Perang Obor 2013

Selasa pon di bulan Dzulhijjah. Ada event seru di Jepara. Sayang saya baru tahu menjelang magrib tadi. Kalau sejak kemarin kan bisa ajak-ajak teman ‘tuk dolan ke Jepara dan nonton tradisi tahunan ini ya.

Karena malam ini agak-agak lebih dingin, mendung & takut hujan, saya putuskan tidak nonton dulu deh. Share pengalaman nonton perang obor tahun lalu karena ternyata tidak terposting. Eman-eman banget kalo sudah jepret puluhan foto di camdig & 2 hp tapi tidak diposting di blog. 
 
Saya pernah share asal-usul perang obor, tetapi tak ada salahnya jika saya tulis lagi. Siapa tahu para sahabat malas menuju link ulasan asal-usul perang obor. Penasaran kan?

Asal usul perang obor dimulai dari perselisihan kyai Babadan dan ki Gemblong. Kyai Babadan memiliki ternak yang digembala oleh ki Gemblong. Ternak yang digembala ki Gemblong bertambah dan berlipat dengan cepat hingga menjadi ratusan ternak.  Singkat cerita, ki Gemblong yang menggembala sambil menangkap ikan dan udang di sungai diuji dengan tangkapan ikan yang melimpah sehingga melalaikan ternaknya. Puluhan ternak sakit dan mati. Kyai Babadan yang marah memukul ki Gemblong dengan obor yang terbuat dari pelepah daun kelapa. Tak terima perlakuan kyai Babadan, ki Gemblong balas memukul dengan obor. Api yang menyala-nyala menyambar kemana-mana dan menyebarkan api di sekitar kandang. Semua ternak yang sakit tiba-tiba sembuh. Itulah asal usul perang obor. Menurut kepercayaan setempat, serpihan api obor dari klaras (daun kelapa kering) ini bisa menolak bala. Waktu perang obor ditetapkan pada malam selasa pon di bulan zulhijah.

Perang obor ini setidaknya dilakukan oleh 50 “prajurit” yang biasanya warga sekitar. Sebelum acara, ada banyak ritual yang dilakukan di desa ini. Lagi-lagi.. saya pernah menulisnya di blog ini. Juga tentang minyak londoh yang merupakan obat luka bakar di tradisi perang obor Jepara. Ritual ini mengundang banyak tamu ke Jepara, tamu nasional maupun internasional. Biasanya ada 3 panggung yang disiapkan. 1 panggung untuk pegawai pemda dan undangan, satu panggung untuk wartawan nasional dan internasional, dan agak jauh dari perempatan Tegal Sambi yang menjadi pusat perang obor, ada panggung khusus untuk dangdutan. Even ini masuk agenda pariwisata wajib di Jepara. Seru, ya.

Langsung saja deh. silahkan menikmati foto dan video perang obor koleksi pribadi Susindra. Video ini diambil oleh mas Indra suami saya tercintah. Papanya anak-anak ini memang super nekat kalo demi membahagiakan istri. Ga kebayang dia ke sana kemari membawa camdig dan mengabadikan momen yang cukup memberi sensasi haaaa.... hiiiii... aaaaaaaachh... iiiiiiichhh....


Ps: Foto-foto yang lain menyusul karena tida2 sulit untuk upload foto. Koneksinya Lola. :'(
Share:

12 comments:

  1. aku ngga nntn mbak, posisi ngga di rumah sih :D

    ReplyDelete
  2. Seru juga ya Mba, dan bisa jadi salah satu daya tarik dunia pariwisata untuk tradisi seperti ini.

    Sukses selalu
    Salam wisata

    ReplyDelete
  3. ternyata asal-usulnya dari perang obor antara dua kiyai....,
    ini memang layak untuk dilestaraikan sebagai salah satu budaya bangsa..asal jangan jadi perang beneran :-)

    ReplyDelete
  4. Jiah, aku juga ga nonton. ini reportase tahun kemarin
    Mas Indra Kusuma & mas Hariyanto: Memang jadi event pariwisata tahunan di Jepara.

    ReplyDelete
  5. Mbak Lidya: Iya mbak. Jadi identitas kota juga

    ReplyDelete
  6. Ramenya..
    ternyata begitu tho asal usulnya..
    lumayan tuh Mba buat tontonan wisatawan luar, aku belom pernah nonton :D

    ReplyDelete
  7. Wah wah saya sayang sekali tidak menonton. Jari memang benar benar ramai sekali perang obornya,

    Tradisi yang bagus.

    Terimakasih informasinya

    Salam dari Jember

    ReplyDelete
  8. MAs Argun & Mas Imam: Moga tahun depan bisa nonton sendiri ya. Seru loh.

    ReplyDelete
  9. Wah,,,,,,,,, walau ini liputan tahun kemarin Mba, aku tetap memberikan apresiasi jempol untuk mengangkat citrabudaya tradisi masyarakat daerah.

    Sukses selalu.
    Salam,

    ReplyDelete
  10. Trdisi yang sangat unik ..
    Disini gak ada loh tradisi seperti ini

    ReplyDelete
  11. Seru bray... kapan ya di kota saya ada kek gitu^^

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra