Punya anak itu, punya sejuta cerita.  Ada saja yang bisa dibahas. Ada saja yang bisa diceritakan. Banyak juga yang dikeluhkan. Dikeluhkan? Oh No! jangan! Kita mungkin bersitegang dengan nenek karena beliau sangat memanjakan anak kita. Ini fenomena sedunia, yang perlu diatasi dan disiasati. Caranya adalah dengan KOMPROMI. 




Nenek, biasanya 2-3x lebih sedih saat kita menghukum anak. Beliau juga memberi jajan 2-3x lebih banyak. Jadi, sayang dan sedihnya melebihi kita. Sekilas demikian. Padahal bukan. Ini hanya masalah usia, perubahan hormon, dan perubahan mindset saja. Ah ya, juga kesenggangan, sehingga senang mencari kegiatan.

Tak sedikit anak/menantu yang merasa seperti dimusuhi oleh nenek anaknya. Entah itu ibu kandung atau ibu mertua. Konflik rumah tangga terjadi karena kedua belah pihak berselisih paham. 

Perbedaan pandangan bukanlah satu-satunya masalah. 


Perbedaan pandangan memang sangat kentara. Misalnya, saat sang cucu terjatuh, sang nenek bisa reflek membentak ibu dari cucunya. Ini adalah reflek, meski tak ada kata maaf, tapi ada rasa sesal mendalam setelahnya. Memang sangat disayangkan, budaya meminta maaf masih jarang dilakukan para orangtua.

Jikalau diamati benar, akan tampak bahwa CINTA yang membuat sang nenek melakukannya. 

Perubahan mindset orang tua, tentang hidup dan uang, apalagi jika sudah tidak memiliki tanggungan anak sekolah atau belum menikah.

Ibu kita, atau orangtua kita, sama seperti halnya para orang-orang tua di dunia ini. Saat telah tua, biasanya ingin hidup lebih santai dan ingin menikmatinya. 

Sebagian besar dari beliau-beliau ini, juga sudah mapan secara finansial. Apa yang menghalangi untuk membeli 3 es krim bagi cucu yang disayangi? Tak ada. Kecuali, ada perjanjian sebelumnya dengan anak dan menantu tentang batas pemberian. KOMUNIKASI memang KUNCI. 

Bukan hal yang aneh, memang, jika kita ingin menikmati hidup setelah semua anak mentas alias sudah menikah. Perasaan nyaman ini kadang melenakan. Tak heran jika kadang tampak tidak memperhatikan perasaan anak/menantu. Beliau ingin dipahami. Sudahkan kita memahami? 

Rasa bersalah karena ada masa-masa tidak bisa memberikan yang terbaik pada anaknya.

Dalam kondisi mapan, sang nenek (atau kakek) sangat memanjakan cucunya. Ini biasanya dipicu dari RASA BERSALAH karena tak bisa memberikan yang terbaik bagi anaknya. Maka, ia memberikan pada anak dari anaknya.

Saya belum punya cucu, tapi saya sering dihantui rasa bersalah saat melihat anak sedemikian lahap memakan makanan lezat berbahan khusus yang jarang saya siapkan. Atau saat tidak bisa mengajak anak wisata ke dekat-dekat saja karena tak ada waktu atau uang. Rasanya nyesek sekali. Saya sempat berpikir, akankah saya juga kelak akan memanjakan cucu saya, dengan rasa bersalah ini?

Rasa sakit membuat nenek/kakek tak sabar mendengar rengekan/tangisan cucunya.

Saat tubuh semakin renta, nenek memang cenderung mengambil jalan pintas. Misalnya anak (bayi) menangis, lalu nenek memberi makanan yang sedang beliau makan. Kadang juga terus menggendong cucu tanpa seizin ibunya. 

Kesabaran orang tua memang sudah semakin pendek, tentang hal-hal praktis (menurut beliau) seperti cara membuat anak diam dan menurut. Inginnya yang praktis dan cepat. Makin cepat makin baik.

Menjadi tua, berarti berkurangnya banyak hal, misalnya penurunan daya ingat, badan kaku dan sakit, pengeroposan tulang yang sangat mengganggu, dan masih banyak lagi.

Anak adalah anak, sampai kapan pun akan tetap dianggap anak yang perlu dididik

Saya agak kelu saat sampai di sini, karena saya merasakan kasih sayang ibu adalah belenggu. Beliau terlalu khawatir sehingga sering ingin ikut campur. Beliau sering lupa bahwa saya sudah berkepala empat, bukan lagi anak berusia 20an tahun yang masih pendek akal. Bagi beliau, saya masih saja salah dalam mengasuh cucunya. Kurang telaten, kurang cekatan, kurang bijak, malas menggendong, ... ah, rasanya jika dibuat daftar akan panjang. Bisa membuat saya merasa ingin menangis. 

Saya sadar bahwa itu sebuah rasa sayang. Beliau iliterate sehingga tak memahami tentang sayang yang benar tidak mengikat dan tidak mendikte. Sayang adalah membebaskan. Bagi beliau yang telah sepuh, sayang adalah menggenggam erat dan enggan melepaskan. 



Maka... dengan mudah ibu melabeli saya sebagai ibu yang tidak mampu, meski beliau juga sudah tidak mampu. Saya setengah percaya bahwa ini berasal dari perasaan kesal beliau karena selalu di kursi roda. Bagaimana jika tidak di kursi roda? Yah, ... contoh terbaik adalah emak saya di Demak dan ibu mertua yang akan terus mengingatkan bagaimana beliau memperlakukan semua anaknya, termasuk anak yang saat ini menjadi suami saya. Beliau akan bercerita bagaimana beliau tak pernah menghukum suami saya, bagaimanapun nakalnya. Saya tersenyum, tapi tak berani mengatakan, “Ibu, saya tidak menghukum, saya mengajarkan disiplin dan cara menyelesaikan kesalahan yang diperbuat cucu panjenengan.”

Saya memang lebih memilih mendengarkan saja.

Bagaimana solusinya?

Saya paham, tinggal bersama orangtua tidaklah mudah. Disaat harga diri rasanya masih belum tinggi, masih pula mendengar saran yang kita terima sebagai kecaman. Saya pernah merasakannya. Semakin lama saya rasa dan cecap, semakin saya paham bahwa itu bukanlah sebuah cerca atau cela. Itu adalah saran yang diutarakan dengan spontan atau buru-buru. Saran karena sayang.

Solusi paling pas agar tidak terjadi seteru adalah, KOMUNIKASI. 


Komunikasi tampak klise. Tapi bagi saya tidak. Komunikasi tetaplah kunci. Kita perlu mempelajari teknik berkomunikasi dengan orangtua. Ingatlah poin-poin di atas untuk menempatkan beliau di atas kita. Sampai kapan pun kita tak bisa sejajar dengan beliau. Bolehlah, kita menggunakan pola pengasuhan anak yang sejajar dan demokratis. Pola ini tidak dikenal oleh bapak ibu kita yang saat itu masih zaman susah, sehingga masih menggunakan pola asuh otoriter. Otoritas orangtua masih di atas segalanya sehingga percaya bahwa menentang orangtua adalah dosa. 

Bayangkan bagaimana kekhawatiran orangtua yang merasa bahwa anaknya melakukan dosa karena menentang beliau, dan mengajarkan cucunya melakukan hal yang sama?

Maka, beliau akan sering istighfar atau mencereweti kita.

Pola komunikasi dengan kakek dan nenek tidaklah sulit jika tahu kuncinya. Kuncinya adalah SIAPA anaknya. Jika berbicara dengan orangtua kita, maka kitalah yang harus melakukannya. Jika orangtua pasangan kita, dialah yang ketiban sampur mengajak berbicara.

Setelah menyadari bahwa kakek/nenek melakukan semua yang tidak kita kehendaki karena cinta, maka tugas kita adalah menjadikan CINTA itu sebagai pemantik.

“Nek, cucu tersayangmu biasanya batuk jika makan es krim dan sudah dilarang dokter. Jangan beri lagi, ya. Nenek sayang pada X (nama anak), kan?”

Bagaimana jika PASANGAN tak bersedia dan menugaskan kita yang memberitahu ibu dan bapaknya? 




Saya akan menambahkan suami dalam kalimat di atas.

“Nek, cucu tersayangmu, anaknya Mas Y, biasanya batuk jika makan es krim dan sudah dilarang dokter. Jangan beri lagi, ya. Nenek sayang pada X (nama anak), kan?”

Dobel cinta yang disebut, biasanya berhasil. 

Yang ketiga adalah tegaskan bahwa CUCUNYA tidak keberatan dengan peraturan yang kita buat, bahkan menyukainya, dan memang membutuhkannya. Contohnya adalah...

“Bu, cucumu DnB harus bisa menyapu dan pekerjaan lain agar lebih mandiri dan percaya diri. Jika kelak mereka sekolah jauh, mereka sudah siap dan mandiri seperti Mas Indra (nama suami) dulu.”

Berhasil!


Solusi yang keempat adalah, PAHAMI kondisi beliau, dan maafkan jika masih melakukannya. Mengubah sesuatu tidak mudah, apalagi mengubah mindset beliau yang memang tidak sama dengan kita.

Yang terpenting adalah hindari konflik dengan beliau-beliau ini. Demi kita. Demi keberkahan rumah tangga kita. Dan, imbasnya adalah pada diri kita sendiri yang menjadi lebih sehat secara psikologis. 

Bagaimana? Masih bersitengang dengan nenek karena sangat memanjakan anak kita dan butuh solusi? Coba praktikkan yang di atas, ya.