BINBIN DAN SEPEDA BUNTUT

berbaik-baiklah dengan tetanggamu karena merekalah yang akan pertama kali datang membantumu kala kamu ditimpa kesusahan, sebelum orang tua dan saudaramu yang lain.

Berhari-hari ini aku sebel banget dengan sepeda buntut Binbin. Sepeda tua yang diwarisi dari Afif, kemudian dilungsur Ituk, Dinda, Destin, dan akhirnya sampai ke Binbin. Sepeda itu sukses membuat hubunganku dengan tetangga tambah renggang karena Binbin dan Revan terus saja berebut sepeda butut itu.
Usul papa sih menyimpan sepeda itu saja daripada ribut dengan tetangga. Oh, please… masalahnya aku belum mampu mengganti sepeda butut itu dengan sepeda baru, dan… apakah itu akan mengakhiri “pertengkaran’ Binbin dan Revan? Tentu saja tidak, karena selalu ada bahan baru untuk rebutan.please
Namanya anak-anak, -bahkan kita yang telah dewasa pun – selalu merasa iri dan tertarik dengan benda teman. Dulu ketika kami membelikan Binbin mobil-mobilan yang bisa dikayuh, tetanggaku langsung membelikan mobil-mobilan serupa yang lebih besar dan bisa mengeluarkan suara. Intinya sih 2x lebih mahal & lebih bagus dari punya Binbin. Tak tanggung-tanggung, sebuah sepeda kecil keluaran terbaru & bermerk dibeli pula tuk melengkapi koleksi anak. Tapi, namanya anak-anak tidak kenal istilah “lebih” mereka hanya kenal istilah ‘punyaku’.
Yang menjadi masalah adalah setiap kali kami tidak di rumah – dan kami jarang di rumah, sepeda dan mobil-mobilan Binbin diangkut ke dalam rumah mereka tuk dipakai main Revan. Kontan saja Revan yang berusia 18 bulan mengira dia memiliki 2 sepeda dan 2 mobil-mobilan. Apalagi mobil-mobilan dan sepeda asli miliknya terlalu besar untuk usianya. Tahu sendiri hasilnya, kan? Dalam sehari Binbin dan Revan selalu berebut sepeda atau mobil-mobilan, dan karena Binbin anti nangis dan revan sangat cengeng, Binbin juga yang dikira memukul anak mereka. Hmm….. Binbin lagi Binbin lagi yang salah.angry14tazmania
Masalah sebenarnya adalah, betapa mudahnya kita berselisih paham dengan tetangga hanya karena hal kecil yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti ini. Aku yakin, pasti teman-teman blogger juga pernah mengalami hal serupa. Karena tidak semua orang tua memahami konsep parentingbaca, bahwa di usia batita, anak masih egosentris, masih keakuan. Apa yang dia pegang adalah miliknya, dan hanya miliknya.
Pada dasarnya sih kita tidak bisa memilih siapa tetangga kita karena ketika menempati sebuah rumah, kita belum mengenal secara personal watak masing-masing. Melalui pertemuan yang intens baru kita tahu si A seperti ini, si B suka ini, si C selalu begini. Dan potensi salah paham karena hubungan intens sangat besar. Yang perlu dilakukan bersama-sama adalah berusaha bersabar, berusaha mengerti kesulitan tetangga, dan memendam kata ‘tidak bijak’ yang hampir terlontar karena jengkel. Take it easy saja dan tetap berbaik-baik dengan tetangga meski hati mangkel dan anyel. nyerahMengapa? Karena tetangga adalah orang pertama yang akan datang semisal kita mendapat musibah apapun. Dan mereka lah nanti yang akan membantu kita pertama. Ingat ketika ada kenalan/keluarga meninggal atau rumahnya dicuri? siapa yang datang pertama? T.E.T.A.N.G.G.A kita yang sering berselisih paham. So... jika kamu tidak berteman baik dengan tetangga, segera luangkan waktu untuk dolan ke sana dan meminta maaf jika perlu atas segala kesalahan yang mungkin kalian perbuat. love3Tidak perlu menunggu lebaran tuk bermaaf-maafan, kan?
Share:

1 comment:

  1. lebih bersabar aja bun.. aku juga pernah mengalami hal-hal seperti itu. menjengkelkan memang

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra