Memulai usaha dari nol? Bisa, kok. Ini yang dilakukan oleh suami saya. Namanya Indra. Dia melihat banyak papan kayu jati di brak atau tempat kerja tetangga, dan boleh dibeli satuan. Istilahnya ditempil. Maka, ia pun memulai usaha dari bahan yang ada di sekitar kami, yaitu potret jati. 

Memulai Usaha dari Bahan yang Ada di Sekitar Kita


Usaha ini tergolong unik karena seperti melukiskan wajah di kayu jati namun bukan dilukis. Terlihat seperti lukisan jika dilihat dari jauh. Sobat Cakrawala Susindra sudah penasaran?

Sedikit cerita asal muasalnya.

Awalnya, untuk persiapan Festival Literasi Jepara II, bulan September 2016. Festival ini biasanya diadakan bulan kesembilan, sekaligus mengadakan khol (peringatan kematian) ibu pengandung DNA literasi, siapa lagi kalau bukan kita Kartini. Saat itu, rumah belajar di dekat kami, yaitu Rumah Belajar Ilalang, akan mengadaan event akbar dengan mengundang Kang Maman dan Wagub Jateng, Gus Yasin. Nah, suami dan pemuda lokal kebagian membuat souvenir. 

Suami saya sudah biasa membuat sandal ukir yang kami sebut sandalart. Wajah yang diukir di sandal menurut kami istimewa karena terlihat hidup. Akan tetapi dia males banget karena banyak yang bilang, "Wajah kok diinjak." Dia lelah menjelaskan bahwa sandal hanyalah media, dan sandal ukir adalah hiasan dinding berbahan sandal.



Namanya seniman... perasaannya halus. Peka. Eh, dia yang tak pandai menggambar/melukis dengan kuas/pena/pensil ini, apakah bisa disebut seniman? Seniman kontemporer atau seniman digital? Hahaha. Entahlah. Dia lebih pandai menggambar dengan mouse dan komputer, meski gambar tangannya juga lumayan. Tidak istimewa tapi bisa dinilai baik.

Oleh karena kami tinggal di area pengukir, maka kayu jati lebih mudah didapatkan. Bahkan kala itu dihibahkan. Boleh ambil sesukanya, untuk event akbar di RT kami. Dukuh kecil didatangi orang besar, tentu auranya beda. Dan.... konsep sandal ukir dipindahkan ke kayu jati. 

Itulah awal mula Potret Jati tercipta. Saya memberi nama "Potret Jati" pada invoice pembelian pertama.

Acara tersebut sukses besar, alhamdulillah. Dan sejak saat itu ada saja satu dua pembelian Potret Jati. Sebagian besar dari kantor pajak Jepara. Sejak 2016 sampai sekarang, setiap ada mutasi pegawai, pasti memesan Potret Jati kami untuk kenang-kenangan kantor. Beberapa dinas juga memesan namun hanya 1-2. Konsep kenang-kenangan purna tugas dengan sentuhan personal memang belum viral di antara kita. 

Kriya jati kami ini juga dipesan untuk salah satu centerpiece pernikahan. Lebih istimewa daripada foto besar saja. 


Memulai usaha dari Nol

Di atas saya sudah menceritakan tentang Potret Jati kami, sebagai sallah satu contoh memulai usaha dari bahan seadanya. Memulai usaha dari nol. Dari keahlian menggambar suami dan bahan yang ada. Sebagai ilustrasi saja, seperti ini modal usaha yang dikeluarkan oleh suami


1. Mengolah foto pemesan

Potret jati menggunakan foto orang yang ditarget, misalnya foto keluarga, sahabat, kolega, pengantin, dll, yang jelas foto orang. Pengolahan foto menggunakan laptop yang biasa kami pakai bersama. Biasanya butuh waktu sebentar jika fotonya bagus. Tapi itu bonus. Kadang susah payah, terutama jika fotonya terlalu kecil, nge-blur, hasil candid, atau memakai beautification level maksimal. Ada juga yang memesan tanpa diberi mata.

Foto tersebut dibuat seriil mungkin.

Biaya yang dikeluarkan: Rp0,- ditambah kopi dan listrik.






2. Mencetak foto

Proses pembuatan gambar biasanya malam hari dan baru di-print setelah mendapatkan persetujuan pemesan. Kadang kala pemesan ingin dipercantik dengan mengurangi lipatan/garis alami wajah. Untuk cetak foto, kami udah punya printer sendiri. Sebelumnya, kami mencetakkan di luar.

Biaya: Rp1000,-


3. Menyiapkan kayu

Kayu jati biasanya disiapkan langsung sebelum memulai menggambar. Kadang baru sekadar ngincup alias bilang ke pemiliknya, "Pak, nanti saya beli kayu yang ini. Pinggirin, ya."

Daan... modal kayu pun sudah ada, tanpa biaya awal, karena dibayar setelah pembayaran. Oh ya, untuk kayu, ada dua tipe, pembeli biasa dan pembeli premium. Tak mungkin menyamakan kedua pembeli ini, karena berbeda tipe. Sama seperti memilih gawai, ada yang maunya low end, ada yang maunya high end. 

Bedanya ada pada kayu yang digunakan.

Biaya: Rp.... (rahasia produksi)


4. Membayar pembobok

Bagian ini sudah dikerjakan oleh orang lain. Oleh ahlinya. Dan di antara 3 ahli yang kami kenal, hanya satu yang bisa melakukan dengan baik, dan dua yang melakukan dengan supervisi ketat. Dikancani, istilahnya

Tidak mudah memotong kayu dengan mesin, yang tingkat kesulitannya sangat tinggi. Tak boleh bergeser 2 mili meter pun. Iya, itu batas toleransi, atau akan terjadi pengulangan produksi kembali. Tentu bisa dibayangkan potensi kerugiannya jika mengulang. Dan ini pernah terjadi.

SDM yang satu ini kami sadari saat akan membuat Potret Jati pertama kami. Waktu itu suami sedang menemani pemuda yang membuat ukir kerawangan untuk sketsel. Ukiran kaligrafi. Dan ting! ide itu muncul.

Kami tinggal di sentra pembuatan pintu gebyok, gebyok pernikahan, sketsel rumah tangga, dan semacamnya.

Suatu kebetulan, kan?

Biaya: Rp.... (rahasia produksi)




Tips memulai usaha dari nol

Kalau ada yang tanya, uang 50 ribu untuk usaha apa? Jangan susah menjawabnya. Tanyakan saja di sekitarnya ada apa saja. Tak ada yang tidak mungkin. Seperti cerita awal mula usaha Potret Jati kami, juga dari mengamati SDA dan SDM di sekitar kami.

Berikut ini tips memulai usaha dari nol:


1. Amati masalah di sekitar kita dan tawarkan solusinya

Dunia di sekitar kita sebenarnya menyimpan potensi masalah yang tidak ada habisnya. Ada tetangga yang ingin beli pulsa/bayar cicilan/beli token listrik tanpa keluar rumah. Ada tetangga yang suka makan ga suka memasak, ada tetangga yang malas mencuci-setrika, dan banyak ragamnya. Tawarkan solusi. Pssst... bahkan di sini ada tetangga yang menawarkan jasa membelikan barang di e-commerce, lho, karena ragamnya kaya dan harganya sangat murah. See... amati dan beri solusi.

Tahu, tidak, kalau SDA. SDM, masalah dan solusi, mereka berkelindan dengan mesra

 

2. Amati SDA dan SDM di sekitar rumah sebagai modal usaha

Apa saja kekayaan SDA dan SDM di sekitar, tentu menyesuaikan tempat tinggal. Kebetulan kami tinggal di lokasi pengrajin dan pengukir kayu jati. Sehingga, lahirlah Potret jati.
Ada teman saya yang tinggal di pesisir dan dari SDA-SDM yang ada, ia menjual ikan segar hasil tangkapan suaminya. Hasilnya? Laku keras! 
Siapa yang tidak mau memakan ikan laut yang baru dengan kualitas baik, dan tanpa keluar rumah. Cukup wapri, transfer, dan tunggu bang ojol di rumah. Ini salah satu cara membuka usaha sendiri di rumah.
Oh iya, untuk yang satu ini, saya juga punya usaha tambahan yaitu berkebun dan menjual bunga serta sayur di e-commerce. SDA dan SDM lokal juga. 
Coba amati sekitar, ya, dan beri mereka solusi. Ini penting untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika ingin memulai usaha. Juga kunci sukses mulai dari nol. SDA/SDM akan memotong sebagian besar kebutuhan modal kita.

3. Kreativitas adalah modal

Bingung mau usaha apa ya? Cobalah amati, apa sih keahlian kita? Apa hobi yang bisa diuangkan? Apa yang tidak bisa? Kalau prinsip saya, hobi yang stagnan, tidak menambah kemampuan dan tidak menghasilkan uang perlu ditinggalkan. Hobi yang menghasilkan keahlian dan uang harus diteruskan. Bahkan hobi memasak nasi goreng juga bisa diuangkan.
Hobi yang membuat kita semangat menambah keahlian dan kreativitas adalah hobi yang harus ditekuni, dan inilah modal usaha kita yang paling utama. Hobi tersebut akan membuat kita bahagia saat melakukannya, membuat kita ingin eksplorasi lebih banyak, dan membuat kreativitas baru yang unik.
Jadi, kreativitas yang unik adalah modal usaha dari nol kita.

4. Menentukan target pasar

Pada siapa kita menjual? Tentu pada orang yang membutuhkan. Dan percayalah, semua orang selalu merasa dirinya membutuhkan ini itu. Juga merasa tertarik membeli ini itu. Setiap orang dengan segala permasalahannya dan bagaimana ia mengatasinya. 
Usaha apapun perlu menentukan target pasar sebelum memulai. Mudahnya, kenali ini:
a. Apa yang sedang tren atau sedang dibutuhkan?
b. Siapa yang butuh?
c. Bagaimana menjangkau mereka?

Tren di atas tidaklah saklek karena menurut saya tren bisa dibuat dan bisa cepat digantikan oleh yang lainnya.




5. Mengelola keuangan dengan baik.

Mengelola keuangan dengan baik adalah PR sebagian besar pelaku usaha kecil dan mikro. Percayalah, saya sudah malang melintang sebagai pelaku usaha mikro dan masih menjadi miro karena pengelolaan keuangan yang tidak tepat. Dahulu saya selalu mencampurkan uang modal dengan uang rumah. Ini perilaku yang sangat buruk dan terlambat saya ketahui.
Sekarang? Sudah lebih baik. Saya dan suami udah punya 4 rekening bank dan melakukan pembukuan sederhana. Cara ini sudah bagus namun masih ada yang kurang, karena tidak secara menyeluruh melihat potensi keuangan baik potensi baik maupun sebaliknya. Kita perlu melakukan pengelolaan keuangan dengan lebih baik. Solusinya adalah memakai software kledo.com.

Sofware akuntansi Kledo

Kledo adalah software akuntansi online yang membantu mengelola purchasing, invoicing, inventory dan menganalisa performa bisnis dengan lebih baik. Ada 30 bentuk laporan keuangan dalam satu aplikasi. Tak harus instal aplikasi, Kledo juga bisa diakses dengan komputer yang dapat terkoneksi dengan internet. 

Semua serba online, dan Kledo menjamin keamanan setiap pengguna, mulai dari ikon kunci, data yang disimpan secara terpisah, dan penyimpanan berbasis cloud. Sesuai dengan tagline-nya: Kledo Berhati Nyaman. Tagline ini entah kenapa membekas di otak saya. 



Software yang satu ini menawarkan cara mudah pengelolaan bisnis dengan fitur-fitur yang lengkap. Data yang ada akan direpresentasikan dalam bentuk grafik dan bagan yang mudah dipahami di Beranda pengguna. Jadi akan langsung ketahuan seperti apa kondisi bisnis secara real time. Dari yang serba konvensional, menjadi bisnis yang bankable, auditable dan mampu bersaing di kancah nasional. Mau?

Kledo dan UMKM seharusnya berteman baik. Kenapa? Karena Kledo membantu pelaku UMKM untuk mencatat dan memantau perkembangan bisnis mereka dengan lebih sistematis. Tak hanya mudah diakses akan tetapi juga menyediakan berbagai data yang dibutuhkan. Data tersebut tersaji dengan grafik yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga akan menunjang para pelaku UMKM untuk membuat keputusan bisnis penting.

Keuntungan memakai Kledo adalah:

1. Mengetahui kesehatan usaha/bisnis melalui arus kas

Berapa arus kas bersih? Ke mana larinya dana perusahaan? Di mana kebocoran dana dan apa yang bisa dilakukan? Dari laporan arus kas akan terlihat. 

2. Tahu kondisi kesehatan keuangan 

Seperti penjelasan di atas, kesehatan usaha akan terlihat melalui data yang ditampilkan. Apakah kesehatannya bagus atau sudah terkena kanker alias kantong (kas) kering? Seberapa bahaya jika ternyata keuangan defisit dan apa solusinya akan dengan cepat dapat diputuskan.

3. Tahu laba bersih kita

Software yang satu ini akan menunjukkan laporan profitabilitas alias laporan laba. Beberapa rasio laba dapat dengan cepat diketahui, misalnya asio laba bersih berbanding penjualan (net profit margin), rasio laba kotor berbanding penjualan (gross profit margin), rasio laba operasi berbanding penjualan (operating profit margin), rasio pengembalian ekuitas (ROE), dan rasio pengembalian aset (ROA).



4. Mudah dalam melakukan penagihan

Sudah pernah bikin invoice? Kledo punya 50 bentuk invoice yang bisa dipilih sesuai bentuk usaha kita. Juga ada puluhan contoh purchase order. Contoh-contoh di atas memudahkan kita dalam melakukan penagihan ke pembeli, dan tampak profesional.

5. Mudah diakses pengguna

Mudah diakses pengguna yang memilikinya Ini kelebihan utama Kledo yang bisa diambil, bahkan pemilik usaha skala mikro (atau nano?) sekalipun. Data yang ada sudah berbasis cloud, sehingga tidak perlu instal aplikasi di smartphone atau komputer. Jadi, kenapa tidak pakai Kledo saja?

Kesimpulan

Memulai usaha dari nol? Memulai usaha dengan uang 50 ribu? 300 ribu, atau sedikit di atas satu juta? Semua bisa dilakukan. Coba amati sekitar kita; dunia dengan segala permasalahannya. Amati dengan segala empati agar tahu apa yang dibutuhkan dan bisa kita berikan solusinya. 
perhatikan juga kekayaan SDA dan SDM di sekitar kita. Mereka juga menunggu uluran tangan kita. Potret Jati yang menjadi usaha suami adalah contoh yang bisa saya berikan.
Oh iya, penasaran dengan harga Potret Jati kami? Harganya mulai dari Rp350.000,- untuk per 1 orang, dan bertambah sesuai jumlah orang yang ada di dalam frame, karena otomatis menambah ukuran lebar dan tingginya. Juga bisa berbeda jika pemesannya ingin kayu jati kualitas tertentu.
Sedang cari inspirasi lainnya? Beberapa tulisan saya tentang finansial pasti menarik dan solutif. Selamat membaca....