Pijakan Pertama: Melacak Aktivitas Suka dan Bisa

Saya seorang ibu yang senang belajar. Saya ingin menjadi ibu yang menjalani peran sebagai ibu dengan bahagia. 10 tahun pertama pernikahan, saya senang membeli tabloid bertema parenting. Saya juga senang mengeprint tulisan situs kredibel sebagai bahan belajar. Akhirnya saya mengenal Ibu Profesional pada tahun 2015 dan mulai belajar dengan bimbingan dan bersama-sama teman. Saat ini saya sudah sampai di kelas Bunda Cekatan, dan pada pelajaran pertama adalah menemukan diri sendiri: apa yang kami suka dan bisa.



Proses Menemukan Diri Sendiri

Belajar di Ibu Profesional sangat menyenangkan bagi saya. Saya punya ribuan teman belajar di seluruh Indonesia, dan beberapa WNI yang luar negeri juga bisa belajar bersama. Kelasnya lebih banyak secara online. Pelajaran secara offline dapat dilakukan karena hampir tiap kota sudah ada anggotanya. Di Jepara, misalnya, saat ini kami sudah berusia 7 tahun, dan kami punya agenda pertemuan untuk belajar bersama.  Kekuatan Ibu Profesional adalah kegiatan offline.

Kelas Ibu profesional mengajarkan kami untuk menemukan diri sendiri dan mencintai peran kami. Saat ini ada 3 kelas yang sedang berlangsung, yaitu kelas foundation atau dasar, berisi tentang pengenalan dasar Ibu Profesional New Chapter. Kelas ini diikuti oleh 8.797 anggota, dan masih berlangsung. Kelas kedua adalah kelas Bunda Sayang, yang berisi 12 materi untuk menjadi guru belajar anak yang terstruktur. Jumlahnya saya kurang tahu karena saya sudah lulus. Kelas ini dilakukan di WaG (WhatsApp Group), setiap batch menerima 2500 peserta belajar, dan tiap tahun membuka 2 batch. Kelas ketiga adalah kelas Bunda Cekatan, yang dapat diikuti setelah lulus kelas Bunda Sayang.



Jika teman-teman ingin gabung, mudah, kok, tunggu pengumuman penerimaan ‘siswa’ Ibu Profesional sekitar 6 bulan lagi. Siswa baru akan digodog dengan kurikulum yang akan membuat semua lulusannya mengenal dan menerima dirinya sendiri, bagaimanapun kondisinya. Yang paling membuat baper adalah saat menemukan dan mengalahkan innerchild atau trauma pengasuhan orangtua yang berpotensi membuat kita stagnan di satu kondisi, atau lainnya. Ini sangat penting sebagai pijakan untuk belajar selesai dengan dirinya sendiri. 

Melacak Aktivitas Suka dan Tidak Suka

Materi perdana kami adalah melacak aktivitas suka dan tidak suka yang dilakukan setiap hari atau saat tertentu, sebagai pribadi, anak, ibu, dan istri. Kami diminta menuliskan aktivitas harian, dan ternyata banyaaaaak sekali. Pantas saja, saya berasa seperti mengejar ekor sendiri. Saat saya menulis kegiatan saya dalam  sehari, .... setiap hari saya punya di atas 30 aktivitas yang harus saya lakukan, entah saya suka atau tidak suka. Aktivitas ini, beberapa membuat saya menguasai sesuatu, kadang hanya saya lakukan tanpa arti. Yah... karena tidak suka tapi harus dilakukan, mau bagaimana lagi.

Mau bikin kurikulum belajar ibu?



Ternyata, selama ini saya melakukan apa yang disarankan Bu Septi, guru, mentor, sekaligus profesor kami di Kampus Ibu Profesional. Saya memanjangkan pekerjaan yang saya suka, dan saya lakukan pada saat 7 to 7. Artinya dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam. Aktivitas tersebut adalah memasak, membaca sejarah, menulis, ngeblog, membuat konten foto/video, meng-update kabar terbaru, dan belajar ilmu baru, termasuk ilmu parenting. Karena saya suka, saya tak keberatan melakukannya di antara tugas mengasuh bayi, merawat ibu, memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, dan selalu siap dengan panggilan mimik ASI-nya Gi.

Pekerjaan rumah tangga yang tak saya sukai, saya k erjakan pada aktivitas pagi pertama dan di atas jam 7 malam. Misalnya; memastikan anak belajar, mencuci pecah belah, mencuci baju, dan mengepel. Saya melakukan aktivitas menyetrika (yang saya sukai dan bisa) pada malam hari agar tenang saat melakukannya. Kadang kebablasan sampai tengah malam. Kebiasaan ini agak merugikan saya, sebenarnya, karena stamina dan produksi ASI bisa terganggu jika kurang tidur. Saya beberapa kali menggantinya dengan tidur dan bangun lebih awal. 

4 Kuadran Eisenhower Matrix

Untuk memudahkan menyortir bakat dan minat, kami diajarkan tentang 4 kuadran bisa dan suka. Aslinya dari penting dan mendesak dari Eisenhower Matrix yang disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut situs Binus University, Eisenhower Matrix adalah bagan yang dapat digunakan untuk membantu mengolah waktu dan pekerjaan yang kita lakukan. Eisenhower adalah presiden AMerika ke-34 bernama lengkap Dwight D. Eisenhower. Beliau menjadi presiden pada tanggal 20 Januari 1953 – 20 Januari 1961. Salah satu pernyataan yang masih dipegang adalah “What is important is seldom urgent and what is urgent is seldom important” (Apa yang penting biasanya tidak mendadak dan apa yang mendadak biasanya tidak penting). 

Dari situlah muncul Eisenhower Matrix dengan 4 kuadrannya, yaitu:
Penting dan Mendesak, Do
Penting dan tidak mendesak, Plan
Tidak penting dan Mendesak, Delegate
Tidak Penting dan Tidak Mendesak, Enliminate.


Pelajaran ini sudah kami terima pada masa Matrikulasi Ibu Profesional, dengan maksud untuk menggali bakat dan minat, jadi, kami akan lebih fokus melakukan apa yang kami suka dan bisa agar menguasainya (jika perlu bisa dijadikan sumber rezeki baru) dan belajar hal yang kami suka tapi tak bisa, sepanjang kami bisa mengelola jam belajar kami agar efektif. Demikian juga dengan pekerjaan yang kami tak suka tapi bisa, perlu dilakukan dengan cepat.

Adapun pekerjaan yang kami  tak suka dan tak bisa, lebih baik tidak dilakukan saja. 

4 kuadran suka dan bisa prioritas ala Susindra

Sebagaimana saya tulis sebelumnya, bahwa di pelajaran Bunda Cekatan pertama ini kami diminta menulis aktivitas harian lalu membaginya dalam 4 kuadran prioritas. Namanya Lacak Kekuatanmu! Perintahnya spesifik:

Lacak Kekuatanmu!Kamu itu spesial, selama ini menjadi biasa saja karena mengerjakan kegiatan secara rutin. Tuliskan aktivitasmu sebagai ibu, istri, dan perempuan dalam matriks daun ini.
Mungkin tertarik membaca Menjadi ibu bekerja yang bahagia.

Kami hanya diminta menulis tak lebih dari 5 aktivitas. Dan ternyata, cukup mudah lho, kalau mau mengisi lebih dari 5. Yaa... karena aktivitas kita dalam sehari itu banyaaaak sekali. 

Berikut jawaban saya.



Aktivitas yang saya bisa dan suka:
* Menulis
* Ngeblog
* Memasak
* Membaca artikel Sejarah 
* Menyetrika

Aktivitas yang tak bisa dan suka

* Membuat konten video
* Membuat foto profesional
* Menjadi guru belajar
* Membuat menu
* Mengasuh anak

Aktivitas yang saya bisa dan tak suka (saya sering mendelegasikan pada anggota keluarga lain atau saya lakukan malam hari)
* Mencuci piring 
* Mencuci baju
* Membersihkan rumah 
* Menjadi duta/perwakilan di suatu pertemuan
* Membuat prakarya 

Aktivitas yang saya tidak bisa dan tidak saya suka
* Mengatur keuangan keluarga
* Olahraga (kecuali jogging)
* Mengajari matematika *
*  Berdagang dan riset *
*  Menjadi MC *

Mencari Telur Hijau untuk ditetaskan

Namanya unik, yaitu kelas telur. Di sini kami belajar menemukan telur-telur yang hendak kami tetaskan. Caranya tentu saja dengan belajar mengenal diri sendiri (who am I) dan mengidentifikasikan kekuatan diri sendiri. Kekuatan (telur) yang akan ditetaskan bebas dipilih sendiri oleh setiap peserta belajar. Prinsipnya MERDEKA BELAJAR. Kami disebt mahasiswi, dianggap paling tahu yang kami mau dan mampu, juga paling butuh. Tiap orang bisa beda, dan pasti beda. Maka salah satu tahapan belajar lainnya selain I Love to Learn juga Learn how to Learn. Sebenarnya, ini sudah kami pelajari di kelas Matrikulasi. Di kelas ini lebih dikuatkan karena kami akan punya waktu 6 bulan untuk mengasah telur yang kami maui itu agar menjadi ulat yang sehat, sehingga kelak menjadi kepompong, lalu kupu-kupu. Jadi, kebutuhan lapar dan nutrisi setiap mahasiswi akan berbeda satu sama lainnya. 

Bacaan bagus: Literasi digital

Dan... tanpa berpanjang kata lagi, inilah 5 telur yang saya pilih.
3 telur yang saya suka dan bisa
1. Ngeblog
2. Memasak
3. Menulis sejarah
2 telur dari aktivitas yang saya suka dan tidak (belum) bisa (bagus melakukannya):
1. Content creator (video dan foto)
2. Mengasuh anak

Ngeblog dan menulis sejarah sudah menjadi bagian dari hidup saya, yang rasanya sudah seperti akar kuat yang akan sakit jika dicabut. Akar-akarnya sudah terlalu dalam menancak, dengan banyak karya yang saya lakukan dengan sepenuh hati. Saya hanya perlu mengembangkannya lebih banyak lagi agar menjadi masternya. Bagaimana dengan memasak? Memasak juga adalah apa yang sangat saya sukai, dan saya giat belajar saat melakukannya. Oh, ya, 2 dari 3 aktivitas ini, saya sudah menarik pundi rezeki, yaitu ngeblog dan menulis sejarah. Untuk memasak, sebenarnya saya ingin menjadikannya sebagai usaha, karena banyak yang suka, hanya saja, ada bayi ganteng yang saya tak tega mengurangi haknya lebih banyak lagi.

2 aktivitas yang berada di ranah suka dan tidak bisa saya pilih sebagai telur yang akan saya tetaskan. Alasannya karena saya dan keluarga sangat membutuhkannya. Saya ingin belajar menjadi content creator yang andal, tak hanya tulisan, tapi juga foto dan video. Makanya saya selalu senang jika ada 2 kelas ini, dan saya pernah belajar secara luring sebanyak 2 kali dan luring sebanyak 1 kali. Masih perlu lebih banyak lagi dengan mentor yang dapat dihubungi kapan saja.


Ilmu mengasuh anak juga perlu saya update terus, agar saya bisa menjadi ibu yang bahagia menjalani perannya. Saya mengaku suka dan tidak bisa bukan berarti benar-benar tidak bisa, tapi separuh bisa. Masih berproses dalam menjalani dan menguasainya. Penting bagi saya agar bisa menjadi ibu bahagia, karena kebahagiaan saya akan menular pada seluruh anggota keluarga. Mereka akan menjadi manusia yang bahagia. 

Begitulah pemahaman saya akan kuliah perdana di Ibu Profesional pada kelas Bunda Cekatan. Mungkin beda dengan yang lainnya. Hal ini sangat mungkin terjadi karena konsep merdeka belajar yang diterapkan. Setiap kurikulum dapat diolah menjadi kurikulum yang gue banget. 

Bagaimana? Cukup menarik, kah, ulasan saya tentang melacak aktivitas suka dan tidak suka saya? Jangan-jangan kamu sudah ketiduran... atau malah asyik pegang catatan karena saking menariknya? Kalau tertidur di pojokan, sepertinya tidak, ya.... Jangan seperti saya yang kadang masuk kelas lalu tertidur di pojokan karena kelelahan. Untung kelas online itu bebas didatangi kapan saja dan saat di mana saja. Beberapa materi kelas online (Matrikulasi dan Bunda Sayang) Ibu Profesional masih sering baca ulang agar lebih paham. Ternyata selalu ada hal baru yang dapat saya pahami setiap kali selesai membaca ulang. Serasa memiliki Kurikulum Kehidupan!!!

Post a Comment

33 Comments

  1. Wah, membaca cerita unik dari ibu Profesional, saya sampai harus ber pikir ulang mengenai telur2 hijau yang sibuk bertengger, butuh analisa juga sepertinya.

    ReplyDelete
  2. Menarik sekali, Mbak Susi.. iya ya kalau mau dicatat, aktivitas kita tuh banyak banget dari bangun tidur sampai bangun tidur lagi. Tapi ya itu, hanya ada beberapa yang benar-benar kita bisa dan kita suka. Ah, seperti belajar matematika ya ini. Hehe.
    Keren IIP. Saya ingin ikut. Kabar-kabar dong Mbak jika ada pendaftaran anggota baru :)

    ReplyDelete
  3. Ibu juga bisa menikmati perannya dalam kesibukannya mengurus rumah tangga. Ada hal hal yang menyenangkan dapat dikerjakan baik sebagai hobi maupun tugas harian. Melacak potensi diri artinya akan lebih mudah memaksimalkan diri, mantep ilmunya kak

    ReplyDelete
  4. Aku uda beres ikut kelas matrikulasi dan Bunsay. Lalu mau naik kelas ke Buncek, belum ada kelasnya, hihii~
    Jadi mager belajarnya...padahal mah...rajin-rajin review dengan baca tulisan kak Susi, enak bangeett niih...

    ReplyDelete
  5. Baca ini aku tiba2 jg ingin praktik. Mau mendeteksi apa yangkusuka dan kubisa. Kere ya Mbak kelasnya. Sesuai namanya, ibu profesional.

    ReplyDelete
  6. Salah satu kelegaan mendasar dalam hidup manusia menurut saya ketika ia menemukan dirinya sendiri.Apa yang menjadi minat, bakat, dan potensinya sebagai individu.

    ReplyDelete
  7. Seperti kuis ntuk pribadi kita yah mba. Mau coba dong tapi masih harus memahami maksudnya hhe buat sekarang lakuin yg bisa aja trus hha

    ReplyDelete
  8. Melacak Aktivitas Suka dan Tidak Suka memang sangat gampang jika kita bisa intropeksi disi, mana yg suka dan tidak suka...
    Klw sy suka dan bisa yaitu Ngblog, karna dengan ngblog saya bisa mengetahui informasi-informasi dari blogger mengenai teknologi terbaru maupun insiprasi lainnya.

    ReplyDelete
  9. Baca sampai dua kali, langsung mencatat apa saja yang saya suka dan tidak suka.. langsung akan saya praktekkan biar lebih terarah potensi apa yang saya lebih sukai

    ReplyDelete
  10. Aku coba praktekan bikin analisa seperti di artikel ini. Hasilnya, kelemahanku (bisa tetapi tidak suka) aku) adalah aku gak ada passion sama sekali di dapur, memasak, cuci piring dll.

    Dulu pernah punya solusi, mencari ART yg pinter masak yg membantuku mengurusi urusan perut anggota keluarga. Tetapi setelah ART resign, susah mencari penggantinya. Rata-rata hanya ingin mencuci, menyetrika saja. Sedangkan itu adalah hal yg aku bisa dan suka.

    Kadang kelelahan dan jadi tidak produktif untuk menulis atau melakukan hal2 yg bisa dan suka.

    Giliran ketemu solusinya, susah nyari orangnya. Hehehe..

    ReplyDelete
  11. Artikel mbaknya sangat mengubah pandangan saya tentang sebuah pola asuh thdp anak

    ReplyDelete
  12. Menarik sekali ulasannya, dan saya jadi tertarik untuk mendaftar. Masih 6 bulan lagi ya dibuka pendaftarannya. Jadi bertepatan dengan tahun ajaran baru ala anak sekolah ya mbak

    ReplyDelete
  13. Memiliki siatu komunitas dalam hal positif,pasti menjadi motivasi kita.
    Agar terpacu agar menjadi pribadi yang lebih kreatif.
    Apalagi saya baca ' Proses menemukan diri sendiri dan mencintai peran kami'
    Tentu luar biasa hebatnya dapat bergabung ke komunitas yang banyak mengajarkan hal-hal yang dapat membentuk karakter kita jadi lebih kuat

    ReplyDelete
  14. Ngomong ngomong soal suka dan tidak suka, banyak pasangan yang seringkali memaksakan suatu hal yang ia tidak suka namun karena pasangannya suka jadi ikut2 suka, padahal dia sendiri merasa tersiksa.

    ReplyDelete
  15. Okeehh Fix.

    Saya sepertinya musti bikin kuadran suka dan bisa versi saya, kemudian akan kuminta istri dan anakku buat ikutan juga ah.

    Thanks ya mbak Susi. :)

    ReplyDelete
  16. Saya suka ngikuti IG-nya Institut Ibu Profesional, banyak ngasih insight dan nambah ilmu buat menyiapkan diri jadi ibu, walaupun belum pernah ikut kelasnya. Next time pengen gabung di kelas ibu profesional.

    ReplyDelete
  17. Ah informatif banget tulisannya Bun, makasih sudah sharing di sini ya.
    Jujur saya baru tahu tentang Eisenhower Matrix unutuk memudahkan menyortir hal-hal yang kita suka. Saya sendiri merasa banyak banget hal yang saya suka akhirnya berujung nggak fokus dan kalaupun berhasil dalam waktu yang cukup lama karena kurang konsisten. huhuhu. Semoga saya bisa terapkan juga tips di atas. Skali lagi makasih mba ^^

    ReplyDelete
  18. Bergabung dalam komunitas yang memberikan energi positif memang bikin kita terus berbenah dan jadi lebih baik. Jadi ingin coba deteksi aktivitas suka dan bisa.

    ReplyDelete
  19. Pelajarannya keren banget mbak. Kalau mbak bilang menyusun apa yang suka dan tidak suka mudah. Tapi sepertinya sulit untuk saya. Mjngkin karena belum belajar mengenali diri sendiri kali ya ��

    ReplyDelete
  20. Tertarik sama matriksnya Do, Plan, Delegate.dan Delete... jadi terkonsep mana yang harus dilakukan segera, tahap perencanaan... bahkan tahap tidak perlu dilakukan

    ReplyDelete
  21. saya harus mencari tahu dulu nih mana aktivitas bisa dan kurang bisa. dengan begitu jg bs lebih kenali kemampuan diri. dan bs lebih bahagia mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga

    ReplyDelete
  22. Mengerjakan pekerjaan yg disukai tidak membuat terbebani, namun kalo mengerjakan pekerjaan yg tidak disukai serasa terbebani. Tp meski begitu, kalau telaten mengerjakan nya bisa jadi manfaat

    ReplyDelete
  23. Kelas ibu profesional ternyata dibagi jadi 3 kelas ya, yang mana di setiap kelas sudah ada ribuan anggota.

    ReplyDelete
  24. hi mba susi, aku sudah ikut blog nya yaa semoga bisa ikuti balik hehe

    ah inget banget sama tugas matrix yang dari Ibu Profesional ini, kebetulan aku pernah aktif banget di Ibu Profesional sewaktu masih single malah (di Bandung) dan skrg udah menikah stay di Tangerang malah masih belum menemukan titik keaktifan di Ibu Profesional lagi, semoga soon bisa aktif lagi :)

    ReplyDelete
  25. Aku pernah daftar iip di kotaku mba Susi, sayangnya aku gak pernah ikut kopdar, dulunya dipingit suami, wkwkwk
    nanti mau coba gabung lagi Ah, materi nya bagus2

    ReplyDelete
  26. Artikelnya bagus banget. Bisa diterapkan. Kalau aku paling tidak suka itu pekerjaan di rumah dapat dan segala tetek bengeknya, dan playing suka membaca. Aihh, masih bingung memetakannya.

    ReplyDelete
  27. Sudah kenyang pengalaman hidup, rasanya memang perlu 'disuntik' dengan pembelajaran seperti ini. Sebab untuk mengetahui skala prioritas saja, memang perlu petimbangan pakar dan ilmunya. Artikel yang bermanfaat, mbak. Terima kasih.

    ReplyDelete
  28. Aktivitas kita tuh banyak banget dari bangun tidur sampai bangun tidur lagi. Tangan hanya dua, hanya ada beberapa yang benar-benar kita bisa dan kita suka.

    ReplyDelete
  29. Ternyata oh ternyataaa Mba Susi ini jebolan Ibu Profesional. Masya Allah. Saya senang sekali dengan Ibu Septi Peni, foundernya. Dulu sewaktu masih jadi ibu bekerja, sering dibanding2kan dengan ibu rumah tangga, saya suka quote Ibu Septi.

    Beliau bilang, "Semua ibu adalah ibu bekerja, hanya beda ranah saja. Yang satu memilih bekerja di ranah publik, sementara satunya memilih bekerja di ranah domestik. Keduanya sama-sama membanggakan, sama-sama bisa produktif, dan sama-sama harus menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh."

    Saya sangat termotivasi oleh beliau. Informasi tentang kelas dasar yg baru dan sebagainya bisa dicari tahu di mana mba? Jadi tertarik saya jika memang kelasnya ada yg via whatsapp. Hehehe. Makasih mba.

    ReplyDelete
  30. Terkadang saya merasa belum menemukan diri yang sebenarnya. Entah mungkin tidak fokus alias terlalu menyukai banyak hal. Setidaknya ini jadi referensi

    ReplyDelete
  31. Widih keren ini cocok banget buat referensi calon istri saya karena siapa tau istri saya seorang penulis kece dan keren seperti mba susi

    ReplyDelete
  32. Setelah saya mencoba melakukan pelacakan aktivitas suka dan tidak suka, ternyata banyak yang saya suka, tapi tersandung 1 hal : mager. repot deh..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)