Hidup sehat di masa pandemi sudah jadi keniscayaan. Menjadi gaya hidup normal yang baru. Saat kecil, kami diajarkan konsep makanan bergizi 4 sehat 5 sempurna. Setelah jadi ibu, saya diperkenalkan konsep baru yaitu "isi piringku", yang terdiri dari makanan pokok : 2/3 dari ½ piring, lauk pauk : 1/3 dari ½ piring, sayur : 2/3 dari ½ piring, buah : 1/3 dari ½ piring, air Putih minimal 8 gelas sehari, ditambah aktifitas fisik, dan cuci tangan pakai sabun. Belum lagi konsep baru ini menancap, setidaknya mayoritas warga masih awam dengan "isi piringku", ada pandemi Covid 19. Virus ini bahkan dinyatakan sebagai pandemi.


pola hidup sehat di masa pandemi ala susindra
Pola hidup sehat di masa pandemi 



Virus Covid-19 

Tahun baru 2020 diwarnai kabar yang mengagetkan tentang sebuah serangan virus di Wuhan. Saat itu beritanya kalah dengan berita banjir bandang di ibukota. Akan tetapi beberapa orang memandang berita dunia ini serius. Saya termasuk salah satunya, yang langsung merasa ini akan jadi bahaya dunia. Makanya saat diharuskan ke Jakarta bersama si bayi, saya memutuskan berangkat sendiri karena tak bisa diwakilkan. Saya pumping ASI meski tak terbiasa, dan Bayi Gi bersama papanya di rumah. Saya sangat hati-hati saat bepergian tersebut. Feeling saya benar. Virus dari Wuhan itu merebak dengan sangat cepat, dan diberi nama COVID-19.


2019-nCoV, itu nama awalnya, sebagai penanda nama, yaitu virus turunan coronavirus yang muncul tahun 2019. Nama tersebut diganti dengan Covid-19 atau akronim dari coronavirus disease 2019. Sebuah virus jenis SARS-COV2. Tentu Sobat Cakrawala Susindra ingat tentang SARS yang menyebar di dunia (Dengan cakupan yang agak terbatas) pada tahun 2003. Keduanya memang berakar dari jenis virus corona yang sama namun beda jenis virusnya. Covid-19 adalah penyakit baru, yang disebabkan virus corona yang baru yang sebelumnya tidak pernah ditemukan pada manusia.


Gejala Covid-19 mirip dengan penyakit pernapasan lainnya, yaitu gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Sekitar 1 dari setiap 6 orang mungkin akan menderita sakit yang parah, seperti disertai pneumonia atau kesulitan bernafas, yang biasanya muncul secara bertahap. Sayangnya, tak ada batasan usia orang-orang dapat terinfeksi oleh coronavirus ini. Semua bisa kena dengan gejala dan dampak yang berbeda. 


Orang tua atau lansia menjadi kelompok yang rentan karena mayoritasnya telah memiliki kondisi atau riwayat medis sebelumnya. Misalnya asma, diabetes, penyakit jantung, dan lain-lain. Mereka menjadi sangat rentan untuk menderita sakit parah. Penyebab lainnya adalah berbagai penurunan fungsi tubuh akibat proses penuaan. Hampir semua fungsi organ dan gerak menurun, diikuti dengan menurunnya imunitas sebagai pelindung tubuh. Sistem imun yang sudah melemah ditambah adanya penyakit kronis dapat meningkatkan risiko Covid-19 pada lansia, dan penyakit kronisnya memburuk dengan sangat cepat.





Mengapa Covid-19 dikatakan sebagai pandemi?

Covid-19 menyebar dengan sangat cepat, melintasi negara dan benua. Jumlah korban bertambah dengan amat sangat cepat. Seluruh dunia mengabarkan kasus ini. Makanya, WHO (World Health Organization atau Badan Kesehatan Dunia) secara resmi menyatakan Covid-19 sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020. Artinya, virus corona telah menyebar secara luas di dunia.


Pandemi bergerak seperti bola panas yang sulit ditangkap. Sulit menghentikan lajunya. Penularannya melalui droplet atau tetesan cairan pernapasan tubuh. Mudahnya, melalui droplet saat bersin. Secara reflek orang akan menutup mulut dan hidung saat bersin dan tidak langsung mencucinya dengan sabun. Tangan yang menyimpan droplet tersebut menyebarkan virus ke benda yang dipegangnya, termasuk benda padat.


Satu hal yang menakutkan adalah, tidak semua orang yang membawa virus mengalami gejala. Mereka disebut OTG atau orang tanpa gejala. Biasanya mereka akan merasa sehat dan tak ada yang salah, karena memang sehat.


Beberapa orang yang positif juga ternyata tanpa gejala. Ada yang hasil tesnya negatif, ternyata ia positif dan mengalami kondisi medis yang disebut dengan happy hypoxia. Artinya jumlah oksigen di dalam tubuhnya sangat rendah namun penderita tidak merasakannya. Kekurangan oksigen ini merusak banyak organ tubuhnya, dan beberapa menjadi kematian. Kasus semacam ini ditemukan di hampir seluruh dunia.


Pola hidup sehat di masa pandemi

Meski sudah menjadi pandemi dan seluruh negara di dunia melaporkan temuan kasus positif di negaranta, ternyata belum ada antivirus yang ditemukan. Belum ada pengobatan khusus yang efektif untuk infeksi Covid-19. Mau tak mau kita harus hidup bersama virus ini tanpa tahu ia ada di mana. Hanya bisa menjaga diri agar tidak tertular. Membentuk pola hidup baru yang disebut Adaptasi Kebiasaan Baru atau New Normal.


pola hidup sehat di masa pandemi ala susindra
Pola hidup sehat di masa pandemi ala susindra



Saya sering menuliskan di linimasa saya, beberapa ajakan New Normal, yaitu:

1. Memakai masker saat bepergian ke luar rumah. 

Masker sangat efektif mencegah terkena virus. Jika semua orang yang bertemu memakai masker, risiko terkena turun menjadi 5%. Sangat kecil. 


2. Sering mencuci tangan dengan sabun

Sisa risiko sebesar 5% di atas bisa dinolkan dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir. Sabun memang lebih efektif dibandingkan handsanitizer.


3. Menghindari memegang area wajah

Kelihatannya sepele sekali, yaitu mengusap wajah, atau memegang area wajah. Kita bahkan hampir tidak menyadari melakukannya belasan kali dalam sehari.

4. Membawa bekal sendiri saat keluar rumah

Mungkin sepele, ya, tapi membawa bekal sendiri saat keluar adalah sebuah kebiasaan yang harus dilakukan. Agar tidak perlu bertukar dengan orang lain atau pakai fasilitas bersama. Beberapa jenis bekal yang saya maksudkan adalah:
  • a. Alat makan
  • b. Alat ibadah/mukena
  • c. Alat touch up sederhana seperti sisir dan lipstik
  • d. Handsanitizer untuk keadaan darurat
  • e. Tisu
Masih ada jenis bekal lain yang bisa dibawa sesuai kebiasaan Sobat Cakrawala Susindra

5. Ketat menerapkan social distancing

Mungkin sepele, tapi menjaga jarak sangat aman mencegah penularan virus Covid-19. Saya melakukannya meski dengan kontak erat, yang tidak dalam satu rumah. Lakukan dengan normal tanpa membuat sakit hati sangat mungkin dilakukan. Jangan meniru orang-orang galfok yang jaga jarak sambil menutup mulut + hidung karena itu sangat menyakitkan. Saya menemukan beberapa orang jenis ini. Rasanya pengen tertawa tapi takut rosa dosa.

6. Menjaga imunitas tubuh

Menjaga imunitas tubuh di masa kini menjadi keharusan. Tubuh yang kelelahan, kurang tidur, kurang nutrisi, akan cenderung melemah dan sangat mudah kena, bahkan meski pakai masker dan sering mencuci tangan dengan sabun. Mengapa? 

Karena adakalanya kita alpa melakukannya. Terutama saat di "kandang" sendiri, di antara keluarga atau lingkungan kontak erat. Ada beberapa cara menjaga imunitas tubuh, yaitu:

  • a. Makan makanan bergizi, sebaiknya mematuhi aturan "isi piringku".
  • b. Minum vitamin C dan vitamin B kompleks
  • c. Lengkapi dengan multivitamin atau minuman herbal penambah imunitas.
  • d. Minum air putih, minimal 8 gelas per hari
  • e. Tidur yang cukup, ternyata sangat efektif membuat tubuh selalu sehat.
  • f. Selalu tenang dan cepat menghalau kecemasan, ternyata menjadi imunitas tubuh yang sanga efektif
  • g. Olahraga sebagai aktivitas harian
  • h. Rajin membersihkan permukaan benda di rumah dengan disinfektan
  • i. Langsung mandi sepulang dari luar rumah dan ganti dengan pakaian baru.
  • j. Melakukan ikhtiar tes PCR

Test PCR

Banyak istilah baru yang diperkenalkan pada masa pandemi. Yang sempat membuat saya bingung adalah apa perbedaan rapid test, swap test, dan PCR. Saya pernah tidak paham bedanya. Terutama swab test dan PCR. Saya kira sama.


Rapid test paling sering saya dengar dilakukan di kota saya. Di pasar dan tempat umum. Ternyata rapid test atau tes cepat adalah tes deteksi dini dengan melihat keaktivan antibodi. Lebih tepatnya, rapid test dilakukan dengan mengambil tetes darah untuk melihat antibodi. Meski positif, belum tentu Covid-19. Tes PCR Yang lebih akurat. 


Swab test adalah cara memperoleh sampel atau bahan pemeriksaan, yang dilakukan pada nasofaring dan atau orofarings. Pengambilan ini dilakukan dengan cara mengusap rongga nasofarings  dan atau orofarings dengan menggunakan alat seperti  kapas lidi khusus. 


Adapun PCR test adalah singkatan dari polymerase chain reaction. PCR merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Uji ini akan  didapatkan hasil apakah seseorang positif atau tidak SARS Co-2. Tes PCR merupakan tes yang akurat untuk mendeteksi virus corona dibandingkan rapid test. Jadi memang sebaiknya kita melakukan PCR test sebagai afirmasi kesehatan. Terutama saat mengalami gejala Covid-19, atau karena sering dinas kerja di luar, bertemu banyak orang.


Adakalanya tes PCR negatif belum tentu benar negatif. Hal ini terjadi karena antibodi tubuh baru dihasilkan antara 8-10 hari setelah timbul gejala. Ternyata hasil positif pun bisa tetap harus diulang karena ada jenis positif yang keliru, karena saat itu tubuh mengalami sakit demam berdarah, misalnya.


Namun jika insting diri mengatakan ada yang salah pada tubuh, sebaiknya tetap isolasi diri dan mengulang tes PCR kembali, 10 hari kemudian. Jika ternyata sebelum itu terjadi muncul demam tinggi dan sesak napas maka segera ke Rumah Sakit rujukan. 


Kita bisa melakukan PCR test di Halodoc, sebuah aplikasi kesehatan yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan kita. Kita bisa mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit tanpa natri terlebih dahulu, karena memesannya via aplikasi. Pun demikian dengan pembelian obat, cek laboratorium, atau kebutuhan medis lainnya. Semua bisa dipesan dari smartphone kita. Termasuk PCR test di kotamu. 


PCR test di Halodoc
PCR test di Halodoc



Halodoc merupakan milik PT. Media Dokter Investama, sebuah perusahaan teknologi buatan anak bangsa Indonesia, yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta. Jonathan Sudharta adalah pendirinya. Bagi para user, Halodoc memberikan banyak informasi kesehatan terlengkap, mengenai gaya hidup, kehamilan, penyakit, dan informasi tindakan medis yang tepat. Ada juga tanya dokter umum dan spesialis yang dilakukan secara daring dan gratis. 

Sebaiknya memang kita menjaga kesehatan dan menjadikan pola hidup sehat baru di masa pandemi sebagai standar hidup. Kalau membutuhkan artikel lain tentang tema ini, mungkin tulisan 3 cara detoksifikasi nyaris gratis membantu, atau Berkebun saat pandemi sebagai bagian dari gaya hidup sehat.