Cinta dan Pengorbanan Sang Patriot: Sebuah Review Novel Perjuangan

Saya termasuk 30 Blogger beruntung yang mendapatkan novel Sang Patriot:Sebuah Epos Perjuangan secara gratis dari Giveaway jeng Prit yang bertajuk Syukuran Di Bulan Maret: Mengenang Sang Patriot di Kehidupan Kami. Tak menyangka tulisan sederhana saya tentang sosok 2 guru SD beda generasi satu visi menarik minat sang Juri. Tulisan akan perjuangan guru-guru desa dalam membentuk karakter siswanya itu adalah tulisan dan ucapan terima kasih yang tulus dari saya. Pak Bambang yang merupakan guru SD (dan guru terbaik sepanjang masa bagi saya) dan Pak Zaim yang merupakan guru SD sulung saya Destin yang mungkin juga merupakan guru terbaiknya. Kita tak pernah tahu, tapi satu yang saya tahu, para guru ini mengisi ruang kosong yang bisa jadi terlewat oleh orang tua. Para guru ini membuat proses belajar di sekolah menjadi kegiatan yang selalu ditunggu setiap pagi.
Novel Sang Patriot - Sudah ada di Gramedia dan toko buku terkemuka (foto dari Jeng Prit)

Pada hari novel Sang Patriot datang, saya langsung membaca endorsement-nya. Dari situlah saya langsung menyadari bahwa buku tebal yang saya pegang ini adalah novel perjuangan. Menarik sekali. Sudah lama saya tidak membaca novel perjuangan. Api rindu menyecap bangku kuliah kembali menyala. Jika saya masih kuliah, saya akan menetapkan target "membaca semua buku di perpustakaan dan membaca minimal 1 buku perhari." Saya gagal mengingat kapan terakhir membaca novel perjuangan yang menjadi salah satu genre buku kesukaan saya. Jangan menganggap saya aneh, karena jika diijinkan, saya sangat ingin menjadi tentara dan berada di front depan. Jiwa nasionalis saya terus menyala sehingga saya salah satu orang yang sangat tersinggung ketika ada yang mengatakan "Dasar orang Indonesia" untuk mencemooh. Beberapa kali saya tak segan menceramahi status teman facebook yang mencemooh negaranya.

Singkat cerita, saya langsung asyik membacanya. Saya menghabiskan buku ini dalam waktu satu hari. Tak mudah bagi saya berhenti membaca kecuali suara suami yang mengingatkan waktunya beribadah dan makan. Atau suara protes anak-anak yang ingin dilayani ini dan itu. Suami saya paham bahwa jika saya sudah membaca, saya akan sulit berhenti kecuali buku tersebut tamat. Maka ia pun tak mengeluarkan keluhan kecuali (mungkin) geleng-geleng kepala karena saya larut membaca novel Sang Patriot
Irma Devita sang penulis. Foto dari mbak Irma

Novel Sang Patriot mempunyai gaya bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami. Saya tak perlu berkerut kening dan cepat hafal dengan detail sejarah dan istilah yang diceritakan. Bukan tipe novel sastra mendayu-dayu. Profesi mbak Irma Devita (sang penulis) yang menjadi praktisi hukum membuatnya faham teks-teks sejarah dan bagaimana mengatakannya dengan bahasa awam. Iya, bahasa awam. Kita yang tak paham hukum dan dekrit-dekrit yang dikeluarkan pada jaman itu tak perlu membaca kamus untuk memahaminya. Banyak informasi-informasi menarik tentang kejadian di masa lampau bisa didapat di sini. Saya bisa membayangkan bagaimana lamanya proses pembuatan novel ini karena mbak Irma melakukan riset mendalam sebelum membuatnya menjadi novel. Ia mencari dokumen di sana-sini, wawancara dengan pelaku sejarah yang masih hidup. Luar biasa. Dengan data yang ada mbak Irma bisa menulis novel dengan setting waktu yang runtut dan disertai infomasi apa yang terjadi kala itu. Ada tahun bahkan bulan sebagai subjudul bab. 
Setting tempat dan waktu buku runtut sehingga mudah dibaca (dokpri)

Gaya penulisan novel yang deskriptif juga memberi informasi kejadian yang melatarbelakangi cerita. Apa saja kejadian waktu itu, bagaimana sikap pejuang dan atau penjajah kala itu. Inilah yang membuat novel ini menarik. Kita tanpa sadar mengikuti peristiwa demi peristiwa bersejarah tanpa menolak kuasa informasi yang dijejalkan pada kita. Tanpa sadar dan dengan mudah kita mengetahui kebijakan pendidikan dan politik di jaman penjajahan. "Luar biasa, Mbak Irma." Saya sangat menantikan karya novel perjuangan yang lain dan semoga semakin banyak novelis yang "menguri-uri" sejarah bangsanya. Saya benar-benar berharap akan ada lagi novel perjuangan sehingga pembaca tak selalu dijejali cerita imaginasi. Agar kami kembali mengingat para pahlawan dengan titik air mata terima kasih. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang perjuangan pahlawannya.


Tokoh utama novel Sang Patriot adalah Letkol Muhammad Sroedji dan istri tercintanya Rukmini. Sroedji digambarkan sebagai pejuang gagah yang tak gentar melawan penjajah Indonesia yang terus berganti wajah. Betapa situasi mengerikan tak henti-hentinya menimpa pejuang yang tertangkap tak meluruhkan semangat perjuangannya melawan Belanda, lalu berganti menjadi Jepang dan digantikan NICA. Kematian adalah bonus karena derita mereka melebihi apapun di dunia. Satu persatu para pejuang mati syahid. Betapa jahatnya para pengkhianat bangsa yang selalu mengkhianati perjuangan bangsanya demi kehidupan lebih baik yang semu. Para pejuang seperti letkol Sroedji dan istrinya selalu memfokuskan perjuangan pada "membaiknya nasip anak cucu mereka". Tidakkah kita merasa malu jika tak meneruskan perjuangan mereka dan memilih berfoya-foya? Saya tidak malu ketika terharu dan menangis membayangkan betapa pengorbanan mereka bukan hanya lahir batin. Lebih dari itu. Lebih.. dan lebih.... Bahkan ketika menulis ini pun saya tetap menitikkan air mata karena rasa haru, bangga dan terima kasih tak terhingga. 

Letkol Sroedji bersama istri dan anak pertamanya
(foto pinjam dari mas RZ Hakim) 
Penulis juga tak lupa sosok pejuang di balik layar yang membuat para pejuang tak pernah patah semangat. Sosok sang Istri bernama Rukmini juga menjadi pusat cerita. Bagaimana sudut pandang pemikiran wanita hebat ini. Rukmini adalah wanita mulia berhatio baja. Ia rela melepas cita-citanya menjadi ahli hukum wanita (master in de Rechten) kedua. Demi patuh pada orang tua ia menjadi istri dari seorang pemuda yang kelak menjadi Letkol Sroedji. Kecerdasan dan kekerasan hatinya mantap melepas kenyamanan hidup bersama suami meski membahayakan diri dan keluarganya. Indonesia merdeka adalah harga mati. Betapa besar arti cinta suami istri ini, yang rela mengorbankan semua demi kedaulatan NKRI. Tanpa sadar saya telah menjadi Rukmini, yang akan merelakan perjuangan suaminya dan bahkan membantu dengan kecerdasan dan analisa kuatnya. Sroedji dan Rukmini... semoga kalian dipertemukan di syurga dan mengulir kisah bahagia di sana. Aamiin. 


Tertarik dengan novel Sang Patriot? Segeralah mendatangi toko buku terkemuka atau Gramedia online karena buku ini telah beredar luas. Harapan saya selain akan munculnya novel perjuangan lain adalah semoga novel ini terus mengalami cetak ulang agar semakin banyak warga Indonesia yang membelinya. Saya harap semua sekolah dan perpustakaan di Indonesia mempunyai buku ini, karena kita butuh kembali mengingat semua pahlawan kita.
Sudah ada di Gramedia Online
Judul Buku : Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis : Irma Devita
Penerbit : Inti Dinamika Publishers
Penyunting : Agus Hadiyono
Tahun Terbit : Cetakan I, Februari 2014
Tebal : 268 halaman
ISBN : 978-602-14969-0-9
Distribusi : Gramedia Distribusi, Jakarta
Dicetak oleh : PT. Gramedia, Jakarta
Harga : IDR 65000,-

Tanpa para pejuang ini, saya ini siapa? Siapa kamu? Siapa kita? Membaca buku Sang Patriot akan membuat kita mengenal siapa yang memberikan kemerdekaan dan hidup enak pada kita.Menurut saya, novel ini highly recommended.
http://letkolmochsroedji.org

‘Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot‘
Share:

20 comments:

  1. review yang sungguh memikat....selamat berlomba,,semoga menjadi yang terbaik,,,
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas.
      Selamat berkontes ria juga. :)

      Delete
  2. Mbak susi, wuiiihhh... pakai foto saya (waktu masih agak muda) segala euy.. Jadi malu.. he.he.he.he.. :P terima kasih banyak ya mbak atas reviewnya yang keren.. :) Ayo mbak, menulis juga tentang pejuang2 yang ada di kota mbak susi. Supaya semakin banyak generasi muda yang menyadari betapa sulitnya meraih dan mempertahankan kemerdekaan yang sekarang kita nikmati bersama ini. Sukses buat mbak susi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Irma, terima kasih tanggapan review ini dan ajakannya membuat novel perjuangan. Andai saya mampu, sudah ada penerbit yang menawarkan kesempatan itu dan menunggu karya saya. Di Jepara juga ada 3 wanita hebat yang berjuang melawan penjajah sejak jaman Portugis. Karena di Jepara banyak wanita perkasa yang terkenal di dunia sejarah. hihi....

      Delete
  3. wah mau dong, jadi penasaran sama novelnya, kalau dilihat memang jarang banget yang berkisah tentang perjuangan begini... kapan-kapan coba cen di rak-rak toko buku :#

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan hanya cek, beli ya. Langsung baca dan tukis review-nya.

      Delete
  4. aku kagum sama sosok Rukmini, istri yang madiri, dan luaarrr biasa :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Selalu ada wanita biasa dibalik pria istimewa

      Delete
  5. Ulasannya runtut da enak dibaca walau intronya agak kepanjangan
    Semoga berjaya dalam lomba
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. iya pakde. Kalo postingnya pas nyinyir, curcolnya kebablasan, hehe.
      Makasih pakde. ;)

      Delete
  6. Sukses mak Susi...reviewnya okee....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mak Ida. :)
      Masih belajar mereview, nih.

      Delete
  7. Aku baru sekali ini membaca novel perjuangan.., dan aku langsung suka karena penulisnya piawai mengolah data dan fakta sejarah ke dalam bentuk novel shg lebih menarik utk dibaca daripada buku pelajaran sejarah hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku suka sekali mbak. Ada 1 buku perjuangan yg waktu SMP belum kukembalikan gara2 nyelip. Judulnya "Aku Penerus Juangmu". Sudah kuganti uang loh mbak.... jadi statusnya bukan barang curian. #Ngeles.
      Masih kubaca dan masih setia di almari buku. Tak pernah masuk daftar buku yg dihibahkan/diloakkan. Eman2. Kuharap bisa mengajarkan anakku suka membaca buku genre perjuangan. Agar mereka malu kalo manja & merengek. ;)

      Delete
  8. mami..reviewnya jos deh mii....

    yang paling bkin giman aitu perjuangan rukmini ketika hamil dan disuruh buat pindah...setia ya mi sama Sroedji..

    sukses ya mii :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. :p
      Kamu belum pernah melahirkan loh ya... hehe.
      Memang begitulah jaman susah dulu, cah ayu. sakit dan payah adalah ujian nyata.

      Delete
  9. sukses untuk lombanya mbak susi...reviewnya juga

    ReplyDelete
  10. Mbak Susi, terima kasih ya Mbak atas partisipasinya :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra