Tawaran dibelikan Blackberry yang ketujuh akhirnya datang. Tak tanggung-tanggung, di konter BB sendiri. Tinggal pilih-pilih, pegang-pegang dan bayar, pakai cc. Saya lihat harganya, feauture yang ditawarkan, dan sekali lagi, saya menolaknya. Saya belum tertarik dengan BB meski banyak teman dan calon konsumen yang menanyakan pin BB. Dengan dana sekian (kalaupun saya mau) saya lebih nyaman membeli hape gadget merk lain selain blackberry.

Bukan sok idealis, apalagi bodoh-tolol. Saya tidak suka membeli sesuatu yang di luar jangkauan saya. Harga BB memang sudah tidak mahal. 1 juta sekian sudah bisa. Tetapi kebutuhan saya mengatakan minimal seharga 3 jutaan karena saya tidak suka yang setengah-setengah. Dan uang sebanyak itu jauh lebih kami butuhkan untuk bertahan hidup ditengah gerusan krisis ekonomi di Eropa, pangsa pasar utama saya. Order semakin sulit, buyer semakin sulit dicari. Jadi saya lebih nyaman dengan Nokia X1-01 saya yang sederhana. 

Alasan lainnya adalah saya keberatan dengan sistem pembayaran bulanan BB yang menurut saya cukup mencekik. Itu berarti demi kata online saya harus membayar speedy, pulsa hape, dan bulanan BB. Maaak.... berapa duit yang harus saya kucurkan.... 

"MasyaAllah, Nii..... kamu itu loh!" Kata suami antara kecewa dan gemes melihat kekakuan saya. Sambil duduk manis berdua di tempat nyaman saya beberkan beberapa alasan saya keberatan memakai BB. Suami sangat setuju dengan alasan yang sudah sering kami bicarakan. Namun terkadang kebutuhan akan BB cukup mendesak. Yah, saya butuh BB hanya sekedar bisa menjawab berapa pin BB saya dan atau BBM-an dengan calon pembeli dari Indonesia. Masih banyak yang menganggap komunikasi dengan Blackberry Messenger gratis, jadi wajib punya. xixi... Saya pikir ada salah kaprah di sana. Kita kan bayar BB service bulanan, jadi tak ada yang free dengan BBM. Dan justru itulah alasan keberatan utama saya. Untuk orang seperti saya, saya tidak akan puas memakai batas termurah. Harus full services yang menguras kocek cukup dalam. Apalagi saya punya koneksi internet 24 jam/hari asal tubuh kuat. Jadi Blackberry akan menjadi benda tidak spesial kecuali potensi koneksi dengan pembeli yang lebih nyaman ber-BBM. Itulah sebabnya terkadang kebutuhan akan BB terasa mendesak. Tetapi saya lebih suka safety dulu dengan dana yang saya miliki. Membeli BB berarti menguras tabungan, memikirkan bulanan, dan sekali lagi menguras pendapatan. Ketika saya tidak mampu meraih target yang lebih tinggi, saya lebih suka memberdayakan apa yang ada dulu. Karena bisnis tidak selalu tentang menuruti permintaan pasar. Yah, lagi-lagi, No Blackberry.