Meninggalkan Asal untuk Mendapat (h)Asil: Riwayat Legon Lele Karimunjawa Tahun 60-an Dituturkan oleh Mbah Maspan

Masih tentang misteri kepergian penduduk Legon Lele Karimunjawa pada tahun 1985, kali ini kami, tim ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa mendapat sumber yang lebih mengenal daerah ini. Mbah Maspan, seorang lelaki tua yang memiliki wawasan luas dan keinginan kuat untuk merubah keadaan. Hasil wawancara kali ini saya bagi menjadi dua, yaitu Kenangan akan Legon Lele Pada tahun 1960-an dan Sejarah asal-usul Legon Lele, termasuk nama aslinya pada abad 16 dan di mana mencari datanya pada posting 2 hari lagi. Harap sabar, ya... Dan untuk teman-teman di Karimunjawa yang ingin tahu sejarah desa/dukuh/pulau lainnya, harap sabar banget, karena kisah para tetua sangat menarik dan kadang harus dipecah jadi 2-4 tulisan.

riwayat-legon-lele-karimunjawa
Riwayat Legon Lele Karimunjawa Tahun 60-an, dituturkan oleh Mbah Maspan

Ini riwayat Legon Lele Karimunjawa pada tahun 1960-an di mata Mbah Maspan....


“Orang itu berpikir. Ingin lebih baik.” Begitu awalan yang diberikan Mbah Maspan saat bercerita tentang alasannya pindah ke Karimunjawa pada tahun 1967. Dia merasa hidupnya sebagai nelayan di Bulakbaru Jepara tidak akan berkembang. Kemiskinan terasa menghimpit. Ia telah memiliki tiga anak perempuan berusia 6 tahun, 4 tahun, dan 2 tahun. Pria kelahiran 1932 itu gelisah ingin mengubah nasib. 

Pak Saidi yang telah menjadi 1 dari 10 kepala keluarga yang tinggal di Legon Lele Karimunjawa mengajaknya ke pulau yang tanahnya masih luas dan siap digarap siapa saja. Juga kabar bahwa Pak Inggi Alimun dan masyarakat di sana sangat terbuka pada pendatang baru. Mereka mempersilakan para pendatang mengolah tanah, membuka lahan dari sebuah hutan lebat, dan jika luasnya dirasa cukup, bisa mengajukan sertifikat girik tanah. Kabar Karimunjawa memiliki tanah yang subur dan ikan yang sangat melimpah telah cukup lama tersiar. Kayu hutan dan batu di sana pun sangat laku di Jawa. Nelayan muda itu menjadi sangat tertarik.

Maspan muda merasa bahwa tiket menuju hidup sejahtera telah berada di tangan. Ia pun membujuk istrinya agar mau ikut serta. “Kabar ceritane Karimunjawa kok gemah ripah loh jinawi. Yuk lungo Karimunjawa. Idep-idep yen ra krasan mengko teko balik sih,” katanya pada sang istri. Setelah beberapa kali diskusi, akhirnya mereka sepakat berangkat. Perjalanan 2 hari di kapal layar menuju Karimunjawa menjadi pengalaman tak terlupakan bagi semuanya.

riwayat-legon-lele-karimunjawa
Salah satu sudut indah di jalan menuju Legon Lele

Sampai di Karimunjawa, suami istri ini bekerja keras mewujudkan impian mereka. Sang suami nyaben (bekerja di kebun) dan menjadi pembalok kayu, sementara sang istri nderep (buruh tani) di sawah tetangga. Sesekali melaut atau menangkap ikan lele di sungai untuk lawuhan (lauk makan). “Pekerjaan apapun kami tidak malu,” kenangnya. Anak perempuan tertua, Maria, yang kenangannya telah saya tulis di posting sebelumnya, bertugas menjaga kedua adiknya yang masih kecil.

Usaha mereka tak sia-sia. Beberapa hektar kebun berhasil mereka buka. Sepetak tanah untuk rumah dan sepetak yang cukup luas untuk menanam padi akhirnya mereka miliki. “Nempil tangga,” katanya, yang artinya membeli sebagian dari tetangga. Kehidupan mereka lumayan berkecukupan. “Tahun 1967 – 1980-an, Karimunjawa sunyi senyap. Membuat manusia tidak kerasan. Makanan dan ekonomi tidak kecingkrangan,” tuturnya. Sumber air dan sumber makanan di Legon Lele sangat melimpah, namun butuh usaha yang lebih berat untuk menjualnya ke luar. 

Mbah Maspan, keinginannya mengubah keadaan yang membawanya ke Karimunjawa

“Saya termasuk orang kaya di sini. Kaya anak. Anak saya 9. 3 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Alhamdulillah masih mau saya openi (masih hidup) sampai sekarang,” katanya lagi.

Jika ada yang membuat warga berduka adalah, akses jalan menuju Karimunjawa masih berupa jalur laut dan setapak di gunung. 
Anak-anak yang hendak sekolah harus naik-turun gunung dan melalui perjalanan selama dua jam. Mereka berangkat bersama ibu atau tetangga yang menjual hasil tani/berkebun mereka di pasar. Akses jalan melalui laut ini dibenarkan oleh Pak Parini dari Cikmas (kisahnya akan saya sampaikan di lain posting). Pak Parini yang menjadi petani di Cikmas mengaku pernah ikut menggarap sawah di Legon Lele, dan harus naik perahu mengelilingi setengah pulau Karimun untuk ke sana. Ia akan tinggal selama 1-2 minggu di Legon Lele untuk menggarap sawah, dan beberapa kali kembali ke sana dengan cara yang sama. Saat itu akses jalan Karimun – Cikmas belum ada. Masih banyak area yang terisolasi.

Baca juga kisah Pak Lajamuna di Legon Lele

Tahun 1985-an, seorang konglomerat datang dan menawarkan uang untuk mengganti tanah mereka. Bisa dikatakan, Pak Cuming ini merupakan investor tanah yang pertama di kepulauan Karimunjawa dan berhasil membeli ratusan hektar dan beberapa pulau. Sampai saat ini, tanah yang dibeli tersebut masih dianggurkan oleh pemiliknya. 


Salah satu sudut indah di Kapuran, tempat tinggal orang-orang Legon Lele
Banyak yang menanggapi positif tawaran ini, meski harga yang ditawarkan antara Rp 3000,- sampai Rp 10.000,- per meter. Satu per satu penduduk pindah ke daerah Kapuran yang lebih dekat dengan Karimunjawa. (Daerah sekitar hotel Nirwana Karimunjawa). 

Kenangan buruk yang membuatnya paling terkenang adalah saat ada tetangga yang tiba-tiba sakit parah sehingga harus dibawa ke puskesmas pada tengah malam. Mereka memasukkan pasien ke dalam sarung lalu membawanya menggunakan bambu seperti saat membawa binatang buruan. Malam pekat, jalanan menanjak, dan sangat licin. Mereka terpeleset. Pasien menggelinding ke tanah dan saat ditemukan sudah digigit ular (kemungkinan ular edor) sehingga nyawanya tidak tertolong lagi. Kematian karena ular ini cukup banyak. Belum lagi binatang-binatang liar yang membuat mereka sering gagal panen raya. Para anak dan istri pun gelisah ingin pindah.

“Kulo niki ngintil buri, ngetutke pitikke. Pitikke bubar, gari jagone,” katanya. ADa kekhawatiran jika ada apa-apa kelak, dan daripada sendirian ditinggal anak cucu. 

Kami mendengarkan kisah beliau, dan sesekali dibuat tertawa-tawa
“Pegawai PA PA (mungkin maksudnya P2PAPA) pernah bertanya mengapa kami meninggalkan tanah kami, dan jawaban saya adalah akses jalan yang tidak ada,” jawabnya ketika kami menanyakan kembali mengapa beramai-ramai meninggalkan Legon Lele. Sebagai salah satu orang tertua di sana dan yang pandai berbicara, Mbah Maskan mengaku sering menjadi wakil masyarakat untuk berbicara dengan para pejabat rawuhan. Kami melihat kebenaran pengakuannya karena cara berceritanya yang santai, runtut, jelas dan sering membuat kami tertawa. 

"Apakah tidak ada keinginan kembali ke sana, Pak?" tanya kami penasaran. Rupanya pertanyaan ini juga menjadi salah satu keresahan mereka. Sudah 23 tahun, Legon Lele dibiarkan merana. Tak ada pembangunan. Sawah-sawah dan kebun luas yang subur yang dahulu menjadi sumber penghidupan mereka terbengkelai. Rumah-rumah juga masih berdiri, rusak tidak terurus. Di sana juga ada sumber air melimpah yang menjadi sumber PDAM seluruh pulau Karimunjawa. Saat ini akses jalan kecil sudah ada. 

Tampaknya sudah ada beberapa upaya mediasi agar Legon Lele bisa ditanami warga kembali sampai pemiliknya siap membangunnya. Semoga saja upaya ini membuahkan hasil positif. Mari kita doakan bersama-sama, agar salah satu lumbung padi di sana kembali hidup. Agar riwayat Legon Lele yang subur dan hijau tak menjadi sekadar cerita bagi anak cucu.

Catatan:
Pak Inggi : sebutan khas untuk kepala pemerintahan setingkat desa/kelurahan.
Kecingkrangan : kekurangan
Kulo niki ngintil buri, ngetutke pitikke. Pitikke bubar, gari jagone: Saya mengikuti dari belakang, menyusul kepindahan anak. Semua anak pindah (ke Kapuran), tinggal saya sendiri.
Share:

Mengenang Legon Lele Bersama Pak Mulyanto dan Bu Maria dari Kapuran Karimunjawa

Perjalanan kedua pada tanggal 8 Mei 2018 di Kapuran karimunjawa, mengantarkan kami pada suami istri yang dengan kompak mengenang Legon Lele sebelum menjadi perkampungan yang ditinggalkan. Pak Mulyanto dan Bu Maria, begitu nama mereka. Sebenarnya, kami salah mendatangi narasumber. Kami mencari Pak Mulawarman yang dipanggil Pak Mul. Tampaknya, warga yang menunjukkan rumah Pak Mul mengantar kami pada Pak Mul yang lain. Namun, bagaimanapun, penelitian kami tidak sia-sia karena banyak data yang kami dapatkan. Terutama tentang misteri bedol desa yang terjadi di Legon Lele. Sebuah sentra pertanian utama di Karimunjawa yang tiba-tiba menjadi sebuah perkampungan mati seperti Chernobyl di Uni Soviet. Bukan nuklir yang membuat mereka semua meninggalkan Legon Lele, namun ketiadaan akses jalan yang membuat mereka meninggalkan semua asa di sana. Dan inilah kisah sejarah Karimunjawa yang bisa Sobat Susindra baca sebagai bahan pengayaan pengetahuan sebelum berwisata ke sana.

Foto: Mas Hakim Harsamura
Matahari pukul 13.00 bersinar cukup terik. Dengan baik hati, Bu Maria menawarkan air minum asli dari mata air Legon Lele. “Segar sekali, lebih enak daripada minuman kemasan,” promosinya. Dan dia mengatakan yang sebenarnya. Air dari mata air Legon Lele sangat jernih, manis, dan menyegarkan. Kami menemukan satu keajaiban air tawar di sebuah tepi pantai di Legon Lele dan membuktikan bahwa mukzizat itu nyata. Kisahnya akan saya posting tersendiri nantinya.


Cerita dimulai dari kisah traumatik Bu Maria ketika masih tinggal di Legon Lele. “Saya itu takut, Mbak. Takut sekali di sana. Ada ular dan binatang lainnya. Dulu, saat Bapak masih tinggal di situ, ada seokor ular yang sangat besar menaiki rak piring. Reketek-reketek, semua piring pecah. Aku berdiri tak bergerak di tengah. Ular itu niatnya ingin memakan ayam kami. Namanya ular jinur,” kenangnya dengan jerih. “Belum lagi ular edor. Ukurannya kecil, Mbak, tapi sangat-sangat beracun. Dulu, saat hamil tua anak pertama, ujung jempol kakiku digigit ular edor. Rasanya antara hidup dan mati. Sakitnya bukan main dan takut kalau mempengaruhi janin. Obat (anti racun) di puskesmas sedang habis. Untung mertua Lajamuna bisa mengobati dengan obat tradisional,” imbuhnya.

Bisa dipahami mengapa Bu Maria begitu jerih jika mengingat masa tinggal di Legon Lele. Beberapa kenangan buruk ketika diserang binatang liar mengendap cukup lama di ingatannya. Ular, landak, kera, menjangan, dan binatang liar lainnya sering menyerang ke rumah-rumah warga. “Menjangan makan daun, isi ubi dimakan landak, buah dimakan kera, mencawak memakan telur-telur ayam, ketika tanaman kemempeng (hampir siap panen) wereng akan datang menghabiskan. Dan yang membuat paling takut adalah nyawa bisa sewaktu-waktu diancam oleh ular. Soro (sengsara) sekali di sana” katanya.


Kami mendengarkan kisah mereka tanpa banyak menyela. Kami membiarkan mereka bercerita secara mengalir, karena bagaimanapun, setiap data bisa jadi sangat berharga. Kemudian, kisah pun berganti pada masa mereka berdua akan menikah.

Pak Mulyanto, pria itu datang ke Karimunjawa pada tahun 1971. Ia langsung mendapat pekerjaan sebagai penggarap sawah milik Pak Maspan di Legon Lele. Tak hanya itu, setahun kemudian, ia pun berhasil mempersunting putri sulung juragannya yang baru berusia 12 tahun. 

Putri yang bernama Maria itu pastilah sangat cantik. Ia mengaku sedang bermain pasaran ketika ibunya memanggilnya pulang. Dukun nganten mendandaninya, dan mengantarkannya ke pelaminan. Ia mengaku tidak memahami apa maksud semua seremonial yang dilalui. Samar-samar ia mengingat pelaminannya berhias janur dan pisang matang yang masih utuh bersama pohonnya. 

Tampaknya, pada tahun itu, adat pernikahan Jawa lama yang dipakai. Sekadar info saja, ibu saya dinikahkan pada usia 9 tahun dan sangat mencintai suaminya. Dan sepemahaman saya, pada zaman dahulu, pernikahan semacam ini cukup lazim terjadi. Sebenarnya itu bagian dari adat zaman dulu. Orangtua memilih menikahkan putrinya sebelum bisa menentukan ke mana hatinya berlabuh. Karena jika dinikahkan setelah anak perempuan sudah merasakan jatuh cinta pada pria pilihannya, maka, akan sulit diatur pernikahannya. Ada sebuah pepatah Banten mengatakan, Yen ati wes mateng, ora keno de adoni maning. Setidaknya, itulah salah satu alasan yang saya temukan saat membaca buku “Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian” karya Cora Vreede-De Stuers. Seorang pelopor penulis sejarah modern pergerakan perempuan di Indonesia.


Setelah menikah, keduanya menetap di Legon Lele. Pak Mulyanto bercocok tanam dan mbalok di hutan. Saat itu, kayu masih bebas ditebang dan dijual ke Jawa. Kayu-kayu solid seperti kayu sumedang, kayu jambon, jati, dan lain-lain. Setelah kayu dilarang tebang, mereka bekerja memecahkan batu. 

Dahulu Legon Lele sangat ramai. Banyak penduduk yang tinggal di sana. Penduduk bertani di lahan yang sangat subur. Para penduduk memiliki banyak sapi. Bahkan tambak ikan pun ada. Hutan masih bebas ditebang pepohonannya dan punya pengepul yang siap menampung. Air tawar melimpah dan pantai yang sangat indah menjadi bonus. Menarik sekali bahwa Legon Lele bisa membuat pemuda-pemuda seperti Mulyanto muda (dan narasumber lain yang kami wawancarai), datang dari Bandungharjo menuju Legon Lele Karimunjawa untuk mencari nafkah. 

Kisah mundur ke belakang, ketika Bu Maria masih tinggal di Tegalsambi Jepara. Ia sekolah di sana sebelum diajak orangtuanya hijrah ke Karimunjawa. Masa kecilnya bahagia meski hidup susah. Agar semua anak bisa sekolah, ia harus berbagi sabak dan jarik dengan adiknya. Semua dibagi dua oleh nenek. Saat itu, pelajar masih memakai jarik dan kebaya. Alat tulis sederhana berupa sabak. Kemudian tiba-tiba diajak menetap di Karimunjawa. 

Kisah demi kisah dituturkan mereka berdua. Cukup random namun ada banyak sejarah tahun 70-80 yang dapat kami gali dan simpan untuk menjadi cerita. Terutama tentang kenangan yang mereka simpan. Sebelum pamit, kami mengkonfirmasi ulang, mengapa Legon Lele, salah satu lumbung padi di Karimunjawa itu menjadi daerah mati yang ditinggalkan penduduknya? Dan sekali lagi mereka mengkonfirmasi bahwa kerasnya hidup di Legon Lele, serangan binatang-binatang pengganggu dan ketiadaan akses jalan menuju ke sana membuat para warga meninggalkannya. Pada tahun 1985, Pak Cuming dari PT R membelinya. “Kami senang tinggal di Kapuran karena semua rumah dekat,” katanya menegaskan. 

Namun, kami tetap akan mengejar jawaban lain, karena hidup susah di Legon Lele adalah sebuah harga yang harus dibayar saat membuka lahan di sana. Bagaimanapun, jerih payahnya lebih payah orangtua yang membabat alasnya agar bisa dijadikan perkampungan tinggal. Kisah tentang Legon Lele juga pernah disampaikan oleh Pak Lajamuna di posting sebelumnya. Seperti di daerah-daerah lain di kepulauan Karimunjawa, yang asalnya adalah sebuah pulau hutan tropis yang terbuka bagi siapa saja yang mau mengolahnya.



Ini sepenggal kisah yang mereka bagikan pada kami. Dan sedikit mengurangi tanda tanya kami. Kami tetap akan mengejar kembali jawaban dari pertanyaan serupa. Karena tak semestinya Legon Lele ditinggalkan seperti itu. Yazid dan Mas Srianto, sore itu menuju ke sana untuk melihat langsung kondisinya saat ini. Dan memang benar, hanya ada rumah-rumah rusak yang ditinggalkan. Dan ada 3 buah rumah yang tampaknya masih berpenghuni. Tak sampai di situ, mereka juga menuju sumber air Legon Lele yang menjadi penyuplai utama semua air di Karimujawa. "Permata," desah saya lirih. "Permata yang ditinggalkan dan harus dikenang."

Masih ada satu narasumber mengenai Misteri Legon Lele dan satu video penelusuran tim kami ke lokasi, serta penemuan mata air di pantai yang membuat kami berenam sangat takjub. Jangan lewatkan kisah kami. Mari kita bersama mengenang tentang Legon Lele, sebuah zamrud di Karimunjawa yang karena collective ignorance, menjadi terlupakan dan ditinggalkan. 

Share:

Kisah Lajamuna di Karimunjawa: Melabuh Pasca Angin Teduh

Alhamdulillah akhirnya saya bisa menulis kembali. Kali ini tentang kisah seorang pria bernama Lajamuna yang menjadi orang Buton pertama yang menetap di Karimunjawa. Pria ini mengaku melabuh pasca angin teduh selama 2 bulan di tengah lautan. Ia kepincut pada pulau Karimunjawa yang sejak dahulu menjadi surga impian; menawarkan tanah dan lautnya bagi siapapun yang rajin mengolahnya. Kepada kami bertujuh, tim Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa; saya Susindra, Mbak Ulin, Mas Hakim, Bang Doel (Rizki), Yazid, Tris dan Mas Daniel, ia mengenang masa mudanya di Karimunjawa. 

Sebelumnya, saya harus memohon maaf karena cukup lama tidak menulis. Beberapa waktu ini, saya sangat kurang produktif. Puasa perdana saya dalam kondisi hamil muda. Saya benar-benar berharap sedang mengandung anak perempuan karena saya senang bersih-bersih rumah dan berkebun bunga. Kegiatan lainnya jadi terasa kurang menarik.

ekspedisi-sejarah-200-tahun-karimunjawa
Foto: Mas Hakim @harsamura
Selasa, 8 Mei 2018, cuaca Karimunjawa cukup bersahabat. Usai mengalami perjalanan ke Karimunjawa yang luar biasa sehari sebelumnya, dilanjutkan dengan silaturahmi ke beberapa rumah untuk meminta restu, kami memulai perburuan data sejarah kami lebih lambat dari perkiraan. Kami sampai di Kapuran pada pukul 11 siang dan disambut seorang ibu yang ternyata istri Pak Lajamuna. Tak perlu waktu lama, seorang pria yang sudah berumur tersenyum dan menyalami kami. Tak berpikir lama, ia mengiyakan permintaan kami untuk menceritakan masa mudanya, ketika pertama kali datang ke Karimunjawa. Dan ia pun memulai kisahnya….

... tahun 1960-an, sebuah kapal pengangkut kopra bersandar di dermaga kecil pulau Karimunjawa. Mereka ingin beristirahat pasca mengalami angin teduh di luasnya lautan. Jangan bayangkan sebuah kapal mesin. Pada masa itu, kapal-kapal tradisional masih mengandalkan layar untuk melaju. Mereka navigator yang ulung dengan kompas berupa bintang. Namun saat tiada angin, maka mereka hanya bisa pasrah menanti. Seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan atau dua, terkatung-katung di perut samudera. 

Kapal berukuran 60 ton yang baru saja pulang dari Jakarta itu membuang sauh untuk mengisi perbekalan yang menipis. Mungkin juga sambil membeli kopra yang melimpah di sana untuk dijual ke Surabaya. Perdagangan laut adalah mata pencaharian utama mereka, sehingga berada jauh dari Buton Sulawesi Tenggara. Di antara rombongan itu, ada seorang pemuda berusia 19 tahun bernama La Jamuna. 

Lajamuna muda terpikat dengan pulau Karimunjawa yang masih memiliki banyak lahan kosong untuk digarap. Pak Alimin, kepala desa pada masa itu, mengizinkan pendatang mengambil beberapa bahu tanah bagi mereka yang mau membuka hutan. Tak hanya itu, ikan di pulau yang cantik ini sangat melimpah. “Saat berada di sini, ada beberapa orang Buton yang mencari ikan teri. Ikan teri sangat melimpah. 1 perahu payang bisa penuh kurang dari satu jam,” kenangnya dengan mata berkilat bahagia. Ia tak butuh waktu lama untuk memutuskan menetap. Ketika kapal hendak berlayar kembali, ia memantapkan hati untuk melabuhkan hati di Karimunjawa. 


Hari-hari pemuda rajin itu diisi dengan mencari ikan pelagis dan mengeringkannya di pantai. Saat itu sudah ada pembeli tetap yang siap menampung hasil olahan ikannya. Tak disebutkan berapa harga per karung, namun tampaknya sesuai dengan harapannya.

kisah-lajamuna-dari-buton-ke-karimunjawa-ekspedisi-200-tahun-karimunjawa
Foto: Mas Hakim @harsamura
Usai melaut, ia akan menuju bukit Legonlele dan mulai membabat alas. Sejengkal demi sejengkal ia menebang pohon-pohon yang ada di sana. Untuk makan sehari-hari, ia mengaku tak kesulitan. “Orang Buton dulu sangat jarang makan nasi. Orang Buton makan nasi, (membuat) lemas  Ubi sangat melimpah di sini. Itu makanan kami,” katanya dengan raut muka rindu. “Sekarang ubi mahal. Dijual per kilo Rp 5000,-, padahal dahulu banyak sekali sampai dibuang-buang,” imbuhnya. Tampak sekali, ada kerinduan di matanya.

“Kata orang, saya kepincut,” kenangnya. Kepincut pada mudahnya mencari nafkah di Karimunjawa. Tanah yang sangat kaya akan sumber daya alam. Ia bisa mencari ikan sepanjang tahun, sesuai musim. Saat musim tongkol, ia bisa mendapatkan berton-ton ikan tongkol sampai kewalahan mengangkutnya. Saat musim ikan pelagis, perahu terasa kurang besar karena cepat penuh. 

Ia tak selalu di atas laut. Ia juga bercocok tanam di Legonlele, rumah barunya. Ubi yang ditanam melimpah hasilnya. Tak habis meski ada saja binatang nakal yang ikut menikmati hasil berkebunnya. 

Tak butuh waktu lama baginya untuk memantapkan diri mencari pasangan. Seorang gadis Karimunjawa dari suku Jawa menarik hatinya. Apalagi sepetak tanah berukuran ¾ hektar telah diberi sertifikat girik oleh penguasa administratif. Ia pun resmi menjadi orang Buton pertama yang memiliki tanah di Karimunjawa. Berbeda dengan orang Buton lainnya yang hanya datang beberapa bulan lalu kembali pulang. Keberhasilannya menetap di sini membuat beberapa pemuda Buton mulai ikut menetap.

kisah-lajamuna-dari-buton-ke-karimunjawa
Foto: Mas Daniel

Menarik sekali melihat lelaki berusia 50-an mengenang masa 60-an. Tampak sekali, banyak kenangan indah di Legonlele dan Karimunjawa. Pertanyaan demi pertanyaan kami dijawab dengan binar mata yang berganti-ganti. Tentang hijaunya sawah di Legonlele yang digarap, tentang beberapa sawah di daerah lain seperti Nyamplungan dan Cikmas. Tentang ikan yang melimpah ruah. Juga kerinduannya pada Karimunjawa yang masih sangat sepi. Tak ada tamu kota yang datang. Namun ia juga menyimpan sesal ketika harus menjual semua tanah di Legonlele dan pindah ke dukuh Kapuran. Pada akhir tahun 1980-an, hampir seluruh penduduk dukuh Legonlele memutuskan berhenti berharap akan adanya akses jalan. Mereka beramai-ramai menjual semua tanah kepada seorang pengusaha dari Semarang. “Hanya Rp 10.000,- per meter, saat itu,” ujarnya lirih. "Tapi harga segitu sudah cukup mahal saat itu, karena ada yang menjual Rp 3000,- dan Rp 5000,-."

Ketiadaan akses jalan keluar dari Legonlele membuat mereka kesulitan menjual hasil bumi. Saat hendak menjual hasil panen, mereka harus naik turun bukit untuk menuju ke pasar. Anak-anak yang sekolah pun harus berangkat fajar bersama orang-orang dewasa. Sebuah oncor (obor dari bambu) di tangan kiri dan sebuah benda tajam di tangan kanan. Landak, kera, ular edor, dan beberapa binatang menjadi musuh mereka di jalan. 

kisah-lajamuna-dari-buton-ke-karimunjawa
Foto: Dokpri

Pria rajin itu memantapkan hati menetap di Kapuran. Ia mulai menanami area tepi pantai dengan pohon-pohon kelapa. Kepada kami, beberapa warga mengisahkan tentang nyiur melambai yang lahir dari tangan dinginnya. Bagaimanapun, kesederhanaan, kerendahan hati dan kerajinannya bertani serta mencari ikan tetap dikenang. La Jamuna, mungkin hanya satu di antara pria tua di Karimunjawa, namun ia membuktikan bahwa surga itu ada, bagi mereka yang berusaha. 

Itulah sepenggal kisah kami tentang Pak Lajamuna, seorang pendatang dari Buton yang menetap pertama kali di Karimunjawa dan mencintai kepulauan ini dengan sepenuh hati. Semoga ada pelajaran yang bisa Sobat Susindra petik dari kisah ini. Perjalanan Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa berlanjut...

kisah-lajamuna-dari-buton-ke-karimunjawa
Foto: Mas Hakim @harsamura

Share:

Sahabat Susindra