Selamat Hari Kartini untuk semua perempuan di dunia! Semangat selalu menjadi yang terbaik versi dan terindah. Mari bersama merayakan tokoh dunia yang terlahir di Nusantara kita ini. Btw sudah tahu kalau Kartini diakui sebagai memory of the world oleh UNESCO?

Masih Relevankah Pemikiran Kartini Tentang Emansipasi Sampai Saat Ini


Sudah lama tulisan Kartini baik yang ada di surat maupun tulisan lepas yang dikirimkan di media cetak menjadi acuan sejarah tak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Sejarah Kartini bukanlah sejarah lokal Jepara namun sejarah global. 

Jika masih ada yang mengira karya Kartini hanya surat yang dibukukan... oh no... beberapa karya etnografis Kartini sangat dihargai dari semasa beliau hidup sampai sekarang. Menurut Pak Joost Cote, inilah arti penting surat Kartini:

  1. Penulisnya adalah seorang perempuan, dari masa/waktu ketika jumlah tulisan perempuan di dunia masih sangat sedikit. 
  2. Penulisnya adalah orang terjajah yang berani menulis tentang penjajahnya dengan kritis. 
  3. Tulisan tentang rasa nasionalisme masih sangat langka, karena pada saat itu nation atau bangsa masih jauh dari pemikiran.


Makanya Kartini disebut sebagai "penguak fajar nasionalisme" dan suratnya merefleksikan suatu peristiwa sejarah yang penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Lha ini saya kok malah langsung to the point bahkan awalannya juga yang biasanya dipakai untuk akhiran tulisan.... Oh sobat Susindra pasti tahulah kalau saya selalu semangat jika membicarakan sosok perempuan hebat ini. 


Masih relevankah pemikiran emansipasi Kartini?

Meskipun Kartini telah meninggal 120 tahun lalu, namun sampai perayaan kelahiran yang ke-145 ini masih dilakukan. Bahkan menjadi agenda wajib di mana-mana. Semangat dan pemikirannya masih sangat relevan dengan perempuan saat ini. 

Pemikiran Kartini Tentang Emansipasi


Ketika perempuan masih berada dalam kegelapan, tak mengenal baca-tulis, tenggelam dalam feodalisme dan patriarki yang dengan sangat tegas mengurung perempuan dalam ranah privat, pemikiran revolusioner Kartini muncul di permukaan dan dibaca oleh jutaan pembacanya. 

Buku surat tersebut diterjemahkan dalam banyak sekali bahasa. Tak kurang dari 20 bahasa dunia, tak termasuk bahasa-bahasa lokal di Indonesia.

"Dulu dia punya pemikiran yang dianggap tabu dan tak mungkin terwujud, terkait pendidikan untuk perempuan. Tapi Kartini berusaha mendobrak yang tak mungkin itu, dengan cara yang unik yaitu menulis. Perjuangannya bukan fisik, tetapi tulisannya membuat isu perempuan di Indonesia tersorot, bahkan masih didiskusikan sampai sekarang." ---Gita Gutawa


Setuju dengan pendapat Gita Gutawa di atas??


Merayakan Hari Kartini, mengapa?

Hidup singkat, tak genap 25 tahun, tapi sejarah mencatatnya sebagai perempuan pertama di Indonesia yang menyandang gelar Pahlawan Nasional (1964). 

Bukan salah Kartini jika sampai saat ini ada perayaan Kartini dengan memakai kebaya dan sanggul. Diganti lomba debat tentang relevansi pemikiran Kartini dengan keadaan saat ini saja kan lebih seru. Atau lomba-lomba yang mengasah keterampilan yang jadi ciri khas kota masing-masing. 

Kalau ditanya kapan pertama kali ada Hari Kartini, saya sudah menulisnya di blog ini.

Bisa dikatakan, perayaan Hari Kartini, yang dimulai sejak tanggal hari Minggu, 21 April 1929, di Solo. Acara ini diinisiasi oleh P.A.H. Mangku Negoro VII, yang sangat mengagumi jasa Raden Adjeng Kartini, juga P.H. Hangabehi, P.H. Kusumoyudo, R.M.T. Sarwoko Mangunkusumo, dan ulasannya bisa ditemukan di koran De Sumatra Post pada tanggal 5 Mei 1929 dengan judul  De Geboortedag van Wijlen R.A. Kartini atau Ulang tahun Almarhum R.A. Kartini. -- baca Mengapa Kartini bukan Cut Nyak Dien.

 

Berikut salah satu cuplikannya:

Setiap orang yang berusaha lebih maju akan memiliki dorongan untuk belajar lebih lanjut dan keinginan untuk mencari sumber pengetahuan yang terbaik. Luasnya wawasan Kartini membuatnya sadar bahwa ia harus memperoleh kepercayaan dari rakyatnya. Oleh karena itu tanpa kepercayaan, pengetahuan dan kemajuan yang diperolehnya tidak akan berguna bagi rakyatnya dan hanya menjadi penghias dirinya.


Emansipasi vs kodrati

Kalau ditanya bagaimana kira-kira perasaan Kartini melihat kondisi saat ini, saya membayangkan permen nano-nano. Pastilah perasaan beliau bercampur aduk. Kesempatan perempuan sudah sangat terbuka. Bahkan banyak yang sudah melampaui kodratnya. Banyak ide dan pemikiran beliau yang disalah arti.

kartini berbaju kimono
Kartini berbaju kimono


Saya pernah membantu - hanya bantuan kecil - seorang dokter terkenal yang mengerjakan penulisan buku bertema Kartini dan kondisi perempuan saat ini. Saya cukup  memahami keresahan beliau sehingga ingin menulis hal ini padahal jauh dari profesinya. Btw, dunia sejarawan memang terbuka luas dan lintas profesi, lho. Siapa tahu ada sobat Susindra yang berminat...
Pak dokter ini tidak sendirian. Makanya pertanyaan ini selalu muncul setiap tahun. Tahun ini saya menerima dua permintaan jadi narsum dengan tema ini saja. Jadi isu yang menarik untuk dicakapkan bermalam-malam, nih. Karena oh karena, banyak yang sudah melenceng, mengira emansipasi berarti bisa berkarya sambil menginjak suami. Waduh.... 
Jangan, dong. Selalu ingat pada kodrat kita sebagai manusia. Pendidikan,  pekerjaan, kesempatan berkarya, kesehatan, dan mendapat perlakuan layak, adalah hak yang setara dengan laki-laki. Kodratnya yang berbeda. Btw coba baca Kedudukan istri di masa lalu dan catatan perempuan di dunia patriarki.
Masalahnya nih, masih banyak lho orang yang mengira semua yang di atas itu bagian dari kodrat. Padahal salah besar.

Kodrat adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Allah, sehingga manusia tidak mampu untuk merubah atau menolak. Sementara itu, kodrat bersifat universal, misalnya melahirkan, menstruasi dan menyusui adalah kodrat bagi perempuan, sementara mempunyai sperma adalah kodrat bagi laki-laki. Ini penjelasan paling umum. 

Melihat dari penjelasan di atas, saya sebagai perempuan kadang merasa, enak sekali jadi laki-laki. Saya sedang semangat meneliti sejarah, dapat dana penelitian pribadi, tahu-tahu hamil dan menyusui. Ingat juga, banyak perempuan yang saat bekerja, tiba-tiba mens dan harus bedrest saking deresnya... Nah, lho...
Makanya saya berusaha memahami mengapa mencari nafkah, mencukupi kebutuhan keluarga, dan melindungi mereka adalah tugas laki-laki bahkan ada yang menyebut sebagai kodrat laki-laki. 

Pemikiran Kartini tentang Emansipasi 

Masih tentang pemikiran Kartini tentang emansipasi. Kita bisa memulainya dari sepenggal pernyataan Kartini dalam memorandum untuk mendapatkan beasiswa sekolahnya:
Dari perempuanlah pertama-tama manusia menerima didikannya. Di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata. Bagaimana ibu bumiputera sanggup mendidik anaknya, jika mereka sendiri tidak berpendidikan? 
Karena saya yakin seyakin-yakinnya bahwa perempuan dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada yang lebih saya inginkan daripada menjadi guru. 

gambar keluarga kartini


Apa yang diharapkan Kartini untuk perempuan telah terwujud. Alhamdulillah. Jika kita mengurainya, berikut ini buah pemikiran Kartini yang masih relevan sampai sekarang ini:

1. Kesetaraan kesempatan belajar untuk perempuan

2. Kebebasan aktualisasi diri

3. Perempuan berdaya

4. Tak ada lagi pernikahan paksa/dini dari orangtua

5. Pengetatan kesempatan berpoligami

6. Toleransi agama


Saat ini perempuan telah setara dengan laki-laki dalam kesempatan -kesempatan di atas. Perempuan ikut membangun bangsa bahkan banyak sosok-sosok membanggakan di pemerintah seperti Bu Sri Mulyani, Bu Retno Marsudi, Bu Susi Pudjiastuti, dan masih banyak lagi di jajaran eksekutif. Di legislatif, ada Desy Ratnasari yang gahar di DPR padahal orang akan selalu mengingatnya sebagai miss no comment. Kita juga pernah punya presiden perempuan, dan sampai saat ini ada undang-undang undang mengenai jumlah minimum kepesertaan perempuan sebesar 30% dalam partai politik

Pemikiran-pemikiran di atas telah terwujud, masih selalu dipegang. Tak heran jika masih banyak yang menganggap jasa dan perjuangan beliau ini berhasil mengentaskan perempuan dari sumur kebodohan. 

Semangat, pemikiran dan perjuangan Kartini memberikan kesetaraan pendidikan mengantarkan kita pada kesetaraan kesempatan untuk maju, berkarya dan berkiprah di semua bidang. Perempuan boleh maju memperebutkan pekerjaan yang dahulu dikatakan "pekerjaan laki-laki". Sekarang ini semua kesempatan diberikan secara setara, menunggu diraih perempuan itu sendiri.

Saya tahu kalau kesetaraan gender masih jadi PR bersama. Saya membaca banyak sekali ketimpangan gender saat pandemi mengharuskan WFH. Namun menurut saya hak belajar dan akses terhadap pekerjaan yang layak telah nyaris setara. Hanya tersisa lelaki patriarkis garis keras yang mempertahankan ketimpangan gender dan diskriminasi terhadap perempuan. Semoga yang seperti ini segera sadar, ya.

Bisa dikatakan kita sampai penutup. Menurut saya, sepanjang tidak melanggar kodrat perempuan, termasuk dalam berumah tangga, maka pemikiran Kartini tentang emansipasi masih relevan padanya. Pemikiran Kartini perlu disebarluaskan agar generasi di bawah kita akan tetap berada dalam jalur emansipasi yang benar. Makanya kita perlu memperingati Hari Kartini meskipun setiap hari kita mendidik anak agar sesuai denga kodratnya.