Udara siang ini panas sekali. Panas tapi berangin. Jika menuruti rasa hati, enak tidur siang bareng bayi. Sayang, tubuh saya pandai mengelak. Menolak tidur siang karena ada banyak hal yang bisa saya selesaikan, alih-alih tidur siang. Menyisir dokumentasi foto menjadi pilihan aktivitas ringan. Folder foto Barikan Kubro 2019 di Karimunjawa, terbuka bersamaan dengan angin yang menerpa wajah. Cuaca juga menjadi lebih adem karena matahari tertutupi awan. Angin yang bertiup tak lagi panas, akan tetapi dingin. Ah, ya. Bukan suatu kebetulan. Ini adalah pengingat akan hutang tulisan tentang kegiatan Barikan di Karimunjawa.


Tak banyak yang tahu tentang sejarah asli barikan di Karimunjawa. Beberapa sumber yang saya tanyai, hanya tahu bahwa tradisi barikan, dahulunya, dilakukan oleh para orang tua di Pulau Karimun dan Pulau Kemojan setiap Jumat Wage (dilakukan pada hari Kamis sore). Mereka datang ke perempatan yang ditentukan, sambil membawa nasi urab berbentuk tumpeng, dengan tambahan sebungkus garam dan kacang hijau mentah. Mereka membaca tahlil dan berdoa bersama. Tradisi ini ditangkap oleh beberapa pemuda yang sedang haus event di Karimunjawa. Maka, dibuatlah pembeda antara barikan tiap Jumat Wage sepanjang tahun dan barikan pada hari Jumat di bulan Sura (Muharram). Barikan yang terakhir disebut Barikan Kubro.

Saya mencoba mencari tahu tentang tradisi barikan di daerah lain di Jawa. Di Jawa, ada tradisi sedekah bumi dan ada tradisi sedekah laut. Pencarian saya sampai pada tradisi Suku Tengger yang juga mengadakan barikan, untuk menolak balak dan mengucap syukur atas perlindungan-Nya. Dikisahkan, saat itu mereka membuat syukuran pasca terbebas dari pagebluk yang terjadi dalam waktu yang cukup lama. Kata barikan muncur dari kata Jawa bar atau selesai. 

Lepas dari benar atau tidaknya, sama atau tidaknya, tradisi barikan di Karimunjawa dikemas dengan lebih baik dan sukacita. Saya melihat sendiri bagaimana persiapan Barikan Kubro melibatkan seluruh elemen masyarakat. 200an penari dadakan dari ibu sampai anak terbagi dalam 4 kelompok sesuai arah mata angin, menunggu belasan penari pria (bapak dan pemuda) yang membawa tumpeng ke area tengah alun-alun. Ratusan warga lainnya, berduyun-duyun ke lokasi barikan sambil membawa nasi tolak balak. Ini bukan event wisata resmi, namun semangatnya luar biasa. 

Nasi tolak balak pada Barikan Kubro 2019 bentuk tumpeng.
Uang 2000 tersebut adalah 'wajib' atau sedekah uang
Nasi tolak balak bukan tumpeng
Nasi tolak balak pada Barikan Kubro 2019 bisa berbeda jenisnya. Mungkin beda suku, atau beda kebiasaan. Secara umum terdiri dari nasi putih, sayur urab, telur matang, dan ikan teri asin. Lauk boleh diganti yang lainnya, karena nanti akan dimakan bersama. Di atas nasi, bisa dilihat, ada seplastik garam dan seplastik kacang hijau mentah. Keduanya boleh digabung dalam satu plastik. Keduanya adalah penolak balak.

Di foto yang lebih atas, dapat dilihat bahwa nasi tolak balak memiliki tumpeng dari nasi berwarna kuning. Di atasnya ada bawang merah dan cabai merah yang disusun seperti payung yang tertutup.

Antusias masyarakat mengikuti Selamatan Barikan Kubro 2019

Rangkaian kegiatan Barikan Kubro 2019, seperti sebelum-sebelumnya, relatif panjang, yaitu pada tanggal 12 Agustus 2019 sampai 5 September 2019. Selama kurun waktu itu, masyarakat sengkuyungan dana dan tenaga. Mereka secara guyup mengadakan dan mengikuti aneka workshop dan perform, yaitu:
1. Workshop Tari Minagara
2. Workshop membatik
3. Workshop mengukir kayu limbah
4. Workshop pengolahan jambu mete
5. Workshop seni dekorasi
6. Workshop hospitality
7. Workshop fotografi
8. Kirab tumpeng rakyat
9. Atraksi bajak laut
10. Edukasi konservasi alam
11. Edukasi konservasi alam
12. Penanaman bibit mangrove
13. Saresehan kebudayaan
14. Gelar jajanan Karimunjawa
15. Gelar pentas 6 suku
16. Batik shadow performance
17. Pameran/Bazar hasil karya workshop

Beberapa penari Minagara. Coba perhatikan batik biru yang mereka pakai, itu adalah batik minagara hasil workshop batik tahun 2018 oleh Sanggar Dongaji

Melihat banyaknya acara, dan semangat masyarakat mengikuti acara ini, membuat saya ikut larut dalam bahagia mereka. jelas terlihat bahwa masyarakat mencoba memelihara kelangsungan tradisi barikan untuk menghormati para leluhur, demi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup keluarga dan masyarakat. Dari hasil percakapan saya dengan masyarakat (saya tak berani mengatakan wawancara), dapat disimpulkan bahwa harapan dan tujuan Barikan Kubro ada 4:
1. Untuk menolak balak (penyakit manusia, ternak, dan tanaman).
2. Menolak balak dari alam (banjir, ombak laut, dll)
3. Memohon keselamatan.
4. Diakui menjadi event atau agenda pariwisata.

Yang terakhir ini, semoga bukan lagi berupa perjalanan panjang yang "direwohi" pemerintah provinsi. Mengapa saya berani mengatakan demikian, tak lain karena agenda Barikan Kubro selalu berdekatan dengan agenda Festival Karimunjawa. Jika tahun lalu masih ada selisih sekitar 2 minggu, barikan tahun ini nyaris bersamaan. Dengan sedih, beberapa panitia mengatakan bahwa menurut agenda, Barikan Kubro selesai pada tangal 8. Akan tetapi mereka harus mengalah, memangkas 3 hari karena bersamaan dengan agenda wisata dari provinsi, karena sangat tidak mungkin melakukannya bersamaan. Tentu saja, sudah ada upaya dialog-dialog, namun mungkin karena komunikasi yang kurang lancar yang membuat acara ini meninggalkan lantunan panjang untuk didiskusikan. Saya percaya bahwa semua memiliki tujuan yang baik, hanya belum bertemu tengahnya.

Saya memahami keberatan teman-teman di Karimunjawa, menyatukan acara tradisi kuno dengan kebaharuan Festival Karimunjawa. Setidaknya itulah yang dikatakan pada saya. Saya juga paham bahwa agenda Provinsi sudah ada time table-nya dan tak mungkin ditunda. Jalan tengah bisa diambil dengan memperhatikan jarak saat menyusun tanggal. Pastikan cukup jauh dengan tanggal nasional untuk Jumat Wage di bulan Muharam tahun depan. Semoga diperhatikan.

Semoga tahun Barikan Kubro 2020 kelak akan lebih baik, meskipun tahun ini sudah sangat baik, jika melihat keguyuban seluruh elemen masyarakat Karimunjawa.