Sedekah Laut dan Festival Kupat Lepet 2012

Usai berpuasa 30 hari lamanya di bulan Ramadhan, tiba waktunya warga jepara merayakan pesta lomban. Di mulai dari hari pertama syawal dan puncaknya di hari ke delapan Syawal. Sudah beberapa tahun ini konsentrasi massa lomban dipecah menjadi 3 tempat, yaitu Pantai Kartini, Pantai Bandengan, dan Pantai Benteng Portugis. Jadi pantai Kartini Jepara sebagai lokasi utama Pesta Lomban tidak terlalu penuh. Pada jaman saya sekolah dan kuliah dulu, paling sebel jika diminta mengantar saudara dari luar Jepara yang pengen lihat pesta lomban. Mirip sekali kegiatan Tawaf di Masjidil Haram. Mungkin lebih parah karena aksi dorong-mendorongnya lebih kenceng. Jika sudah capek, saya akan mengajak para tamu loncat pagar dan melewati tambak Pramuka untuk kembali pulang. Maklum.. saya termasuk cewek tomboy.


Pesta lomban sebenarnya adalah pesta para nelayan Jepara sebagai tanda syukur atas semua hasil hasil laut yang mereka dapatkan. Namun tradisi ini telah menjadi tradisi semua warga Jepara dan lazim disebut Badha Kupat (lebaran ketupat. Badha = Lebaran). Jika di kota lain ketupat disajikan pada tanggal satu syawal, saya sudah membuktikan sendiri pada tanggal 30 Ramadhan kemarin tidak menemukan janur di pasar. Pada tanggal 4 Syawal barulah pasar mulai dipenuhi penjual janur. Semua bersiap untuk Badha Kupat atau Badha Lomban.

Pesta lomban yang berasal dari kata Lelumban (bersenang-senang) atau Lomba-lomba karena pada hari itu ada banyak lomba-lomba untuk para nelayan seperti panjat pinang dan lain-lain. tapi sekarang sudah ditiadakan lomba-lomba lagi. Fokus pesta lomban ada pada Sedekah Laut dan Festival kupat lepet yang juga disebut perang kupatlepet.

Namanya lebaran, tentu saja banyak makanan disajikan. bahkan jauh lebih mewah dan meriah daripada lebaran idul fitri. Setidaknya buat kami warga Bulu dan sekitar pantai kartini. Sedari pagi kami menerima banyak tamu dari desa dan luar kota. Mereka datang membawa kupat lepet. Banyak yang memakai baju baru ala lebaran. Memasak lauk lebih banyak karena menjamu banyak tamu.

Tak seperti tahun 2011 lalu yang hari Sedekah laut dan festival kupat lepet dibedakan harinya, tahun ini dilakukan berbarengan seperti biasa. Sedekah laut diawali dengan para nelayan yang ikut lomban berziarah di makan Ncik Lanang. Untuk masakan ingkung dan sayur uraban bagi warga Bulu selalu dimasak oleh keluarga kami. Dilanjutkan dengan wayang kulit di TPI Ujung Batu dan TPI Bulu pada malam sebelumnya. sayang saya lupa lakon wayang kulit yang dimainkan.

Agenda sedekah laut Jepara dipusatkan di TPI Ujung Batu sesuai sejarahnya. Prosesinya pun tetap dipertahankan sejak tahun 1920. Intinya adalah pelarungan kepala kerbau ke laut. Kebetulan saya ada foto-fotonya yang saya pinjam dari mas Anis.

Sesaji berupa kepala kerbau dan uborampe-nya siap dilarung menggunakan miniatur kapal. Sesaji diletakkan di sisi kiri Geladak kapal utama dan siap dibawa ke tempat prosesi pelarungan dengan diiringi para pemuda tampan dan bidadari cantik. Sesaji siap meninggalkan TPI Ujung Batu diikuti puluhan kapal nelayan lain.

 Para pengunjung yang ingin menyaksikan prosesi berebut mencari kapal kosong. Bersama-sama para nelayan yang ingin ngalap berkah mereka mengikuti kapal utama yang membawa sesaji. Nelayan sekitar percaya, air laut sekitar pelarungan akan membawa banyak berkah jika dimandikan ke kapal mereka.

Sesaji siap dilarung. Semua kapal mendekat.
Lihat miniatur perahu yang dikerubuti warga
Usai pelarungan kepala kerbau, kapal utama akan bertolak ke teluk Jepara, yaitu area Pantai Kartini. Di sini puluhan kapal nelayan telah siap melakukan perang Kupat. Dengan diiringi suara Gamelan KeboGiro. Intinya adalah para nelayan seakan menjadi para perampok yang menyerang kapal utama yang diibaratkan rombongan ratu Jepara. Perang ketupat ini sungguh unik arena amunisinya adalah kupat, lepet, kolang-kaling dan telur busuk. Masing-masing kapal saling menyerang kapal lain sehingga dipenuhi gelak tawa. Usai perang, semua kapal kembali ke Dermaga Pantai Kartini dan menikmati sajian tari Gambyong dan Langen Beken oleh para remaja putri sambil menikmati bekal makanan masing-masing. Usai acara pelarungan kepala kerbau dan perang kupat ini, banyak rombongan yang pulang karena pantai Kartini mulai dipadati pengunjung lain yang mengenal pesta lomban sebagai mengunjungi pantai seharian.


Prosesi Perang Kupat



Kebetulan kemarin saya mengantar keluarga dari demak yang ingin mandi di laut. saya sarankan ke pantai terpencil saja yang lebih nyaman daripada berdesakan dengan pengunjung di pantai Kartini. Sebenarnya di dalam pantai Kartini yang lebih sering disebut mandian (tempat mandi) ada sebuah pantai bersih yang disebut pantai Poncol. Letaknya di ujung barat pantai Kartini. Banyak penderita penyakit kulit, batuk, asma dan penyakit dalam lain yang mempercayai kasiat air laut di kawasan Poncol ini. tapi di waktu Lomban, akan aneh jika mandi di laut. Apalagi salah satu tradisinya harus meninggalkan selembar pakaian di pantai poncol dan berdo'a memohon kesembuhan. (jangan takut... sampah itu akan segera dibersihkan). Ternyata.... semua pantai dikelola masyarakat sekitar dan HTM-nya luar biasa, saudara-saudara. Rp 15.000/motor. Ini murni pungli, sih. #Bete. Bayar 15 ribu hanya tuk pantai di belakang rumah penduduk. Lebih baik masuk ke pantai Kartini saja sekalian. tap macetnya itu lhooo..... masyaAllah. Lihat kendaraan antre sejak di depan rumah saya sudah bete. Apalagi para tetangga akan menyapa, "Mbak Susi Lombanan, ya.... " 

Harusnya kan edisi serius, ya. Kok malah posting curcol? Hehe... Posting serius ada di sini.
Share:

4 comments:

  1. wedew 15rb? klo rame2 yaaa berasa ya mbak
    murah ke k olam renang klo disini, 10rb doang tarifnya :D
    tapi suasananya beda yah sama pantai hehehe

    acara sedekah laut gak pernah liat langsung
    kayaknya mesti atur waktu biar taon depan
    bisa pas ada di Jepara pas pesta laut ini ya mbak :D

    ReplyDelete
  2. Iya, mbak. AKu juga sangat-sangat bete karena pungli ini.

    Beneran ya mbak... ke Jeparanya.

    ReplyDelete
  3. Bareng ya niQue ma bunda, hehehehehe..... Mbak Susi, bunda malah belum pernah lho menyaksikan acara tradisionil yang kek gitu. Keknya asyik ya sensasi nontonnya, pastilah si bunda jeprat-jepret wara-wiri lho....Mudah2an diberi kesehatan prima sampai suatu saat bisa melangkahkan kaki ke Jepara.

    ReplyDelete
  4. huaaa jadi pengen lihat langsung nih Mbak.. pasti seru banget ya Mbak

    maaf lahir bathin ya Mbak :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra