Kematian dan tangis


Sesungguhnya kematian merupakan hakekat yang menakutkan, akan mendatangi seluruh orang yang hidup. Semuanya tidak kuasa menolaknya, tidak ada seorangpun di sekitarnya yang mampu menahannya. Maut merupakan ketetapan Alloh, seandainya ada seseorang selamat dari maut, niscaya manusia yang paling mulia yang akan selamat. Namun maut merupakan SunnahNya pada seluruh makhlukNya. Alloh Ta’ala 
Saya percaya, kematian adalah sesuatu yang pasti dan harus dipersiapkan. Dan saya bukan termasuk mereka yang menangisi kematian seseorang. Setidaknya hanya sedikit kematian seseorang yang saya tangisi.
Ketika bapak meninggal dulu, saya tidak menangis. Meski, tentu saja ketika doa menjelang pemakaman dan serta jenazah diadzani, saya menangis. Karena saya takut, terharu, dan … sedih. Ya, saya sedih namun saya tidak menangisi kematian bapak. Semua keluarga yang ditinggalkan bapak telah mapan dan mentas. Semua telah berkeluarga dan hanya tinggal saya serta adik tiri yang belum menikah – namun kami sudah bekerja. Seminggu sebelum meninggal bapak sakit ringan dan mempunyai kesempatan untuk bertaubat. Bahkan tepat seminggu sebelumnya bapak berkata pada saya, “Sus, bapak sudah bersih, semua zimat sudah bapak pasrahkan pada orang-orang. Kamu tidak kuberi karena perempuan. Dan rumah ini bapak hibahkan untuk kamu, karena meski kamu wanita, kamu harus punya sesuatu. Semua kakakmu sudah mendapat bagian mereka semua.”

Itulah sebabnya saya tidak menangis. Keluarga yang ditinggal bisa melanjutkan hidup mapan tanpa bapak. Bapak sudah bersih dari sisa kejahiliahan. Jadi saya ikhlas ditinggal bapak. Dan saya tak punya alasan untuk menangisi kematiannya. Begitu pun ketika kakak ipar meninggal dan menurut saya semua yang ditinggal bisa melanjutkan hidup mapan. Saya menitikkan air mata ketika do’a terakhir karena mengingat kematian saya dan semua orang, bukan demi yang meninggal.

Saya bukan manusia berhati batu. Ada beberapa kematian tetangga yang membuat saya menangis. Ya, saya menangisi kematian tetangga saya dan duka saya bertahan berhari-hari. Salah satu tetangga sekaligus pegawai amplas saya kehilangan suami secara tiba-tiba. Sang suami terkena setrum listrik dan meninggal seketika. Saya menangis karena tetangga saya ini baru berusia 30 tahun, memiliki satu anak kelas 2 SD dan dia sedang hamil 7 bulan. Dia bukan keluarga kaya dan tinggal di rumah mertua. Bisa membayangkan arti tangis saya? Ya. Saya menangisi dia yang ditinggal mati. Bagaimana nasipnya tanpa suami. Ketika hamil tua dan badan semakin sering ngilu tak ada suami yang menemani. Dan saya yang seharusnya datang menenangkannya malah terus saja berlinang air mata. Telah 1  tahun berlalu dan hati saya masih sedih tiap kali mengingat saat itu. Jujur saja, ada terbersit sebuah syak, inikah yang saya rasa jika ditinggal suami?
Dulu sekali saya pernah berbincang dengan suami tentang kematian. Saya berpesan pada suami agar menyegerakan pemakaman saya dan menyegerakan mencari istri pengganti saya. Pun demikian pesan suami. Siapapun yang masih hidup harus segera bangkit melanjutkan hidup. Karena kematian itu pasti dan sayangnya kita tidak tahu kapan. Meski perbincangan itu di selingi canda, tetapi saya tahu, kami serius. 
Bagaimana pendapat sahabat tentang kematian? Sudahkah sahabat ikhlas dengan kepergian sanak keluarga sahabat? Silahkan share di sini jika sekiranya itu dapat melegakan.

Mungkin karena saya terlalu banyak membaca Kho Ping Hoo?
Share:

12 comments:

  1. sebetulnya menangisi itu bukan menangisi yang meninggal, tapi lebih tepatnya menangisi diri sendiri yang tidak bisa bertemu, memegang, memeluk dan mencium kekasih yang telah meninggal.
    Rasanya mungkin seperti patah hati pada pacar waktu diputusin, tapi bedanya pacar itu masih ada, masih hidup, masih bisa "dilihat". Sedangkan foto atau kenangan dari yang meninggalm hanyalah sebuah ilusi untuk menghibur kita yang ditinggalkan.

    Hampir sebulan mama meninggal, dan aku menangis tidak setiap malam...hanya pada saat aku merasa sepi....(dan PMS) ingin berbicara, tapi mama tidak ada. Karena aku percaya mama sudah di surga.

    Ditinggal mati seseorang itu pasti akan terjadi, entah kita masih kecil, sedang mengandung, atau sudah tuapun. Dan semakin kita tua, makin mengerti bahwa kehilangan itu amat sangat menyakitkan.

    ReplyDelete
  2. kematian memang bisa datang kapan saja
    tp kalau aku masih susah mba gak nangisin yg meninggal hehe mungkin karna cengen akunya :P sulit belajar iklash :(

    ReplyDelete
  3. dulu waktu bapak meninggal, saya mikir kenapa dipanggil begitu cepat...sebelum saya membahagiakannya, tetapi sekarang2 klu dipikir2 kasihan bapak menderita sakit (sekitar 4 tahunan) yang cukup lama...Tuhan pasti tau yang terbaik buat hambanya

    ReplyDelete
  4. Dulu pas kakek meninggal ngga nangis sih karena masih 10 taun kali ya. Nda tau deh kalau nanti ada yang mati lagi T.T

    ReplyDelete
  5. Ketika mamak berpulang, saya termasuk yang kuat. tidak menangis gaya orang Medan. sebetulnya bukan kuat karena apa, tetapi memang selama ini SAKIT, jadi merasa lebih baik daripada hidup dalam keadaan sakit.

    tapi setelah itu, setiap ke makam, saya pasti menangis. apalagi jika rasa rindu mendera.

    klo antara saya dan suami sering juga sih obrolan tentang kematian, tapi ya gitu ... entah siap atau tidak nanti jika waktunya tiba.

    ReplyDelete
  6. sedih pasti ya mbak tapi harus bisa menerima kematian itu. aku gak bisa banyak komen mengenai ini karena orang2 terdekatku masih ada, pernah kehilangan nenek tapi ya bisa menerima

    ReplyDelete
  7. kita harus bisa menerima kematian seseorang, apalagi keluarga dengan lapang dada,
    dan setahu saya menangisi kematian seseorang itu, hanya akan memperberat jalannya roh ke alam baka

    ReplyDelete
  8. Orang2 terdekatku alhamdulillah msi sehat wal afiat. Tapi aku selalu tak yakin apa aku bisa sekuat mbak tanpa menangis, krn kalo menurutku aku cukup cengeng.
    Mudah2an ketika saat itu tiba, aku bisa kuat dan ikhlas..

    ReplyDelete
  9. setuju banget sama komentarnya Mbak Imelda tuh

    ReplyDelete
  10. kematian adalah sesuatu yang pasti, kita ikhlas atau tidak, orang yang kita cintai tak mungkin kembali lagi; maka, alangkah indahnya jika kita mengikhlaskannya, meski tidak mudah dan terasa di seruang dada....

    ReplyDelete
  11. Ketika ada saudara yg meninggal, kita diperbolehkan kok buat bersedih asalkan tidak berlebihan sampai mendzholimi diri sendiri

    ReplyDelete
  12. kematian hanyalah gerbang ke dunia yang lebih kekal,,,

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra