Healing dengan Musik

Jenuh jadi cerita biasa di masa sekarang. Mudah diucapkan dan dirasakan. Kadang terasa mencekik, tapi lebih sering seperti teman yang lekat menemani. Apalagi setelah asyik scroll. Mengapa rasa jenuh sedemikian lekat dalam keseharian? Ataukah aku yang terlalu lebay menjalani hidup dan memandang sekitar? Atau memang demikian adanya? Rasanya healing dengan musik adalah jalan untuk kembali ke diri sendiri. 


healing dengan musik


Tanpa sadar, di saat keinginan untuk produktif menguat, aku malah merasa semakin tidak produktif. Hal ini sempat jadi teka-tekiku selama beberapa waktu. Baru-baru ini saja aku menemukan bahwa kebiasaan multitasking-ku yang membuat hal ini terjadi. 

Aku merasa sudah melakukan banyak hal tapi sebenarnya hanya di permukaan saja. Inilah ekses dari si multitasking. Tapi aku juga sulit menghapus beberapa "tekanan budaya" yang kurasakan di usia saat ini, yaitu:

  1. Harus berkembang.
  2. Harus punya pencapaian.
  3. Harus segera sukses.


Tapi aku juga masih merasa beruntung karena sudah 4 tahun berhasil lepas dari "goda digital" yang menjebak teman-teman saat ini. Mau tahu apa itu? Ini dia...

  1. Kebanjiran notifikasi
  2. Sering scroll tanpa henti
  3. Selintas hidup orang di feed tampak lebih unggul.


Sudah 4 tahun bisa nyaris lepas dari media sosial. Masalahnya, meskipun tak setiap 7 hari sekali aku buka Facebook, Instagram dan semacamnya, tapi sekali buka malah asyik scroll reels. Wkwkwk. 

Kalau Youtube, jujur, sehari antara 5-7 jam mendengarkan. MENDENGAR, ya. Podcast dan musik adalah bagian tak terpisahkan di setiap hariku. Dengan durasi itu, tak setiap hari aku scroll short. Bisa dikatakan jarang. Yang sulit dihindari itu reels Facebook. Wkwkwk. Untungnya aku jarang buka. Belum tentu 1 minggu sekali.

Ah sudahlah. Untuk intro tulisan Cakrawala Susindra, kali ini sudah kepanjangan dan aku tak mau menghapusnya. Karena ini kejujuran yang bisa dipertahankan. Siapa tahu sobatku yang baca merasa relate dan jadi makin penasaran tuk baca sampai akhir. Ya, kan?


Healing dengan musik

Kapan hari aku tertarik dengan podcast tentang otak dan fakta multitasking. Aku sudah merasa white flag dengan realisasi produktivitas. Kayaknya tiap hari mengisi otak dengan informasi sejarah Kartini tapi malah semakin jarang bisa memproduksi tulisan bermakna.

Aku terbiasa membaca sambil mendengarkan musik. Sampailah aku pada seorang ahli yang menyatakan yang namanya multitasking sebenarnya adalah:

  1. Alih-alih mengerjakan dua tugas pada satu waktu, otak kita berganti fokus dari satu tugas ke tugas lain, yang disebut task switching. Setiap kali berpindah tugas, diperlukan waktu dan energi ekstra untuk kembali fokus.
  2. Karena otak terus berpindah fokus, efisiensi kerja sering turun, pekerjaan selesai lebih lambat, dan kesalahan justru meningkat dibanding jika fokus pada satu tugas saja.
  3. Beralih-alih antara tugas yang membutuhkan perhatian tinggi membuat otak bekerja lebih keras, sehingga cepat merasa letih atau jenuh dibanding melakukan satu tugas dengan fokus penuh.


Karena alasan itulah, sekarang ini aku jarang melakukan multitasking. Aku mencoba mindfull saat melakukan sesuatu. Termasuk saat mendengarkan musik. Setelah sekitar 30 menit membaca/menulis di laptop, aku memberi jeda dengan mendengarkan musik sambil (diusahakan) memejamkan mata. Inilah caraku untuk healing dengan musik.



Memilih musik healing

Jangan tergoda memilih lagu yang sedang populer, jika ingin healing dengan musik. Carilah musik yang sesuai dengan keadaan atau suasana batinmu.

Saat lelah → instrumental lembut

Saat rindu → lagu akustik atau balada

Saat ingin tenang → musik ambient atau piano

Saat butuh lonjakan ide → lagu progresif


Sebagai generasi tua, aku senang mendengarkan lagu tahun 1980-2000. Baik versi asli maupun versi cover. Salah satunya Bohemian Rapshody. Suatu kebetulan aku mendapati lagu ini dilagukan kembali dengan cara beda di Youtube Bintang Musik Production.


Kenalan dengan Lagu "Healing"

Berawal dari lagu cover Bohemian Rapshody di akun Youtube Bintang Musik Production, aku mendengarkan satu per satu lagu yang ada. Ternyata di balik semua lagu itu, ada anak muda, kelihatannya berusia sekitar 16 tahun, yang menjadi sosok di balik aransemennya. Namanya Bintang Putra Sugiatno.

Bintang Putra Sugiatno


Sebenarnya spek telingaku tak sampai menangkap perbedaan nyata antar genre musik. Aku hanya merasa ada yang beda dari cover lagu biasanya. Seperti sedang minum kopi yang sudah akrab dengan rasanya tapi ada rasa lain yang menambah unik. Rasa rempah tertentu, unik, dan kekinian dari teknologi. Nah, seperti itulah aku mendefinisikan musik  di lagu cover itu. Istilahnya sekarang: musik progresif,  cmiw.

Agak mengejutkan bagiku. Serasa melihat kelahiran calon bintang baru. Calon pengganti musisi legendaris semacam Ahmad Dani. Saat melihat lebih jauh, nuansa keluarga lebih kental pada proses kelahiran Bintang, karena produsernya adalah ayahnya sendiri. Otak tuaku malah teringat pada The Cors, The Moffats, dan Hanson, padahal beda. Yang kenal dengan 3 ini, kemungkinan kita sepantaran. Hahaha. 

Kebetulan saat jeda riset sejarah, aku mendengarkan lagu Healing, single barunya Bintang. Masih termasuk baru banget karena baru rilis Januari 2026 ini. Lagu yang enak dinikmati saat ingin jeda sejenak dari produktivitas yang mengikat dan menekan. Mungkin karena otakku lumer kalau dengar musik jazz. Tekanan di otak memudar.

Kebetulan, meski jarang mencari musik jazz, aku suka jenis ini karena perubahan melodinya benar-benar nikmat saat butuh santai, sering tak terduga, dan spontan. Kadang aku memilih lagu ini ketika macet ide atau yang biasa disebut writer's block. 

Lagu Healing yang baru dirilis oleh Bintang Musik Production berjenis jazz fusion. Musik yang eksploratif dan eksperimental. Di sini, kualitas pemusik dan karakter vokal penyanyinya menjadi penentu. Makin lama didengarkan, makin terasa easy listening. Hanya saja, mungkin ini bagian dari kritik, tulisan/lirik lagu dalam MV atau video clip-nya perlu diperkecil agar proses healing penonton lebih smooth. 

Lagu berdurasi 4 menit ini mengajak penontonnya untuk "kembali" melihat diri sendiri lalu berkelana ke indahnya hidden gems Indonesia. Genre musik jazz fusion membuat pendengar lebih cepat larut. 

Mendengarkan lagu ini di saat jeda menulis, sambil memejamkan mata, membantuku untuk pulih dari kepenatan dan kejenuhan. Dari yang kubaca, lagu ini berkisar pada proses pemulihan, menerima tantangan batin, dan mencari kedamaian. Jadi bisa ditakatan untuk memudarkan tekanan sosial di masa sekarang bisa dicapai. 

Bintang Musik Production


Lagu ini juga menunjukkan keterlibatan Bintang sebagai pencipta dan aransemen musiknya, meskipun vokal dibawakan oleh talent lain. Aransemen jazz fusion sesuai dengan jenis vokal sehingga jadi lagu manis yang enak didengarkan. Coba deh, kenalan dengannya di Instagram official Bintang.

Tulisan ini akan menjadi bagian dari proses kelahiran Bintang sebagai bintang musik Indonesia. Semangat berkarya, Bintang Putra Sugiatno. Dukungan keluarga adalah modal yang bagus untuk mengibarkan diri di kancah musik Indonesia yang selalu menantikan talent baru setiap saat. 

Coba deh, dengarkan lagu Healing, agar tahu apa yang kurasakan secara lebih nyata, karena rasa tak hanya dibaca, tetapi merasuk ke jiwa. Lagu ini tersedia di semua platform musik yang jadi andalanmu. 

0 Komentar