Mengapa Hari Kartini, Bukan Hari Dewi Sartika atau Hari Cut Nyak Dien?

Makalah R.A. Kartini versus R. Dewi Sartika: Menakar Bobot Kepahlawanan tergeletak di meja. Saya sudah selesai membacanya. Pikiran saya berkelana. Saya ingat tulisan di Historia berjudul Kartini Bukan Pelakor tapi Martir. Beranjak ke karya Pak Pram, Panggil Aku Kartini yang belum saya baca karena terlebih dahulu membaca tulisan sanggahan R.Ay. Kardinah Reksonegoro di Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 122 (1966), no: 2, Leiden, 283-289 berjudul Kartini: De feiten. Mengapa Hari Kartini? Bukan Hari Dewi Sartika atau Hari Cut Nyak Dien? Tulisan ini tak bisa menjawab dengan tepat, hanya menyajikan data yang terlewat.

Gaya busana perempuan tompo doeloe

Tiba-tiba saya menyesal karena belum membaca. Antara penasaran dan takut, itu alasan saya belum membaca novel yang agak sering dikutip dalam skripsi tersebut. Saya penasaran, adegan berbicara dengan Kyai Sholeh Darat didapatkan dari mana? Adegan mengharu biru Kartini dibawa paksa (atau diseret?) dari kamar itu dari mana? Saya belum menemukannya dalam surat. Lalu, ingatan saya memunculkan sesosok tokoh literasi dari Garut bernama R. Lasminingrat. Angka tahun lahir beliau perlu direvisi agar kisah masa tua sebelum meninggal bisa dinalar. Saya menduga angka lahir diambil dari angka lahir suami beliau karena dimakamkan bersama. "Dipaksa menikah pada usia 50 tahun? Berjalan menyusuri hutan pada saat Agresi Militer II? Usia 100 tahun masih sanggup?" tanya saya sambil terus mencari data beliau sampai lupa tidur selama 48 jam.

Sebuah nama muncul. Kemarin, sekali lagi saya menemukan orang yang mempertanyakan kepahlawanan Kartini; membandingkannya dengan Cut Nyak Dien. Lagi-lagi, sesuatu berdering, meminta perhatian. .  Di antara orang yang berteriak mengapa Kartini, bukan Cut Nyak Dien, ada juga sejarawan yang menyatakan sebagian kisah perjuangan Cut Nyak Dien adalah romantisir orang Belanda. Kartini dan Cut Nyak Dien adalah buatan Belanda. Jika Kartini diidentikkan dengan salah satu program utama Politik Etis, Cut Nyak Dien baru diketahui dari kisah romantis keberhasilan Belanda menaklukkan Aceh pada tahun yang berdekatan. Madelon H. Székely-Lulofs mengisahkan bagaimana Belanda berkali-kali mengerahkan kekuatan ke Aceh dengan Cut Nyak Dien sebagai tokoh utama. 

What

Iya. Sobat Susindra tidak salah baca. Buku novel kepahlawanan karya Madelon H. Székely-Lulofs berjudul Tjoet Nja Dinh. De geschiedenis van een Atjehse vorstin terbit pada tahun 1948 menjadi salah satu pijakan penceritaan kisah hidup Cut Nyak Dien. Buku ini diterjemahkan oleh Abdoel Moeis dengan judul Tjoet Nja Din: Riwajat Hidup Seorang Puteri Atjeh, pada tahun 1954.pada tahun 1959, tepatnya 51 tahun setelah kematian beliau, barulah masyarakat tahu bahwa 'Ibu Perbu' yang tinggal di Sumedang adalah Cut Nyak Dien.  

Sebuah karya lawas Rumah Kartini


Sungguh... menggeluti dunia sejarah harus siap terpukau wow dengan data-data baru. Juga harus siap memperbarui informasi. Bersiap dengan kejutan-kejutan dan menyortir informasi baru dengan mengedepankan skeptical thinking. Ketika teman di Akademi Menulis Jepara bertanya mengapa saya tidak belajar nyerpen dan miksi lagi, saya jawab, “Sejarah itu fiksinya fiksi”

Eh? 

Yah, sejarah itu ditulis berdasarkan olah data dan interpretasi penulisnya. Tentu, ada tahapan yang harus dipatuhi sehingga tidak menjadi hayalan bebas. Ada metode penelitian yang baku. Jumlah buku yang dibaca dan keragamannya juga mempengaruhi interpretasi.  

Kembali ke makalah yang membandingkan kepahlawanan Kartini dan Dewi Sartika di atas. Awalnya saya penasaran, alat ukur apa yang digunakan untuk menakar kepahlawanan. Satuannya apa? Akhirnya saya tahu, bahwa jumlah usia dan pengabdian yang digunakan sebagai takaran. 

Kartini hanya hidup selama 25 tahun, sedangkan Dewi Sartika hidup selama 62 tahun. Keduanya dihadiahi gelar Pahlawan Nasional. Kartini 2 tahun lebih awal dari Dewi Sartika. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Lantai yang menjadi saksi langkah kaki Kartini

Mengapa?
Mungkin saya bisa sedikit memberitahu beberapa fakta meski tetap tak bisa menjawab mengapa ada Hari Kartini bukan Hari Dewi Sartika. 

Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879, sedangkan Dewi Sartika lahir pada tanggal 4 Desember 1884. Selisih mereka hanya 5 tahun, namun pembuatan sekolah mereka cukup berdekatan. Kartini membuat sekolah kabupaten di Jepara pada pertengahan tahun 1903. Dewi Sartika membuat sekolah kabupaten di Bandung pada tanggal 16 Januari 1904 dengan nama Sakola Istri. Kedua sekolah ini dapat disebut sebagai sekolah kabupaten pertama di Hindia-Belanda karena didirikan dengan otoritas bupati, dilindungi bupati, dan donatur dari kalangan bangsawan/priyayi yang berada di lingkaran bupati. Tak lupa, seorang binnenland bestuur (pegawai Eropa) berada di balik sekolah tersebut. 

Sayang, kedua sekolah ini memiliki nasib yang berbeda. Sekolah buatan Kartini ditutup pada tahun 1905 karena ayahnya meninggal dan saudaranya gagal menjadi bupati Jepara. Bupati Koesoemo Oetojo dari Ngawi yang menggantikan Bupati Sasraningrat, sedangkan Wedana Sosroboesono (putra Ngasirah kedua) menjadi Bupati Ngawi. 

Hanya rolling jabatan tapi membuat sekolah Kartini tak sanggup bertahan. “Bupati kami yang baru tidak suka melihat anak perempuan berjalan keluar,” keluh Roekmini yang menjadi kepala sekolah menggantikan Kartini setelah diboyong ke Rembang. Mungkinkah bupati muda yang progresif tersebut masih agak kolot saat pindah ke Jepara? Benarkah lingkungan liberal di Jepara sehingga menghasilkan tokoh-tokoh seperti Sosrokartono, Cipto Mangoenkoesoemo, Sosrohadikoesoemo, Kartini, Roekmini, Kardinah, dan lain-lain. Cukup banyak jika disebutkan satu per satu untuk ukuran kota kecil yang ‘terlupakan’.

Mengapa Hari Kartini? 
Karena ada Sekolah Kartini di mana-mana sejak tahun 1912? 
Ya! Sekolah Kartini pertama di Semarang dibuat dari uang hasil penjualan buku Door Duisternis Tot Licht. Buku ini mengalami cetak ulang kurang dari setahun dan terus dicetak ulang, lalu diterjemahkan dalam 20 bahasa di dunia. Hasil penjualan serta penggalangan dananya dijadikan dana pendidikan di Sekolah Kartini dan jumlahnya lumayan (saya belum mencari tahu di kota mana saja ada sekolah Kartini).

Banyaknya jumlah buku surat Kartini yang terjual, sedikit banyak membuktikan bahwa ide dan buah pikir Kartini laris di pasaran dan tersebar di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri banyak perempuan yang mengakui terpantik dan tergerak untuk berjuang setelah membaca buku Kartini. Poetri Mahardika yang pertama, lalu banyak organisasi perempuan yang berdiri, dengan fokus pada pendidikan dan hak perempuan. Jangan lupakan seruan 3 adik Kartini yang menyerukan agar Kaum Moeda bergerak serentak. Roekmini, kartinah, dan Soematri, 3 raden ajeng dari Jepara membuat petisi, meniru Broshooft yang menjadi salah satu penggagas Politik Etis. Tak lelah mereka meminta dukungan dan tanda tangan dari para sahabat dan kenalan, bumiputra maupun orang Eropa.

Setahun kemudian Boedi Oetomo mengajak mereka bergabung, dan setahun setelahnya mereka resmi menjadi anggotanya. Tapi tak lama, Roekmini menikah dan dua dara kembali kehilangan pegangannya. Kartinah sibuk mengurus dua ibu yang menjanda, sedangkan Soematri kembali sekolah.

Gambaran sebuah buku tamu di sekolah Wisma Pranowo melintas, ada tanda tangan Dewi Sartika dan Soewardi (Ki Hajar Dewantara) di sana, mereka menjadi guru tamu sambil mempelajari sekolah Kardinah, yang merupakan bentuk sekolah paling dekat dengan konsep pendidikan yang digagas dan diimpikan oleh Kartini.

Kiranya sekian saya cukupkan dulu tulisan yang mungkin memberi ledakan-ledakan kecil pada Sobat Susindra. Ini bukan teori konspirasi, tapi fakta yang bisa digali. Setidaknya bisa menjadi sedikit alasan mengapa Hari Kartini, karena saat itu beliaulah yang pertama di kenal. Kartini, sejarah lokal yang menjadi internasional.

7 Comments

  1. Berasa diceritain sama mbk susi. Hehe. Seneengggg. Maulah baca2 ulasan lain mbk susi terkait dg sejarah.

    ReplyDelete
  2. Budaya menulis memang sudah mengakar di kalangan eropa, jadi tak pelak sejarah bangsa kita pun slalu ada andil para sejarawan barat. Sayangnya, upaya telusuran kita menuju alam pikiran kartini ya utamanya lewat surat-surat beliau ya kak.

    Tapi yang kuyakin, baik kartini, dewi sartika, dan cut nyak dien berjuang dgn cara yang sesuai kondisinya masing-masing. semua spesial in their own way. semua pahlawan, semua dapat tempat di hati saya. hiks

    ReplyDelete
  3. Aku baru tau ternyata. Berarti buah pemikiran kartini ini lebih dikenal ya mbak ketimbang dewi sartika..

    ReplyDelete
  4. Wah ternyata jaraknya berdekatan yaa ..

    ReplyDelete
  5. Memperkuat literasi akan Hari Kartini mba Susi ...

    ReplyDelete
  6. Wah baca ini bikin saya banyak berkata "O" dalam hati. Karena banyak nemu informasi baru. Apapun itu mereka orang-orang luar biasa ya ��

    ReplyDelete
  7. Meskipun Cut Nyak Dien, Dewi Sartika tidak diperingati harinya sepert R.A. Kartini, tetapi mereka semua adalah orang-orang yang luas biasa untuk memperjuangkan negara kita tercinta, Indonesia.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)