Misteri Di Balik Layar Blogcamp Budhoyo

Foto pinjam abdulcholik.com

Arjuna dengan luwes meninggalkan palagan sambil tersenyum. Para niyaga mengalunkan gending sampak dan layar diturunkan. Tepuk tangan penonton Wayang Wong Blogcamp Budhoyo cetar membahana. Inspektur Suzanna yang duduk di bangsal penonton ikut tersenyum bangga menyaksikan Rikmo Sadhepo memerankan sri bintang dengan ciamik malam ini. Sudah 5 tahun ia tak bertemu sahabat masa kecilnya ini. Grup Blogcamp Budhoyo turne ke beberapa kota di Jawa Tengah dan baru kembali seminggu yang lalu. Malam ini ia sengaja menonton lakon perang kembang dan bermaksud memberi kejutan. 
Tiba-tiba terdengar suara jeritan bersahut-sahutan dari balik layar yang tertutup.



Dengan sigap Inspektur Suzanna melewati beberapa penonton dan berlari menuju panggung. Ia menyibakkan kelir yang menutup antara anak wayang di belakang panggung dan para penonton. Mudhoiso yang malam ini memerankan tokoh Cakil terkapar dengan wajah biru. 5 anak wayang berbusana punokawan mengelilingi Mudhoiso dan beberapa anak wayang lain berbisik-bisik cemas di sekitar tempat kejadian perkara. Rikmo sang sri bintang merapat di dekat kelir sambil terisak. Wajahnya yang dipupur tebal tetap terlihat pucat ketakutan.Di belakangnya, tangan Priyo sang dalang-pengarah laku mencengkram erat bahu Rikmo.
Mata jeli Inspektur  Suzanna menyisir TKP sambil mengambil handphone. Tanpa melihat layar, tangannya lincah memencet tombol buka dan nomor panggil cepat

****
Suara gamelan terdengar lirih mengiringi beberapa penari di panggung. Sampur mereka anggun mengikuti gerak tangan. Mereka berpakaian bebas karena bukan pertunjukan. Sejak meninggalnya Mudhoiso 2 hari lalu, pegelaran Blogcamp Budhoyo dihentikan sementara. Seluruh anak wayang maupun penari ektra telah gelisah menanti kapan kepastian mereka diperbolehkan manggung. Manggung bukan hanya tentang dahaga karya yang terpenuhi, tetapi juga bertambahnya pundi-pundi mereka yang sangat jarang terisi. 
foto pinjam mbahbrta.wordpres.com
Inspektur Suzanna berdiri sejenak mengamati mereka semua di bangsal penonton sebelum menemukan senyum sendu Rikmo Sadhepo. Sahabat karibnya ini terancam pidana jka tak ada bukti baru dan tersangka baru. Menurut hasil otopsi, Mudhoiso meninggal ditempat karena racun arsenik di keris yang melukai lehernya. Dengan sendirinya, polisi menduga adanya pembunuhan berencana. 
Inspektur Suzanna sekali lagi menyapu panggung sebelum berjalan mendekat. Di kelir paling belakang, sebuah wajah yang kemarin menarik perhatiannya mengintip dengan gelisah. Insting Inspektur Suzanna membuatnya mengamati si pemilik wajah dengan lebih seksama. Setelah menyapa dan berbicara seperlunya inspektur Suzanna mendekati kelir terbelakang. 
Kelir berwarna dominan hijau ini terlihat lusuh. Namun masih lebih lusuh remaja bertampang bodoh yang ia dekati. Giginya terlalu maju dan wajah kotornya membuat pemuda ini nampak lebih aneh. Keterbelakangan mental, pikir inspektur Suzanna. 
“Siapa namamu?” tanyanya
Mata si remaja nampak semakin liar karena ketakutan. 
“Jangan takut. Aku hanya ingin tanya siapa namamu.” Ulangnya sekali lagi.
“Tarno.” Jawab si remaja dengan terbata.
“Apa yang kamu tahu tentang pembunuhan kemarin, Tarno?” 
Tarno semakin ketakutan. Matanya nyalang memandang Priyo yang sedang menonton sambil merokok di bangku bangsal terdepan. Tak lama kemudian Tarno berlari ke dalam. Inspektur Suzanna kembali ke barisan penari yang belum juga mulai menari kembali sejak disapa. Semua menunggu. Rikmo mendekat dengan luwes.
“Tarno mengalami gangguan mental. Belum lama ini ia bergabung menjadi anak wayang.” Kata Rikmo.
“Berapa lama?”
“Sejak turne di Semarang bulan lalu. Dia sering membantu-bantu mengangkat ini itu sehingga kami semua menganggapnya anggota. Ketika kami kembali ke Surabaya, dia meminta ikut. Keluarganya tak perduli dia bersama kami atau tidak.”
“Dimana dia tinggal?”
“Dia ikut di pakde Tikno, salah satu niyaga kami.”
“Bisa antar aku ke sana?” pinta inspektur Suzanna.
“Tentu. Mengapa kamu tertarik padanya?”
“Aku tertarik pada semua orang di sini. Tolong jadi guide-ku dan tunjukkan semua ruangan di sini. Juga kamar-kamar semua penghuni dan nama mereka.”
“Baiklah.” Kata Rikmo sambil melangkah di depan inspektur Suzanna. “Ikuti aku. Kita mulai dari yang terdekat.”
****
Seminggu kemudian di ruang kantor Inspektur Suzanna. Briptu Bagus memandang takzim atasannya yang berkali-kali membaca ulang berita acara pemeriksaan seakan mencari satu kata yang kurang. Dahi inspektur cantik itu nampak berkerut.
“Kunti Istri sang dalang sudah mengakui sebagai tersangka pembunuhan.” Kata inspektur Suzanna tiba-tiba, lebih pada dirinya sendiri daripada berbicara dengan briptu Bagus. Pun begitu, briptu Bagus menegakkan bahu dan siaga menjawab pertanyaan atasannya. 
“Motif utamanya adalah persaingan dua Sri Bintang Panggung. Kunti memanfaatkan perselingkuhan Mudhoiso dan Rikmo. Ia membuat seakan pertengkaran mereka berdua yang membuat Mudhoiso nekad merencanakan pembunuhan Rikmo Sadhepo. Sayang ia sendiri yang terbunuh malam itu. seluruh fokus terarah pada Rikmo yang mengakui perselingkuhannya dengan Mudhoiso." Gunam inspektur Suzanna.
"Terbunuhnya Rikmo akan membuat posisi sri panggung akan dikuasai sendiri oleh Kunti. Rupanya menjadi Sri panggung sekaligus istri dalang masih kurang baginya.” Tambah Briptu Bagus. “Manusia. Tak pernah puas.” Kata Briptu Bagus kalem. 
“Ya. Manusia.” Kata Inspektur Suzanna. 
foto pinjam
riyadiwp.wordpress.com
Sepi kembali.
"Bagaimana inspektur bisa mengarahkan penyidikan ke sana?" Tanya Briptu Bagus.
"Awalnya aku tertarik kepada Tarno. Ketertarikanku ini mengarahkan pada pasutri yang tinggal di sebelah kamar Tarno dan Tikno. Anak seperti Tarno ini biasanya selalu disuruh-suruh karena tak mengerti. Lebih dahulu dari itu, adalah cara Priyo sang Dalang pada saat kejadian perkara. Awalnya kupikir Priyolah pelakunya, sampai kemudian penyelidikan lebih mengarah ke istrinya."
"Dan Priyo tidak terlibat. Aneh." kata Briptu Bagus.
"Priyo terbukti tidak tahu dan tidak bersalah. Rupanya sang istri juga pintar mengarahkan laku seperti suaminya."
“Rikmo sudah keluar dari tahanan dan sebentar lagi kemari.” Kata Briptu Bagus. 
“Yah. Syukurlah ia tak bersalah. Grup wayang wong Blogcamp Budhoyo bisa tancep kayon jika kehilangan sri panggung terbaiknya.” 
Tancep kayon?” Tanya Briptu Bagus tak mengerti.
“Ya, tancep kayon. Saatnya gunungan wayang ditancapkan dalang sebagai tanda pertunjukan wayang sudah selesai.” Kata Inspektur Suzana. 
Pikiran Inspektur Suzanna terbang ke masa remajanya ketika masih sering menjadi penari ekstra atau penari pembuka bersama Rikmo. Geger misteri di balik layar telah usai. 


*****
Cerita Misteri ini dibuat khusus untuk meneruskan cerita serta memeriahkan kontes Misteri Di Balik Layar 


Spesial note bagi yang kesulitan mengerti beberapa istilah wayang:

palagan: peristiwa perang
niyaga: pemain gamelan
gending: musik yang dimainkan dari gamelan
gending sampak: gending yang mengiringi perkelahian
turne: pentas di luar kota
sri bintang: bintang panggung utama
lakon: judul
perang kembang: perang kstaria dan cakil. lebih umum.
kelir: background wayang
anak wayang: semua anggota grup wayang
punokawan: 4 tokoh yang selalu menemani ksatrria. Semar dan 3 anaknya; Gareng, Petruk, Bagong.
dipupur: dibedaki.
sampur: selendang penari
penari ekstra: penari pembuka sebelum pertunjukan wayang. Tidak selalu anggota wayang resmi.
bangsal penonton: tempat duduk penonton.
tancep kayon: gunungan wayang ditancapkan dalang sebagai tanda pertunjukan wayang sudah selesai.

Share:

16 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Akan dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. yg keterbelakangan mental td bantu apa ya mb susi? :D
    ujuk2 istrinya dalang ngaku jd pembunuh, tp keren... sukses buat GA nya

    ReplyDelete
  3. Tarno tahu pembunuhnya. dia tinggal di bersama Tikno yg kamarnya sebelah dalang priyo. jika diturut seperti cerber, aka panjang. ini saja sudahlebih dari 800 kata. inti dari crita suspend, pembaca harus mnebak.

    ReplyDelete
  4. Ide yang cemerlang, Mbak. Semoga berhasil ya ... ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. bang aswi: ide megalir bersama tangan yang mengetik. alhamdulillah.
      mbak lidya: analisis data dan baca buku, mbak. aku kan perfeksionis.

      Delete
  5. mbak susi memahami banget ya istilah2 pewayangan. aku blank nih mbak gak tau mau nulis apa di kontes pakde kali ini

    ReplyDelete
  6. Bagus mbak Susi... makin rame nih pagelarannya Pakdhe.. Semoga sukse ya mbak... Oya, trims juga spesial note nya..pasti sangat membantu teman2.. :)

    ReplyDelete
  7. widih lengkap banget mbak, kayaknya seperti biasanya bakal jadi salah satu pemenangnya di kontes ini

    ReplyDelete
  8. Harus fokus dan cermat untuk menangkap 'pesan' dalam cerita misteri ini. Amat menarik, hidup, dan kita ikut terbawa alurnya. Salam cemerlang.

    ReplyDelete
  9. @ Mechta: spesial note memag sengaja kubuat agar mudah memahami.
    Cahya: semoga ya.
    mas Herdoni: membaca cerita suspend apalagi versi mini yg terkendala jumlah kata memang harus jeli. semoga cukup mudah dipahami.

    ReplyDelete
  10. aq berpikir..
    yg nulis ini seperti dalang saja...
    luas wawasan wayangnya,,padahal udh jarang yg mengerti,apalagi anak muda...

    ReplyDelete
  11. ketika menjadi penulis, kita bisa menjadi apa saja asal mau belajar dan memahami cerita yang dibuat.

    ReplyDelete
  12. bener tuh kata bu guru,,gue males bca ceritanya , baca comennya ajalah,,hehe

    salam sahabat.

    ReplyDelete
  13. pinter bgt bikin ceritanya mbak.....

    ReplyDelete
  14. GAnya Pak Dhe, Aku nggak ikut. :D
    Susah soalnya mbak. :D

    ReplyDelete
  15. saya pikir juga juga Priyo je....
    eee ladalah ternyata....

    bagus banget ceritanya
    semoga berjaya neh.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra