuju karier bupati. Mereka menikah pada tahun 1875. Tiga tahun setelah menikah dengan istri pertamanya yang cantik jelita namun dari kalangan jelata.

Pada tahun 1880, Wedono Samingun menjadi Bupati Jepara dengan nama baru, yaitu Raden Mas Adipati Arya (Samingun) Sasraningrat. Sebuah gelar yang sangat tinggi, karena dibawahnya masih ada gelar raden mas tumenggung arya. Di buku-buku, namanya lebih sering disebut R.M.T.A. Sosroningrat. Memang lebih mudah demikian atau karena memang perubahan ejaan di masa itu. Surat resmi yang dikirimkan untuk permohonan beasiswa putrinya, R.A. Kartini dan R.A. Roekmini tertulis R.M.T.A. Sasraningrat. 

Tapi saya tetap pakai yang umum saja, yaitu R.M.T.A. Sosroningrat..... Sesuai nama yang dipakai keluarga besar juga.

Oh iya, dalam sebuah surat, Kartini, putrinya, juga pernah menuliskan tentang seorang patih yang menjadi calon kandidat bupati di daerah Jawa bagian timur (penetapan Jawa Timur baru tahun 1930an), yang kukuh tidak mau memberikan madu untuk istrinya. Bahkan meskipun sang istri berkali-kali menyarankan, agar suaminya jadi bupati. Namun cinta sang suami ternyata lebih kuat sehingga tidak silau akan kesempatan menjadi pemimpin tertinggi seorang bumiputra pada masa penjajahan.


Foto ilustrasi: Bupati Sumedang Raden Adipati Soeria Atmadja (kanan) bersama keluarganya, sekitar 1899


Iya, bupati adalah "raja kecil" yang diawasi langsung oleh pemerintahan kolonial yang menyebut dirinya sebagai Pemerintah Hindia-Belanda. Tak ada jabatan lebih tinggi selain bupati.

Seorang tokoh bernama Ismangoen, yang meski mendapat angin segar dari Raja Willem pun tetap tak diizinkan. Ia dipersilakan menjadi bupati atau menjadi pegawai rendahan di kantor urusan pemerintahan. Cuma itu opsi bagi Ismangoen, karena tak ada satu orang Eropa pun yang rela membungkukkan dirinya di depan inlander, eh bumiputra.

Tapi ini terjadi pada kisaran waktu pelaksanaan Tanam Paksa sampai awal-awal Politik Etis. "Door Duisternis tot Licht" membuka kesempatan perempuan bersekolah dalam skala yang luar biasa. Awalnya hanya satu dua Sekolah Kabupaten atau sekolah yang dinaungi Bupati yang melakukannya. Bupati muda yang progresif. Bukan bupati tua yang konservatif.

Ketika para perempuan mulai menyecap pendidikan, mereka lantang menyuarakan anti poligami. Bersamaan dengan itu, pendidikan keprajaan juga terbuka bagi semua golongan masyarakat. Syaratnya mau dan mampu, karena biaya sekolah cukup mencekik.

Setelah itu, ada sebutan elit priyayi (pegawai masih berdarah bangsawan) dan elit modern (pegawai yang tidak berdarah biru). Kewibawaan bupati tua mulai luntur karena yang muda-muda lebih kreatif dan cepat menjawab tantangan. Syarat darah biru, punya raden ayu, dan lainnya tak lagi menjadi syarat utama. Mungkin Bupati Oetojo jadi salah satu pembukanya. Selebaran Gubernur Jenderal tanggal 29 November 1913, nomor 2744 mengukuhkannya.

Menjelang berakhirnya masa pemerintahan kolonial, para perempuan berteriak lantang menolak poligami. Mungkin karena mereka lelah melihat orangtua mereka berkutat di dunia poligami demi karier dan status sosial. Satu yang pasti, mereka yang sudah tercerahkan takkan rela memasuki gerbang poligami, yang nyaris selamanya menjadi musuh Kartini.

Kartini, yang di suratnya menyatakan poligami adalah musuhnya, akhirnya memilih jalan poligami agar kesempatan belajar bagi perempuan terbuka. 

Banyak antiKartini yang menjadikannya sebagai bahan olok-olokan. Namun jika beliau masih hidup, beliau takkan menyesalinya, karena jalan perintis memang penuh onak dan duri.

Lawannya bukan hanya orang luar yang sinis dan mencibir. Bukan orang luar yang menggebrak meja karena terganggu.

Lawan utamanya adalah keluarganya sendiri. 

Keluarganya sangat mendukung namun tidak siap menerima cercaan, terutama para ibu. Sang ayah mencoba tegar karena itu adalah hasil didikannya sendiri. Sejak kecil ia selalu mengajak para putrinya bergantian melihat kemelaratan warganya dan meminta mereka mencari solusi.

Jika solusinya akhirnya pendidikan nasional.... Maka antara bangga dan waspada pada penguasa yang menjajah bangsanya sejak ratusan tahun sebelumnya bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata.


Poligami adalah jalan Kartini menyuarakan inspirasinya karena perempuan yang belum menikah tidak boleh bersuara.

Dalam hal pernikahan, nasib baik mengikuti adiknya Roekmini. Ia berhasil bertahan sampai akhir, bahkan memilih sendiri suaminya. Entah bagaimana ia meyakinkan ibunya yang bangsawan konservatif, sehingga ia berhasil memilih suaminya sendiri: wedono tanpa setetes darah biru. Hanya pekerja keras.

Namun nasib Raden Ayu Roekmini Santoso tidaklah sebaik para saudaranya....

Yah, begitulah sedikit catatan kecil tentang poligami di masa kolonial ala Cakrawala Susindra. Semoga seikit membuka wacana, seperti harapan pemilik blog sehingga menggunakan nama Cakrawala sebagai nama blognya.

26 komentar

  1. ternyata demikian aspek poligami di kalangan bangsawan masa silam ya Mbak.. saya baru tau..

    BalasHapus
  2. waw...aku baru tau ternyata ada juga sistem poligami dikalangan bangsawan.

    BalasHapus
  3. Jaman kolonial berat bgt ya buat wanita, smua wanita harus tunduk dan taat pada aturan yg ada termasuk poligami ini

    BalasHapus
  4. Saya juga suka mbak baca-baca cerita zaman prakemerdekaan. Tapi kalau jurnal belum pernah. Lebih seringnya buku biografi tokoh dan novel-novel berlatar zaman kolonial seperti tulisan Pram, Multatuli, atau novel terjemahan berlatar sejarah.

    Memang pada masa itu ya kehidupannya seperti itu ya. Sulit membayangkan perjuangan Kartini (dan perempuan2 pada masa itu) mendobrak tradisi yang sangat kuat dan nyaris tanpa celah untuk masuknya tradisi (dan cara pandang) baru.

    Memang lain dulu lain sekarang.
    Namun, sejatinya hidup di masa sekarang pun bukan berarti lebih mudah ya mbak. Tantangan-tantangan bagi perempuan selalu ada sesuai perkembangan zaman, bahkan makin banyak saja. Hanya beda versi dan beda bentuk saja. (Yah, termasuk pro kontra poligami salah satunya).

    Bahkan pegiat seni dan budaya tradisional seperti saya pun banyak tantangannya. Misalnya kecenderungan milenial yang nggak mau lagi ada prosesi adat di hari pernikahan. Yang katanya sudah kuno lah, ribet lah, ada juga yang mengatakan itu bertentangan dengan persamaan gender yang digaungkan masyarakat modern.

    Menurut saya, itu hanya pendapat orang yang "tak kenal maka tak sayang". Budaya dan kearifan lokal kita harus terus dilestarikan karena mengandung nilai yang sangat luhur.

    Kemajuan zaman, open minded, hayuk. Kearifan lokal yang bagus juga tetap, jangan ditinggalkan.

    Duh, jadi curhat deh mbak. Hihi...

    BalasHapus
  5. Saya dengar sih gitu,semakin jaya, istri lebih dari satu, blm lagi selir hehe

    BalasHapus
  6. Hihihi pingin ketawa baca ini:
    "Seakan Mulan akan selamanya menjadi duri bagi Maya yang sudah bahagia"

    Bumi berputar pada porosnya, case serupa belum tentu sama penerimaannya di setiap abad

    BalasHapus
  7. Jadi bertambah pengetahuanku tentang poligami tidak hanya dari sisi agama, tapi juga cerita tentang masa kolonial.

    BalasHapus
  8. Sebelum melakukan poligami pasti ada alasan mengapa bisa terjadi, apalagi masa kolonial. Tinggal bagaimana keikhlasan, kalau nggak ikhlas lebih baik ya tak usah.

    BalasHapus
  9. Ehm..kek drakor juga makin banyak selir makin diakui memimpin ya hehe. Memang ngatur 1 cewek aja ribet haha jd kalo bisa atur 2 artinya hebat

    BalasHapus
  10. Baru tahu alasan sebenarnya poligaminya, tapi ternyata di dunia ini masih banyak yang berpoligami karena nafsu semata, bukan karena keberpihakan pada rakyat ya mbak..oiya, aku follow blognya mbak..

    BalasHapus
  11. wah demi menjadi bupati harus poligami miris semiris mulan yang selalu dianggap duri dia tas kebahagian maia

    BalasHapus
  12. Pantesan dulu ada ungkapan Harta, Tahta dan Wanita. Disini disampaikan (mudah mudahan saya ngga salah nangkep) untuk mendapat tahta dibutuhkan wanita supaya dapat harta.
    Bukan bearti ini jelek sih ya, karena budaya dulu dan sekarang berbeda dan terus berkembang. Tentu saja tak bisa dicampur adukkan dengan pemahaman lain

    BalasHapus
  13. Aku hampir idem, ngakak, sama mba Maria Soemiro di bagian yang sama:

    "... seakan Mulan akan selamanya menjadi duri bagi Maya yang sudah bahagia!"

    Hanya mereka berdua dan Allah tahu, mengapa oh mengapa :)

    BalasHapus
  14. Oooh gitu ya
    Mereka lebih memilih legowo dan berpikir positif. Kalau bukan suaminya yg mimpin daerah, ya siapa lagi, lahwong orang baik dan cerdaa, meski harus sedikit mengorbankan perasaan

    BalasHapus
  15. Aduh, ga kebayang jadi Kartini dulu ya. Demi mendapatkan ilmu harus rela poligami. Zaman sekarang pendidikan bisa mudah diakses tapi banyak yang abai. Kita emang harus belajar dari sejarah ya biar lebih banyak bersyukur

    BalasHapus
  16. Saya menikmati sekali setiap kalimat yang mba tulis, sampai ga berasa udah habis. Kebetulan suka sejarah. Sejarah bikin saya membaca sambil berkhayal (atau emang dasarnya suka berkhayal??) Mba besok nulis sejarah lebih banyak lagi ya. Terutama yang bisa mencabik-cabik perasaan ahahaaa.. Iya ih, ikut baper saya hehe

    BalasHapus
  17. Saya baru tau loh, Mbak cerita tentang syarat jadi Bupati di zaman Hindia Belanda. Demi sebuah jabatan, ada yang bisa memiliki istri lebih dari satu

    BalasHapus
  18. Makasih mba Susu, tulisannya bagus sekali dan membuat saya lebih tahu tentang sejarah poligami pada masa kolonial

    BalasHapus
  19. Wah berasa baca sejarah. Btw film Kartini ini udah ada lama kan ya? Kalau tak salah sih. Sayang blm berkesempatan nonton :(
    Pernikahan juga bisa menjadi jalan politis ya mbak, sampai sekarang juga masih ada sih walau gak sefeodal dulu, kalau diperhatikan hehe

    BalasHapus
  20. baru tau sejarah ra kartini dan poligami, thanks for sharing yaa jadi ingn belajar sejarah juga

    BalasHapus
  21. Maaf yaa, kak Susi.
    Aku jadi kepikiran hal lain yang mungkin juga bikin kak Susi gak setuju sama saya.

    Ternyata emansipasi perempuan dari hal terkecil (poligami) ini berasal dari Kartini, salah satunya. Jadi ilmu agama saat itu minimkah?
    Atau derasnya aliran liberal yang masuk melalui buku-buku yang dibaca beliau?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat itu, belajar agama masih sebatas cara melafalkan dengan tepat dengan cara hapalan. Baru tahun 1903,beliau bertemu Kyai Soleh Darat dan mengingatkan bagaimana orang Islam tahu agamanya jika hanya menghapal.
      Maka, tiap bulan ada santriwati yang mengirimkan terjemahan Alquran ke Pendopo Jepara. Pikiran beliau terbuka dan salah satunya menerima jalan hidupnya sebagai calon Raden Ayu di sebuah kabupaten.

      Hapus
  22. cerita sejarah ini seru banget ya. tapi dulu aku waktu sekolah nggak suka sejarah. sekarang nih kalau baca sejarah, kok asyik, pengen menelusuri lebih jauh lagi. apalagi cerita Kartini ini benar2 ada sedihnya, bahagianya, campur aduk deh.

    BalasHapus
  23. iya sih, itu cerita eyang-eyang saya dulu, kayaknya itu juga cerita turun temurun, tentang bagaimana bangsawan zaman dulu mudah berpoligami. apalagi kalangan kerajaan, ibaratnya tinggal nunjuk aja sudah dapat perempuan yang diingini. apakah yang ditunjuk selalu mau? tidak juga. tapi apa daya, penguasa punya segalanya termasuk titah yang harus terlaksana

    BalasHapus
  24. Keputusan politis memang taklekanh dimakan zaman, apa pun yang melatarinya, demi kepentingan rakyat atau kepentingan pribadi, politik untuk banyak hal, tetap sebagai panglima.

    BalasHapus
  25. akutu asli penasaran dengan beliau, baru sempat kelar membaca tulisan mbak Susi ini ... hahaha ngapain ajaaa kemarin.

    Meninggal di usia yang terbilang masih sangat muda, wallahu alam sampai sekarang belum ada yg menyebutkan pasti penyebab kematiannya. Beberapa menyebutkan karena preeklampsi.

    Terlebih dari itu semua, perjuangan beliau dapat kita rasakan sekarang.

    Btw tfs tulisannya mbak, jadi paham kenapa di jaman kolonial dulu sering terjadi poligami.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)