Menjadi Ibu Bekerja yang Bahagia

Meniti karier bisa menjadi cara wanita mengaktualisasikan dirinya. Pernikahan bukanlah penghalang. Demikian pula dengan kehadiran buah hati. Beberapa ibu bahkan menjadikan mereka sebagai pemicu semangat bekerja. Para ibu ini berjibaku menyelaraskan kehidupan rumah tangga dan bekerja. Memang tak semua demikian. Ada beberapa wanita yang terlahir untuk menjadi hebat di pekerjaannya. Mereka rela bekerja keras karena mencintai profesi mereka. 


Saya salah satu di antara perempuan yang saat bekerja akan sangat fokus sampai abai pada keluarga. Menyadari hal inilah yang membuat saya keluar dari pekerjaan sejak lama. Saya menyamankan diri bekerja sebagai freelancer dan saat sedang banyak pekerjaan, saya mengkomunikasikan dengan keluarga. Mereka akan survive memasak sendiri meski tahu saya ada di rumah sedang menulis. Mungkin saya termasuk golongan yang rawan menjadi workaholic. Ibu bekerja yang workaholic rawan menghadapi depresi juga lho, jangan abai dengan sinyal tubuhmu sendiri. Kebetulan saya menemukan tipsnya di qupas.id.

Tips menghindari depresi bagi para ibu bekerja

1. Bertanya kepada diri sendiri, “apakah aku tetap sehat dan bahagia saat bekerja?”

Pertanyaan ini perlu dijawab secara jujur agar dapat mengobservasi diri, kebutuhan bekerja dan cara mencari win-win solution. Cara ini juga bisa mengurangi mengurangi beban pikiran, mengerti bagaimana sebenarnya perasaan kita dan terutama, agar tidak menimbulkan gangguan mental.

2. Jam  jam kerja yang panjang atau gila kerja? 

Setelah menjawab pertanyaan di atas, kita akan tahu, tipe pekerja seperti apakah kita? Bahkan jika jawabannya adalah tipe workaholic pun, depresi akan tetap terjadi jika tak dikelola dengan baik. Tak mudah menyelaraskan kehidupan rumah tangga dan bekerja, dan jangan sampai kita kelelahan sendiri dan tak ada waktu mengurus rumah tangga. 

3. Tahu waktunya untuk berhenti.

Tahu kapan waktunya berhenti menjadi tips ketiga. Terutama jika kita sudah merasakan tanda atau gangguan-gangguan kesehatan kecil. Jangan sampai gangguan itu memburuk apalagi semakin lama akan semakin intens terjadi. 

4. Lakukan hal-hal yang sehat dan kamu sukai

Agar tetap waras dan sehat, lakukan hal-hal ringan yang menyenangkan. Hal-hal ringan ini juga harus menyehatkan diri. Banyak ragam aktivitas menyehatkan untuk para ibu bekerja, misalnya peregangan di sela-sela bekerja, mendengarkan musik, atau bermeditasi. Suka bermedia sosial? Bisa jadi alternatif bagus. Asal tetap jaga kewarasan saat melakukannya. Ketika berada di rumah, lakukan banyak kegiatan menyenangkan dengan keluarga.

5. Bersyukur

Banyak hal bisa disyukuri dalam hidup ini. Bahkan jika pekerjaan menjadi beban akibat kebutuhan. Banyak ibu-ibu yang berharap bisa bekerja namun memiliki kendala. Banyak sekali orang yang hidupnya lebih sulit daripada kita. Bersyukur menjadi ibu rumah tangga yang bekerja, dan belajar menyelaraskan keduanya. Rasa syukur memudahkan semua hal, bahkan yang terasa sangat sulit. 


Lima tips di atas perlu dicerna perlahan-lahan agar lebih dipahami dan dilakukan. Jangan terburu-buru memutuskan berhenti bekerja ketika depresi melanda. Di saat seperti itu, pekerjaan justru menjadi sebuah cara melepaskan depresi. Bekerja membuat kita berdandan cantik, menghirup udara di luar serta bertemu banyak orang. Tiga kegiatan itu akan sulit kita lakukan jika berhenti bekerja. Percaya deh. Semoga lima tips menjadi ibu bekerja yang bahagia ini bermandaat.

Comments

  1. aku malah sempet bekerja setahun kemarin ini mbak trus keluar lagi hihihi apalagi Pascal tahun lalu mau masuk SMP. Apa kabar mbak Susi?

    ReplyDelete
  2. Saya seorang ibu pekerja, dan benar banget bahwa saya bekerja untuk aktualisasi diri. Bahkan kalau harus di rumah terus malah saya stres. Apapun pilihan setiap ibu, asalkan terbaik untuk dirinya dan keluarganya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)