Keramahtamahan Khas Besuki Situbondo dan Rehat di Tulungagung

Setelah semalaman berbis ria dari Kudus menuju Surabaya dengan dihiasi sedikit kecelakaan, Susi langsung menuju Besuki Sidoarjo. 5 jam perjalanan, Bo! Ampun capeknya bagi badanku yang lecet-lecet  dan lebam karena jatuh kemarin.
Rasa kurang nyaman langsung berkurang jauh. Tipikal ramah dan tenang meski di pesisir menyambutku di gudang mas Boby yang khusus membuat mebel dari kayu recycle. Tidak ada celotehan khas para tukang ketika ada tamu wanita datang. Bahkan aku dengan nyaman menjelaskan kesalahan-kesalahan konstruksi yang mereka lakukan tanpa harus menjelaskan bahwa meski wanita Susi juga menguasai konstruksi standard furniture yang diekspor – agak sombong tapi Susi bekerja di mebel hampir seumur hidup mulai dari SD menjadi tukang amplas sampai naik jabatan seperti sekarang.  Tuan rumah, mas Boby & mas Erwin juga ramah dan selalu siap membantu. Yang tak kalah menenyenangkan adalah buyer yang dibantu Susi, Mr Bernard Dethier juga sangat baik, sopan dan ramah. Racikan yang sempurna untuk menciptakan perjalanan yang menyenangkan.
Di Besuki, Susi tinggal di hotel lokal bernama Hotel Utama Raya. Bisa dikatakan hotel ini pusat hang out pemuda-pemudi Besuki yang sepi. Hotel sekaligus pompa bensin, swalayan terbesar, restaurant ikan bakar, café sederhana, meski serba minim fasilitas, namun lengkap-kap. Semua ada asal tidak aneh-aneh. Rate hotelnya juga tidak mahal, dari 150 rb sampai 400 rb/hari. Hotel yang masih sangat baru ini masih tahap reservasi sehingga lantai selalu kotor. Okelah, yang ini Susi mengerti sekali. Yang penting suasana homy-nya dapat. Bagi pembawa laptop atau pekerjaan, silahkan kecewa karena tidak ada fasilitas meja-kursi kerja, ya. Semua mebel serba mini dalam artian sesungguhnya. Mungkin fasilitas bisnis belum digarap. 
Referensi makanan? Well, aku tidak seberuntung itu bisa menikmati nasi karak dan ikan takar. Nasi karak adalah nasi dicampur parutan kelapa & sedikit garam (pake micin karena di pesisir). Ikan takar mirip pindang ikan namun dengan kuah nyemek-nyemek (sedikit). Mirip dengan pindang Sat di Jepara. Semalam Susi makan ayam saus tiram. Sebenarnya sih Susi pesan udang saus tiram tapi males minta ganti. Rasanya soft banget – minim bumbu dan kurang asin dikit – sangat cocok bagi yang diet seperti aku nih. Hehe. Aku memang belajar suka makanan minim bumbu & gula garam jadi ga mau komentar negatif ke yang ini. :D
Voila, beberapa foto yang kurang bagus karena tidak berbakat membidik momen atau menyajikan foto indah.
Begini kerja santai Susi jika menerjemahkan & memandu buyer berbelanja furniture & handycraft. Bisa dimana saja dan kapan saja.


Mini cafe di hotel Utama Raya Besuki. Jika malam, tempat ini penuh dengan pemuda-pemudi aneka umur berhang-out ria. 

Mini shop & Cafetaria. Menurut informasi sih bisnis awal Utama Raya sebelum berkembang pesat. Bayangkan dari sebuah restoran menjadi aneka bisnis dalam satu tempat. Jika bisa bertemu pemilikyna, layak juga menimba ilmu. SUPER!

Furniture serba mini, diletakkan dimana saja, di taman, cafe, restaurant, hotel. Xixi.. maaf yang ini agak geli juga. Tubuh besar kami agak melesak ke dalam ketika duduk. Kami jadi seperti meringkuk jika duduk. Kira-kira jika ke Besuki lagi, bisa menawarkan kerja sama design mebel untuk hotel tidak, ya? Tuing.. tuing... 

Mini marketnya ramai dikunjungi. Harganya normal, cenderung sedikit lebih murah daripada 2 mini market Indonesia yang hampir ada di seluruh Indonesia. Jika dilihat betul, ada kursi mini di atas lagi, kan? Ada cerita lucu ketika duduk di sana malam hari. Hoho... banyak kelelawar di atas pohon (apa, ya?) dan bekas makanan kelelawar sering jatuh ke rambutku. Catatan serius buat pengelolanya nih. 

Setelah sarapan sederhana dengan nasgor & secangkir the manis - fasilitas free breakfast tanpa opsi lain-, kami kembali ke gudang mas Boby sebentar sebelum bertolak ke Tulungagung. 6 jam lagi dalam mobil, Bo! Di dekat perbatasan Purbolinggo Blitar kami berhenti sejenak untuk melihat mebel-mebel antik yang luar biasa ukuran diameter jatinya. Sebagai orang Jepara, aku paham betul bahwa mengharap kayu jati berdiameter selebar itu berarti menyediakan kocek yang sangat dalam belum termasuk kesulitannya menemukan kayu selebar itu. Yang ini agak kompleks dan teknis jika diterangkan lebih lanjut, mungkin next time, ya. Yang jelas Susi tidak berani janji karena sulit sekali nge-blog akhir-akhir ini.
Berangkat jam 9 pagi dan sampai Tulungagung jam 6.15. Woooaaa.... meski badan tidak capek tapi tak urung wajah kuyu juga. Setelah menjelaskan ini itu satu jam, kami bertolak ke hotel Narita Tulungagung kemudian makan di Hotel Barata. Susi tidak pandai menerangkan dekorasi, jadi skip saja. Menu pilihan adalah Mix Steak ala Barata. Lebih ke penasaran kata khas Baratanya. Seiris daging sapi, seiris daging ayam, selonjor sosis, french fries, dan sayur. Semua daging empuk, oke, enak, meski tidak berupa daging mentah dibakar selayaknya steak tapi lebih ke daging olahan diletakkan di atas batu saji panas. Dalam lima menit langsung dingin. Yang katanya saus khas Barata ternyata campuran saus barbekiu dengan saus tomat. Enaknya comme ci comme ça. Biasa saja. Mungkin karena cita rasanya yang lebih nasional mengikuti lidah Jawa ya, jadi meski menikmati aku agak kecewa. Bukannya Chauvinisme, tapi di Jepara banyak resto yang benar-benar bercitarasa internasional, bukan penyesuaian lidah indo, jadi wajar kan jika merasa aneh memakan steak dengan citarasa nasional. Makan, kenyang, ngantuk, tapi menyempatkan diri posting bentar. Takut keburu lupa! Esok pagi bangun tuk blogwalking. Menjai blogger memang sangat menyenangkan. Sungguh. Yang belum sempat kukunjungi, akan kurapel setiba di Jepara. Oke? Happy blogwalking!

Share:

22 comments:

  1. Miss U mbak :) aku cuma BW nih beberapa hari ini males posting.
    btw bundit udah menentukan 2 orang mbak.Nunggu mbak susi pulang ya pengumumannya.

    ReplyDelete
  2. aku penasaran ama kursi mini yang di atas mini market.. kok ndak nemu ya? :)

    have a nice long weekend, mba..

    ReplyDelete
  3. Mbak Lidya: Iya, mbak. Minggu ini mungkin sudah bisa online normal. Tiap hari kami di atas mobil & hanya bisa online malam

    ReplyDelete
  4. Mbak Hilsya: Yang bagian furniture mini, mbak. Itu kursi dari besi tempa. Pengen kursi mini dari kayu jati? Bisa aku kirim beberapa gambar. Tuing.. tuing... bisnis... bisnis.... tuk blogger, nanti harga teman banget, deh. xixi... otak uang, ya?

    ReplyDelete
  5. Mbak Fitri: Iya, mbak. Kesempatan yang sulit dilewatkan.

    ReplyDelete
  6. gambar yang pertama pencahayaan saja mba...selebihnya sip...wealah seperti konsultan aja ya aku ini...^_^

    ReplyDelete
  7. hmm jalan2 nih..
    met long weekend ..

    ReplyDelete
  8. kursi mini yang diatas market ternyata tidak keliahatan padahal udah tak amati betul-betul

    sukses ya bu....

    ReplyDelete
  9. aku termasuk yang senang travelling...tapi ga senang ngeluarin duitnya..hahaha....
    maunya seperti mabk susi, bisa jalan-jalan dan dapet duit lagi....
    waah...kapan ya aku bisa seperti itu

    ReplyDelete
  10. bagus-bagus fotonya...
    jadi pengen juga nasi karak nya...
    hmmmm

    ReplyDelete
  11. Aku juga pernah mampir pom bensin ini saat perjalanan pulang hari raya tahun kemarin. Dan memang masih dalam tahap pengembangan.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    ReplyDelete
  12. ngga tau kenapa saya paling suka liat kursi teras kayak kursi mini itu mbak... bisa mempercantik beranda walau melesak juga mendudukinya ya :D

    ReplyDelete
  13. Mas Arya Devi: Foto pertama memang tidak bagus karena pemotretnya belum pernah memakai kamera digital. Mas Erwin warga lokal Besuki yang iseng membidik tapi tidak tahu harus menahan obyek dulu sebentar sebelum mengklik tombol. Well... kalo kuposting karena menghargai usahanya untuk mengabadikan moment. :D

    ReplyDelete
  14. Mbak Nchie: Iya, jalan-jalan mbak. Makasih ya dah mampir. :D
    Met weekend juga.

    Mas Choirul: gambar keempat adalah beberapa gambar set kursi mini. Mungkin memang bukan mini, ya. Kursi yang terlalu kecil untuk ukuran dewasa. Xixi... sens-nya sama, ya? Sayang aku ga mengabadikan foto seorang dewasa yang duduk di situ.

    ReplyDelete
  15. Mbak Desri: Kita sama, haha..
    Saya tidak mengeluarkan duit sedikitpun selama perjalanan 5 hari. Tapi ampun capeknya. Tiap hari dimobil 5-8 jam/hari tidak tahu menginap dimana malam hari. Ini benar-benar petualangan yang seru.

    ReplyDelete
  16. Mbak Desy: Dicoba saja. Super gampang dibikinnya tuh. Dan lezat sekali kalo dimakan di alas daun. Hmm.... meski ga nyicip, tapi aku cuckup sering makan di Jepara waktu kecil. Hanya namanya bukan nasi Karak.

    Mas Sugeng: Iya baru pengembangan. Tempatnya cukup bersih hanya managemennya masih lokal. It's okey lah. Alternatif hotel bersih dan murah.

    ReplyDelete
  17. Mama Aline: Kalo suka memang bagus kok mbak. Sedikit saran, sih, dudukannya diganti jati karena beberapa dudukan kursi sudah melengkung. Mungkin karena besi cor hingga bisa melengkung karena terlalu sering diduduki. - Sok ahli mebel ya.
    Salam kenal.

    ReplyDelete
  18. Unik sekali furniture serba mini yang dipajang di hotel, kafe dan taman. Apalagi ukirannya yang 'cantik'. Kalau sudah tentang jati ukiran, kami selalu teringat dengan ukiran Jepara yang amat terkenal. Saat ini di Magetan ada beberapa lokasi penjual mebel ukir Jepara terletak di jalur wisata Sarangan.

    ReplyDelete
  19. Ya, mebel ukir jepara sudah merambah kemana-mana. PR bagi kami orang Jepara untuk menembus lebih banyak lagi pasar mebel.

    ReplyDelete
  20. Jika ke Jogya saya menginap di Hotel Abadi karena dekat dengan malioboro.
    Biasanya belanja kaos oblonk saja untuk oleh2.

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  21. Ulasan menarik, lengkap dan berisi hehe..
    Hotel itu belum termasuk Kota Besuki, sayangnya di Jantung kota besuki belum ada hotel. :P

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra