Bakti Negeri Dimulai dari Diri Sendiri

Apa yang bisa kamu lakukan untuk negaramu?

Apa saja yang sudah kamu lakukan?

Bikin list yuk… lalu dicentang mana yang sudah dikerjakan. Bisa jadi endless list jika kamu cukup kreatif. Apalagi jika kamu sadar, bahwa membangun negara bisa kita lakukan mulai dari rumah kita sendiri. Kamu tidak salah, DARI RUMAH SENDIRI. Bakti negeri dimulai dari diri kita sendiri.

Bakti negeri dimulai dari diri sendiri 
Menjadi seorang ibu memberi saya peran sebagai agen perubahan sebuah generasi. Tugas saya adalah mendidik dan menyiapkan anak yang diamanahkan pada saya. Bagusnya kualitas anak saya juga berarti bagusnya kualitas generasi pemegang negeri ini di masa depan. Percaya kan sekarang?

Coba lihat siapa dan peran apa yang bisa kamu lakukan. dari situ, kamu bisa susun misi BAKTI NEGERI. Pekerjaan yang saat ini kamu lakukan dengan hati dan bermartabat menjadi modal utamanya. Karena jatuhnya negara juga berasal dari kita sendiri. Contohnya adalah komentar atau pendapat di jejaring sosial yang sangat kasar dan memalukan. Dengan menuliskan komentar buruk, kamu sudah mencoreng wajah negeri kita, lho.

Menjalankan peran sebagai ibu yang tepat bagi anak juga wujud bakti negeri 

Nah, apa dong peran kamu untuk negara kita? Sekecil apa? Sebesar apa? Karena jika dengan membaca statement di atas lalu kamu merasa sudah membangun negara dan berhenti berkiprah, berarti misi saya gagal. Karena membangun negara pun tak sesimpel yang kesimpulan mendadak kamu pasca membaca imi. Mari cermati 2 pokok utama yang ingin saya sampaikan:

“Tugas saya adalah mendidik dan menyiapkan anak yang diamanahkan pada saya. Bagusnya kualitas anak saya juga berarti bagusnya kualitas generasi.”
(mengenai ini akan saya bahas lain waktu dengan tema Mendidik satu PEREMPUAN berarti mendidik satu GENERASI)

“Pekerjaan yang saat ini kamu lakukan dengan hati dan bermartabat.”
2 poin itu adalah cara termudah untuk membangun negara. Wujud bakti negeri yang bisa kamu lakukan. Cara lainnya lebih banyak. Misalnya menjaga lingkungan, mencegah pengrusakan fasilitas-fasilitas umum, dan membayar pajak. Di antara sumbangsih yang umum dan bisa dilakukan semua orang, menurut saya 3 contoh di atas yang termudah.

Kita pasti tahu bahwa ada saja orang-orang yang melakukan kejahatan lingkungan. Mencorat-coret dinding atau merusak fasilitas umum, misalnya. Atau contoh lain yang mudah dan meresahkan saya adalah maraknya penggalian sawah di beberapa desa di utara Jepara. Selain membuat sekitar rawan longsor, juga rawan banjir. Karena sawah di dekat sungai dikeruk sampai habis. Beberapa upaya telah dilakukan teman-teman termasuk mem-blow up di jejaring sosial agar ada tindakan keras. Menyuarakan keresahan ini sudah termasuk bentuk bakti dan cinta negeri, lho. Tapi jangan hanya share dan reshare, ya. Bantu awasi sampai tuntas.

Contoh lain yang meresahkan adalah budaya membuang sampah sembarangan yang masih melekat kuat. Sampah adalah apa yang tersisa setiap usai acara di tempat publik. Menyedihkan sekali. Padahal sampah juga bisa bermanfaat jika tahu cara mengolahnya. Yang menyedihkan adalah acara seperti karnaval, pengajian, sepeda santai, dan acara pengumpulan masa lainnya. Kita perlu membuat gerakan sadar sampah dari bawah. Saya sudah memulai dengan membuat karya dari sampah. Rencananya akan kami sebarkan ilmunya ke warga. Semoga segera terealisasi.

Pemanfaatan limbah ala Susindra. Masih ada banyak lagi, lho. 

Nah, jika ternyata kamu sudah bekerja mapan sebagai PNS atau salah satu pegawai yang dibayar pemerintah dengan pajak, kira-kira, apa imbal balikmu? Sebagai salah satu lulusan universitas pendidikan, setengah teman dan kenalan saya adalah guru PNS. Saya sering mengelus dada jika melihat teman yang lupa diri. Tapi saya juga bangga jika melihat teman PNS yang berdedikasi. Karena mereka adalah wajah utama negeri. Makin bermartabat mereka, makin tinggi derajat negara kita. Sumbangsih mereka sangat berarti. Jika kamu termasuk PNS, jadilah PNS yang berdedikasi, ya!

Apa pun pekerjaanmu, wujud bakti negara termudah namun banyak yang enggan melakukan adalah MEMBAYAR PAJAK. Jumlah dana yang dibayarkan untuk pajak tidaklah besar. Hanya 1% dari omzet penghasilan. Cara pembayaran dan pelaporan pun sudah dipermudah sedemikian rupa. Tak ada lagi antrian panjang seperti 5 tahun lalu. Jika kamu bisa bermain-main di facebook, kamu pasti bisa mengisi e-form pajak di DJP Online, Bahkan untuk konsultasi pun bisa kita lakukan kapan saja dan akan dilayani dengan ramah. Wajah tenang dan ramah para pegawai pajak akan membuatmu betah berada di kantor Pajak Pratama kota mana pun. Dasar pelayanan KPP adalah CARE: Committed, Aware, Responsive, dan Empathic. Khusus untuk KPP Pratama Jepara, kamu harus tahu bahwa kantor yang satu ini sangat melek medsos. Buktinya mendapatkan juara 1 Akun Twitter Terbaik yang disampaikan pada Workshop Konten Situs Pajak dan Media Sosial DJP.

Bukti KPP Pratama Jepara melek medsos. Ada pertanyaan? Jangan ragu bertanya
Bayar pajak memang wujud bakti negeri termudah, namun, masih banyak yang enggan membayarnya. “Lebih baik disedekahkan,” katanya. Saya beberapa kali terlibat debat mengenai ini dengan teman-teman yang termasuk kalangan berada. Atau “Daripada dimakan pegawai pajak, mending dimakan anak istri,” adalah salah satu jawaban kasar yang saya terima. Well, memang, tak semua orang dibekali akal panjang dan mata jeli. Pajak kecil yang kita bayarkan akan selalu kembali ke kita. Termasuk perjalanan lancer yang tiap har kita tempuh. Jawaban saya untuk kata lebih baik disedekahkan adalah, “Selama tinggal di tanah Indonesia, kamu juga wajib menyedekahkan sedikit harta yang kamu keruk di bumi Indonesia kepada negara Indonesia melalui pajak. Jika kamu bekerja dan tinggal di Amerika, kamu membayar pajak lebih tinggi lagi di sana. Di negara mana pun tetap bayar pajak selama kamu menginjak di bumi. Jangan khawatir, di luar angkasa masih kosong, silakan bermgrasi ke sana.”

Jangan lupa bayar pajak, ya... (Dokpri saat HAKS 2016)
Sebenarnya saya bisa membuat banyak sekali daftar bakti negeri. Endless list seperti yang saya sebutkan di atas. Karena memang ada banyak cara untuk negara kita. Saya yakin kamu lebih kreatif dari saya. Makanya, saya mau ajak-ajak kamu untuk ikut lomba menulis blog bertema “Aku, Kamu dan Bumi Kartini.”

Ayo ikut lomba menulis blog ini

Lomba menulis blog bertema Aku, Kamu dan Bumi Kartini ini adalah salah satu dari rangkaian Olimpiade Pajak 516 (Jepara) yang bisa kamu ikuti. Lomba ini adalah kerjasama KPP Pratama Jepara dengan kampus UNISNU Jepara. Lomba ini terbuka bagi umum. Syaratnya juga mudah sekali. Bahkan bagi teman-teman blogger yang tidak tinggal di Jepara juga boleh ikut. Keterangan lengkapnya bisa di-download di artikel Olimpiade Pajak ini. Atau bisa juga baca infografis di bawah ini. Memang syaratnya sesimpel ini sih. Tidak berat, kaaaaann....

Syarat lomba menulis blog di Olimpiade Pajak 516


Meski tidak berat, jangan lupa follow dan mention twitter @kppJepara dengan hashtag #OlimpiadePajak516  dan salah satu dari hashtag #BayarPajakKeren atau #PajakMilikBersama. Yang tak boleh lupa lagi adalah mendaftarkan tulisan di email : unisnuhmja@gmail.com agar tercatat sebagai peserta. Mudah, kan?

Nah... di bawah ini adalah hadiah bagi 3 pemenang. 

Hadiah lomba menulis blog di Olimpiade Pajak 516

Lomba semudah ini, masa sih masih bingung mau menulis apa. Iya, kan?

Selamat berlomba, ya. 


Share:

1 comment:

  1. Pertanyaan "sejauh mana bakti kepada negeri' keliatan sederhana tapi jleb banget mba. Jadi merasa kurang berkontribusi banyak untuk negara. Semoga terbantu mellaui karya tulis ya mba :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra