Empati di masa pandemi adalah tema One Week One Post dari Pojok WB alias Pojok Warung Blogger. Tema yang sensitif, kalau tak mau bilang sulit. Range pengembangan tulisannya sangat tinggi, tapi penulis seperti saya bisa terjebak dalam curhatan panjang, tak seperti artikel khas Cakrawala Susindra.

empati di masa pandemi


Iya, curhatan panjang. Pandemi ini meluluhlantakkan pondasi ekonomi saya. Sangat beruntung sejak setahun sebelumnya saya sudah merintis TOGA alias tanaman obat keluarga. Saya memanfaatkan lahan pekarangan depan rumah untuk aneka sayuran dengan target minimal seminggu 3x tanpa beli sayur. Sayuran dan minuman memang jadi solusi saya menguatkan kesehatan dan imunitas tubuh. 

Siang ini pun saya merasa medekel alias berat di dada. Sebenarnya rasa dongkol itu sudah sedari agak lama. Tapi hari ini memang seakan diejek tetangga. 

Tentu bukan maksudnya demikian. Itu hanya bentuk kebahagiaan alami para tetangga, karena akan menerima BLT lagi dan lagi. Ada yang rutin, ada yang dari instansi. 

Saya pendatang dan penyewa rumah, jadi tidak terdata di sana dan di sini. Dan.... saya tinggal di dukuh yang secara ekonomi rata tidak bagusnya. Jadi bermacam-macam bantuan mengalir ke tetangga kanan kiri depan belakang. Saya tidak seberapa memperhatikan, tapi nyaris seminggu sekali atau dua. Nah, seharian ini, tetangga selalu membahas bantuan yang diterima atau seharusnya diterima karena tetangga lain menerima.

Jadi ini bukan tentang tetangga atau diri saya, tapi tentang kelaziman di sekitar kita bahkan mungkin di seluruh dunia. Iya. Ini fenomena yang terjadi di mana-mana dan bukan salah para tetangga saya.

Atau katakanlah ini kesalahan saya yang adakalanya terpuruk namun selalu mengatakan dan meyakini, "Kami baik dan akan tetap baik."

Masalahnya sebenarnya bukan karena saya tidak dapat bantuan apapun. Masalahnya adalah para tetangga ini tidak mau percaya akan adanya covid 19. Tidak percaya. Boro-boro pakai masker atau standar prokes standar lainnya. 

Dan fenomena ini lazim terjadi. Tak percaya tapi menikmati. Terbayang, kah, jengkelnya saya, siang ini?”

Bahkan ustad dan kyai pun memperburuk keadaan.

Baru terjadi minggu ini, ketika kebetulan ada tetangga yang meninggal dan tahlilan dilakukan seperti biasa. Jangan bayangkan 30-40 orang seperti di kota. Di desa, peserta tahlil 300-400. Tentu tak ada physical distancing. Yang pakai masker? Kalau tidak salah tak sampai 10. 

Dan yang minimalis itu dijadikan olok-olok di Pak Kyai yang diundang untuk memberi tausiah. Kami diminta mencopot masker. Katanya masker akan membunuh kami karena 1) tidak percaya pada kuasa Allah, 2) masker membahayakan diri kami sendiri. 

Kebetulan ada 2 khataman tahlil 7 hari di dua rumah tetangga dengan selisih 1 hari, dan dua kyainya setipe. Kyai yang pertama mengatakan berkah dan rahmah ada di desa kami yang istimewa sehingga tidak mungkin ada corona. Kyai kedua menyatakan lebih keras lagi bahkan menyarankan kami membuka masker. Tentu sambil guyon, karena kalau di desa, tausiah itu harus di antara tawa.

Tentu grrr berkali-kali terjadi, dan saya mendengarkan sambil melakukan IG Walking. Kalau pulang tanpa alasan yang benar rasanya kurang tepat. Rasanya seperti terjebak. Kebetulan juga saya pakai masker baru yang tidak nyaman karena kekecilan. Wkwk

Maaf, saya tak pakai adab murid karena dari awal langsung mengatakan hal yang bertentangan dengan apa yang saya pahami dan yakini. Apalagi saat beliau mengeluhkan keadaan, jadwal tausiah yang dibatalkan, beratnya PJJ, serta berkali-kali memberi alasan mengapa harus loss. Iya, beliau mengatakan “loss!” berkali-kali. 


Bagaimana saya bisa menjadi murid beradab jika apa yang disampaikan bertentangan begini??

Tuh kan saya baper. Wkwkwk.


Sebenarnya saya mau cerita tentang empati yang nyaris mati. 

Juni-Agustus adalah pertengkaran sengit saya dengan para sahabat yang tidak percaya bahwa corona itu nyata. Atau mereka menyatakan percaya tapi dengan lantang mengatakan tidak peduli. Toh yang positif akan cepat sembuh seperti sedia kala. Jadi saat saya membuat tulisan tentang pandemi, mereka akan saling mention teman dan merusuh di sana dengan statement-statement kontra produktif. “Lihat angka kematian sangat rendah, Mbak, jangan membesar-besarkan.” 

Malahan ada yang mengatakan saya menebar teror.

Separah itu?

Iya. 

Banyak yang denial agar cepat bisa bekerja kembali. Padahal kalaulah mau membantu mengajak orang aware pada pandemi ini, tentu apa yang kita hadapi akan cepat berakhir. Kalau cuek bahkan secara terang-terangan mengajak orang untuk loss, yang saya yakin banyak yang tanpa kendali... kapan semua ini berakhir? 

Bahkan saya diseret di arus politik karena dikira buzzer pemerintah setempat.

Ini cukup menyakiti saya. Beberapa kali saya dalam kondisi nyaris tak bisa makan dan tentu pemerintah setempat tidak akan tahu karena saya tidak terdata di mana-mana dan tidak mengajukan diri! Saya mencoba bermental kaya.

Saya beritahu, ya.

Suara saya lantang mengajak orang waspada dan mematuhi prokes karena kantong saya kering. Karena saya rindu bekerja. Karena saya sedih melihat pesanan suami sangat sepi. Karena saya rindu berkumpul dengan teman dan membahas isu sejarah yang terbaru. 


Terlebih karena... ah sudahlah. Saya hanya bisa mengatakan betapa beratnya hidup di masa pandemi ini namun saya harus tetap terlihat tegar, bahkan memberi inspirasi cara bertahan hidup, yang kadang saya rasakan sebagai sebuah kekosongan. 

Kosong.

Saya memberi inspirasi pada siapa? Mereka tidak dalam kondisi pailit seperti saya. Dan di kondisi itu saya bertahan untuk tetap bermental kaya. Setiap orang punya rezekinya dan itu takkan tertukar. 

Adakalanya saya merasa memang, empati di masa pandemi ini sebagian ikut mati.

Entah berapa kali saya harus menahan diri tidak memandang rendah mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan keadaan, sehingga sibuk mengeluh dan melantangkan permintaan bantuan. Juga pada teman-teman yang menurut saya berliterasi tinggi tapi tampak bodoh kali ini. Iya, saya sulit menahan diri untuk tidak berpikir bahwa mereka bodoh karena tidak percaya Covid-19, tidak mau pakai masker dan prokes lain, serta sibuk menyebar teori konspirasi, dan lainnya. 

Jika pertahanan saya bobol lalu menyebut mereka bodoh, bukankah saya sendiri juga seperti mereka? Siapa saya yang memandang diri lebih tinggi? Saya mengutuk dalam hati, agar segera kembali menjadi pribadi yang berusaha memuliakan orang agar diri dilihat kemuliaannya. 

Saya malu pada pepatah menang tanpo ngasorake kalau melihat gontok-gontokan di media sosial zaman sekarang. Politik identitas meluluhlanakkan kesantunan berpendapat.

Iya, saya memang merasa benar sehingga dengan sendirinya merasa menang.

Teman-teman saya juga merasakan hal sama; ia merasa benar dan menang.

Hal yang berat lainnya adalah saya merasa bahwa sudah seharusnya saya mengabarkan hal fakta meski itu pahit, namun saya juga merasa bahwa bagi beberapa orang hal itu adalah hoax.

Hal semacam ini memang bisa berbeda, tergantung referensi, sudut pandang dan tujuannya. 

Saat saya membuat postingan ajakan pakai masker karena kasus positif rata-rata 17 orang per hari, saya dikatakan penebar teror.

Rasanya seperti ditampar.

Setelah lama menyelami, melihat dalam hati, tarik ulur antara benar versi saya dan versi sana, apa akibat tulisan saya, juga saat orang-orang politik dan LSM mulai sumbang di status saya, saya putuskan berhenti.

Saya putuskan membunuh empati saya, yang menjadi motor penggerak peran mandiri saya, sebagai edukator coronavirus, di kota saya. Saya memutuskan lebih masuk ke dalam. Lebih memperhatikan diri sendiri dan keluarga utama. Membisu itu lebih baik.

Saat ada yang mengajak bicara atau mengabarkan X, W , atau Y yang notabene orang terdekat pencerita telah diyatakan positif, saya hanya menjawab....

“Kita semua hanya menanti apes saja. Seperti saat berjalan dan ada orang yang pipis. Jika kita apes, mungkin kecipratan sedikit atau banyak. Menjadi OTG atau pasien. Makanya bentengi diri dengan pengetahuan, kewaspadaan, doa, serta imunitas yang baik.”

Dan bagi saya, jawaban itu dapat diibaratkan sebagai sekaratnya empati (saya) di masa pandemi. Seharusnya saya tidak menyerah dan terus mengajak. 

Karena, sudah seharusnya kami bergerak bersama, membuat satu suara untuk mengedukasi masyarakat. Tidak seperti sekarang ini, berusaha tidak peduli.

Akankah empati saya itu akan fight back menyelamatkan tuannya? Mungkin hanya Allah yang tahu. Saya hanya butuh lebih ke dalam diri.


Byuh! Curhatan saya kali ini sangat seru. Jangan menyalaharti bahwa saya sedang membicarakan empati orang lain. SAYA BICARA TENTANG EMPATI SAYA SENDIRI. Tentang standar empati yang saya miliki. Terkadang saya mengutuk jiwa philanthropie ini, yang membuat saya selalu kepikiran jika tidak membantu. Tapi saya lahir dengan itu. Saya takkan mungkin menggugat Allah yang menitipkan jiwa relawan tanpa memberikan modal yang cukup.

Saya menuliskannya secara sadar. Adakalanya memang saya perlu mengeluarkan serapah di dalam otak saya agar tidak menjadi racun. Oh iya, silakan baca tulisan saya tentang sehat dan pandemi

Atau Tantangan Ibu di Masa Pandemi juga tulisan yang bagus karena menceritakan tentang bagaimana cara ibu mengatasi dan beradaptasi di masa pandemi. Kita perlu downgrade hidup kita dengan cara asyik.