Werenhuis de Vries di Bandung

Bragaweg atau Jalan Braga sudah lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di kota Bandung. Pesonanya juga memanggil saya untuk ke sana. Saya ingin melihat bagaimana kondisi jalan yang sudah modern pada masa kolonial tersebut di masa sekarang. Bangunan-bangunan tua, hotel, restoran, cafe, bahkan bioskop pada zaman lampau seperti menyihir saya. Jalan yang menurut kabar dari seorang sahabat dari Bandung, dibuka oleh Residen Sitjhof tersebut, ternyata memang menawarkan kenangan masa kolonial yang pekat melalui arsitektur bangunannya, dan saya senang, akhirnya pernah ke sana. Salah satu tempat yang memberi kesan mendalam adalah Werenhuis de Vries di Bandung. FYI, Pieter Sitjhof punya peran besar dalam sejarah Kartini.


Tahun lalu, saya berada di Jakarta untuk sebuah pertemuan komunitas. Komunitas Warung Blogger namanya. Saya adalah salah satu admin di sana. Kami berkumpul selama 3 hari, berbagi hati dan ide. Sebelum acara usai, Evi dan Eva menawari saya ikut ke rumahnya. Sebuah tawaran yang sulit ditolak. Menambah jumlah bepergian selama 2 hari bukanlah sebuah halangan bagi saya. Tentu saja, dengan izin suami dan anak. Sebenarnya suami sudah bilang di awal, jika ditawari ke Bandung, harus mau, ya. Dan ternyata benar. Bandung, saya datang kembali

Hal pertama yang kami lakukan adalah, melihat jadwal Kereta Api Bandung Jakarta. Dengan begitu, kami jadi tahu, jam berapa harus mulai packing dan bersiap menuju ke stasiun. Juga, bisa segera membeli tiket menuju ke sana. Sekarang jauh lebih mudah jika ingin bepergian. Kita bisa membeli tiket secara online di Traveloka. 

Oleh karena Eva dan Evi sudah membeli tiket pp sebelumnya, jadi, kami terpisah di stasiun. Jadwal kereta saya satu jam setelah mereka.  


Pukul 9 malam, saya sampai di Stasiun di Bandung. Saya segera menuju ke alamat yang diberikan pada saya. Tak sampai 30 menit saya sudah duduk sambil menyecap secangkir teh panas. Alhamdulillah.... bahagia rasanya. Lebih bahagia lagi, saat kami jalan-jalan di area publik di Bandung. Area pertama adalah Masjid Agung.

Masjid agung memiliki struktur bangunan yang unik. Saya tak banyak mengeksplor masjid ini, karena lebih ingin mencoba hamparan rumput sintetis di lapangan depan masjid. Hamparan luas tersebut jadi terlihat rapi dan seragam. Hijau royo-royo, memanjakan mata. Menurut saya, ini sebuah terobosan yang cerdik, karena menyelesaikan beberapa masalah sekaligus. Rumput sintetis semacam ini juga membuatnya menjadi lokasi bermain keluarga yang menyenangkan.

Puas di masjid agung, kami makan dulu sebentar, lalu menikmati Bragaweg di malam hari. Jalan-jalan di sepanjang Jalan Braga memberi kesan mendalam bagi saya. Terutama karena melihat kecantikan bangunan-bangunan klasik yang dipercantik dengan cahaya lampu. 

Bragaweg.... akhirnya saya datang dengan segala kerinduan. Mata saya sibuk mengamati kekunoan yang berpadu dengan kekinian. Sebelum ke sini, saya sudah membaca buku “Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950” karya Sudarsono Katam. 


Kami berhenti di toko De Vries sejenak. Menurut informasi yang saya baca, bangunan toserba ini, adalah bangunan paling modern pertama di jalan Braga. Pada masa itu, toko ini menjual bermacam benda impor yang sulit didapatkan. Tak heran jika kemudian menjadi tempat para elit berbelanja. Untuk mengakomodir kebutuhan para elit, disediakan tempat minum kopi dan berdiskusi sehingga akhirnya menjadi tempat sociéteit pertama di Bandung. Pada abad ke-19, societeit menjadi tempat bersosialisasi dan adu pandai pada keahlian tertentu. Lama kemudian, sociéteit dipindahkan ke gedung Concordia. Meski demikian, tak mengurangi pesona gedung yang istimewa ini. 

Perjalanan malam kami teruskan kembali. Menyusur jalan-jalan lawas yang bersejarah. Memandang gedung KAA dengan sebuah harapan, kelak saya akan dapat memasukinya sebagai tamu kehormatan. Aamiin....


22 Comments

  1. Braga ini salah satu destinasi favorit klo pas ke Bandung,ada bangunan klasik dan penjual lukisan di pinggir jalan

    ReplyDelete
  2. Kayak kota tua di jakarta ya mbak. Sebenernya bangunan tua begini emang keren jika dirawat dan dijadikan tempat wisata. sayangnya gak banyak kota yang melakukannya.

    ReplyDelete
  3. Aaamiinn... semoga bisa datang sebagai tamu di gedung KAA

    saya juga rindu ke bandung. moga2 diberi kesempatan, kesehatan, dan umur oleh Allah SWT

    ReplyDelete
  4. Aaakkk, menyenangkan sekaliii bisa plesir ke BDG!
    Aku udah lama nih ngga cuss ke BDG
    Moga2 sebentar lagi ada rezeki dan kesempatan untuk bertandang ke sana
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  5. Kok jalan-jalannya cuma ke Alun-Alun aja? Padahal di sekitar alun-alun ada sekitar 10 tempat wisata yang bisa dijajagi dengan jalan kaki lho

    ReplyDelete
  6. Selain jalan Asia afrika, semua temen yang liburan ke bandung mesti mencantumkan foto selfie di jalan braga. Bandung emang juara..

    ReplyDelete
  7. Jalan-jalan ke bandung jangan lupa bawa pulang oleh-oleh pisang primarasa. Duh jadi kabita, bukan iklan lho ya tapi emang doyan hahaha

    ReplyDelete
  8. Menarik pastinya, saya sangat senang dengan bangunan tua peninggalan masa lalu. Terlihat menarik dan pemuh misteri..

    ReplyDelete
  9. Jalan Braga ini memang salah satu ikonik kota Bandung ya, Mbak. Sama kayak Malioboro. Tidak hanya dibicara, di foto, di lirik lagu, bahkan cerpen juga banyak settingnya jalan Braga.
    Dan.. saya belum pernah ke sini juga, Mbak. pas ke Bandung, tidak mampir hahaha. Next akan mampir kalau ke Bandung lagi.

    ReplyDelete
  10. Ohh jalan Bragaweg itu sebutan utk Jln Braga ya mbak. Aku belum pernah ke Bandung, tapi kalau kesana di daerah Jl. Braga pengen banget mampir di kafe yg ada di sekitar Braga gitu yg apa ya dekorasinya shabby gitu, pokok instagramable hehee. TFS yahh Mbak

    ReplyDelete
  11. Kota Bandung punya aura kolonial yang khas yak. Bikin kita betah berlama - lama muter di sana

    ReplyDelete
  12. Kota Bandung salah satu kota yang ngangenin memang. Jalan Braga jadi jalan yang selalu saya datangi.kalau berlunjung ke Bandung. Foto2 di Braga seru dan menyenangkan.

    ReplyDelete
  13. Werenhuis de Vries peninggalan yg bersejarah yaa di Bandung. Bragaweg, jalan Asia Afrika dllnya. Kuaminkan doanya ya Mbak. Satu saat jd tamu kehormatan di gedung KAA. Aamiin

    ReplyDelete
  14. Bandung selalu ngangenin. Udaranya yang relatif masih adem. Warganya juga fashionista banget. Kini kotanya makin caem. Wahh kangenn

    ReplyDelete
  15. Aku belum pernah nih ke Braganya hehe, selama ini ek Bandung blm pernah yang bener jalan2 gtu, pas krn ada acara atau undangan aja :D
    Pengen jg nih kapan2 ke Bandung lagi. Saya jg kalau ke Bandung lbh suka naik kereta, lbh menikmati perjalanannya :D

    ReplyDelete
  16. Jalan braga ini juga menjadi kenangan saat dulu pernah sekeluarga wisata ke Bandung, keliling kotanya, memang rasanya tuh beda banget, seperti tinggal di jaman Belanda.

    ReplyDelete
  17. Bandung selalu menyenangkan untuk dikunjungi lagi dan lagi..Meski sudah 2 tahun terakhir saya absen dulu ke sini lantaran ke sananya mesti penuh perjuangan. Macetnya gak ketulungan karena ada pembangunan jalan sekeluar dari Jakarta. Sebenarnya naik kereta solusinya ya..hmm, jadi pengin ke Bandung saya

    ReplyDelete
  18. Aduhh, jd pengen k Bandung, kangen suasana nya. Tempat nya bersejarah ya,seperti d kota tua ..

    ReplyDelete
  19. Serasa kembali ke masa lalu ya mbak, ah, tempat-tempat seperti ini sekarang sudah mulai langka

    ReplyDelete
  20. Duh jadi kangen Bandung dan jalan Braga. Terakhir kesana tahun 2014 😭😭😭😭😭 pasti sekarang jadi makin keren.

    ReplyDelete
  21. Selama ini ke Bandung tp ga pernah kesini, boleh jg nih masuk daftar wishlist, reviewnya kece

    ReplyDelete
  22. Mbak Susi ini keren kemanapun dia pergi masih sempat baca buju sejarah, segitu cintanya sama Sejarah. Bagaimana caranya mencintai sejarah? aku ingin belajaar....

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)