Banyak Harpitnas di Tahun 2018, Ambil Cuti dan Rencanakan Liburanmu Sekarang

Tahun ini banyak H.A.R.P.I.T.N.A.S! Yes! Saatnya merencanakan liburan dari sekarang. Coba ambil kalender.... Banyaaaaak..... 


Agar hidup tidak monoton, sesekali keluar dari zona aman (rumah) dan melakukan perjalanan ke kota yang jauh. Ambil kereta api sebagai moda transportasi pilihan. Bebas macet, dan sampai lebih cepat. Tiket ekonomi sampai eksekutif, semua nyaman dan terstandart. Kereta api jadi pilihan utama saya jika bepergian jauh. Apalagi jika waktu liburan tidak banyak. Misalnya saat harpitnas. Liburan singkat tapi puas. Manfaatkan momen Hari Kejepit Nasional atau Harpitnas. Lumayan kan, tambahan liburannya?

Beneran, lho... tahun 2018 ini banyak hari libur yang terjepit. Saya jadi ingat ketika kuliah semester enam dulu, jumlah hari mudik lebih panjang atau mengambil pekerjaan sambilan sebagai guide bahasa Perancis. Lumayan, praktik dibayar, jalan-jalan gratis ke area timur pulau Jawa sampai ke 2 pulau di sebelahnya. 

Sini, main ke Karimunjawa via Jepara.... 
Psst... saya beritahu, ya... tahun ini, sebagian besar libur adalah hari Selasa. Asyik kan bisa ambil cuti di hari Senin? Bisa liburan mulai Sabtu sampai Selasa. Woho! Rentang waktu yang cukup panjang! Kalau belum punya jadwal harpitnasnya, ini contekan buat kamu:

1. Selasa, 1 Mei: Hari Buruh Internasional
2. Selasa, 29 Mei: Hari Raya Waisak 2562
3. Selasa, 11 September: Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah
4. Selasa, 20 November: Maulid Nabi Muhammad SAW
5. Kamis, 10 Mei: Kenaikan Isa Al Masih

Khusus buat Hari Kenaikan Isa Al Masih, kamu bisa mengambil cuti di hari Jumat. Dengan demikian, total liburannya jadi empat hari, mulai dari Kamis sampai Minggu. Lumayan buat mengeksplore tempat-tempat seru di kota tujuan. Nggak Perlu Khawatir Kehabisan Tiket Kereta

Interior kereta api
Selain long weekend, harpitnas biasanya jadi momen liburan yang banyak dimanfaatkan para pekerja di Indonesia. Jangan resah jika tiket kereta api menuju kota-kota wisata seperti Jogja dan Malang sudah habis sejak jauh-jauh hari. Dunia belum berakhir. Tetap semangat merencanakan liburan. Kamu tidak perlu khawatir kehabisan tiket. Sekarang sudah ada fitur baru di Traveloka bernama “kereta lanjutan”. Fitur ini memungkinkan kamu mendapatkan tiket kereta ke kota tujuan,  dengan sistem transit ke stasiun lain dulu. Jadi, meski tiket kereta di tanggal pilihanmu habis, Traveloka akan memberikan saran rute lain. Jadi, kalau kamu kehabisan tiket langsung dari Jakarta ke Jogja atau dari Jakarta ke Malang. Manfaatkan saja kereta lanjutan yang akan membawamu ke kota tujuan dengan dua kereta yang berbeda.

Asyik Bisa Transit
Serunya naik kereta lanjutan adalah kamu bisa jalan-jalan di kota transit, seperti Bandung, Cirebon dan Purwokerto. Dengan sekali perjalanan, kamu bisa menikmati serunya liburan di dua kota sekaligus. Dengan jarak antar keberangkatan kereta yang cukup panjang, rata-rata 3 – 7 jam, kamu bisa memanfaatkan waktu transit ini untuk mengeksplore kota persinggahan.


Lumayan kan, bisa nongkrong di Bandung atau berburu tempe mendoan di Purwokerto. Baru setelah itu melanjutkan perjalanan ke kota tujuan utama dan liburan sampai puas di momen harpitnas. Kalau momen transit kamu ternyata seru dan belum puas eksplore waktu berangkat. Ambil saja opsi kereta lanjutan lagi untuk perjalanan kembali ke Jakarta. Rentang waktu transitnya nyaris sama, cukup untuk mengeksplore kota persinggahan dengan lebih dalam lagi.

Fitur Yang Memudahkan Perjalanan
Dengan fitur kereta lanjutan yang disediakan oleh Traveloka, kamu nggak perlu mencocokkan sendiri jadwal kereta dan ketersediaan kursi. Cukup buka Traveloka.com, pilih menu Kereta Api,  masukkan kota keberangkatan, kota tujuan, hari keberangkatan dan jumlah penumpang, semua pilihan kereta lanjutan yang tersedia langsung muncul di layar kamu. Kemudian pilih, rute dengan transit kota mana yang bakal ditempuh, kelas kereta apa yang diinginkan dan harga tiket yang paling pas di kantong. Setelah itu lakukan pembayaran, dan e-ticket pun dikirimkan ke e-mail dan juga bisa diakses lewat aplikasi Traveloka di ponsel kamu. Gampang banget kan?

Bagaimana? Sudah cek harpitnas dan jatah cutimu? Liburan pendek atau panjang, selalu menyenangkan dengan kereta lanjutan. Ayo, segera apply cuti kamu sekarang juga! Mau ke Jepara?  Hubungi saya. Sekarang bisa dari kota mana saja, asal pastikan turun di stasiun Semarang.

Share:

Maharani Guesthouse Tebet

9.30 pagi, kereta yang saya tumpangi berhenti di stasiun Pasarsenen Jakarta. Saya berlambat-lambat keluar karena tak hendak berebut jalan dengan penumpang asli Jakarta yang serba terburu-buru. Hari ini saya tak punya banyak rencana, hanya ke Museum Nasional lalu menuju ke Maharani Guesthouse Tebet saja. Saya masih sempat membuat dua buah e-flyer untuk kulwap atau kuliah di WhatsApp sebelum menuju ke tujuan pertama. 


Mungkin karena lelah, saya kurang menikmati siang di museum. Pemicu utamanya adalah, bangunan utama sedang direnovasi sehingga kehadiran saya di sana nyaris sia-sia. Bahkan saat saya naik ke lantai enam, ruang pustaka, tak banyak yang saya temukan kecuali dokumen-dokumen berbahasa Belanda yang tak terbaca oleh saya. Jika tahu minat saya di sejarah, mungkin saya tidak mengambil kuliah bahasa Perancis. Kalau sekarang, saya hanya bisa mengenali beberapa kata untuk mencari judul buku/jurnal yang saya cari dan memotretnya. Pelan-pelan menerjemahkan menggunakan Google Translate atau jika sekira menarik, menawarkan ke teman yang bisa mengartikan. Pertukaran yang sama-sama menang, saya kira.

Pukul 2.30 siang, saya menuju ke Maharani Guesthouse Tebet menggunakan Grab. Dari Museum Nasional dan Monas menuju ke guesthouse tak seberapa lama dan tidak memerlukan biaya besar. Mas sopir mengajak saya melewati Bundaran HI. Ternyata memang cukup dekat dari sana. Hanya 7 KM saja. Lokasi yang dekat dengan tempat-tempat favorit di Jakarta menjadi keunggulan guesthouse ini. Hanya 7 KM dari Tanah Abang juga. Oh iya, meski di dalam sebuah gang beraspal, juga dekat dengan stasiun Cawang. Hanya 0,6 KM saja. 150 meter dari sana ada Indomaret dan Alfamart jika ingin memasak sendiri menu makan harian. 

Bergaya ala nyonya

Memasuki Maharani Guesthouse serasa memasuki sebuah rumah yang bersih dan tertata rapi. Kalau suka swafoto, banyak pojok yang instagramable. Bisa pura-pura di rumah sendiri. Saya tidak melakukannya karena akan langsung gagal pencitraan – selain karena belum suka selfie. Niat ini gagal karena bujukan maut Eva. Dia meminta saya duduk manis dan difoto-foto. 

Tinggal 3 hari 2 malam di sini menyenangkan bagi saya. Bukan karena pengalaman tinggal di rumah besar yang bersih, rapi, memiliki shofa-shofa empuk tanpa repot membersihkan dan merapikan. Guesthouse ini memang membuat penghuninya merasa berada di rumah.  Mas Azis yang ramah dan sigap membantu dan Mbak Endang yang hangat plus pandai memasak, membuat betah. Mereka menghargai kita sebagai tamu, dan jika kita mau, bisa menjadi teman ngobrol atau nonton TV yang asyik. Mas Azis termasuk bloger kawakan yang baru pulang dari perkebunan dan masih kaget dengan dunia bloger zaman sekarang. Jadi, diajak berbicara pun nyambung banget. 

Sedang asyik merampungkan gawean. Suara air bikin otak encer menulis

Kamar yang saya tempati memiliki empat kasur empuk yang punya dua sumber listrik dan kantong serbaguna untuk tempat kunci, HP, charger, juga benda-benda lain yang biasanya asal tergeletak. Ide sederhana yang sangat praktis. Yang membuat tenang saya adalah, ada denda yang lumayan besar bagi tamu kedapatan merokok di dalam kamar atau ruang bersama lainnya. Cocok untuk menginap sekeluarga, pikir saya.

Saya segera membersihkan badan di kamar mandi yang terdapat di sebelah kamar. Kamar mandi bersih yang shower-nya di kotak terpisah berdinding kaca buram, sehingga di kasus darurat ada yang sangat kebelet, bisa masuk bersamaan. Usai mandi, saya keluar sebentar karena sudah ada teman-teman blogger di depan. Ada Nuy, Ilham dan Tiwi yang mengajak asyik bercengkrama sambil makan pizza. Lumayan mengganjal perut sebelum waktu makan malam. Menjelang malam, Eva sampai dan kami ngobrol santai menunggu Evi. Malam ini saya, Nuy, Eva dan Evi memang menginap di Maharani Guesthouse Tebet untuk persiapan rapat koordinasi Warung Blogger. Besok, para admin lain akan datang. 

Pojok yang menyenangkan
Malamnya, saya tidur tanpa mimpi. Nyenyak sekali. Bahkan Idah yang sampai jam 5:30 harus menelpon saya dulu agar bangun. Lelah dan kasur empuk memang bisa membuat siapapun terlambat bangun. Ini bukan sekedar alasan lho. Guesthouse Maharani memang bebas dari suara bising kendaraan. Suara gemericik air mancur juga memberi kesan syahdu, seakan berada di sebuah rumah dekat sungai. 

Setelah semua teman datang, kami mulai dengan sarapan pagi yang lezat. Santapan selera nusantara Mbak Endang, koki, memang ngangeni. Jujur saja, saya masih terkenang dengan sayur gulai daun singkong yang disajikan pertama kali datang. Saya sempat mengira dia dari Sumatera karena mengingatkan saya pada gulai ala Padang, meskipun masakannya menggunakan gula. Ternyata Mbak Endang dari Tegal. Makan selanjutnya, lidah saya masih dipermainkan dengan rasa yang aduhai. Duh Mbak… enak banget… 

Sarapan ala keluarga yang pasti dirindukan

Diskusi asyik, saling memaparkan perkembangan bloger zaman sekarang
Hari itu, rapat Warung Blogger berlangsung seru. Meja kursi yang ada di situ disingkirkan agar bisa lebih santai. Mas Azis sudah menyiapkan meja dan kursi di dekat air mancur., tetapi, rasa-rasanya lebih enak di atas saja sambil lesehan. Sebuah proyektor dipinjamkan gratis sebagai penunjang rapat. Kami saling berbicara jujur dan dari hati ke hati, sehingga menumbuhkan semangat baru. Jam 20.00 WIB, terpaksa dihentikan, karena sebagian harus pulang. Sebagian keputusan ditulis di Berhenti Meretwet, dan sebagian lainnya masih kami garap. Bismillah, semoga tetap istiqomah ya. 

Malam ini kami mendapat dua teman menginap yaitu Nova dan Idah. Kami ngobrol ngalor ngidul sampai ngantuk. Saya tidak ingat jam berapa tertidur. Tahu-tahu sudah bangun saja, dan Mbak Ade Anita yang berkunjung. Memang menemui Idah, sih…. Tapi saya kecipratan berkah juga bisa ketemu teman blogger dan penulis yang hits. Lebih siang lagi ada 2 tamu blogger kawakan yang terkenal, yaitu Mas Anjarisme dan Babeh Helmi. Pas banget dengan tema besar Maharani Guesthouse yaitu menginap, bekerja dan berkolaborasi. Kami semua pun puas bisa bercengkrama seharian di sana. Bahasan yang seharusnya berat bisa mengalir lancar dan semua sepakat, untuk Warung Blogger yang Lebih Baik.

Butuh staycation asyik atau tenang menulis? Bisa langsung booking Maharani Guesthouse Tebet.
Share:

Sepatu PDH, Sepatu Formal Pria yang Sangat Digemari Tahun Ini

Sejak menetapkan gadget detoks, keluarga kami semakin asyik. Banyak diskusi terjadi di ruang tengah. Saya lebih sering menemani mereka di depan laptop – yang artinya masih pakai gadget – karena pekerjaan menuntut demikian. Namun, ada perjanjian tidak tertulis yang menyatakan saya harus terlibat aktif di diskusi setiap saat. 


“Mama, sepatu PDH itu keren, ya?” tanya si sulung Destin. 

Saya berhenti menulis dan menatapnya dengan pandangan tak mengerti. “Sepatu PDH? Apa itu?” 

“Ayo kita lihat di Google,” pintanya.

“Ayo!” seru Binbin bersemangat

Tak berapa lama, 3 kepala kami berdekatan dan fokus ke layar laptop. Pekerjaan bisa menunggu, pikir saya tenang.

Baru kali ini saya tahu ada yang namanya sepatu PDH. Saya kurang gaul banget kalau berkaitan dengan sandang atau fashion. Emak-emak yang hampir setiap hari memakai daster ini kurang menjelajah dunia maya juga. Jadi sering belajar hal baru dari si sulung yang sudah SMP kelas satu atau si bungsu yang baru kelas 4 SD. 

Sepatu PDH adalah sepatu dinas harian yang biasa dipakai oleh para pegawai keamanan seperti Polri, TNI, Satpol, basarnas dan atau satpam. Termasuk sepatu formal pria yang digemari. Tampaknya Paskibra atau pasukan pengibar bendera juga menggunakan sepatu ini. Bentuknya keren banget dan kinclong, ya? Bahkan baru melihat sepatunya saja rasa kagum sekaligus hormat menjalar di dada. Yah.. mungkin itu hanya perasaan saya saja ketika dibukakan pintu oleh satpam bank yang ganteng itu. Eaaa…. Sampai segitunya. Tapi saya tiba-tiba membayangkan anak lanang saya yang tinggi dan tegap menjadi paskibra di SMA-nya nanti. MasyaAllah… ia pasti tampak sangat gagah dan ganteng.

Sepatu pdh atau sepatu kedinasan biasanya berbahan kulit sapi asli. Terutama yang dipakai para polisi dan tentara. Ternyata, ada standar bahan kulit tersendiri untuk tiap bagian sepatu. Misalnya sepatu bagian samping yang sering ditekuk-tekuk menggunakan kulit bagian perut yang lebih elastis. Pantas saja, sepatu jenis ini selalu awet. 



Standar khusus juga ditetapkan untuk sepatu berbahan kulit sintetis PU agar tetap awet.  Tentu saja, berbeda ketahanannya dengan yang asli. Tetapi, sejauh yang saya tahu, tetaplah awet dan mudah dibersihkan. Jadi sepatu akan terlihat kinclong terus. Kesan rapi selalu terlihat meski hari yang dilalui sangat sibuk dan berat.

Sepatu PDH ternyata sudah memiliki jenis yang lebih beragam sehingga semakin digemari. Sekarang tak hanya pegawai sekuritas saja, tetapi pegawai pns dan swasta juga menggunakannya. Terutama mereka yang menyukai penampilan rapi dan stylish. Sepatu PHD telah menjadi bagian dari sepatu formal pria yang sangat digemari saat ini. 

Sepatu pria kekinian ini rupanya menarik minat anak lanang. Ia memang menyukai kerapihan dan pernah menyatakan ingin menjadi polisi atau tentara. Semoga kesempatan tersebut terbuka saat ia lulus SMA nanti. Aamiin.

Penelusuran kami berlanjut pada harga sepatu. Kami memilih sebuah e-commerce yang sering mengadakan promo fashion. Matahari Mall memang pilihan yang tepat jika ingin mencari harga. Selain tentu saja, karena si emak memiliki beberapa voucher yang belum digunakan. Hehehe… 

Tak terasa, kami telah melewatkan lebih dari 30 menit mencari tahu. Bagi Destin dan Binbin, ini adalah proses mencari pengetahuan baru. Proses belajar dan pengayaan. Bagi ibunya, ini adalah me time yang relaxing. Juga pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang dan didengarkan. Saya ingin selalu menjadi sahabat mereka, tempat mereka bertanya dan meminta pertimbangan. Makanya, sesibuk apa pun saya usahakan selalu membagi perhatian. Semoga forum komunikasi dadakan kami menjadi bonding ibu dan anak yang semakin kuat.

Apakah anak-anak ingin membeli sepatu PDH? 
Belum… 
Mereka suka tetapi tahu jika belum membutuhkannya. 


Sumber gambar: Pixabay
Share:

Sahabat Susindra