Bulan Dzulhijjah belum lama berselang. Kami di Jepara menyebutnya Sasi Besar (Bulan Besar). Bulan yang baik untuk melakukan tasyakuran. Saat yang tepat untuk makan kintelan, makanan khas Jepara yang identik dengan Desa Tegalsambi. Kintelan memang identitas lokal masyarakat Desa Tegalsambi Jepara.


Kintelan sebagai makanan khas Jepara
Kintelan sebagai makanan khas Jepara



Bulan ini juga dipilih sebagai bulan yang pas untuk sedekah bumi. Beberapa event budaya digelar, misalnya Perang Obor, Memeden Gadu, Barikan Kubro, Jembul Tulakan, dan masih ada satu lagi, kelihatannya, tapi saya lupa. Pecinta budaya Jepara memang akan sering menenteng kamera kalau bulan Dzulhijjah tiba. Sayangnya saya belum termasuk kategori ini. Saya datang kalau ingat dan sempat. Huhuhu.


Perang Obor Jepara tahun 2020

Bicara event tradisi di Jepara dan kuliner, maka Perang Obor yang paling pas. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Perang Obor harus ada pasar kintelan, dan antar warga akan saling weh-weh panganan lezat ini. Saling weh-weh artinya saling memberi. Saking kentalnya tradisi ini, para pendatang bisa dibuat bete saat membeli, karena pedagang mengutamakan warga dulu, dan mereka belinya berbungkus-bungkus. Saya pernah mengutarakan kekecewaan karena antrian saya selalu diserobot warga, dan artikel itu ternyata viral. Judulnya Berburu Kintelan di Perang Obor Tegalsambi Jepara. Tapi saya tidak hendak mengeditnya agar jadi pelajaran. Di mana-mana, tamu harus diutamakan.


Perang Obor adalah visualisasi legenda masyarakat Tegalsambi tentang pertarungan dua tokoh sakti untuk menghilangkan pagebluk di desanya. Andai perang ini bisa menghilangkan pagebluk corona yang sudah menjadi pandemi global ini.... Ah, tentu saya tidak bisa menyarankan orang-orang seluruh duna saling memukul dengan api seperti di Perang Obor.


Mudahnya, kita bisa mengatakan bahwa Perang Obor adalah sedekah bumi sekaligus upacara tolak balak. Perang ini diyakini dapat mengusir roh-roh jahat yang membawa pengaruh tidak baik. Juga, agar panen dan kegiatan ekonomi masyarakat selalu lancar.Bersamaan itu, ada juga pagelaran wayang kulit dan prosesi arak-arakan 4 pusaka dari Sunan Kalijaga.


Perang Obor sendiri dapat kita saksikan bersama pada malam Selasa Pon di bulan Dzulhijjah. Silakan datang ke Jepara pada hari Senin Pahing, langsung ke Desa Tulakan yang ada di daerah selatan untuk melihat pesta rakyat Jembul Tulakan, lalu sorenya ke Jepara bagian selatan, yaitu Tegalsambi. 2 event ini seharusnya digarap dengan serius oleh Dinas Pariwisata dengan membuat Pesta Blogger di Jepara. Keduanya dilakukan berurutan, dan punya nilai sejarah, serta ada makanan khas Jepara yang hanya keluar pada hari itu juga. Please, buatlah pada tahun 2021 nanti! Takkan rugi mengundang 100-200 blogger untuk mem-branding kota Jepara. Saya masih sering mendapat pertanyaan di Jepara ada wisata apa, atau mau ngapain kalau mampir Jepara? Padahal tulisan saya sudah cukup banyak lho.


Kintelan sebagai makanan khas Jepara
Kintelan sebagai identitas lokal masyarakat Tegalsambi



Makan kintelan, makanan khas Jepara yang hanya ada setahun sekali itu. Sebanyak-banyaknya. Setelah itu bersiap melihat api menyambar-nyambar para peserta perang. Bisa juga menyambar penonton yang tidak tertib karena memasuki area perang. Beberapa fotografer, baik profesional maupun abal-abal akan masuk arena demi foto dan video yang luar biasa. Setengah takut kena lupa bakar tapi yakin ada obat yang langsung menyembuhkan luka bakar.


Ini video amatiran kami. Suami ikut gabung di arena demi konten istrinya. Hihihi. Saya menonton di atas log-log kayu jati sambil menjaga dua anak laki-laki kami.




Saran saya, jangan menyentuh kumpulan blarak-klaras (tongkat perang) yang digunakan untuk perang, saat acara sudah dimulai. Peserta mungkin khilaf, memukul kepala kita dengan api yang ia pegang. Seorang narasumber pernah berkata, beberapa tahun lalu, ia terpaksa ikut perang dengan baju pramuka karena terus diserang dan menyiratkan ada mantra di tongkat itu. Satu sisi saya tahu, bahwa yang ia katakan masuk akal, tapi sisi logis saya mengatakan, ia memang akhirnya diajak serta karena warga. Meskipun saya juga harus mempertimbangkan fakta bahwa ia masih anak SMA saat itu.


Nah, Perang Obor tahun2020 tetap dilaksanakan dengan sangat sederhana, bahkan cenderung tertutup dari publikasi. Saudaranya, yang dilakukan pada hari yang sama, Jembul Tulakan, tampaknya juga dilakukan. Saya tidak punya beritanya kecuali kesaksian teman bahwa acara dilakukan jam 10 malam. Acaranya sederhana dengan prokes ketat. 

Hmm... biasanya jam 8 malam sudah mulai dan selesai jam 10 malam.


Kintelan, makanan khas Jepara

Kintelan. Itu nama makanan khas Jepara yang unik. Orang yang hanya sekilas akan mengatakannya sebagai Klepon Jepara. Memang sedikit mirip. Enten-enten (manisan kelapa) jadi bahan isian juga. Bedanya, klepon eh kintelan tersebut saat memasaknya tidak direbus tapi ditata dan dikukus bersama. Jaraknya sengaja didekatkan agar saling menempel. Makanya, ia bisa dikategorikan sebagai makanan khas Jepara. Saya belum menemukannya di tempat lain.


bentuk kintelan yang asli tegalsambi
Bentuk kintelan yang asli Tegalsambi



Untuk toping, jika klepon menggunakan parutan kelapa, kintelan menggunakan areh. Itu lho, si kepala santan yang sangat kental. Kelapa yang dipakai harus sudah tua agar arehnya terlihat sedikit berminyak. 


areh dan kuas daun yang khas
Areh dan kuas daun yang khas


Rasanya lezaaat...


Kintelan adalah panganan manis gurih yang terbuat dari tepung ketan, kelapa, gula jawa, dan areh. Rasanya manis, kulitnya kenyal, ada gurih dari areh yang kental berminyak. Harumnya santan dari kelapa tua membuat makanan ini sangat ngangenin. 


Sebenarnya panganan ini punya lawannya, yaitu gemblong. Tapi entah mengapa saya tidak menemukan keduanya dalam satu penjual di pasar dadakan pada saat Perang Obor. Padahal kalau di pasar, kedua makanan ini disandingkan. Keduanya tidak lengkap kalau tidak dimakan bergantian. 

Kalaulah kita mau berandai... atau saya yang suka bikin interpretasi bebas, adanya kintelan dan gemblong ini mengingatkan dua tokoh dalam Legenda Desa Tegalsambi, yaitu Ki Gemblong dan Ki Babadan. Ki Gemblong diibaratkan gemblong yang gurih, cenderung asin. Kintelan adalah Ki Babadan, ia manis namun mendapatkan citarasa gurih dari areh.


Mungkin... mungkin, ya, itu simbolik juga. Simbolis pertempuran heboh menggunakan api, antara Ki Babadan dan Ki Gemblong. Ki Babadan diwakili kintelan yang manis, legit, dan gurih. Ki Gemblong diwakili panganan gemblong yang gurih dengan dominan rasa kelapa (simbol bijaksana). Keduanya disatukan dan diberi tambahan areh atau santan kelapa yang sangat kental.


Kintelan sebenarnya tidak hanya ada pada saat Perang Obor. Di pasar Jepara II dan Pasar Demaan juga ada, meski kelihatannya di hari tertentu. Saya jarang ke pasar dan kadang tidak ada. Tapi rasanya beda jauh. Kintelan saat Perang Obor rasanya lebih enak dan lebih spesial. Makanya sangat ditunggu. Kemarin sempat di-online-kan dan dikirim dengan ojek online. Maklum, banyak pecinta kuliner yang sangat menanti makanan ini, yang khas dan enak.


Kadang saya berpikir kenapa para penjual kintelan yang legendaris itu tidak menjual di pasar, ya. Kenapa menanti setahun sekali. Atau mungkin jualan tapi di pasar lainnya. Kalau kangen, saya beli di pasar dan rasanya agak kesal karena tidak seperti yang saya harapkan. Saya harus menanti 1 tahun untuk bertemu dengan makanan khas Jepara yang rasanya ngangeni itu. 


Semoga, nantinya, makanan ini diakuisisi Pemerintah Kabupaten Jepara sebagai makanan wajib dan makanan kenegaraan, yang harus ada pada semua event kabupaten dan selalu disajikan pada saat ada tamu penting. Saya sangat menantikan hal ini. Tolong, lakukan itu agar kintelan mengindonesia dan mendunia.