Mengenang Rohana Kudus: Sang Wartawati Pertama dari Tanah Minang

Sitti Roehana, namanya, namun kita akan lebih akrab memanggilnya dengan Ruhana Kudus. Terutama anak-anak sekolah, karena tokoh wartawan perempuan pertama dari Tanah Minang ini resmi menjadi Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK Tahun 2019 tanggal 7 November 2019. Seperti apa, dia?

Foto Rohana Kudus dari www.liputan6.com

Tanggal 7 November sore, saya iseng membuka Twitter dan menemukan berita tentang 6 Pahlawan Nasional 2019, dan menemukan 2 nama yang saya kenali: Rohana Kudus dan A.A. Maramis. Ternyata, untuk Maramis, saya salah orang. Saya mengira Maria Walanda Maramis yang juga tokoh pendidikan perempuan pada zaman kolonial. Ternyata Alexander Andries (AA) Maramis. Setelah saya cari tentangnya, Maria Maramis telah menjadi Pahlawan Nasional.

Tetap saja, masuknya Rohana Kudus merupakan sebuah kabar baik. Saya harap kelak akan muncul perempuan-perempuan hebat yang bisa mengikuti jejaknya menjadi Pahlawan Nasional. Misalnya R.Ay. Kardinah dari Tegal. Beliau membuka sekolah Wisma Pranowo pada tanggal 1 Maret 1916, di antara sakit yang sering ia derita selama berbulan-bulan. Fisiknya memang sangat lemah sehingga sebagian waktunya dihabiskan untuk beristirahat di rumah sakit di Semarang. Sekolah tersebut terlambat didirikan, tepatnya setelah operasi besar di Semarang yang membutuhkan waktu penyembuhan selama 8 bulan. Sekolah Wisma Pranowo memiliki banyak cabang di Jawa Tengah, dan merupakan bentuk sekolah yang digagas Kartini, yang paling mendekati, karena didirikan oleh adiknya sendiri. Akhirnya diakuisisi pemerintah, menjadi sekolah negeri, dan uang kompensasinya dijadikan rumah sakit, yang sekarang ini dikenal sebagai RSUD Kardinah. 

Mari kita kembali ke Rohana Kudus. 

Foto ekslusif Rohana masa muda dan  masa tua. Sumber: historia.id

Sebagaimana saya sebut di atas, nama asli Rohana Kudus adalah Sitti Roehana. Kudus atau Koeddoes berasal dari nama suaminya, Abdoel Koeddoes, seorang notaris. Rohana, lahir pada tanggal 20 Desember 1884, di Koto Gadang Kabupaten Agam Sumatera Barat. Tanggal ini tak terpaut jauh dari kelahiran Kartini dari Jepara, yang pada tanggal 21 April 1879. Namun nasib mereka sedikit berbeda. Kartini adalah anak seorang regent (bupati) yang merupakan posisi tertinggi di Hindia-Belanda (Indonesia saat masih jadi negara koloninya Belanda). Selain jumlah gaji yang sangat jauh terpautnya, juga karakter revolusioner di keluarga Kartini yang sudah dikenal sejak tahu 1850. Saat HBS (SMP) belum didirikan, kakek Kartini membuat sekolah di rumahnya dengan mengundang guru yang kelak menjadi kepala surat kabar De Locomotief., sebuah surat kabar paling terkemuka di Hindia-Belanda yang berlokasi di Semarang. Seperti kakeknya yang mengizinkan anak perempuannya ikut belajar, Kartini pun diizinkan sekolah di ELS (Sekolah Dasar Eropa) oleh ayahnya. Bagaimana dengan Rohana?

Saat usia sekolah, ayah Rohana Kudus, Mohamad Rasjad Maharadja Soetan, masih menjadi juru tulis. Itu artinya, ayahnya masih menjalani proses magang, sebagaimana lazimnya tata aturan birokrasi di zaman kolonial Belanda. Itulah sebabnya, Rohana tidak pernah menjalani masa sekolah formal. Ia diajari oleh ayahnya sendiri dan atasan ayahnya, Jaksa Alahan Panjang Lebi Jaro Nan Sutan. Kabarnya, pada usia 8 tahun, Rohana sudah bisa menulis huruf Arab, Arab Melayu, dan latin (huruf ABC). Ia bisa berbahasa Belanda pada usia 8 bulan. Jangan bayangkan fasih, ya. Sebatas anak menguasai bahasa asing. Karena pada masa itu, orang yang bisa berbahasa Belanda masih terbatas. Bahkan anak eurasia (keturunan Belanda-Indonesia) juga masih terbatas bahasa Belandanya.

Foto guru frobel di Payakumbuh tahun 1930. Refresing mata saja. Sumber: Perpustakaan Universitas Leiden

Meski menjadi juru tulis, sang ayah adalah orang yang berpikiran maju, sehingga Rohana tetap mendapatkan buku-buku anak maupun majalah. Pikiran maju inilah yang membuat sang ayah akhirnya menjadi hoof djaksa atau kepala jaksa.

Sebagaimana anak kecil, ia senang memperlihatkan kemampuannya, sehingga sering membaca buku dengan suara lantang di depan jendela. Hal ini menarik minat teman-temannya untuk ikut belajar padanya. Sosok pembaharu terlihat padanya.

Tak banyak informasi mengenai masa remaja Rohana. Catatan sejarah pribadinya kembali ditandai ketika ia menikah pada usia 24 tahun. Itu artinya, pada tahun 1908. Tiga tahun setelah menikah, ia Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) pada tanggal 11 Februari 1911. Sekolah ini berkembang sangat pesat, sebagaimana geliat perkembangan sekolah perempuan di Hindia-Belanda. Seperti titik-titik api harapan, setiap kota besar berdiri sekolah perempuan yang sewindu sebelumnya sangat diidamkan oleh Kartini. Sampai akhir hayatnya, baru ada 3 sekolah perempuan yaitu di Jepara, Rembang dan Bandung. Pada tahun 1911 memang tahun yang sangat signifikan dalam penambahan sekolah perempuan. 


Rohana dibantu 2 temannya, Rekni Putri dan Hadisah, saat mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sekolah ini sejak awal memang didirikan sebagai sekolah keterampilan, seperti menjahit dengan mesin, membordir, menyulam, merenda, hingga menenun. Tentu saja pelajaran calistung diajarkan, termasuk pelajaran pengelolaan keuangan, pendidikan budi pekerti dan agama. Perlu diketahui bahwa secara umum, pelajaran agama adalah pelajaran tambahan dan belum wajib. Setelah Indonesia merdeka, barulah pelajaran ini menjadi kurikulum wajib. Sekolah ini juga membuat sistem koperasi untuk muridnya.

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”. 
Bentuk surat kabar Soenting Melajoe. Sumber: merdeka.com

Sebagai seorang yang suka membaca dan menulis, Rohana merasa perlu ada sebuah surat kabar yang mengkhususkan pada tema perempuan. Ia mengirim surat kepada pemimpin redaksi surat kabar Oetoesan Melajoe, Datuk Sutan Maharadja perihal keinginannya ini. Gayung bersambut, sang datuk berkenan mengabulkan, dan menyerahkan persiapan pembuatan surat kabar perempuan pertama di Sumatera Barat tersebut kepada putrinya Ratna Juwita Zubaidah dan Rohana. Surat kabar ini diberi nama Soenting Melajoe. Secara harfiah, soenting artinya perempuan, sehingga dapat diartikan sebagai surat kabar perempuan Melayu. Surat kabar ini terbit perdana pada tanggal 10 Juli 1912 dan berhenti terbit pada 28 Januari 1921. 

Ratna dan Rohana menjadi penulis tetap di surat kabar ini. Ratna menulis dan mengurus percetakan dan semuanya di kota Padang, yaitu di percetakan Snelpersdrukkerij, sedangkan Rohana menulis dari Koto Gadang. Pengaturan ini tak membuat pencetakan surat kabar terhambat. Tetap terbit seminggu sekali dengan jumlah tulisan 4 halaman. Biaya berlangganannya murah, hanya 1,8 gulden per tahun atau 0,45 gulden. Surat kabar ini disirkulasikan bersama dengan surat kabar Oetoesan Melajoe yang oplahnya sudah tinggi. Biaya berlangganan naik pada tahun 1914, naik menjadi 0,25 per bulan.

Surat kabar Soenting Melajoe berisi tema tentang hal-hal umum, yaitu tajuk rencana, sajak-sajak, tulisan-tulisan mengenai perempuan, pendidikan perempuan, kesehatan, agama, budaya, dan riwayat tokoh-tokoh ternama. Tak ada tulisan kritis terhadap pemerintah Belanda yang lama bercokol di wilayahnya. Ia akhirnya menjadi pemimpin redaksi Perempuan Bergerak (perlu dicari klarifikasinya), saat pindah di Medan selama 4 tahun. Ia kembali ke Minangkabau pada tahun 1924 dan menjadi redaktur surat kabar Cinta Melajoe. Tulisan Rohana sekarang lebih kritis dan bernyawa karena terus menyerukan kemajuan kaum perempuan, termasuk mengecam praktik pergundikan, pekerjaan yang tidak manusiawi di Deli dan praktik prostitusi yang menghancurkan harkat perempuan.

Foto Rohana Kudus dan Pahlawan Nasional 2019 dari www.liputan6.com

Pada zaman pergerakan, Rohana menjadi salah satu perempuan yang aktif menulis untuk membakar semangat nasionalisme pemuda-pemudi melalui surat kabar. Karena jasanya, Rohana mendapatkan gelar sebagai Wartawati Pertama Indonesia pada tahun 1974, dan sebagai Perintis Pers Indonesia di Hari Pers Nasional ke-3 pada tanggal 9 Februari 1987.

Kartini, Dewi Sartika dan Rohana Kudus
Kartini, Dewi Sartika dan Rohana Kudus adalah tokoh pendidikan perempuan yang sering disejajarkan bersama dalam satu bingkai. Adakalanya hanya disejajarkan, tak jarang dibenturkan. 

Seperti keterangan di atas, Rohana Kudus lahir pada tanggal 20 Desember 1884 di Koto Gadang Sumatera Barat. Dewi Sartika lahir 16 hari sebelumnya, yaitu pada tanggal 4 Desember 1884 di Bandung. Ketika mereka lahir, Kartini sudah berusia 5 tahun. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara. Rohana Kudus hidup selama 87 tahun, Dewi Sartika hidup selama 62 tahun, dan Kartini hidup selama 25 tahun. Apakah jumlah usia mempengaruhi karya dan karsa? Sangat!

Tanpa bermaksud membenturkan ketiganya, akan tetapi sejarah yang saya baca dari Rohana dan Dewi Sartika, keduanya dikatakan membuka kelas membaca dan menulis pada usia belia, sehingga dibenturkan dengan Kartini yang baru membuka sekolah resmi pada tanggal 1 Juni 1903. Saya hanya ingin bertanya, apakah anak usia SD sudah dapat membuka kelas membaca, sedangkan pada saat itu pingitan masih sangat ketat? Bagaimana jika saya katakan, Kartini juga mengajarkan ibu dan emban-embannya membaca dan menulis? 

Gambar koran Vereeniging Oost en West. Sumber: assets.catawiki.nl


Mengenai buku Door Duisternis Tot Licht yang berbahasa Belanda pada saat diterbitkan ada tahun 1911, saya hanya ingin menyampaikan bahwa bahasa Belanda adalah bahasa pergaulan pada masa itu, sehingga banyak yang menguasainya. Pada tahun 1900, usai Sosrokartono mengucapkan pidato berapi-api di konferensi bahasa di Eropa, tentang pentingnya bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar di semua instansi, kursus-kursus  bahasa Belanda bak cendawan di musim hujan. 

Di Sumatera ada sebuah surat kabar beroplah tinggi bernama De Sumatra Pos yang terbit mulai tahun 1898. Koran ini bersifat independen dan progresif. Banyak tulisan Kartini dari majalah Eigen Hard (di Belanda), De Echo (Yogyakarta), De Locomotief (Semarang), dan lainnya yang diposting ulang di De Sumatra Post. Artikel Javaansche Vrouwen  atau Perempuan Jawa yang dipublikasikan di majalah Vereeneging Oost en West (Belanda) yang membuat Kartini mendapat beasiswa belajar ilmu keguruan di Belanda pada tahun 1902., diterbitkan ulang di banyak surat kabar, termasuk di De Sumatra Post pada tanggal tanggal 15 Juli 1902. Begitu pun kabar beasiswa Kartini ke Jakarta, kabar detail pernikahannya, dan ada sebuah edisi khusus untuk mengenang almarhumah Kartini pada tanggal 5 Oktober 1904 berjudul Sprookeltjes voor dames atau Dongeng untuk Perempuan.

Redaksi De Sumatra Post dalam tulisan memorial itu menuliskan bahwa:
Setiap orang yang berusaha lebih maju akan memiliki dorongan untuk belajar lebih lanjut dan keinginan untuk mencari sumber pengetahuan yang terbaik. Luasnya wawasan Kartini membuatnya sadar bahwa ia harus memperoleh kepercayaan dari rakyatnya. Oleh karena itu tanpa kepercayaan, pengetahuan dan kemajuan yang diperolehnya tidak akan berguna bagi rakyatnya dan hanya menjadi penghias dirinya.

Contoh koran De Sumatra Post. Sumber: yumpu.com

Diakui atau tidak, tanggal 21 April sudah diakui sebagai hari mengenang Kartini sejak penerbitan buku Door Duisternis Tot Licht. Di Indonesia, peringatan besar yang tercatat sejarah, dan lagi-lagi diterbitkan di koran De Sumatra Post pada tanggal 5 Mei 1929 dengan judul  De Geboortedag van Wijlen R.A. Kartini atau Ulang tahun Almarhum R.A. Kartini. Jadi, ide, gagasan, cita-cita dan perjuangan Kartini tersebar di seluruh Hindia-Belanda. Kamu harus tahu bahwa sampai Kartini meninggal, 1904, wilayah jajahan Belanda baru seluruh Jawa dan Madura, dan Sumatera kecuali Aceh.

Di tuliskan di sana, bahwa pada hari Minggu, 21 April 1929 di Solo telah diadakan acara mengenang 50 tahun kelahiran Raden Adjeng Kartini. Acara ini dihadiri oleh P.A.H. Mangku Negoro VII, yang sangat mengagumi jasa Raden Adjeng Kartini, juga P.H. Hangabehi, P.H. Kusumoyudo, R.M.T. Sarwoko Mangunkusumo. Semua tamu hadir bersama isteri. Di sekeliling gedung itu telah dihias dengan motif batik, yang di tengah-tengahnya terpampang foto dengan bingkai emas yang besar dipasang di tengah-tengah gedung pertemuan itu. Foto istimewa ini merupakan persembahan P.A.H. Mangku Negoro VII atau lebih dikenal dengan Mangkunegara VII, seorang penguasa yang dianggap berpandangan modern pada zamannya.

Peringatan ini diharapkan akan membuat jejak Raden Adjeng Kartini diikuti oleh banyak orang demi kemajuan para gadis bumiputera.

Setelah itu, di kota-kota lain selalu memperingati hari lahir Kartini, dan berhenti pada masa pendudukan Jepang. Setelah merdeka, tepatnya pada tanggal 21 April 1947, peringatan hari lahir Kartini dirayakan secara besar-besaran, termasuk aneka lomba sepeti olahraga, kepanduan, dan pameran di Koningsplein (Lapangan Merdeka Jakarta). Tak ketinggalan di Istana Merdeka. Mungkin dari sinilah awalnya, seremonial yang selalu dilakukan pada Hari Kartini setiap tahun.

Kartini menjadi Pahlawan Nasional pertama melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 108 Tahun 1964, tertanggal  2 Mei 1964.  Selain menetapkan  RA Kartini sebagai pahlawan nasional,  setiap tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari Kartini.

Sumber: onesearch.id


Yaaa.. begitu saja, sih tanggapan saya tentang upaya pembenturan kepahlawanan 3 tokoh perempuan ini....

Da begitulah kisah Rohana Kudus, yang hidup selama 87 tahun dan mengalami beberapa perubahan zaman di Indonesia. Selamat menjadi Pahlawan Nasional, Rohana Kudus





Bantuan Data: 



https://www.liputan6.com/citizen6/read/4107255/mengenal-6-tokoh-yang-dianugerahi-gelar-pahlawan-nasional-2019

21 Comments

  1. Wah nice info mba, menambah pengetahuan, sebelumnya belum pernah mendengar nama beliau hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan senang hati Mbak. Saya lama ingin bahas perempuan-perempuan hebat yang membuat sekolah perempuan di kota-kota mereka. Daripada hanya jadi bacaan senggang, lebih baik diperkenalkan ke pembaca Cakrawala Susindra

      Delete
  2. Rohana did lot of things!
    Fyuhh....aku baca sampai habis, karena aku mulai tertarik membaca Sejarah daripada gagap pas ditanya anak nanti wakkakakak.

    ITu yang sering dipertanyakan oleh kami-kami yang hanya tahu Sejarah dari sekolah. Kenapa ada hari Kartini? Bahkan kami belakangan malah penasaran dengan sosok Kartini yang sebenarnya, di mana digambarkan Kartini yang rebel dalam artian tidak mau menuruti aturan keningratan.

    Rohana malah menarik, ini mertua sering cerita tentang pahlawan dan toko Minang tapi Rohana ga pernah disebutkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ita, benar. Beliau itu gabungan antara otak dan otot. Salah satu idolaku, ini.
      Cuma kadang aku gatal pengen klarifikasi kalau membandingkan Kartini dengannya itu bukan apple to apple karena beda waktu berkarya dan bekerja.

      Delete
  3. Wah, saya malah baru tau kalo rohana kudus baru "dimasukkan sebagai pahlawan Nasional" .
    Saya pikir selama ini begitu adanya karena rohana kudus adalah salah satu tokoh sejarah yang saya kagumi selain cut nya dien.

    ReplyDelete
  4. Satu lagi tokoh perempuan yang juga harum namanya, Rahmah El Yunusiah, Mbak. Kurang tau apakah dianugerahi sebagai pahlawan nasional juga. Pada tahun 2013 lalu kepada nama almarhumah disematkan Bintang Maha Putra Adipradana.
    Btw, tfs yaa Mbak Susi,, sudah mengangkat tulisan ini. Sy tertegun pas yg tentang luasnya ilmu pengetahuan dan wawasan hanya akan menjadi penghias diri saja tanpa adanya kepercayaan. Kepercayaan kaitannya dg kiprah nyata yg telah dibuat utk masyarakat ya. Bagus buat renungan nih.

    ReplyDelete
  5. Saya malah baru tahu soal Rohana Kudus ini, Mbak Susi. Dan sebagai wartawan perempuan pertama, maka sangat pantas menjadi pahlawan nasional, apalagi zaman itu, memberikan informasi kan harus hati-hati dan penuh perjuangan. Dan memang masih banyak tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang hebat.

    Kalau saya bisa berpendapat, saya juga ingin olahragawan menjadi pahlawan nasional. karena mereka pun berjuang mengharumkan nama Indoensia di kancah dunia. mereka sejak kecil sudah berlatih, merelakan masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa juga. Tapi banyak yang setelah pensiun, kurang diperhatikan. Bahkan ada yang pernah jual medali.

    ReplyDelete
  6. Saya suka membaca biography orang-orang yg memberikan hal yang positif pada masyarakat, apalagi pada bangsa dan negaranya.
    Selamat kepada ibu Roehana Koeddoes, semaga menjadi salah satu amaln beliau.

    ReplyDelete
  7. Ternyata saya itu kurang mempelajari nama2 pahlawan, untuk tokoh Rohana Kudus ini, saya baru tahu sejarahnya, dan hanya tahu sejarah kartini, sekarang jadi lebih jelas setelah baca2 ini.

    ReplyDelete
  8. Thank fo sharing mbak. Saya jadi tahu dengan Beliau dan kiprahnya di dunia kepenulisan. TAk salah jika Rohana kudus dijadikan salah satu pahlawan Wanita Indonesia.

    ReplyDelete
  9. Saya baru tahu tentang Rohana Kudus mbak. Saya baca sampai habis karena penasaran juga. Sayang juga ya, kalau penahbisan pahlawan nasional butuh waktu selama itu, padahal jelas kontribusinya kepada negara. Sebenarnya bagaimana sih teknis penetapan pahlawan nasional itu, diajukan dari warga/komunitas atau inisiatif dari negara?

    ReplyDelete
  10. Keren mbak ..banyak perempuan yg pnya kisah inspiratif..semoga memberi makna buat semua..mksh info nya..

    ReplyDelete
  11. Aku baru tahu lho mbak, ada pahlawan namanya Rohana Kudus. Selama ini cuma tahu pahlawan perempuan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Muthia, Kartini, Dewi Sartika, Martha Tiahahu,Malahayati. Tambah lagi deh Rohana Kudus.
    Saya sih salut sama semua pahlawan yang sudah dinobatkan jadi pahlawan nasional ataupun yg belum, termasuk pahlawan dalam keseharian kita.

    Selamat hari pahlawan... Tfs, mbak.

    ReplyDelete
  12. wah, saya ketinggalan informasi ini. makasih, mbak.. ini nama yg saya kenal di awal kuliah, mata kuliah: sejarah pers nasional ^_^

    ReplyDelete
  13. Keren banget mbak Susi ini masih aware dengan sejarah para pahlawan kita. Thanks infonya mbak, menambah wawasan bagi orang2 minim wawasan seperti saya^^

    ReplyDelete
  14. Wartawati pertama? Wihh keren.. Kalau pas liputan di Lombok terus ketemu teman-teman jurnalis gitu, saya suka salut sama mereka yang perempuan. Ya keren aja gitu rasanya ngelihat mereka.

    ReplyDelete
  15. Wah aku baru tahu kalau ada wartawan wanita pertama yaitu Rohana Kudus yang sangat banyak kontribusi nya untuk Indonesia. Terima kasih infonya

    ReplyDelete
  16. Benar-benar salut dengan spirit kebangsaannya, membakar semangat masyarakat Indonesia dengan tulisan, disitu saya salut banget, emang the power of tulisan ya mbak....

    ReplyDelete
  17. Berasa belajar sejarah hehe. Saya pernah dengar nama Rohana Kudus namun belum pernah tahu mengenai detailnya seperti ini mbak, tengkyu yaaa.
    Alhamdulillah sudah dinobatkan jadi Pahlawan Nasional ya. Kebayang nih org Jepara kudu paham juga sejarah RA Kartini ya mbak jdnya dengan yang namanya pahlawan itu kyknya kok banyak gtu pengetahuannya :D

    ReplyDelete
  18. Saya ngga bisa bayangin, bayi asal Sumbar usia 8 bulan bisa bahasa Belanda sendiri.Kalo sekarang ada, mungkin uda jadi selebgram loh dia. Hihi
    Betapa kerennya didikan ayahnya.
    Seneng bisa mengenal lebih jauh Pahlawan Nasional Rohana Kudus lebih jauh disini.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)