PR SEKOLAH


Saya mungkin orang terakhir yang mengerjakan PR SEKOLAH. Malu juga sih karena memang saya sulit menceritakan masa kecil tanpa selembar foto yang sampai sekarang belum sampai di tangan saya. Akhirnya saya memutuskan mempublish tanpa menunggu lagi. Tidak enak pada mbak Lidya tersayang yang telah memberikan PR ini beberapa minggu yang lalu.


1. Guru favorit
Guru favorit saya adalah pak Bambang. Beliau sangat kreatif. Barang-barang tak berguna bisa menjadi prakarya unik. Cara mengajarkannya pun mudah dimengerti oleh otak dodol saya. Satu lagi, pak Bambang sering membuat prakarya besar bersama muri-muridnya. Kenangan terindah kami adalah ketika karnaval 17 agustusan dengan tema pangeran Diponegoro, dan kami menjadi juara se-kabupaten Jepara meski dengan dana karnaval yang sangat minim.  Hanya barang bekas dan lem kanji buatan sendiri! Saat itu kami masih kelas 5 SD. Tentu saja membanggakan karena pujian mengalir pada perlengkapan karnaval kami yang unik dan kami mengerjakan sendiri bersama pak Bambang. Beliau adalah guru pertama yang mendapat posisi tertinggi di hati saya.


2. Guru Killer
Saya masih mengingat sebuah nama yang mungkin bisa dikategorikan guru kiler bagi siswa yang tak mengerti arti kata “disiplin”. Beliau bernama pak Mundofar. Saya masih ingat betapa banyak murid dan wali murid yang tidak suka pada pak Mundofar karena kerasnya beliau. Tetapi saya memahami beliau (sekarang) dengan lebih baik, bahwa semua demi kebaikan anak muridnya.  (Saya bersyukur tidak menjadi guru karena saya mngkin termasuk guru)


3. Teman Bolos
Ada seorang sahabat baik saya dan sampai sekarang masih klop. Namanya Eni. Dia adalah teman bolos saya. Kami selalu sepakat bolos setiap kali ada program imunisasi sekolah. Kami sangat takut jarum suntik dan tak rela tubuh mungil kami ditusuk jarum suntik. Banyak teman yang juga berhamburan melarikan diri jika tahu ada petugas kesehatan datang. Ada suatu masa ketika kami rela bersembunyi di dalam gentong penyimpanan air ortu Eni karena takut ditemukan. Dan itu benar-benar membuat kami kedinginan. Well, sepandai-pandainya kami membolos, terkadang kami tak punya pilihan lain selain disuntik jika guru berhasil menyembunyikan kedatangan petugas kesehatan.

4. Teman berantem
Tidak berantem secara harfiah. Hanya bermusuhan atau bahasa kami neng-nengan atau meneng-menengan (saling mendiamkan). Permasalahannya khas anak SD, yaitu dijodoh-jodohkan. Biasanya ada 2 reaksi normal bagi anak kecil yang diledek temannya berpacaran. Pertama malu-malu tapi mulai cari-cari tahu, yang kedua marah. Saya termasuk yang kedua. Apalagi saya dijodohkan dengan adik sepersusuan saya, Slamet. Jengkel, marah, dan MALU!
Ehm.. ada yang tahu arti saudara sepersusuan, kan? Yah, saya dan Slamet pernah menikmati ASIdari sumber yang sama, yaitu ASI ibunya Slamet. Itu menjadikan kami kakak-adik yang dilarang menikah. Karena tahu itu dan tetap dipoyoki (diledekin) saya dan Slamet jadi marah-marah, deh.

5. Jajanan/makanan favorit
Jajanan favorit saya adalah tempe gembus kuah. Tempe gembus adalah ampas tahu yang dolah kemabli dengan menambahkan ragi tempe. Masih ada sampai sekarang. Tapi tak ada yang lebih khas dan ngangenin daripada tempe gembus kuahnya mbah Sumber. Setiap saya hamil saya selalu berdo’a jangan sampai ngidam masakan itu karena tak ada lagi yang jual.  Waktu itu kami membeli semangkuknya seharga 2 5 perak kemudian karena inflasi naik menjadi 50 perak, 75 perak, sampai akhirnya 100 perak. (Jika mengingat uang di masa SD rasanya susah dipercaya bahwa uang saku 100 perak sudah buanyaaaak sekali. Satu permen cicak masih seharga mangpi atau 5 perak!)

6. Mainan favorit
Mainan favorit saya adalah bekelan, lompat tali, dan dakon. Karena saya anak tertinggi di usia saya, maka saya selalu juara di lompat tali. Bekel juga termasuk mahir. Hanya di dakon saya sering kalah. Waktu itu belum ada mainan seperti sekarang. Mainan hanya bisa dibeli dari Jakarta. Ada seorang teman yang memiliki boneka Angelina yang bisa menangis jika penyumbat mulutnya dibuka. Wah, boneka itu sangat gemerlap di mata kami semua yang tak penah berani bermimpi akan dibelikan boneka itu. Kami bisa duduk manis dipojok bermenit-menit untuk melihat pemilik boneka membuka tutup mulut bonekanya. Perasaan takjubnya agak sulit diungkapkan.

7. Sepatu favorit
Saya kesulitan mengingat sepatu yang saya pakai sehari-hari apalagi sepatu favorit. Karena ukuran kaki saya yang super cepat tumbuh saya sering sekali berganti sepatu sebelum sepatu lama rusak. Saya hanya ingat ketika kelas enam saya memakai sepatu hak 5 centi berwarna putih ukuran 39 milik kakak saya. Dan ketika memasuki SMP saya harus puas dengan sepatu kets spotec karena sepatu ukuran 40 tak lagi muat.

8. Tas favorit
Nah, untuk yang satu ini saya benar-benar blank. Tak ada yang bisa saya ceritakan karena saya sama sekali tidak ingat.

Wah, ternyata panjang sekali, ya… semoga saja tidak bosan ketika membacanya. Itulah saya dan kendesitan saya yang tinggal di kota kecil. Tentu saja jauh berbeda dari teman-teman. Semoga saya tidakdi-tag untuk PR SMP karena saya blank dengan masa itu. Beda dengan masa SD yang sampai saat ini masih menimbulkan tawa jika reuni. Saya pernah mengenangnya bersama tri kwek-kwek (Saya, Eni dan Rika) dan kami menangis sampai menitikkan air mata. Oh, sungguh masa yang istimewa.

Share:

25 comments:

  1. Hahaha sekarang gimana mbak sama adik sepersusuannya?~
    Itu btw SDnya taun berapa? :p

    ReplyDelete
  2. whaha, masi SD aja udah dijodoh2in ya mbak, lucu juga :D

    Penasaran ama pak Bambang, kreatipppp

    ReplyDelete
  3. wah ukuran sepatunya besar amat. mbak Susi tinggi besar ya? aku cuma 36 ukuran sepatunya. hiks..bagi dong tingginya.

    ReplyDelete
  4. Iya tuch, ukuran sepatunya gede. Saya aja 39 sudah ngerasa gede hikz

    ReplyDelete
  5. @Sitti Rasuna Wibawa: Slamet sudah menikah, menetap di desa dan bahagia denagn keluarga kecilnya. :)
    Kami tetap bagai saudara meski banyak yang sering mengira kami pacaran. Kami sama-sama tinggi. Slamet 178 cm, saya 169. Jadi memang serasi. Sama-sama hitam pula. Hehe... Saya lulus SD tahun 89. Bisa dikira-kira, ya...
    @Sadako Kenzhi: Kebiasaan SD kan memang saling menjodoh2kan. Itu adalah manifestasi dari kegelisahan akan diri, keinginan untuk mengenal diri lebih baik, dan rasa penasaran. katanya sih

    ReplyDelete
  6. @Sang Cerpenis bercerita: Alhamdulillah termasuk tinggi, mbak. Sejak kelas 1 SMP sudah memakai sepatu ukuran 40, habis itu harus puas dengan sepatu kets. Untung di kuliah bisa pakai sepatu sandal, ya..

    @Mbak Tarry KittyHolic: Waaahhh... rejeki sepatunya beda, mbak. Hehe.... Berbahagialah mbak Tarry yang berukuran 39 karena lebih mudah mendapat sepatu/sandal bagus daripada saya yang harus mencari sepatu/celana jeans BM di pelabuhan ketika kuliah karena minimnya celana/sepatu pas.
    kalau sekarang sih lebih mudah ya mencari ukuran untuk orang tinggi karena semakin banyak wanita jangkung.

    ReplyDelete
  7. wuihh jadi sekarang pake sepatu ukuran berapa tan? xD
    bibi dan mamahku malah bilang gini, "perasaan dulu jaman SMA aku pakenya ukuran 36, kok anak2 sekarang kakinya gede2 sampe si teteh aja (aku) pake ukuran 39." hhhooo

    ReplyDelete
  8. Ternyata sesama bloger punya PR masing-masing ya..... :) |malu

    yuk mbak Susindra ikut dukung persamaan hak bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Dan bagaimana pandangan mbak susindra terhadap penyandang disabilitas ya....

    ditunggu kunjungan baliknya Disabilitas Dan Pandangan Masyarakat

    ReplyDelete
  9. kalau sepatu favorit aku tuh yang nyala - nyala dulu pas era awal 90an kan lagi happening banget sama sepatu tuh,tapi sayang sekarang dah punah sepatu itu :(

    ReplyDelete
  10. ternyata bu guru dl jg suka bolos yach...
    :P

    ReplyDelete
  11. wah suka bolos ternyata. dulu pas ada imunisasi suntik-menyuntik, aku ngumpet di toilet XD *takut banget sama jarum suntik*

    ReplyDelete
  12. bunda, hani sudah ngerjain peer tolong dicek apakah ada yang kurang?

    ReplyDelete
  13. saya malah belum selsesai bikin PR yang ini mba. Dapet PRnya dari Ibu Dey.

    ReplyDelete
  14. mbak susi punya boneka begitu ya jadi malu kok aku gak pernah punya bonekabentuk orang gitu ya:)

    ReplyDelete
  15. wah....
    akhirnya nemu orang Jepara.....
    Senang #jingkrak" mode on

    ReplyDelete
  16. wow...mbak susi berarti tinggi sekali yachh....SMP aja nomor sepatunya 40? hiks saya smpe sekarang no sepatunya 37 hehehe.....

    saya juga dulu punya boneka yang bisa nangis gitu kalo empengnya dilepas...itu kiriman dr paman saya yg tinggal di amrik....dulu waktu paman sy masih hidup...sy sering dapat paket dr amrik sana...makanya sedihhh banget begitu paman meninggal nisan makamnya salip hiks

    ReplyDelete
  17. hebaat dapet juara se kabupaten.

    Eh, dulu kebanyakan di SD saya juga gitu bu, kalau ada imunisasi ke sekolah, kebanyakan anak2nya pada mbolos, pulang ke rumah. Saya pun pernah, karena memang waktu itu takut sama jarum suntik. tapi berhubung sekolah sama rumah jaraknya deket banget, jadi ya diparanin lagi sama guru2nya, balik lagi deh ke sekolah.. :D :D

    ReplyDelete
  18. keluargaku semua ukuran kaki gajah :D Tapi adikku persis yang memang lebih gede dan cepat rusak sepatunya. Saya waktu itu baru 39.
    Sekarang kami No 42 semua hehehe

    ReplyDelete
  19. wew kelas 6 SD udah pake hak 5cm dan ukurannya 39 pula?? cckkckk, berarti emang besar ya Mbak dibanding teman sepantarannya :D

    ReplyDelete
  20. oh, itu namanya boneka angelina ya? baru tau :)

    ReplyDelete
  21. jangan2 nggak punya tas tuh..
    saya kan gak pernah pake sepatu atau tas waktu SD

    salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  22. owwh tidaaak PR yang satu ini belom saya kerjain.. kelupaan. duh bingung mau ngerjain kapan

    ReplyDelete
  23. lah, PR ini kan dah lama bgt ya mbak, baru sempet dikerjain ya? hehehe

    oia, salam kenal dan izin follow yah :)

    ReplyDelete
  24. kisah kenangan sekolah yang memikat penuh kesan,
    about mainan zaman dulu, sudah jarang ya ditemukan di daerah yang menyebut diri-nya PERKOTAAN, kebanyakan sekarang malah kumpul di depan layar monitor, asyik dengan GAME ONLINE :)

    ReplyDelete
  25. Nonton film itu kan untuk hiburan. Tapi kalau bolak-balik kaget, merem,mual, jijik apakah juga termasuk hiburan ya he he he he.

    Walaupun film itu hanya pura2, tapi kalau melihat puluhan kodok keluar dari mulut atau perut tetap saja jijik.

    Saya lebih suka nonton film roman, drama, komedi saja.

    Salam hangat dari Surabaya.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra