Saya punya dua pengarang perempuan berbeda zaman yang sangat menginspirasi kehidupan. Saking besarnya sampai meletakkan saya pada status literasi yang baik. Bahasa lainnya adalah, saya menjadi kutubuku karena salah satu dari mereka, dan menjadi lebih bersemangat nguri-uri budaya lokal karena pengarang kedua. Anehnya, saya sama sekali tidak menyadari bahwa keduanya adalah pengarang feminis. Saya akan menceritakan dari yang pertama meletakkan dasar kesukaan membaca, kemudian baru sosok yang membuat saya lebih suka lagi membaca sekaligus menulis.

Pengarang yang Menginspirasi Kehidupan Saya



1. Nh. Dini (1936-2018)

Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau lebih dikenal sebagai Nh. Dini adalah pengarang pertama yang membuat saya berbinar-binar membaca. Menyelesaikan kisah Dini kecil di novel-novel yang ternyata adalah memoar hidupnya sendiri. Iya, kesamaan nama tokoh, pekerjaan ayah si tokoh utama dan lainnya sangat mirip. 

Nh. Dini lahir pada bulan kabisat tahun 1936 dan meninggal pada tahun 2018 lalu. Keduanya terjadi di Semarang, sebuah kota yang tak jauh dari kota saya. Dia disebut sebagai novelis feminis karena banyak menceritakan tentang perjuangan tokoh perempuan melawan tantangan hidupnya sebagai perempuan Jawa, baik di negerinya sendiri maupun di negeri orang. Ia pandai mendeskripsikan latar atau setting cerita sehingga pembaca seakan diajak ke masa yang sedang dia tulis.

Buku Nh. Dini pertama yang saya lahap adalah novel Sebuah Lorong di Kotaku (terbit pertama tahun 1978). Tentang Dini kecil, si anak bungsu dari seorang pegawai jawatan kereta api di Semarang. Setting novel pada tahun 1940an awal sampai masa akhir pendudukan Belanda. Di kisah itu diceritakan bagaimana kehidupan masyarakat kota Semarang ketika Perang Dunia I berlangsung. Sepulang dari liburan di rumah kakek, ibunya Dini mulai sering membuat makanan yang diawetkan seperti ikan dan daging yang dikeringkan. Novel diakhiri dengan suara-suara dentuman meriam dari posisi bersembunyi mereka, penanda bahwa kekuasaan Belanda diambil alih oleh Jepang.


Setelah itu dilanjutkan dengan novel Padang Ilalang di Belakang Rumah (terbit pertama tahun 1979) adalah novel memoar Dini kedua. Novel kedua tersebut menceritakan tentang kisah kehidupannya pada masa pendudukan Jepang. Tentang harapan tinggi pada “saudara tua” yang baru saja berhasil mengusir Belanda. Namun harapan tersebut berganti menjadi penyakit busung lapar, pakaian dari tenunan jerami atau kain dari karung (bagor) dan suasana kemiskinan yang menyeluruh. Bahkan bagi keluarga Dini yang cukup mampu jika dibandingkan mereka. Novel ini juga sekilas menceritakan tentang Pertempuran Lima Hari di Semarang, PETA dan sejarah yang terjadi pada masa itu. 

Novel ketiga adalah Langit dan Bumi Sahabat kami, masih dengan situasi dan kondisi yang sama pada novel sebelumnya. Novel ketiga ini juga terbit pada tahun 1979. Sayangnya saya tidak membaca novel memoir keempat, yaitu Sekayu. Juga 10 novel memoir lainnya. 

Saya tidak ingat apa alasan saya tidak lagi membaca novel memoar Nh Dini. Kecuali, alasan memang tak ada koleksinya di SMPN 3 Jepara, tempat saya belajar. Saya menemukan buku Sekayu di perpustakaan SMAN 1 Jepara, tapi selera saya sudah berbeda. Saat kuliah, saya menemukan kembali keasyikan membaca novel Nh. Dini, yaitu Pertemuan Dua Hati, Pada Sebuah Kapal, dan Keberangkatan. Setelah menikah saya mempunyai novel bertema sejarah budaya yang sangat bagus dan jadi koleksi berharga saya, yaitu Tirai Menurun. Novel yang terakhir ini harus dibaca oleh para pecinta sejarah budaya dan ketoprak. 

Novel-novel Nh. Dini memang sangat menancap di ingatan saya, dan membuat saya bisa membayangkan kehidupan pada masa pendudukan bangsa asing di negeri ini. Dan itu terjadi pada saat usia saya masih belasan. Lama setelahnya saya lupa bagaimana asyiknya membaca sejarah melalui karya fiksi, meski ada beberapa tokoh yang saya baca, misalnya tentang tokoh Indian bernama Winnetao yang ditulis oleh Karl May. Saya menghabiskan seluruh kisah yang ditulis oleh Karl May tersebut, yang juga merupakan novel memoar seorang tokoh (pahlawan). Saya menghabiskan serial Winnetau pada masa SMP juga.

Mungkin itu sebuah awalan mengapa saya sangat suka membaca sejarah, baik yang fiksi maupun nonfiksi. Dan kita akan berkenalan dengan penulis kedua yang sangat menginspirasi saya.


2. Raden Ajeng Kartini (1879-1904)

Saya memakai nama masa sebelum menikah, Raden Ajeng Kartini, semata karena tulisannya pada masa masih menjadi raden ajenglah yang sangat menginspirasi. Sosok pahlawan nasional yang meninggal dengan nama Raden Ayu Kartini Djojoadiningrat itu kalau tidak salah ditasbihkan nama pahlawannya dengan gelar kebangsawanan raden ajeng. Tolong koreksi saya jika salah.

Sosok Kartini – mari kita sebut demikian – adalah sosok yang sangat maju di zamannya. Bahkan masih lebih maju dibandingkan perempuan yang lahir 100 tahun setelahnya. Itu bisa kita lihat saat membaca tulisannya. Saya cukup terkejut saat mendapati dia menulis “bangsaku” di dalam surat yang dikirimkan pada sahabat penanya. Sebutan itu terlalu berani bahkan bagi laki-laki. 

Saya percaya bahwa embrio nasionalisme dan semangat memerdekan bangsa dari pendudukan bangsa asing sudah ada jauh sebelum era Kartini. Namun ia menulisnya secara lugas pada tokoh cendekia Belanda yang mempercayai semangat ethice sebagai kunci kesejahteraan Jawa.

Saya tidak salah tulis, memang pada masa itu lebih banyak disebut Jawa daripada nusantara. Belum ada istilah Indonesia juga. Belanda pun baru menguasai seluruh Jawa-Madura dan Sumatera minus Aceh. 

Karya tulis ilmiah perdana Kartini berjudul Het Huwelijk bij de Kodjas atau Pernikahan Suku Koja, terbit di jurnal ilmiah Belanda bernama Bijdragen tot de Taal­, Land­ en Volkenkunde pada tahun 1899. Dapat ditemukan pada halaman, Vol 6, Pt 1, halaman 695–702. Monggo dicari dan dibaca. Boleh juga hubungi saya kalau mau salinannya, dalam bentuk terjemahan dari Pak Joost Cote.

Selain tulisan yang dianggap sebagai karya yang bernilai akademis tinggi sampai sekarang, masih ada beberapa karya tulis seriusnya. Misalnya Het Blauw Verfen  atau Pewarnaan Biru (pada batik) yang menjadi bagian dari buku pertama tentang batik di dunia, yaitu De Batik-Kunst van Nederlandsch-Indië. Foto Kartini dan keluarga ada di buku tersebut, sebagai apresiasi karena bantuan berharga Kartini. 

Bantuan apa selain artikel? Kartini (dan adiknya) mengirimkan 30an karya asli Jepara, dan diantaranya ada seperangkat sampel pengerjaan batik Jawa mulai dari kain kosong sampai yang sudah diwarnai, beserta petunjuk cara pembuatannya.

Perempuan muda ini juga suka pamer modernitasnya secara anonim dalam bentuk cerpen di beberapa media cetak Hindia-Belanda maupun di Belanda sendiri. Misalnya cerpen Een Gouverneur Generaals Dag atau Hari Kedatangan Gubernur Jenderal (1899), dan Een Oorlogsschip op de Ree atau Bertambatnya Kapal Perang. Terjemahan judul saya mungkin salah, sih, karena saya tidak pandai bahasa Belanda. Cerpen ini juga belum ada yang menerjemahkan. 

Saya bisa bilang begitu untuk menjelaskan alasan mengapa ia punya banyak hatters. Bahasa sejarahnya, ia banyak dicemooh oleh para bangsawan, termasuk para bupati. 

Tak perlu kecerdasan level tinggi untuk tahu siapa 3 raden ajeng yang diundang secara khusus saat Gubernur-Jenderal melakukan lawatan kerja perdana di Jawa Tengah. Cuma Kartini, Roekmini dan Kardinah yang diundang, dan diistimewakan. Wajar saja kiranya, karena itu adalah balasan dari ketenaran 3 perempuan Jepara itu di Belanda selama pameran penobatan Ratu Wilhelmina. Beberapa koran Belanda seperti Rotterdams Courant menulis tentang mereka sebagai bukti keberhasilan pendidikan di Hindia-Belanda.

Wes pokoknya kalau bicara tentang beliau ini, saya bisa menghabiskan waktu berhari-hari, meskipun hanya seputar fun fact. Banyak hal yang belum terungkap tentang beliau ini. Saya baru mencatat sedikit tapi jumlahnya sudah puluhan. Yang jelas, Kartini adalah penulis feminis dan dianggap pahlawan emansipasi perempuan

Saya menuliskan tentang kiprah Kartini dalam memajukan kerajinan ukir di Jepara sehingga dikenal di seantero dunia. Bahkan menarik minat Ratu Wilhelmina sehingga di istananya ada sebuah ruangan bernama Japara. Memang ia tidak memesan pada Kartini, selain karena sudah meninggal juga pesanan tersebut dikerjakan di Batavia.


Tapi jika ditanya inspirasinya apa? 


Saya katakan, ia bisa mendobrak ketidakmungkinan. Dia tak gentar saat dikatakan, “Idemu bakal laku 100 tahun lagi” dan tetap ngeyel harus bisa dilakukan sekarang. Saat dia ngeyel sekolah kedokteran di Stovia bahkan sudah menjalin surat menyurat dengan siswa sana, dia ngeyel ketika ibunya ngayem-ngayemi, “Mungkin 20 tahun lagi, Stovia baru menerima murid laki-laki.”

Inspirasi kedua adalah, seperti Nh. Dini, suratnya adalah memoar hidupnya. Dengan runtut dan indah ia ceritakan kehidupan masyarakat bangsawan pada masa itu, baik di Jawa maupun Sunda. Juga kehidupan sehari-hari di rumahnya. Juga tentang harapan dan ketakutannya. Adakalanya ia merajuk, mengatai dirinya manja, pembelajar yang lambat, pemimpi. Namun ia juga banyak berkata “Aku mau” pada Stella. Surat perdana dan keduanya pada Stella sangat indah, modern, dan visioner. Ia memulai dengan kalimat,


“Sudah lama sekali aku ingin berkenalan dengan gadis modern – yang bangga, mandiri dan sangat saya kagumi - yang menjalani hidupnya dengan penuh percaya diri, riang dan selalu bersemangat tinggi, selalu antusias dan berkomitmen tinggi, bekerja tidak hanya untuk keuntungan dan kebahagiannya sendiri, yang menawarkan dirinya pada masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan saudari-saudari perempuannya (yang terpasung). Saya terbakar oleh semangat ERA BARU dan - ya! - bisa saya katakan bahwa meski saya belum menemukan semangat itu di Hindia, namun dengan sepenuh pemikiran dan perasaan, saya bukan (hanya) bagian dari (emansipasi) di Hindia saat ini, tapi juga berbagi dengan saudari-saudari kulit putih saya yang progresif jauh di Barat sana.”


Bisa dibayangkan bagaimana Stella melompat dari kursi saat membaca paragraf pertama seorang perempuan Jawa yang belum ia kenal itu. Dia hanya menjawab tawaran iklan mencari sahabat pena di majalah Hollands Lellie, dan menyapanya untuk menawarkan diri menjadi sahabat pena. Dan surat perdana itu mengantarkan lebih banyak kalangan akademik yang mengirim surat pada Kartini, menguji dirinya akan pengetahuan tentang Jawa. 

Surat perdana itu menunjukkan Kartini ingin dianggap setara dengan para perempuan feminis Eropa yang sedang berjuang membebaskan diri dari kekangan laki-laki. Fakta lainnya, pameran penobatan Ratu Wilhelmina adalah Pameran Feminis pertama yang terbesar di dunia. Yaitu bulan Juli - September 1898.

Dan sebagian dari kita mengetahui kisah itu melalui sejarah. 

Atau tulisan saya di Cakrawala Susindra.


Saya bukan Kartini, dan jauh sekali bedanya. Tapi dari surat-surat yang saya baca, saya menemukan fakta bahwa menulis itu bukan hanya memperkaya jiwa, tapi juga warisan yang berharga. Kesadaran itu membuat saya tetap menulis, meski jenuh. Membuat saya tetap memilih platform blogspot agar jikalau tak bisa memperpanjang domain, tulisan saya akan tetap bisa dibaca. Yang membuat saya memutuskan menjadi penulis sejarah lokal agar tetap ada yang mengingat nama saya saat mengutip tulisan saya.

Aduh, saya jadi ingat, lusa, tanggal 20 September, domain blog ini harus dibayar, dan tabungan saya kosong. Hahahahaha.

Sekian, curhatan saya kali ini. Banyak Fun fact tentang Kartini yang bisa dibaca di kategori Sejarah umum dan Sejarah Kartini. Selamat membaca dan terkejut-kejut dengan fakta unik Pahlawan Nasional itu.