Akhir-akhir ini saya sedang membagi cara mudah membuat warung hidup. Bahkan bisa tanpa biaya jika memang maunya begitu. Saya memfokuskan ke Instagram @susierna1. Tapi rasanya eman-eman ya, kalau hanya jadi postingan di sana. Jadi saya menulis juga di sini dengan judul Cara memperbanyak gingseng Jawa untuk warung hidup.

Cara Memperbanyak Gingseng Jawa untuk Warung Hidup - susindra


Gingseng Jawa, atau som Jawa adalah tanaman yang bagi sebagian orang dianggap rumput penutup taman. Kadang memang bisa ditemukan di taman-taman kota. Memang sangat mudah berkembang biak dan bunganya indah.

Ceritanya, bulan Agustus 2020 lalu saya melihat tanaman ini di pinggir selokan tetangga. Sekitar tanggal 19 atau 20. Hanya ada satu pohon kecil. Kebetulan pemilik rumah sedang menyapu jadi saya bisa izin mengambilnya. Saya ambil satu batang cukup besar, setinggi 15an sentimeter. Sampai rumah, segera saya tancapkan ke polibag kosong, bekas semaian cabai. Setelah itu saya bersiap ke Purwokerto untuk 40 hari ibu mertua. Kami berada di sana selama 5 hari.

Tak banyak yang berubah saat kami pulang, kecuali ukuran tingginya yang bertambah. Juga saat bulan berganti September. Tapi saya tahu kalau tanaman itu tumbuh. Pertengahan September saya memotongnya menjadi 3, dan menancapkan kembali di polibag yang sama. Awal oktober saya bisa memotong tanaman pertama jadi 3 lagi sehingga punya 6. Saya terus melakukannya. 

Daan.... akhir Oktober saya sudah punya gingseng Jawa yang melimpah. Sampai sekarang ada lebih dari 50 polibag. Eh, kok langsung ke caranya. Ayo ah kita pelajari apa itu gingseng Jawa, manfaatnya dan mengapa harus dibudidayakan sebagai warung hidup untuk ketahanan pangan keluarga. Untuk warung hidup.



Gingseng Jawa

Orang menyebutnya gingseng Jawa atau kolesom Jawa. Sebenarnya keduanya hanya mirip saja. Gingseng Jawa memiliki nama ilmiah Talinum paniculatum gaertn, sedang kolesom jawa memiliki nama Talinum panilicatum wild. Tidak sama dengan tanaman gingseng Korea atau Panax gingseng, ya. 


Gingseng Jawa sudah lama jadi tanaman herbal Indonesia. Kabarnya sih dicampur dengan anggur Jawa untuk dijadikan tonikum. Tapi saya lebih banyak memanfaatkan untuk sayur, terutama untuk sayur beningan. 

Nah, kalau untuk tonikum, yang dipakai adalah akarnya. 

Tampaknya ada kesamaan antara som Jawa dan gingseng korea secara morfologi dan khasiatnya. Ini bukan asal klaim tetapi melalui penelitian ilmiah dari  Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat-obat Tradisional. Hasil penelitian itu diberi judul “Khasiat dan Keamanan Som Jawa (Talinum paniculatum Gaertn) dan Kolesom (Talinum triangulare wild)” dan dapat diakses di litbang.depkes.go.id.

Hmm... ini sih cara sehat yang murah meriah, ya, kalau dibandingkan dengan membeli gingseng korea yang mihil itu.


Morfologi gingseng Jawa

Gingseng Jawa termasuk jenis portulacaceae atau krokot-krokotan, tapi ukurannya lebih besar. Tanaman ini juga termasuk tanaman tegak dengan tinggi bisa mencapai 60 cm.  Batangnya banyak, mulai dari paling dekat dengan tanah. Jadi, produktivitasnya memang termasuk sangat bagus. 



Batang gingseng Jawa seperti pipa, mirip seperti tanaman krokot. Ada juga yang mengatakan tanaman ini berbatang bulat sukulen. Batangnya lunak namun tidak rapuh seperti krokot. Sedikit lebih ulet, meski termasuk lunak jika bertemu pisau. (Saya mengingat krokot Portulacaceae grandiflora yang mudah patah itu.) Saat gingseng Jawa sudah cukup tua, batangnya akan mengeras.

Tanaman bernama lain som Jawa ini juga punya daun yang lebat, mulai dari pangkal ranting sampai ujung. Daunnya tersusun urut, berhadapan satu sama lainnya. Bentuk daunnya bulat telur yang memanjang dengan tepi yang rata. Ukurannya antara 3-10 cm dengan lebar setengahnya. Ukuran ini berkaitan dengan lokasi tanaman dan kesuburan media tanamnya. Som Jawa yang tumbuh liar dan tak pernah dipanen akan cenderung punya daun yang kecil. 

Gingseng Jawa punya bunga yang indah dengan 5 kelopak. Biasanya berwarna merah fanta. Sekilas mirip bunga kalancoe yang berkelopak 4. 


Ke mana mencari gingseng Jawa?

Zaman sekarang, mau beli apa saja mudah, ya. Demikian juga dengan gingseng Jawa. Sayur herba ini sering ditemukan di deptstore, atau toko sayur online juga. Setidaknya beberapa teman saya di kota mengatakan senang membeli sayur ini. 


Cara memperbanyak

Membeli sayur atau meminta tetangga, teknik memperbanyak tetap sama, yaitu menancapkan batangnya ke tanah. Berikut cara memperbanyaknya:

1. Pisahkan daun dari batangnya

Beli atau mengambil langsung, tak menjadi halangan tumbuh. Yang perlu kita lakukan adalah memisahkan daun dari batangnya. Sisakan pucuk daun. Daunnya dimasak, batangnya ditanam kembali

2. Ukuran batang mulai 12 cm

Setiap kali panen, saya memastikan batang yang saya potong minimal sudah berukuran 12 cm. Sebenarnya kurang pun tidak jadi masalah. Hanya saja, ukuran 12-15 cm ini bisa dikatakan ukuran yang baik batangnya. Kalau melebihi pun tak jadi masalah. Kadang saya membaginya menjadi dua, kalau berukuran 17-20 cm. Ukurannya jadi 8an cm, ya. Peluang hidupnya jadi lebih pendek, tapi kalau berhasil, jadi punya tambahan 2 tanaman. 



3. Tanam dimedia yang gembur

Media tanam yang gembur subur membuat sayur gingseng Jawa ini cepat tumbuh dan besar. Batangnya juga cepat gemuk dan kuat, serta daunnya lebar. 

Jika tidak tahu definisi tanah gembur subur, bisa beli media tanam karungan. Harganya berkisar 20-35 ribu. Tergantung harga standar kota. Di sini, kalau beli ke penjual bunga yang didesa, harganya Rp20.000,-, sementara harga di kota Rp25.000. Harga kota ini punya kualitas yang lebih baik karena ada cocopeat di dalamnya.

Kalau dirasa memberatkan, ia bisa langsung ditancapkan ke tanah pekarangan. Jika tak punya pekarangan, bisa pakai polibag dengan tanah biasa. Tetap tumbuh tapi kecepatan tumbuhnya lebih lambat. Pasti tumbuh. Apalagi gingseng Jawa termasuk tanaman bandel. Diacak-acak ayam juga masih hidup.

4. Butuh sinar matahari langsung

Tanaman herba ini, suka matahari yang penuh, tapi dia tetap tumbuh di lokasi yang teduh dengan sedikit matahari langsung. Kebetulan saya membuktikannya sendiri. Tanaman yang berada di tempat terang dengan panas sepanjang hari, dalam 1 minggu sudah tinggi. Tanaman yang berada di tempat teduh, masa panennya 2 minggu sekali.

5. Suka tanah yang lembab tapi tidak basah.

Tanaman gingseng Jawa suka tanah yang lembab. Tanah yang basah bisa berisiko busuk batangnya. Di musim hujan gini saya nyaris tidak pernah menyiram, sementara saat tidak musim hujan, saya menyiramnya sehari sekali.

6. Pemupukan

Tanaman ini tetap tumbuh dengan baik tanpa pupuk susulan. Tapi, kalau ada, akan lebih baik. Saya memakai pupuk kohe dari kambing saja. Selama ini cukup. Jika tanah turun, saya tambahkan kembali media tanah yang ada. 

Sebulan sekali saya memberikan pupuk NPK Mutiara warna biru. Pupuk yang satu ini membantu tanaman cepat tumbuh. Dosisnya 1 sendok makan untuk 1 liter, dan satu polibag ukuran 20x20 butuh 1/6 gelas Aqua. Kurang lebih segitu. 

Lebih lengkapnya bisa melihat di postingan Instagram saya ini


Manfaat gingseng Jawa

Secara umum, kandungan kimia gengseng Jawa antara lain; saponin, flavonoid, dan tannin. 3 senyawa di atas mempunyai aktivitas biologis yang dapat mempengaruhi sistem tubuh. Berikut penjelasannya:

1. Saponin dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, mengikat kolesterol dan bersifat antibiotik.

2. Flavonoid mempunyai fungsi sebagai antibakteri, antiinflamasi, antialergi, antitutagenik, antivirus, antineoplastik, antitrombosis, antioksidan, dan aktivitas vasodilatasi. 

3. Tanin mempunyai aktivitas biologis sebagai pengkhelat ion logam, agen penggumpal protein dan antioksidan.


Dari 3 senyawa itu, kita bisa melihat betapa baiknya manfaat gingseng Jawa. 


Saat menyusui, tetangga menyarankan mengkonsumsi ini. Memang bagus dan dapat memperbanyak serta memperbaiki kualitas ASI. Antiinflamasi juga membuat demam atau peradangan jadi lebih cepat sembuh. Manfaat antibakteri dan antivirus juga dibutuhkan. 

Menurut yang saya tahu, sayur herba yang ini membuat stamina menjadi lebih baik. Saat pulang dari Rembang lalu, saya memakan sayur ini lebih sering karena khawatir bertemu dengan carrier corona dan lebih banyak berjemur di depan. Demi sehat, ya. 

Dan rasanya saya punya manfaat lain yaitu kualitas bersama suami jadi sangat baik. Memang kabarnya bisa memperbaiki produksi sp***a. 

Tapi... jangan terlalu banyak karena hasil penelitian dengan mencit, hasilnya jadi sebaliknya. Sedang-sedang saja, jangan kemaruk, yes?

Sebaik apapun kandungan dan manfaat gingseng Jawa, konsumsi dengan bijak. Boleh, kok, seminggu dua kali. Tapi jangan sehari 3 kali Lebih baik ke dokter yang tepat alias obgyn. Sepakat?

Makasih ya, sudah membaca tulisan cara memperbanyak gingseng Jawa untuk warung hidup ini. Semoga bermanfaat. Jika ingin membaca lebih banyak tentang tanaman warung hidup saya, silakan ke kategori bertanam. Di situ ada banyak aktivitas berkebun saya serta manfaat baik aneka tanaman di sekitar kita. Boleh juga ke kategori Sehat