Cara Mencegah dan Menanggulagi Tawuran


Tawuran… tawuran… aih… anak-anak Indonesia banyak yang tawuran. Banyak alasan mengapa tawuran dipilih unuk menyelesaikan masalah oleh para remaja itu. Harga diri yang terlalu tinggi atau sikap mental brutal yang telah mengakar? Yang mana pun, korban telah berjatuhan. Meninggal atau cacat seumur hidup. Atau (hanya) ijin sakit untuk penyembuhan? Sungguh remaja ababil yang butuh banyak dukungan moril dan Imtaq lebih. Bukan hanya si remaja, kedua orang tuanya juga butuh bimbingan. Karena dekadensi moral yang pertama berasal dari merosotnya nilai didik orang tua. Saya sungguh prihatin dengan kondisi orang tua jaman sekarang yang, maaf, terlena dengan perubahan jaman yang serba cepat. Juga pola pikir konsumtif yang diimbangi dengan usaha agar mendapat uang lebih. Juga keprihatinan akan fenomena yang disebut  “kebo nyusu gudel”


Kebo nyusu gudel”, yah, jaman sekarang para orang tua manut dengan keinginan anak. Kalau istilah saya, sih, orang tua sekarang tidak tahu cara membujuk anak agar menurut kehendak orang tua. Jika jaman dulu para gudel nyusu kebo, sekarang sebaliknya. Anak minta A sambil merengek, orang tua langsung menuruti tanpa mengenalkan konsep mandiri, apalagi baik-buruknya permintaan anak tersebut. Saya sudah cukup mengelus dada ketika banyak anak SD kelas mengendarai motor matic di jalanan. Saat ini, di Jepara sedang marak sepatu roda. Oke, tak ada yang salah, kecuali orang tua tidak tahu jika si anak berselancar di jalan raya. Tambah elus dada.


Saya pernah membaca di blog mbak Nique atau mbak Imelda, saya lupa. Di Jakarta ada trend baru, anak terlihat cool jika bisa mentraktir temannya makan sushi di restoran Jepang. Tak jarang si ayah/ibu menemani anak mentraktir Sushi teman-temannya. Wow… supercool…. #Brak! Dan maraknya para K-Poper membuat kebiasaan cantik baru di remaja kita, OPERASI PLASTIK! Dan para orang tua menurutinya? Bodohnya….

Siapa sih si kambing hitam tawuran? Remaja? Orang tua? Masyarakat yang permisif? Teknologi? Instansi pendidikan? Pemerintah? Monggo dipilih-pilih ingkang kerso. Saya lebih suka instropeksi  diri dulu sebelum menyalahkan orang lain. Jadi pilihan saya jatuh pada orang tua. Ya! Sejak di dalam kandungan, orang tua mendapat amanah mengasuh anaknya dengan baik. Ketika anak lahir dan menjadi, tugas orang tua semakin berat. Orang tua seharusnya menjadi pembentuk utama kepribadian anak. Bentuk kepribadian anak dengan kebiasaan baik, teladan yang baik, budi pekerti baik, dan terutama sekali, ketakutan pada Allah yang mendasari sikap takut berbuat dosa. Jika orang tua tak mampu menanamkan 4 karakter di atas, maka kasihan sekali si anak. Karena sesungguhnya ada 4 pengaruh utama kepribadian anak, yaitu orang tua (keluarga), teman, media (buku/televisi/radio/computer/game/gadget lain), dan institusi sekolah. Jika pengaruh baik orang tua tidak dominan, si anak akan mudah dipengaruhi 3 pengaruh lain, yang semoga saja menjadi pengaruh baik. Satu contoh kecil di dekat saya, Trio kwek-kwek nan cantik dan belia berteman akrab sekali sampai mereka mempunyai satu pikiran sama, mendapat suami yang kaya meskipun berstatus menikah. Dan sekarang ini ketiganya menjadi istri simpanan pria hampir kaya dan ketiganya mengalami labrakan sang istri syah dimanapun. Dipasar pun mereka oke saja berjambakan atau bercakar-jotos. Orang tua juga ikut membela anak. Naudzubillah. Itulah dekadensi moral kita saat ini. Semua serba permisif. Apalagi gadget menjadi teman setia dan bisa dibawa kemana-mana tanpa diimbangi pemahaman dan pengendalian diri.

Contoh-contoh saya jauh sekali dari kesan tawuran, ya. Tapi bisa jadi potret buram merosotnya moral remaja kita. Seperti itulah contoh-contoh nyata yang terjadi di masyarakat. Sama nyatanya dengan aksi tawuran remaja. Dan para orang tua lah pengemban amanah utama. Silahkan diingat, bukankah semua perilaku anak kita akan kita pertanggungjawabkan kelak? Ketika orang tua tak mampu mengendalikan sifat dan sikap anak, maka anak akan berkuasa atas dirinya sendiri dan belajar berkuasa atas orang lain. Ketika sakit hati harus dibayar dengan sakit lain, maka si anak akan tega menyakiti yang lain. 

Anak remaja tawuran. Terlihat keren seperti di game interaktif. Kemana-mana membawa senjata tajam untuk melindungi diri atau kelompok. Anak remaja berkumpul dengan cepat dengan bantuan komunikasi. Berkelompok dan saling melindungi. Siapa mereka? Jika dibuat questioner, saya yakin, di atas 70% adalah anak broken home. Ada yang menyalahkan penyamarataan kurikulum sekolah sebagai  penyebab utama. Salah satu penyebab, ya! Tapi bukan utama. Ketidakmampuan instansi pendidikan, hukum maupun pemerintah menghukum pelaku tawuran? Ya! Media yang terus saja menyorot berita tawuran? Ya! Tetapi semua itu hanya faktor pendukung . Faktor utamnya tetap berasal dari pribadi remaja itu sendiri. Bagaimana cara mengatasinya? Saya mempunyai tips bagi para orang tua untuk mencegah dan menanggulagi tawuran

1. Membentuk anak menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa.
Beriman dan bertaqwa akan lebih lengkap jika disertai aktif di organisasi semacam IRMA. Ikatan Remaja Masjid ini bisa menjadi salah satu “mata” yang mengawasi tindak-tanduk anak. Anak tentu akan merasa lebih malu berbuat maksiat. Kegiatan semacam ini juga bagus bagi anak untuk berorganisasi dan bermusyawarah. 

2. Mengajarkan pada anak sikap saling menghargai
Ketika kita menghargai hak anak, maka kita mengajarkan pada mereka sikap tepo sliro dan toleransi. Sikap ini membantu anak menahan diri dari amarah penyebab tawuran. Kebiasaan baik ini juga membuat anak merasa pendapat mereka didengarkan.


3. Memahami dunia remaja.
Tak mudah memahami dunia remaja masa kini, yang pastinya berbeda sekali dengan dunia remaja masa lalu. Masa sekarang tuntutan anak jauh lebih besar sehingga orang tua juga harus lebih awas. Tarik ulur seperti bermain laying-layang bisa menjadi strategi jitu para orang tua. Biarkan anak bebas berekspresi namun terus pantau dan ambil kendali. Belokkan sesuai angin perubahan sekitar anak. Anak remaja sesungguhnya sedang dalam proses mencari jati diri.

4. Berikan lingkungan keluarga yang harmonis
Lingkungan keluarga yang sehat dan harmonis akan membantu anak mengendalikan emosi. Para orang tua jangan sampai bertengkar di depan anak, apalagi meminta dukungan anak jika bertengkar dengan pasangan. Jadilah teladan anak yang baik dengan bersikap tenang meski anak tantrum atau marah pada pasangan. Anak yang nyaman di rumah akan bersosialisasi dengan sehat di luar, penuh percaya diri dan berprestasi.

4 tips di atas semoga bisa menjadi pembentuk utama kepribadian anak yang tenang sehingga tidak terprovokasi tawuran. 

Pendidikan dalam keluarga sangat penting sebagai landasan dasar yang membentuk karakter anak sejak awal. Peran orang tua tidak hanya sebatas menanamkan norma-norma kehidupan sejak dini. Mereka harus terus berperan aktif, terutama pada saat anak-anak menginjak usia remaja, di mana anak-anak ini mulai mencari jati diri.



Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran
Share:

15 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. uraiannya lengkap banget mbak susindra

    saya juga setuju kalau yang harus lebih diingatkan adalah para orang tua yang memang mendapat amanah untuk mengasuh anak mereka dengan baik

    sukses ngontesnya mbak

    ReplyDelete
  3. Sangat setuju mengenai poin keluarga. Pentingnya teladan bagi anak2 dari orang tua mereka. Jadi teringat puisi Taufik Ismail yang berbunyi: "Guru kencing berdiri//Murid mengencingi guru!"

    Bila orang tua tidak hati2 berperilaku, maka jangan heran bila anak2 menunjukkan tingkah laku yang jauh lebih buruk sebagai cerminan orang tua...

    Semoga menang di kontes Pakdhe..Salam :)

    ReplyDelete
  4. Pakde Cholik: Terima kasih sudah terdaftar.
    Mas IMam & Belalang cerewet: Terima kasih ya... semoga sukses juga.

    ReplyDelete
  5. Peran keluarga memang penting untuk membentuk probadi yang mandiri ...
    Semoga sukses ngontesnya ...

    ReplyDelete
  6. detik-detik terakhir ya mbak ikutannya. jadi orang tua harus cari cara untuk merayu anak ya

    ReplyDelete
  7. wah miris liat banyaknya dampak negatif akibat terjadinya tawuran ini apalagi sampai kehilangan nyawa. Semoga tawuran bisa berhenti.

    oh ya,
    saya ngadain kontes menulis berhadiah kecil2an nih, infonya bisa dilihat diblog saya.
    Ditunggu partisipasinya ya. :)

    thanks
    Jun_P.M
    carameninggikanbadancepatalami.blogspot.com

    ReplyDelete
  8. wah semoga menang ya.. tawuran emang udah kayak trade mark nih di negara ini.

    ReplyDelete
  9. menegakan sanksi/hukuman.....itu mungkin sebagai jawaban tentang bagaimana meminimalkan tawuran antar pelajar/mahasister.....siswa..selain jalan tengah yaitu upaya persuasif lebih diutamakan....tetapi tetap penegakan hukum sebagai backup.

    ReplyDelete
  10. Mbak susi....maaf baru mampir dimari lagi...nggak bisa full bw mbak...maklum cangkulan yang tambah banyak tiap hari...
    sip mbak setuju banget...samaan sama saya tos...dimulai dari keluarga..orangtua harus aware, sukses kontesnya yah mbak :)

    ReplyDelete
  11. Just wanted to say you have a great site and thanks for posting!…

    ReplyDelete
  12. Rata-rata tawuran tuh hanya karena masalah sepele aja yaa....

    ReplyDelete
  13. mba Susi... kunjungan perdana aku ini, kemaren pulang khujanan ngga? *lo kok ga nyambung sama tema postingan ya hihihi

    ReplyDelete
  14. awalnya hny saling ejek, berujung pada lempar2an, miris

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra