Tanggal 4 September malam lalu ada Festival Perang Obor. Sebuah tradisi yang telah berusia beratus tahun lamanya dan masih dilestarikan sampai sekarang. Perlu diketahui bahwa pemilihan tanggal Festival bukanlah selalu bulan September, tetapi bulan Dzulhijjah. Untuk waktu, Perang Obor selalu dilaksanakan di (malam) Selasa Pon. Makanya, di tahun berapa pun, seingat saya selalu di hari Selasa Pon bulan Dzulhijjah. Jadi… sobat Susindra tak perlu mengirim email, mengirim WA, SMS atau menelpon demi menanyakan kapan Perang Obor di Jepara. Maaf, kadang hayati lelah menjawab, meski yang bertanya bukan orang yang sama.


Eh iya, katanya Selasa Pon bulan Dzulhijjah, kok Perang Obornya selalu hari Senin malam Selasa? Hmm… adapula yang protes gitu. Hehehe… 

Gini lho Masbro & Mbaksis, penghitungan hari Jawa, Selasa dimulai dari hari Senin jam 5 sore. Jadi, jika bilang Selasa Pon, bisa jadi di Senin malam atau Selasa pagi. Yang jelas tidak mungkin hari Selasa jelang senja. Crystally clear, yes. 

Jadi… Senin sore itu, saya ke perempatan desa Tegalsambi yang menjadi center venue acara Perang Obor. Di sana ramai sekali. Obor-obor juga sudah dipancangkan sejak pagi di spot-spot yang ditentukan. Jadi, meski kelihatannya tersebar, ada aturan meletakkannya. Dasarnya adalah jumlah pos sebaran “Prajurit” yang akan beraksi malamnya. Setahu saya sih bisa sampai 50 warga setempat yang menjadi relawan perang obor. Tugas mereka adalah berperang seperti Ki Babadan dan Ki Gemblong, 2 tokoh masyarakat yang dipercaya menjadi asal muasal Perang Obor. Jika ingin tahu, silakan baca tulisan saya yang lain:


Selain obor yang tertata di beberapa tempat, yang menarik dari Festival Perang Obor adalah para warga (kebanyakan para ibu) yang mengelilingi sesuatu. Mereka berkerumun, dan fokus melihat ke tengah. Apa itu? Tak lain tak bukan adalah kintelan.

Kintelan adalah panganan manis gurih yang terbuat dari tepung ketan, kelapa, gula jawa, dan areh. Panganan setiap hari ada di Pasar Apung Demaan Jepara. Di pasar Ratu dan pasar Jepara II juga ada. Tetapi sebagai x-warga Bulu, saya lebih akrab dengan citarasa kintelan dari Pasar Apung yang lezat. Apalagi di sana ada lawannya, yaitu gemblong. Hmm… bisa bayangkan korelasi kintelan dengan Perang Obor?
Iya. Itu simbolik juga. Simbolis pertempuran heboh menggunakan api, antara Ki Babadan dan Ki Gemblong. Ki Babadan diwakili kintelan yang manis, legit, dan gurih. Ki Gemblong diwakili panganan gemblong yang gurih dengan dominan rasa kelapa (symbol bijaksana). Keduanya disatukan dan diberi tambahan areh atau santan kelapa yang sangat kental.

Meski sehari-hari ada, namun panganan kintelan tetap diburu warga. Terutama warga Tegalsambi. Mereka membeli dalam jumlah besar. Panganan yang dihargai Rp 1000 per potong itu diborong warga sendiri. Mereka menyediakan panganan ini untuk para saudara jauh yang silaturrahmi ke rumah sambil menonton Perang Obor. Di sana, mirip lebaran kecil. Saya yang ikut di antrian beli sampai berdecak dalam hati. Rata-rata membeli 20 potong, bahkan ada yang sampai 50 potong. Pengunjung seperti saya yang Cuma beli 5 potong dicuekin dah, antrian saya disrobot 4 kali. Mundur teratuuur…. Saya benci penyerobot antrian, tapi saya lebih benci orang yang memberi kesempatan pada penyerobot. Jadi, …. Bye bye kintelan…. Meski saya sudah berdiri berkerumun lebih dari 30 menit demi nyicip legitnya kintelan, saya mantep meninggalkannya. Lagian, saya lebih suka kintelan buatan penjual di Pasar Apung daripada di 2 pasar lainnya yang ada di area kota Jepara. (Edisi nesu, ini. Hahahahaha)

Tapi, mau tidak mau, kintelan memang sangat akrab dengan Festival Perang Obor. Banyak juga warga seperti saya yang datang ke Festival demi berburu makanan unik khas Jepara ini. Meski penjualnya cukup banyak, tetapi antrian dan kerumunan besar sulit dihindari.
Nah, saya ada vlog yang menceritakan detail kegiatan masyarakat di TegalSambi pada sore hari, menjelang Perang Obor dimulai. Saya sedang belajar membuat video sendiri nih. Doakan semakin bagus hasilnya, ya. Jadi semakin banyak event di Jepara yang dapat dicari di youtube.

Nah, itulah cerita saya tentang perburuan kintelan di desa Tegalsambi. Boleh tahu apa ceritamu hari ini? Atau.. kamu punya pertanyaan tentang tradisi dan Festival Perang Obor? Drop di komentar saja, insyaAllah saya jawab langsung dan bisa jadi ide cerita di tahun depan.