Mengapa Selalu Kartini dan Bukan Cut Nyak Dien?

Saya sudah hapal dengan pertanyaan, "Mengapa Kartini dan bukan Cut Nyak Dien" setiap bulan April dan November. Kadang di bulan lainnya juga sih, ketika sosok perempuan pejuang nan tangguh dari tanah rencong diulas. Saya selalu merasa perlu menjelaskan bahwa bukan salah sejarah, jika selalu Kartini yang didahulukan?

mengapa hari kartini bukan hari cut nyak dien


Bagi saya yang sangat suka membaca sejarah, bukan tentang siapa yang lebih dahulu atau lebih berjasa. Meskipun saya bisa juga menjelaskan apa dan mengapa secara kronologis. Saya memang suka membaca secara runtut dan meletakkan sejarah berdasarkan timeline-nya. Cara ini memudahkan kita untuk tidak terjebak pada polemik Kartini vs Cut Nyak Dien, yang saya yakin kedua almarhumah tak pernah bertengkar di dunia ini maupun di akherat.


Cut Nyak Dien

Adalah Madelon Szekely-Lulofs, seorang penulis berkebangsaan Belanda kelahiran 24 Juni 1899, yang membuat sebuah novel sejarah yang sangat terkenal berjudul Tjoet Nya Din, de Geschiedenis van Atjehse Vorstin. Novel tersebut diterbitkan pada tahun 1948 melalui penerbit Moussault dari Amsterdam. Novel setebal 218 halaman itu membuat publik di Indonesia tersentak. Benarkah ada sosok perempuan pejuang sehebat itu memang nyata ada? 

Madelon Lulof lahir di Indonesia, dan pernah tinggal di Aceh pada tahun 1890 (mungkin sampai 1904, karena tahun ini dinyatakan tinggal di Padang). Berarti masa bayi sampai balita, ya. Mungkin ia sering mendengarkan dongeng tentang peperangan di kota tinggal kedua orangtuanya, sehingga ia bisa memvisualkan tokoh Cut Nyak Dien dengan sangat baik. 

Bahkan setelah tinggal dengan nyaman di Bogor dan menjadi siswa HBS di sana pada tahun 1913-1915. Juga setelahnya ia menikah, dan kehidupan rumah tangga menyibukkannya. Perkenalannya dengan Lazlo yang mengantarkannya pada dunia tulis menulis, bahkan bercerai dan menikah dengan juru gambar di sebuah mingguan Sumatra pada tahun 1926. 

Banyak juga buku Madelon Lulof yang terkenal, yaitu:

  1. 1. Rubber, Roman uit Deli, hingga 1992 telah dicetak 18 kali
  2. 2. Koelie, hingga tahun 1985 dicetak 6 kali
  3. 3. Tjoet Nya Din, de Geschiedenis van Atjehse Vorstin, yang dicetak ulang banyak kali, dan Abdul Muis membantu menerjemahkan ke dalam bahasa Melayu lalu bahasa Indonesia. Versi bahasa Indonesianya adalah Cut Nyak Dien: Kisah Ratu Perang Aceh.


Lulof memang penulis yang bisa dikatakan sebagai anti kolonial dan membahas ketimpangan ras degan lugas. 

Penelusuran tokoh 

Dari data yang ada serta data pengiriman tahanan, ditelusurilah jejak Cut Nyak Dien, dan jejak berakhir di Sumedang. Maka di kota inilah jejaknya terus menerus dicari. Akhirnya pada tahun 1959, teranglah kemudian, bahwa perempuan tua bernama Ibu Perbu adalah Cut Nyak Dien. Tak sampai 5 tahun, gelar pahlawan diberikan melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Kita bisa menemukan catatan unik dari Paul van 't Veer, seorang jurnalis pro Indonesia yang juga dari Belanda, yang menyatakan:

Berkat biografi karya Nyonya Lulofs inilah kita dapat mengetahui dalam sejarah Indonesia selain Kartini yang lembut, ada Cut Nyak Din yang mengobar perang dan begitu tabah mengembara di hutan sampai terserang penyakit dan menjadi buta, tetapi tak juga mau menyerah melawan Belanda. Ia sungguh 'Ratu Perang Aceh' yang menggetarkan.

Paul van 't Veer adalah penulis De Atjeh-oorlog atau dibahasaindonesiakan menjadi Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje


R.A. Kartini

Kalau melihat jarak kelahiran Kartini dan Cut Nyak Dien, kita bisa dengan mudah menyatakan siapa yang lebih dahulu berjuang dan dikenang. Cut Nyak Dien dinyatakan lahir pada tahun 1848, atau 31 tahun lebih tua daripada Kartini, perempuan Jawa kelahiran 1879. 

Epos perang Aceh tidak sama dengan epos perang Jawa. Aceh masih menjadi PR besar bagi Belanda, ketika mereka sudah menancap kuat di Jawa. Perang Diponegoro menyadarkan mereka tentang kewaspadaan yang bisa dikatakan paranoid, sehingga tak ada kesempatan memberontak lagi. Para prajurit srikandi tak lagi muncul dengan terang-terangan. Tari Serimpi adalah bentuk gemulai namun gagah, karena merupakan tarian perang para prajurit perempuan. 

Apalagi memasuki masa Tanam Paksa, dilanjutkan ke Politik Liberal. Feodalisme dan penguasaan tanah memang sangat erat berkaitan dan menjadi alasan makin terbenamnya kesempatan perempuan untuk keluar. Masak, macak, manak adalah stereotip perempuan sejak berakhirnya epos perjuangan Pangeran Diponegoro pada tahun 1825 sampai negara kita merdeka. 

Dengan berbagai suluk dan piwulang, perempuan perkasa pada tahun 1830an dibenamkan di belakang. Dikatakan bekti pada suami adalah jati diri mereka. Kanca wingking, swarga nunut neraka katut dan berbagai macam ajaran diberikan. Beberapa sangat familiar dalam ajaran Islam masa sekarang, ya? 

Saya pernah membaca beberapa cuplikan isi piwulang untuk para perempuan, dan memang uwu banget bahasanya. 

Kartini lahir dan menyecap pendidikan yang tak jauh dari stereotip perempuan sebagai kanca wingking. Anak perempuan tidak boleh lagi keluar rumah setelah mengalami haid. Meskipun ia belum lulus sekolah dasar. Masalah ini sudah menjadi hantu bagi semua anak di seluruh Hindia-Belanda (belum Indonesia karena saat itu yang dijajah baru Jawa, Madura, dan Sumatra (kecuali Aceh). 

Saat Kartini sedang berjuang membebaskan diri dari pingitan (1892-1903), Cut Nyak Dien mungkin sudah menjadi pejuang perang yang sangat gigih. Dikatakan, ia mulai perang dengan gigih setelah kematian suaminya pada tanggal 11 Februari 1899.

Oh iya, mengenai pingitan, secara adat memang sejak haid sampai malam sebelum menikah. Jadi 1892-1903. Itu pingitan resmi. Namun memang, secara fisik, pingitan Kartini hanya 4 tahun. Mulai 1896, Kartini sudah boleh keluar rumah sebagai raden ajeng remaja yang sedang berjuang mengentaskan warganya dari kemiskinan dan kebodohan. Maka kita pun mengenal Singowirjo dan Desa Blakang Goeneong yang identik dengan usaha industrialisasi kesenian ukir di Jepara. 

Suka tidak suka, sosok Kartini sebagai pebisnis ulung memang sangat tampak, selain sebagai pencetus embrio pendidikan karakter dan keterampilan perempuan. Zamannya sekolah, pendidikan tak jauh dari calistung saja. Dia mampu membuat publik terkejut saat memasukkan proposal pendidikan karakter dan aneka keterampilan kewanitaan dalam beberapa nota pengajuan beasiswa: ke Belanda maupun Batavia.

Pada akhirnya, Kartini menjadi pahlawan pada melalui SK Presiden RI No.108 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964. Bagaimana prosesi pengukuhannya dapat dibaca di https://kumparan.com/potongan-nostalgia/upacara-pengangkatan-r-a-kartini-sebagai-pahlawan-nasional-21dM5TZ4mb/full.

Perayaan Hari Kartini pertama di Indonesia

Adakah yang menyadari penomoran dalam Surat Keputusan Presiden mengenai kepahlawanan dua sosok heroik yang saya sebutkan?

Cut Nyak Dien, SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.
R.A. Kartini, SK Presiden RI No.108 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Bersamaan, kan? Trus.. apa dong yang diributkan? Keduanya juga sudah pernah difilmkan dan sangat diminati.

Oh... karena dirayakan setiap bulan April, ya? 

Bisa dikatakan, perayaan Hari Kartini, yang dimulai sejak tanggal hari Minggu, 21 April 1929, di Solo. Acara ini diinisiasi oleh P.A.H. Mangku Negoro VII, yang sangat mengagumi jasa Raden Adjeng Kartini, juga P.H. Hangabehi, P.H. Kusumoyudo, R.M.T. Sarwoko Mangunkusumo, dan ulasannya bisa ditemukan di koran De Sumatra Post pada tanggal 5 Mei 1929 dengan judul  De Geboortedag van Wijlen R.A. Kartini atau Ulang tahun Almarhum R.A. Kartini. Mengenai ini, saya sedikit mengulas pada artikel Mengenang Rohana Kudus Sang Wartawati.

Sejak penerbitan buku Door Duisternis Tot Licht, Kartini memang menginspirasi banyak tokoh penggerak pendidikan di Indonesia sebelum merdeka. 
Setelah itu, acara ini rutin dilakukan setiap tahun, sampai sekarang ini. 

Merayakan Hari Cut Nyak Dien

Mungkin memang perlu dibuatkan sebuah hari bernama Hari Cut Nyak Dien. Oleh karena tanggal kelahiran beliau sulit dicari, bisa dipilih tanggal 6 November. 

Menurut saya, ini cukup bijak untuk dilakukan, agar tak ada lagi polemik Kartini vs Cut Nyak Dien, atau sesuai dengan judul pilihan saya, "Mengapa Selalu Kartini dan Bukan Cut Nyak Dien?"

Sebenarnya saya pernah mengulas sedikit tentang itu di artikel berjudul Mengapa Hari Kartini Bukan Hari Cut Nyak Dien. Atau langsung ke kategori Sejarah Kartini saja. Sedang saya susun ulang, sehingga baru ada beberapa artikel di sana, aslinya ada belasan, bisa dilihat di kategori Sejarah.

Sumber tambahan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dhien

33 Komentar

  1. 2 wanita yang menginspirasi. Satu hal yang pasti mereka berdua telah membantu Indonesia menjadi lebih baik, mereka juga menunjukkan kalau wanita bisa punya peran besar dalam sebuah bangsa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali Mbak.
      Kadang yang sering mempertanyakan itu tidak gemar baca atau hanya baca 1 sisi.

      Hapus
  2. Mantap mbak, ini juga salah satu pertanyaan sejak dulu, tokoh wanita yang berpengaruh di Indonesia ada banyak, dan kenapa hanya "itu" saja yang diangkat?. Ya, semoga ada perbaikan, dan anak cucu kita juga tahu bahwa panglawan wanita itu ada banyak dari sabang-merauke, bukan cuma "itu" saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena ada yang selalu mengangkat, Mas. Yang lainnya menunggu aksi nyata, bukan pertanyaan saja

      Hapus
  3. buat aku keduanya , adalah bukti konkret perjuangan wanita di indonesia , jujur aja isue ini aku baru tahu lho ka , heheh makasih ya infonya .. pokok nya pada intinya kita harus teruskan perjuangan mereka ya ka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau suka berkelana di komunitas sejarah, pasti akan selalu ketemu.

      Hapus
  4. Wanita berjuang caranya ya macam-macam. Kartini dengan karakternya dan Cut Nyak Dien dengan tenaganya saat perang. Mereka sama-sama keren dan kita harus tiru daripada ribut sendiri

    BalasHapus
  5. Selalu suka tiap mbak Susi bahas soal sejarah, terutama Kartini. Banyak pengetahuan baru yang bikin manggut-manggut😍

    Ngomong-ngomong soal membandingkan, kayaknya memang ga ada habisnya deh. Sebelum dibandingkan dengan Cut Nyak Dien, aku lebih familier Kartini dibandingkan dengan Dewi Sartika.
    Kadang pengen nyeletuk, "Plis deeh..."🙄

    BalasHapus
  6. Saya baru tahu mereka berdua diversuskan. Mereka sama2 pahlawan wanita luar biasa. Mbak Susi keren sekali tulisan sejarahnya.

    BalasHapus
  7. Betul, kalau saya malah, mengapa hanya Kartini dan Cut Nyak Dien? Banyaak loh heroine (pahlawan perempuan) yang bikin kita bangga!

    BalasHapus
  8. sama sama Pahlawan wanita yang punya perjuangan untuk Indonesia. Ada yang perang dilapangan ada yang perang melawan tradisi dan aturan. keduanya sama sama punya peran besar untuk Indonesia

    BalasHapus
  9. aku sendiri baru tahu ada polemik mengenai hari Kartini ini yang mengapa bukan hari Cut Nyak Dien karena menurutku berbeda sih termasuk dalam dari mana berasal, pastinya sama-sama hebat ya. Setuju kalau misal dibuat sendiri khusus Cut Nyak Dien agar tiap tahunnya nggak ada pertanyaan yg sama hihi

    BalasHapus
  10. Wah aku malah baru tahu ada yang meributkan, karena bagiku keduanya sama2 pahlawan walau beda cara berjuang. Keduanya juga aku kenal dari buku sejarah zaman masih sekolah. Bahkan kalau hidup pun kyknya mereka jg gak terlalu peduli disebut pahlawan atau bukan ya...

    BalasHapus
  11. Aku pun takjub ada wanita sekeren cut nyak dien. Tanpa mengesampingkan ibu kita kartini, aku cukup bangga perempuan Indonesia punya pahlawan sehebat cut nyak dien ini

    BalasHapus
  12. AApa aku aja yg baru tahu kalau ada yg memperdebatkan mengenai hal demikian
    Beliau sudah berjuang dg caranya masing2.
    Nah kalau mau dibuatkan hari Cut Nyak Dhien, harus ada tokoh besar yg menginisiasi, supaya itu dapat diterapkan nantinya

    BalasHapus
  13. Kak Susiii...
    Terbaik.

    Aku selalu bermimpi, sejarah bisa dikuak dan diceritakan kembali dengan kak Susi menggunakan bahasa layaknya dongeng.
    Dan terbayang kalau di filmkan bak drama Korea. Pasti semua anak millenials semakin cinta Pahlawan Indonesia dan sejarahnya.

    BalasHapus
  14. Masyaallah lengkap banget mba. Banyak yang baru aku tahu tentang Kartini dan Cut Nyak Dien. Baru tahu kalau pingitan zaman dulu itu selama itu. Kukira hanya dipingit menjelang menikah saja lho. Trs Cut Nyak Dien yang sampai hampir buta juga baru tahu

    BalasHapus
  15. Astaga pingitannya lama sekali ya.. Thx God ada RA Kartini, gak kebayang aku tu dipingit selama itu dan hidup dengan suasana seperti itu.. Semoga kita para wanita bisa mengisi perjuangan RA kartini dengan sebaik baiknya.. Amin

    BalasHapus
  16. Keduanya punya andil yang hebat buat bangsa ini ya Mba, salut sama orang-orang luar yang justru banyak menuliskan kisah pejuang di negeri ini, ketimbang anak negerinya sendiri.

    Atau mungkinkah Kartini lebih dikenal, karena dia lebih banyak meninggalkan bukti-bukti tertulis, ketimbang Cut Nyak Dien?

    BalasHapus
  17. Senangnya bisa mampir ke tulisan Mba Susi. Detail sekali sampai memunculkan penomoran SK nya. Rasanya mungkin perlu juga kali ya ada hari cut nyak dien untuk dirayakan perempuan Indonesia.

    BalasHapus
  18. Saya sedari dulu sudah tahu sepak terjang kedua pahlawan wanita ini, tetapi memang tidak terlalu ngeh mengapa Hari Kartini bukan Hari Cut Nyak Dien. Baca ini jadi jelas, mengapa hal itu terjadi. Semoga ke depan ada juga Hari Cut Nyak Dien secara resmi.

    BalasHapus
  19. APA pun itu keduanya idolaku yang satu berjuang dengan angkat senjata yang satunya dengan pemikiran majunya. Kalau keduanya do satukan maka akan menjadi super women keren ya

    BalasHapus
  20. Selain dua wanita hebat ini tentu masih banyak pejuang wanita yang luar biasa. Memereka masing masing memperjuangkan Indonesia dari berbagai pandangan dengan berbagai cara. Sama sama hebatnya

    BalasHapus
  21. Saya terpukau, Mbak Susi. Mbak Susi membaca sejarah secara runut, bisa merunutkannya tetapi dalam menuliskannya, tematik seperti ini. Maksudnya sesuati topik - sesuai sub heading-nya, tahunnya bisa lompat-lompat. Itu menjadi tanda, Mbak Susi memang sangat suka sejarah, terlebih sejarah Kartini. Saya pengagum Kartini, Mbak Susi ... meskipun bukan pembaca sejarah yang baik. Saya kagum pada kecerdasan perempuan usia remaja yang bisa menulis topik2 yang hingga sekarang pun belum banyak perempuan di masa kita yang bisa menuliskannya dengan cerdas.

    Mungkin karena dia menulis ya dan banyak yang menerjemahkan ke bahasa Indonesia kemudian jadi Kartini lebih banyak dikenal.

    Saya sih memilih tidak mempertanyakan. Pasti ada alasan, pasti ada kisah. Saya melihat karena tulisan2 yang ada membuat Kartini lebih dekat, bahkan dengan saya yang di SUlawesi padahal kami juga punya Colli' Pujie, seorang sastrawati.

    BalasHapus
  22. Saya pun pernah bertanya ke diri sendiri, kenapa Kartini? Tapi memang perannya saat itu di bidang pendidikan besar. Salut dengan mba susi, keren banget tulisannya soal sejarah.

    BalasHapus
  23. Yang terpenting kita bisa mengambil banyak pelajaran dari keduanya, bukan mempertentangkan kenapa, mengapa pasti ada sejarahnya, pasti ada penyebabnya. Kartini sebenarnya juga memahami tentang harkat derajat perempuan setelah dekat dengan al qur'an. Konsep habis gelap terbitlah terang itu beliau ambil dari ayat al qur'an minal julumat ila nur. Dari gelap menuju cahaya...

    BalasHapus
  24. Ahahah...selalu aja ada sih yang meributkan begitu. Mirisnya, yang meributkan itu kadang malah suka "menindas" perempuan.

    Btw, aku perempuan Solo yang menikmati 10 tahun masa kanak-kanak di Tanah Rencong. Bagiku mereka berdua istimewa.

    BalasHapus
  25. akhirnya rasa penasaranku bertahun-tahun terjawab sih. soalnya kan mereka kan berbeda 31 tahun. akhirnya ya ilmu pengetahuanku bertambah lagi

    BalasHapus
  26. bagiku keduanya merupakan panutan dari semua perempuan di Indonesia,,banyak hal-hal dan nilai positif, semangat perjuangan dari kedua tokoh ini yang sangat inspiratif

    BalasHapus
  27. Banyak pejuang wanita mbak dan kedua tokoh ini luar biasa dalam sejarah Indonesia. Memang dikenal dengan Hari Kartini namun tersirat juga banyak pejuang wanita di dalamnya.

    BalasHapus
  28. keduanya adalah wanita tangguh Indonesia yang luarbiasa berjuang demi semua wanita di Indonesia.

    BalasHapus
  29. Dua-duanya memiliki sejarah yang menarik dan perannya masing-masing, sebetulnya untuk semacam role model sih tak perlu dipermasalahkan lebih jauh ya, lebih oenting mengambil teladan keduanya dari sejarah ini

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)