Merchandise Asian Games

Gebyar Asian Games mulai terasa, ya. Ada kebanggaan tersendiri, negara kita tercinta menjadi tuan rumah. Pasar-pasar, baik luring maupun daring sudah mulai menjajakan merchandise Asian Games. Sudah dengar lagunya Via Valent tuk Asian Games? Banyak pro kontra, dan seperti biasa, saya abstain saja. Berkarya itu tak mudah, makanya saya tak mengizinkan diri ini mencela, apalagi mengontrakan.


Oh ya, sudah tahu apa itu merchandise?
Merchandise adalah segala bentuk produk maupun barang yang ditujukan sebagai hadiah untuk menyemarakkan sesuatu. Sebentar lagi event Asia Games akan dilaksanakan dan tentunya akan ada banyak yang menjual barang-barang yang berhubungan dengan Asian Games.

Asian Games juga didukung oleh beberapa situs online untuk memberi dukungan.

Adanya merchandise Asian Games  di Bukalapak juga merupakan salah satu bentuk semaraknya event ini. Beberapa merchandise Asian Games sudah terdapat pada situs belanja online dan juga situs resmi Asian Games. Namun sebagai pendukung dan tuan rumah perlu mengetahui beberapa fakta terbaru dari Asian Games 2018 diantaranya:

1. Asian Games 2018 akan digelar di dua kota yaitu Jakarta dan Palembang serta beberapa tempat sebagai tuan rumah pendukung seperti Lampung, Jawa Barat dan Banten.
2. Asian Games telah dilakukan sebanyak 17 kali, dalam sejarah tahun ini pertama kali dilaksanakan dalam dua kota dan Indonesia menjadi negara yang menggelar dalam dua kota secara bersamaan.
3. Sebelumnya Asian Games dilaksanakan tahun 2019 tetapi Indonesia mengajukan syarat untuk menyelenggarakan Asian Games di 2018 karena adanya pemilu dan syarat tersebut diterima.
4.  Terdapat 41 cabang yang akan dipertandingkan, terdiri dari 33 cabang olahraga olimpiade dan 8 cabang olahraga non olimpiade dengan jumlah nomor perlombaan sebanyak 490 nomor.
5. Asian Games 2018 menjadi kali pertama dengan memperlombakan cabang olahraga atau nomor olahraga terbanyak dipertandingkan.
6. Sebelumnya Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962 yang digelar di Jakarta. Saat countdown satu tahun Asian Games 2018, pemerintah Indonesia mendatangkan salah satu girlband dari Korea Selatan yaitu SNSD pada 18 Agustus 2017.
7. Persiapan Asian Games juga didukung dengan pembangunan MRT Jakarta yang dipercepat, di Palembang pembangunan monorel dengan panjang 25 Km.


Perlu diketahui juga bahwa Thailand merupakan negara yang sudah empat kali menjadi tuan rumah Asian Games. Fakta lainnya adalah Singapura mundur jadi tuan rumah karena masalah finansial. Pakistan yang ditunjuk jadi tuan rumah pengganti juga undur karena konflik dengan Bangladesh dan India, Thailand kembali menjadi tuan rumah pada tahun 1978.

Asian Games pertama yang digelar di bawah Dewan Olimpiade Asia sebagai pengganti Federasi Asian Games dan disiarkan langsung lewat televisi berwarna

Berikut adalah harga merchandise Asian Games Bukalapak diantaranya:
1. Jaket Timnas Tracker Waterproof Rp140.000.
2. Jaket Timnas Playmaker Waterproof Rp135.000.
3. Jaket Timnas Hoodie Rp110.000.
4. Kaos Asian Games Maskot Rp95.000.  Boneka Maskot Asian Games 2018 Rp435.000.
5. Boneka Maskot Atung Asian Games 2018 Rp145.000.
6. Boneka Maskot Bhin Bhin Asian Games 2018 Rp99.500.
7. Boneka Maskot Kaka Asian Games 2018 Rp130.000.
8. Sarinah Gantungan Boneka Maskot Rp130.500.
9. Tas Pundak Asian Games Maskot Rp140.000.


Beberapa merchandise di atas sudah terdapat pada Bukalapak sebagai situs belanja online terpercaya di Indonesia. Merchandise Bhin Bhin, Atung dan juga Kaka sudah terdapat pada situs belanja online dengan beberapa perbedaan harga. Masing-masing merchandise di pisah dalam beberapa kategori seperti kecepatan, strategi dan kekuatan. Hal ini membuat para pembeli merchandise dapat memilih sesuai ketiga karakter ini yang diambil dari lambang burung garuda Bhineka Tunggal Ika.

Merchandise Asian Games Bukalapak membuat masyarakat Indonesia dapat mengakses berbagai info terkait atlet yang mengikuti pertandingan. Tahun ini acara olahraga regional Asia akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan sebanyak 40 cabang dengan 32 cabang olahraga olimpiade dan 8 cabang olahraga non olimpiade.

Share:

Meninggalkan Asal untuk Mendapat (h)Asil: Riwayat Legon Lele Karimunjawa Tahun 60-an Dituturkan oleh Mbah Maspan

Masih tentang misteri kepergian penduduk Legon Lele Karimunjawa pada tahun 1985, kali ini kami, tim ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa mendapat sumber yang lebih mengenal daerah ini. Mbah Maspan, seorang lelaki tua yang memiliki wawasan luas dan keinginan kuat untuk merubah keadaan. Hasil wawancara kali ini saya bagi menjadi dua, yaitu Kenangan akan Legon Lele Pada tahun 1960-an dan Sejarah asal-usul Legon Lele, termasuk nama aslinya pada abad 16 dan di mana mencari datanya pada posting 2 hari lagi. Harap sabar, ya... Dan untuk teman-teman di Karimunjawa yang ingin tahu sejarah desa/dukuh/pulau lainnya, harap sabar banget, karena kisah para tetua sangat menarik dan kadang harus dipecah jadi 2-4 tulisan.

riwayat-legon-lele-karimunjawa
Riwayat Legon Lele Karimunjawa Tahun 60-an, dituturkan oleh Mbah Maspan

Ini riwayat Legon Lele Karimunjawa pada tahun 1960-an di mata Mbah Maspan....


“Orang itu berpikir. Ingin lebih baik.” Begitu awalan yang diberikan Mbah Maspan saat bercerita tentang alasannya pindah ke Karimunjawa pada tahun 1967. Dia merasa hidupnya sebagai nelayan di Bulakbaru Jepara tidak akan berkembang. Kemiskinan terasa menghimpit. Ia telah memiliki tiga anak perempuan berusia 6 tahun, 4 tahun, dan 2 tahun. Pria kelahiran 1932 itu gelisah ingin mengubah nasib. 

Pak Saidi yang telah menjadi 1 dari 10 kepala keluarga yang tinggal di Legon Lele Karimunjawa mengajaknya ke pulau yang tanahnya masih luas dan siap digarap siapa saja. Juga kabar bahwa Pak Inggi Alimun dan masyarakat di sana sangat terbuka pada pendatang baru. Mereka mempersilakan para pendatang mengolah tanah, membuka lahan dari sebuah hutan lebat, dan jika luasnya dirasa cukup, bisa mengajukan sertifikat girik tanah. Kabar Karimunjawa memiliki tanah yang subur dan ikan yang sangat melimpah telah cukup lama tersiar. Kayu hutan dan batu di sana pun sangat laku di Jawa. Nelayan muda itu menjadi sangat tertarik.

Maspan muda merasa bahwa tiket menuju hidup sejahtera telah berada di tangan. Ia pun membujuk istrinya agar mau ikut serta. “Kabar ceritane Karimunjawa kok gemah ripah loh jinawi. Yuk lungo Karimunjawa. Idep-idep yen ra krasan mengko teko balik sih,” katanya pada sang istri. Setelah beberapa kali diskusi, akhirnya mereka sepakat berangkat. Perjalanan 2 hari di kapal layar menuju Karimunjawa menjadi pengalaman tak terlupakan bagi semuanya.

riwayat-legon-lele-karimunjawa
Salah satu sudut indah di jalan menuju Legon Lele

Sampai di Karimunjawa, suami istri ini bekerja keras mewujudkan impian mereka. Sang suami nyaben (bekerja di kebun) dan menjadi pembalok kayu, sementara sang istri nderep (buruh tani) di sawah tetangga. Sesekali melaut atau menangkap ikan lele di sungai untuk lawuhan (lauk makan). “Pekerjaan apapun kami tidak malu,” kenangnya. Anak perempuan tertua, Maria, yang kenangannya telah saya tulis di posting sebelumnya, bertugas menjaga kedua adiknya yang masih kecil.

Usaha mereka tak sia-sia. Beberapa hektar kebun berhasil mereka buka. Sepetak tanah untuk rumah dan sepetak yang cukup luas untuk menanam padi akhirnya mereka miliki. “Nempil tangga,” katanya, yang artinya membeli sebagian dari tetangga. Kehidupan mereka lumayan berkecukupan. “Tahun 1967 – 1980-an, Karimunjawa sunyi senyap. Membuat manusia tidak kerasan. Makanan dan ekonomi tidak kecingkrangan,” tuturnya. Sumber air dan sumber makanan di Legon Lele sangat melimpah, namun butuh usaha yang lebih berat untuk menjualnya ke luar. 

Mbah Maspan, keinginannya mengubah keadaan yang membawanya ke Karimunjawa

“Saya termasuk orang kaya di sini. Kaya anak. Anak saya 9. 3 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Alhamdulillah masih mau saya openi (masih hidup) sampai sekarang,” katanya lagi.

Jika ada yang membuat warga berduka adalah, akses jalan menuju Karimunjawa masih berupa jalur laut dan setapak di gunung. 
Anak-anak yang hendak sekolah harus naik-turun gunung dan melalui perjalanan selama dua jam. Mereka berangkat bersama ibu atau tetangga yang menjual hasil tani/berkebun mereka di pasar. Akses jalan melalui laut ini dibenarkan oleh Pak Parini dari Cikmas (kisahnya akan saya sampaikan di lain posting). Pak Parini yang menjadi petani di Cikmas mengaku pernah ikut menggarap sawah di Legon Lele, dan harus naik perahu mengelilingi setengah pulau Karimun untuk ke sana. Ia akan tinggal selama 1-2 minggu di Legon Lele untuk menggarap sawah, dan beberapa kali kembali ke sana dengan cara yang sama. Saat itu akses jalan Karimun – Cikmas belum ada. Masih banyak area yang terisolasi.

Baca juga kisah Pak Lajamuna di Legon Lele

Tahun 1985-an, seorang konglomerat datang dan menawarkan uang untuk mengganti tanah mereka. Bisa dikatakan, Pak Cuming ini merupakan investor tanah yang pertama di kepulauan Karimunjawa dan berhasil membeli ratusan hektar dan beberapa pulau. Sampai saat ini, tanah yang dibeli tersebut masih dianggurkan oleh pemiliknya. 


Salah satu sudut indah di Kapuran, tempat tinggal orang-orang Legon Lele
Banyak yang menanggapi positif tawaran ini, meski harga yang ditawarkan antara Rp 3000,- sampai Rp 10.000,- per meter. Satu per satu penduduk pindah ke daerah Kapuran yang lebih dekat dengan Karimunjawa. (Daerah sekitar hotel Nirwana Karimunjawa). 

Kenangan buruk yang membuatnya paling terkenang adalah saat ada tetangga yang tiba-tiba sakit parah sehingga harus dibawa ke puskesmas pada tengah malam. Mereka memasukkan pasien ke dalam sarung lalu membawanya menggunakan bambu seperti saat membawa binatang buruan. Malam pekat, jalanan menanjak, dan sangat licin. Mereka terpeleset. Pasien menggelinding ke tanah dan saat ditemukan sudah digigit ular (kemungkinan ular edor) sehingga nyawanya tidak tertolong lagi. Kematian karena ular ini cukup banyak. Belum lagi binatang-binatang liar yang membuat mereka sering gagal panen raya. Para anak dan istri pun gelisah ingin pindah.

“Kulo niki ngintil buri, ngetutke pitikke. Pitikke bubar, gari jagone,” katanya. ADa kekhawatiran jika ada apa-apa kelak, dan daripada sendirian ditinggal anak cucu. 

Kami mendengarkan kisah beliau, dan sesekali dibuat tertawa-tawa
“Pegawai PA PA (mungkin maksudnya P2PAPA) pernah bertanya mengapa kami meninggalkan tanah kami, dan jawaban saya adalah akses jalan yang tidak ada,” jawabnya ketika kami menanyakan kembali mengapa beramai-ramai meninggalkan Legon Lele. Sebagai salah satu orang tertua di sana dan yang pandai berbicara, Mbah Maskan mengaku sering menjadi wakil masyarakat untuk berbicara dengan para pejabat rawuhan. Kami melihat kebenaran pengakuannya karena cara berceritanya yang santai, runtut, jelas dan sering membuat kami tertawa. 

"Apakah tidak ada keinginan kembali ke sana, Pak?" tanya kami penasaran. Rupanya pertanyaan ini juga menjadi salah satu keresahan mereka. Sudah 23 tahun, Legon Lele dibiarkan merana. Tak ada pembangunan. Sawah-sawah dan kebun luas yang subur yang dahulu menjadi sumber penghidupan mereka terbengkelai. Rumah-rumah juga masih berdiri, rusak tidak terurus. Di sana juga ada sumber air melimpah yang menjadi sumber PDAM seluruh pulau Karimunjawa. Saat ini akses jalan kecil sudah ada. 

Tampaknya sudah ada beberapa upaya mediasi agar Legon Lele bisa ditanami warga kembali sampai pemiliknya siap membangunnya. Semoga saja upaya ini membuahkan hasil positif. Mari kita doakan bersama-sama, agar salah satu lumbung padi di sana kembali hidup. Agar riwayat Legon Lele yang subur dan hijau tak menjadi sekadar cerita bagi anak cucu.

Catatan:
Pak Inggi : sebutan khas untuk kepala pemerintahan setingkat desa/kelurahan.
Kecingkrangan : kekurangan
Kulo niki ngintil buri, ngetutke pitikke. Pitikke bubar, gari jagone: Saya mengikuti dari belakang, menyusul kepindahan anak. Semua anak pindah (ke Kapuran), tinggal saya sendiri.
Share:

Mengenang Legon Lele Bersama Pak Mulyanto dan Bu Maria dari Kapuran Karimunjawa

Perjalanan kedua pada tanggal 8 Mei 2018 di Kapuran karimunjawa, mengantarkan kami pada suami istri yang dengan kompak mengenang Legon Lele sebelum menjadi perkampungan yang ditinggalkan. Pak Mulyanto dan Bu Maria, begitu nama mereka. Sebenarnya, kami salah mendatangi narasumber. Kami mencari Pak Mulawarman yang dipanggil Pak Mul. Tampaknya, warga yang menunjukkan rumah Pak Mul mengantar kami pada Pak Mul yang lain. Namun, bagaimanapun, penelitian kami tidak sia-sia karena banyak data yang kami dapatkan. Terutama tentang misteri bedol desa yang terjadi di Legon Lele. Sebuah sentra pertanian utama di Karimunjawa yang tiba-tiba menjadi sebuah perkampungan mati seperti Chernobyl di Uni Soviet. Bukan nuklir yang membuat mereka semua meninggalkan Legon Lele, namun ketiadaan akses jalan yang membuat mereka meninggalkan semua asa di sana. Dan inilah kisah sejarah Karimunjawa yang bisa Sobat Susindra baca sebagai bahan pengayaan pengetahuan sebelum berwisata ke sana.

Foto: Mas Hakim Harsamura
Matahari pukul 13.00 bersinar cukup terik. Dengan baik hati, Bu Maria menawarkan air minum asli dari mata air Legon Lele. “Segar sekali, lebih enak daripada minuman kemasan,” promosinya. Dan dia mengatakan yang sebenarnya. Air dari mata air Legon Lele sangat jernih, manis, dan menyegarkan. Kami menemukan satu keajaiban air tawar di sebuah tepi pantai di Legon Lele dan membuktikan bahwa mukzizat itu nyata. Kisahnya akan saya posting tersendiri nantinya.


Cerita dimulai dari kisah traumatik Bu Maria ketika masih tinggal di Legon Lele. “Saya itu takut, Mbak. Takut sekali di sana. Ada ular dan binatang lainnya. Dulu, saat Bapak masih tinggal di situ, ada seokor ular yang sangat besar menaiki rak piring. Reketek-reketek, semua piring pecah. Aku berdiri tak bergerak di tengah. Ular itu niatnya ingin memakan ayam kami. Namanya ular jinur,” kenangnya dengan jerih. “Belum lagi ular edor. Ukurannya kecil, Mbak, tapi sangat-sangat beracun. Dulu, saat hamil tua anak pertama, ujung jempol kakiku digigit ular edor. Rasanya antara hidup dan mati. Sakitnya bukan main dan takut kalau mempengaruhi janin. Obat (anti racun) di puskesmas sedang habis. Untung mertua Lajamuna bisa mengobati dengan obat tradisional,” imbuhnya.

Bisa dipahami mengapa Bu Maria begitu jerih jika mengingat masa tinggal di Legon Lele. Beberapa kenangan buruk ketika diserang binatang liar mengendap cukup lama di ingatannya. Ular, landak, kera, menjangan, dan binatang liar lainnya sering menyerang ke rumah-rumah warga. “Menjangan makan daun, isi ubi dimakan landak, buah dimakan kera, mencawak memakan telur-telur ayam, ketika tanaman kemempeng (hampir siap panen) wereng akan datang menghabiskan. Dan yang membuat paling takut adalah nyawa bisa sewaktu-waktu diancam oleh ular. Soro (sengsara) sekali di sana” katanya.


Kami mendengarkan kisah mereka tanpa banyak menyela. Kami membiarkan mereka bercerita secara mengalir, karena bagaimanapun, setiap data bisa jadi sangat berharga. Kemudian, kisah pun berganti pada masa mereka berdua akan menikah.

Pak Mulyanto, pria itu datang ke Karimunjawa pada tahun 1971. Ia langsung mendapat pekerjaan sebagai penggarap sawah milik Pak Maspan di Legon Lele. Tak hanya itu, setahun kemudian, ia pun berhasil mempersunting putri sulung juragannya yang baru berusia 12 tahun. 

Putri yang bernama Maria itu pastilah sangat cantik. Ia mengaku sedang bermain pasaran ketika ibunya memanggilnya pulang. Dukun nganten mendandaninya, dan mengantarkannya ke pelaminan. Ia mengaku tidak memahami apa maksud semua seremonial yang dilalui. Samar-samar ia mengingat pelaminannya berhias janur dan pisang matang yang masih utuh bersama pohonnya. 

Tampaknya, pada tahun itu, adat pernikahan Jawa lama yang dipakai. Sekadar info saja, ibu saya dinikahkan pada usia 9 tahun dan sangat mencintai suaminya. Dan sepemahaman saya, pada zaman dahulu, pernikahan semacam ini cukup lazim terjadi. Sebenarnya itu bagian dari adat zaman dulu. Orangtua memilih menikahkan putrinya sebelum bisa menentukan ke mana hatinya berlabuh. Karena jika dinikahkan setelah anak perempuan sudah merasakan jatuh cinta pada pria pilihannya, maka, akan sulit diatur pernikahannya. Ada sebuah pepatah Banten mengatakan, Yen ati wes mateng, ora keno de adoni maning. Setidaknya, itulah salah satu alasan yang saya temukan saat membaca buku “Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian” karya Cora Vreede-De Stuers. Seorang pelopor penulis sejarah modern pergerakan perempuan di Indonesia.


Setelah menikah, keduanya menetap di Legon Lele. Pak Mulyanto bercocok tanam dan mbalok di hutan. Saat itu, kayu masih bebas ditebang dan dijual ke Jawa. Kayu-kayu solid seperti kayu sumedang, kayu jambon, jati, dan lain-lain. Setelah kayu dilarang tebang, mereka bekerja memecahkan batu. 

Dahulu Legon Lele sangat ramai. Banyak penduduk yang tinggal di sana. Penduduk bertani di lahan yang sangat subur. Para penduduk memiliki banyak sapi. Bahkan tambak ikan pun ada. Hutan masih bebas ditebang pepohonannya dan punya pengepul yang siap menampung. Air tawar melimpah dan pantai yang sangat indah menjadi bonus. Menarik sekali bahwa Legon Lele bisa membuat pemuda-pemuda seperti Mulyanto muda (dan narasumber lain yang kami wawancarai), datang dari Bandungharjo menuju Legon Lele Karimunjawa untuk mencari nafkah. 

Kisah mundur ke belakang, ketika Bu Maria masih tinggal di Tegalsambi Jepara. Ia sekolah di sana sebelum diajak orangtuanya hijrah ke Karimunjawa. Masa kecilnya bahagia meski hidup susah. Agar semua anak bisa sekolah, ia harus berbagi sabak dan jarik dengan adiknya. Semua dibagi dua oleh nenek. Saat itu, pelajar masih memakai jarik dan kebaya. Alat tulis sederhana berupa sabak. Kemudian tiba-tiba diajak menetap di Karimunjawa. 

Kisah demi kisah dituturkan mereka berdua. Cukup random namun ada banyak sejarah tahun 70-80 yang dapat kami gali dan simpan untuk menjadi cerita. Terutama tentang kenangan yang mereka simpan. Sebelum pamit, kami mengkonfirmasi ulang, mengapa Legon Lele, salah satu lumbung padi di Karimunjawa itu menjadi daerah mati yang ditinggalkan penduduknya? Dan sekali lagi mereka mengkonfirmasi bahwa kerasnya hidup di Legon Lele, serangan binatang-binatang pengganggu dan ketiadaan akses jalan menuju ke sana membuat para warga meninggalkannya. Pada tahun 1985, Pak Cuming dari PT R membelinya. “Kami senang tinggal di Kapuran karena semua rumah dekat,” katanya menegaskan. 

Namun, kami tetap akan mengejar jawaban lain, karena hidup susah di Legon Lele adalah sebuah harga yang harus dibayar saat membuka lahan di sana. Bagaimanapun, jerih payahnya lebih payah orangtua yang membabat alasnya agar bisa dijadikan perkampungan tinggal. Kisah tentang Legon Lele juga pernah disampaikan oleh Pak Lajamuna di posting sebelumnya. Seperti di daerah-daerah lain di kepulauan Karimunjawa, yang asalnya adalah sebuah pulau hutan tropis yang terbuka bagi siapa saja yang mau mengolahnya.



Ini sepenggal kisah yang mereka bagikan pada kami. Dan sedikit mengurangi tanda tanya kami. Kami tetap akan mengejar kembali jawaban dari pertanyaan serupa. Karena tak semestinya Legon Lele ditinggalkan seperti itu. Yazid dan Mas Srianto, sore itu menuju ke sana untuk melihat langsung kondisinya saat ini. Dan memang benar, hanya ada rumah-rumah rusak yang ditinggalkan. Dan ada 3 buah rumah yang tampaknya masih berpenghuni. Tak sampai di situ, mereka juga menuju sumber air Legon Lele yang menjadi penyuplai utama semua air di Karimujawa. "Permata," desah saya lirih. "Permata yang ditinggalkan dan harus dikenang."

Masih ada satu narasumber mengenai Misteri Legon Lele dan satu video penelusuran tim kami ke lokasi, serta penemuan mata air di pantai yang membuat kami berenam sangat takjub. Jangan lewatkan kisah kami. Mari kita bersama mengenang tentang Legon Lele, sebuah zamrud di Karimunjawa yang karena collective ignorance, menjadi terlupakan dan ditinggalkan. 

Share:

Sahabat Susindra