Hadiah Terbaik Untuk Anak Yatim

Apa hadiah yang terindah dan ditunggu-tunggu anak balita yatim?
Mobil-mobilan? Aneka mainan? pakaian bagus? Hmm.... saya punya jawaban yang unik dan bisa jadi membuat banyak orang terenyuh dan berkaca-kaca. Setidaknya sudah ada beberapa orang yang berlinang air mata mengetahui jawaban lugu si anak yatim ini.

Adalah Danu, anak dari my twin sister yang telah menjadi anak yatim sejak bulan Juni tahun lalu. Ayahnya meninggal karena pecahnya batang otak. Memang sudah lama sang ayah menderita darah tinggi. Danu yang masih belum genap 4 tahun kala itu tak mengerti mengapa ada banyak orang mengaji di rumah neneknya. Ia hanya tahu bahwa ayah pergi mengaji di rumah Allah dan tak bisa kembali. Cukup sering ia bertanya mengapa ayah belum pulang juga.

Sejak sang ayah meninggal, Danu dan ibunya tinggal bersama kami. Hampir setahun ini Danu dan adek kembarku tinggal di rumah. Tak perduli banyaknya orang yang mengatakan "anak" kembar tidak boleh tinggal serumah, kami tetap cuek saja. Rejeki, jodoh dan maut sudah tertulis jelas bagi semua makhluk Allah. Lagi pula, siapa yang tega membiarkan janda beranak tiga mengontrak sendiri di rumah? Memang 2 kakak Danu sudah sekolah di pondok pesantren.Tetapi biaya hidup tentulah tak sedikit. Menanggung biaya hidup saja entah bagaimana, apalagi membayar sewa rumah dan listrik bulanan. Memang kehidupan sangat sederhana yang saya tawarkan. Pasca Susindra bangkrut tahun lalu, kami belum bisa bangkit. Tetapi kami selalu bahagia, tak perduli betapa roda ekonomi semakin sadis menggerus. Tawa bersama, begadang bersama, makan tempe bersama. Sungguh nikmat luar biasa. Jauh berbeda dengan kehidupan saya sebelumnya yang bisa dikatakan cukup.

Kembali ke hadiah untuk anak yatim. Hadiah apa yang tepat?
Sulit dipercaya memang. tetapi inilah yang terjadi. Di mulai dari pendekatan-pendekatan beberapa laki-laki yang berniat mempersunting adekku. Ia begitu kukuh sendiri. Semua ditolak dengan halus hingga ada seorang lelaki yang mampu menaklukkan sang anak. Bukan dengan hadiah atau janji-janji. Bukan pula jalan-jalan. Hanya satu kalimat ketika berpisah sore lalu, "Bapak pulang dulu ya Nu, nanti malam bapak datang lagi." Dan Danu rela menanti menunggu di depan rumah sampai malam. Ketika "sang bapak" datang, ia begitu bahagia sampai-sampai setiap saat menyebut bapak-bapak-bapak. Mandi dengan bapak, sekolah dengan bapak, bangun tidur bapak mana? Lebih bahagia lagi ketika ia diajak jalan-jalan. Alhasil sehari ia bisa merengek agar ibunya menelpon "bapak". Ketika menangis atau histeris memanggil bapak, sebuah instruksi dari telepon yang diucapkan "bapak" bisa menenangkannya. "Jangan nangis, nanti malam bapak datang." Dan tiap pagi ia selalu berlari membuka pintu rumah untuk mencari "Bapaknya" di luar.

Apakah akhirnya sang ibu luluh dan memberi hadiah terindah untuk si anak yatim ini? Mana yang dipilih? Cinta pada anak ataukah keinginan agar tetap menjanda selama ia mampu? "Hanya 1000 hari. Aku ingin menyempurnakan pengabdianku pada almarhum, ternyata sulit, ya?" kata adekku. 

Geli, getir, tangis, tawa, aaahh... aku yang budhe-nya juga ikut seneng & haru. Ternyata hadiah terindah anak yatim cukup simpel. Sosok bapak untuk melengkapi kebahagiaan. Lalu bagaimana? Mereka menikah atau tidak? Semoga yang terindahlah yang akan terjadi.
Share:

21 comments:

  1. wahhh.. siapa ya bapak ini? kasian lah mbak sama Danu walau bagaimanapun masa depan anak ini ettep no 1..insya allah bapak kandungnya merelakan asalkan dia bisa menggantikan perannya dengan baik :)

    ReplyDelete
  2. Semoga Danu mendapatkan sosok bapak yang selalu menyayanginya..

    ReplyDelete
  3. mengharukan ya tante...
    semoga segera jadi 'bapak' yang sah :)

    ReplyDelete
  4. semoga Danu sebentar lagi mendapatkan BAPAK yang benar benar baik, yang benar benar menyayanginya sepenuh hati....
    aaamiiiin....

    ngerti banget kondisi Danu
    gak jauh beda dengan kondisi Dija dan kakak kakaknya

    ReplyDelete
  5. sungguh mengharukan.. moga Danu bisa mendapatkan yang ia butuhkan :)

    jadi kopdar besok??

    ReplyDelete
  6. Ah :( Juni ternyata bulan yang juga membawa pulang bapaknya Reza dan Egi. Untungnya, usia mereka berdua masih jauh lebih kecil dari Danu ketika ditinggal bapaknya. Sehingga tidak begitu kecarian.

    Dilema banget ya mbak, antara keinginan tetap setia pada almarhum dan memenuhi kebutuhan anak.

    Iparku udah sendiri mau 7 tahun ini, belum ketemu jodoh juga dia :D

    Jadi Danu tgl berapa ultahnya mbak?

    ReplyDelete
  7. sedih bacanya Bun..:(, udah jelas Bapak yg dicarinya.., mgkn kasusnya sama jika yg ditinggal pergi itu Ibunya.., mgkn ia akan menginginkan sosok Ibu... :(

    klo nikah insya ALlah bukan hny Anakx yg bahagian tp Ibux pun akan Bahagia, Aamiin...

    ReplyDelete
  8. Your style is very unique in comparison to other folks I have read stuff from.
    I appreciate you for posting when you've got the opportunity, Guess I'll
    just bookmark this page.

    my page :: Biotechnology and Bioengineering

    ReplyDelete
  9. semoga diberikan jalan yang terbaik untuk memilih ya

    ReplyDelete
  10. Terima kasih ya supportnya. Maaf baru balas karena sulit membagi waktu pekerjaan.
    Ini posting spontan karena tiap hari disuguhi adegan Danu memanggil2 "Bapak" pada kenalan ibunya.
    Ada sedikit harapan semoga keinginan Danu terkabul. :)

    ReplyDelete
  11. Duh mbak Susi, tulisan ini membuat saya amat terharu, nyaris nangis ini saya. Begitu merindunya Danu pada sosok ayah ya. Kalau si bapak baik, dan bisa membawa kembaran mbak Susi sekeluarga ke arah yang lebih baik, mudah2an didekatkan Allah mereka. Jika tidak, ya .... lebih baik jauhan kali yaa ..

    Hiks ... Danu ....

    ReplyDelete
  12. ya tabah aja, hidup akan menarik jika di lukis dengan berbagai warna.

    semangat, salam buat adik yak :D

    ReplyDelete
  13. ya ya,, bagaimanapun juga keluarga kita adalah harta, hadiah dan milik kita yg paling berharga.
    saya jga merasakan ap yg dialami danu :(

    ReplyDelete
  14. mungkin hanya akan ada 1 bapak dalam hidup danu..selamanya.

    semoga siibu tidak menutup seluruh hatinya selamanya....

    ReplyDelete
  15. aduuuh, saya terharu sangat, mbak Susi.. semoga Danu mendapat hadiah terindah itu.. amin... :-)

    buat saudara kembar mbak Susi, smogadiberi jln yg indah oleh Allah swt :-)

    ReplyDelete
  16. Saya termasuk anak yang menjadi korban perpisahan orangtua jeng.
    Untung emak begitu hebat sehingga menjadikan saya seperti sekarang.
    Tentu saya tak bermaksud mengecilkan peran ayah kandung dan ayah tiri. Tapi emak tetap menjadi Panglima Besarku.

    Semoga adinda mendapatkan petunjuk dari Allah swt agar dapat melangkah dengan tepat.

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  17. Aamiin... aamiin....
    Trima kasih sekali dukungannya. Tadi malam akhirnya Danu punya bapak resmi. :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra