Lawatan Sejarah melalui Film Kartini 1982

Minggu ini saya sudah sedikit lebih selow jika dibandingkan minggu kemarin. Setidaknya saya sudah bisa duduk manis beberapa jenak, mengabaikan cucian dan setrikaan yang menggunung. Yang tahu keseharian saya akan maklum mengapa bisa terjadi hal semacam itu. Wkwkwk. Mumpung masih mode pengisian baterai pasca diforsir minggu lalu, saya akan menulis tentang Pendopo Kabupaten Jepara di Film Kartini 1982.



Sebenarnya sih saya sudah hopeless saat bertanya, untuk tema OWOP Pojok WB minggu ini, yaitu film yang baru selesai ditonton, saya izin menulis tentang film super zadoel yaitu Kartini versi Tsuman Djaja (Sumanjaya). Tentu diizinkan karena di grup itu saya sering menulis tentang serba-serbi Jepara termasuk sejarahnya. Tapi saya merasa seperti pemaksaan tema. Meski saya benar-benar sedang dijepit waktu dan energi saya dikuras habis. Akhirnya saya menulis tentang Wanita Antara Tahta, drama Cina terbaru yang sampai sekarang masih on going


Film Kartini (1982) dibuat berdasarkan interpretasi buku biografi R.A. Kartini yang ditulis oleh Bu Siti Soemandari. Bantuan keluarga besar Sosroningrat yang masih tinggal di Jakarta sangat besar serta Ir. R. Ng. Sosrohadikoesoemo. Bagi yang belum tahu, beliau adalah suami dari adik termuda R.A. Kartini. Beliau putra dari patih Jepara pada masa Bupati Sosroningrat. 


Film dibuka dengan cahaya petir yang menyambar dan seorang laki-laki bangsawan memandang ke luar jendela dengan resah. Di sampingnya seorang perempuan berkebaya beludru hitam dengan hiasan bordir ikut menanti sesuatu. Di jalanan, sekelompok orang berjalan di kegelapan dengan bantuan oncor dari bambu. Langkah mereka tergesa bukan oleh kilat yang sesekali menyambar tanpa suara. Mereka harus ke rumah ndoro mereka yang sedang menanti kelahiran seorang jabang bayi.


Akhirnya yang dinanti pun tiba. Tangis bayi perempuan bernama Kartini terdengar. Tergopoh, sang laki-laki masuk ke dalam rumah bagian dalam dan bertemu dua mertuanya, Kyai Modirono dan istrinya, yang tanpa kata mengajak cucunya Kartono keluar. Sang laki-laki, yang tak lain adalah Wedono Samingun (nama asli Bupati Sosroningrat), masuk ke kamar dan menemukan perempuannya sedang memeluk bayi. Perempuan itu adalah istri pertamanya, namun mendapatkan status garwa ampil sejak suaminya menikah kembali dengan putri Bupati Japara, Bupati Tjitrowikromo.


Singkat cerita, si bayi mungil yang usianya baru beberapa menit itu diberikan pada garwa padmi dan mereka berdua keluar rumah untuk memperkenalkan sang bayi pada deretan kawoelo yang menanti di depan rumah mereka.


Tampaknya seperti itu tradisi di masa lampau, sebuah kelahiran putri bangsawan akan disaksikan banyak orang....

Tapi saya tidak setuju dengan adegan bayi langsung diambil dari ibunya beberapa menit setelah melahirkan. Sepemahaman saya, meski pengasuhan anak bangsawan disupervisi oleh istri padmi, namun tidak sampai mengambil dari ibunya. ASI tetap diberikan, selain sego gedang.


Melintasi bangunan bersejarah Stasiun Mayong

Singkat cerita, akhirnya Wedono Samingoen menggantikan mertuanya menjadi Bupati Japara dan mendapatkan gelar baru yaitu R.M.T.A.A. Sosroningrat. Perjalanan dari Mayong mengulik kegelisahan bupati baru tersebut, yaitu kemelaratan rakyatnya akibat perang di Eropa yang tak kunjung reda. Tanah Japara sangat subur tapi rakyatnya menjadi kuli di negerinya sendiri, meninggalkan anak-bojo kelaparan di rumah-rumah gedeg. Nanti akan tampak di cerita, kegeraman dan ketidakberdayaan bupati Japara tersebut dalam menyelesaikan masalah kemiskinan di daerahnya.


Satu yang harus dilihat benar adalah, saat rombongan tersebut melewati bangunan Stasiun Mayong yang indah. Stasiun itu dahulunya berdiri megah di Desa Pelemkerep Kecamatan Mayong. Tepatnya di depan SMPN 2 Mayong. Jika ke sana pastilah kecelek karena bangunan tersebut sudah tidak ada. Sekarang sudah menjadi kios dan toko.




Di mana bangunan Stasium Mayong yang dibangun tahun 1873 tersebut sekarang? Jawabannya ada di sebuah hotel di Magelang, yaitu Hotel MesaStila milik Sandiaga Uno. Lokasinya di Desa Losari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.


Saya agak geram saat tahu tentang bangunan stasiun itu telah menjadi lobi hotel. Tapi mencoba memahami alasan puitis pihak pengelola hotel yang menyatakan bahwa stasiun ini diselamatkan untuk dilestarikan agar tidak punah. Saya cek kembali, di daftar cagar budaya, ternyata baru didaftarkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada tanggal 21 April 2019 tapi masih dalam peninjauan. 


Meski merasa sayang, tapi dahulu rumah tersebut adalah aset dari Samarang–Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). SJS meresmikan jalurnya pada tanggal 6 September 1887. Selanjutnya, jalur Mayong–Pecangaan diresmikan pada tanggal 5 Mei 1895 dan terakhir, Mayong–Welahan pada tanggal 10 November 1900 (sumber: Wikipedia). Tinggal bagaimana nih pemerintah Jepara, sanggup membelinya atau membuat replikanya atau tidak? 


Pendopo Kabupaten Jepara di Film Kartini 1982

Ingin melihat wujud Pendopo Kabupaten Jepara yang paling dekat dengan masa Kartini? Saya sarankan menonton film ini. Memang sudah ada banyak perubahan karena telah melewati masa yang cukup lama. Katakanlah tahun 1900-1982. 

Saya merujuk pada tahun 1900 karena menurut perkiraan saya, penambahan besi-besi pada bangunan pendopo (depan) dilakukan pada tahun itu. Tahun lawatan panjang Kartini ke Jakarta, ke Istana Merdeka di Bogor, ke Bandung dan Yogyakarta. Suami istri Sosroningrat dan het claverblaad bertandang ke ibukota dengan agenda berbeda. Sang ayah, mungkin menghadiri suatu jamuan di Bogor dan lawatan biasa, namun Kartini dan 2 adiknya berniat memberitahukan niat mereka belajar di Eropa agar bisa membuat sekolah perempuan. Informasinya ada pada surat, ya, di tahun 1900.


Saya pernah menulis tentang kerusakan Pendopo Kabupaten Jepara yang dilakukan oleh para orang nomor 1 di Jepara yang ingin punya rumah nyaman selama tinggal di sana. Bupati A menambah B, bupati C menambah D, bupati E menambah F dan seterusnya, tak jarang tambahannya tersebut diletakkan dengan cara merusak bagian tersebut. 

Bagian rumah dalem pendopo sudah seperti rumah juragan


Pada acara presentasi dan diskusi "Pentingnya Pendopo Menjadi Museum" pada tanggal 15 Oktober lalu, Pak Arif Akhyat memberitahukan sebuah kabar yang sangat mencengangkan, yaitu Pendopo ini tak selalu menjadi rumah dinas bupati, bahkan pernah menjadi tempat tinggal sekaligus kantor masyarakat Soeka-Rame dari Pati, sampai kemudian diserahkan kembali.  dan diserahkan kepada warga Jepara-Rembang saat perpisahan dengan Residen P.W. Palte.


Bentuk pendopo pada tahun 1982 menjadi dokumentasi berharga yang bisa kami temukan saat ini. Sepanjang yang saya tahu, kami semua tidak memiliki catatannya. Hal ini patut disayangkan. Semoga saja ada yang masih punya dan tahu betapa berharganya data tersebut. Saat ini kami sedang berupaya menggali kenangan orang-orang sepuh yang pernah ke sana saat lampau.


Saya menikmati benar, film ini, dan mengamati bagaimana latar rumahnya. Sobat Cakrawala Susindra bisa juga lho, menonton film tersebut sekarang, sambil membayangkan bagaimana bentuknya. 


Oh iya, film ini membuat dua buah penyelewengan sejarah, kalau istilah saya, yaitu kamar pingitan dan mengubah sentong di dalam area dalem menjadi kamar. Hal ini dilakukan untuk visualisasi karena pada zaman dahulu, rumah Jawa kuno tidak mengenal konsep kamar pribadi. Bahkan visualisasi perang batin Kartini ditunjukkan dengan dirinya digandeng masuk kamar, dikunci kamarnya, lalu sang ayah mengunci bangunan rumah yang dianggap pingitan tersebut.


Lepas dari fakta itu, saya tetap merasa terbantu dalam membuat visualisasi Pendopo Kabupaten Jepara sehingga bisa mempresentasikannya di depan para tamu, yang jika dipikir benar, menciutkan nyali. Untunglah saya berhasil memaparkan dengan cukup lancar. Saya menyebutnya, Menata Puzzle Bangunan Pendopo Kabupaten Jepara.




Dan saat mengakhiri makalah tersebut, saya membuat kesimpulan sbb:

Kesimpulan setelah meneliti bangunan Pendopo Kabupaten Jepara

Tidak mudah merekonstriksi kembali bangunan Pendopo Kabupaten Jepara karena sebagian besar sudah tidak ada wujudnya atau sudah beralih bentuk dan fungsi. Perjalanan menyusun makalah ini seperti menyusun puzzle. Beberapa bahan didapatkan dari serpihan kecil tanpa banyak makna dalam karya sastra, prosa, maupun buku yang tidak secara khusus membahas tentang rumah atau arsitekturnya. Akan tetapi itu tidak menghalangi proses dalam memvisualkan kembali Pendopo kabupaten Jepara dalam bentuk rumah tinggal R.A. Kartini dan keluarga pada awal abad ke-20.

Banyak tokoh besar Jepara yang hidup pada bangunan paling bersejarah di Jepara ini, namun masa hidup Kartini dipilih karena alasan akses data yang ada. Pada masa sebelumnya dan sesudahnya tidak terdapat catatan apapun sehingga menjadi sebuah pesan kuat bagi generasi muda agar rajin membaca dan menulis. Membacalah agar dapat menulis sehingga akan dikenang oleh zaman dan bisa menjadi warisan sejarah bagi generasi setelahnya.



Alhamdulillah selesai sudah tulisan ini. Saya merekomendasikan teman-teman Cakrawala Susindra menonton film Kartini terlawas ini. Banyak pesan patriotik yang disampaikan. Film garapan PT Nusantara Film ini menawarkan deretan artis lawas, yaitu Yenny Rachman, Bambang Hermanto, Adi Kurdi, Nani Widjaya, R.M. Wisnoe Wardhana, Swandari Wardhana, dan Chintami Atmanegara. Cintami memerankan tokoh Letsy Aldamar, sahabat karib Kartini saat masih sekolah di ELS.


Kalau teman-teman suka sejarah, bisa membuka kategori sejarah saya yang ditulis dengan ringan. Kalau suka review film yang lengkap, juga tersedia di Review film. Lengkap, kan? Saya beberapa kali mengawinkan sejarah dan film semacam ini.





18 Komentar

  1. Nontonnya di mana??? Ono ning YouTube gak? Kalau 1-2 jam, masih boleh lah, hahaha

    BalasHapus
  2. Mbak Susi ini Kartininya Jepara masa kini. Selalu ada yg bisa dibahas dari kehidupan Kartini ya Mbak. Aku kagum dg Kartini, sekaligus Mbak Susi.

    BalasHapus
  3. Apa itu sego gedang mbak?
    Keren mbak, bisa membuat visualisasi Pendopo Kabupaten Jepara dan juga mempresentasikannya dihadapan (para pejabat atau pemerhati sejarah itu?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nasi diulet dengan pisang, Mbak. Dulu bayi langsung diberi makan itu agar tenang. hehehe
      Presentasinya di depan keduanya plus akademisi.

      Hapus
  4. Wah seru nih, harus nonton film ini biar melek sejarah. Mba Susi berarti emang sego gedang uda dari jaman Kartini ya,hmm kalo ketauan emak milenial pasti dibully wkwkwk

    BalasHapus
  5. Jadi pengen nonton film Kartini ini. Kalau gak salah ini yang pemerannya dia sastro bukan ya mbak?

    BalasHapus
  6. Wah sayang banget ya, bangunan bersejarah macam Pendopo Kabupaten Jepara ini sudah gak orisinil lagi bentuknya. Mungkin bapak-bapak pejabat yang dulu menempati gak suka baca buku sejarah.

    BalasHapus
  7. Rekonstruksi bangunan bersejarah kerap begitu. Hanya bermodal anggaran, mereka yang berwenang tidak melihat-lihat sentuhan sejarah dari sebuah bangunan. Ternyata kejadian juga di jejak Kartini ya.

    BalasHapus
  8. Aku kok kelewat sama film ini ya mb susi, taunya versi dian sastro, yang ini udah lama banget. Aku suka bangunan sejarah sejak dulu indah dan eksotik banget ya. Sayang kalau bangunan bersejarah tidak dipugar ya mb menurutku apalagi kalau sampai terpaksa beralih fungsi karena kurangnya minat pengunjung hiks.

    BalasHapus
  9. aku belum pernah nih ke Jepara, seketika jadi pengen lihat keindahan kepara dan gedung2 bersejarah lainnya di sana.

    BalasHapus
  10. Jujur belum pernah nonton KARTINI versi jadul ini, pasti menarik ada Yenny Rachman. Saya malah nonton yang versi Dian Sastro dengan bangunan yang bersih2 banget hahaha. Tapi emang betul, nasib bangunan bersejarah mah selalu begitu di negeri ini, nelongso.

    BalasHapus
  11. SAya belum pernah menonton film Kartini. Baik yang versi jadul maupun versi baru. Padahal banyak nilai sejarah yang bisa diambil. Tulisan ini mengingatkan saya untuk lebih semangat menonton film sejarah seperti Kartini dan lainnya. Makasi ya mbak.

    BalasHapus
  12. Saya punya banyak temen di Mayong, ada Bapaknya temen yg pernah jadi bupati Jepara juga. Hmmm, sayang banget ya soal pendopo yang udah berubah banyak.

    BalasHapus
  13. Keren mbak Susi, paham betul tentang sejarah pendopo dan Kartini. Aku baca ini meraba kalau tulisan ini dibuat dari hati yang paling dalam.

    BalasHapus
  14. Wah saya belum sempat nonton film Kertini yang versi lawasnya nih. Padahal banyak pesan patriotik yang disampaikan pada filem tersebut, terutama bagi bangsa Indonesia dan khususnya bagi generasi muda saat ini.

    BalasHapus
  15. Wah, belum nonton ini saya. Saya nontonnya malah yang pemerannya Dian S. Kudu nyari filmnya ini. Mau nonton sambil belajar sejarah.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)