Siapa yang sedang menantikan drama terbarunya Ju Jingyi berjudul Blooms at Ruyi Pavilion atau Ruyi Fang Fei? Wah, ini sih drama yang paling ditunggu sepanjang 2020 ini. Ya maklum saja karena ada si mantan personel SNH48 itu. Bagi yang sedang menanti, ini saya buatkan review dan sinopsis lengkapnya.

Sinopsis dan review drama Cina  dracin blooms at ruyi pavilyun atau Ruyi Fang Fei
Sinopsis dan review drama Cina Blooms at Ruyi Pavilion ala Susindra

Saat poster drama Cina Blooms at Ruyi Pavilion atau 如意芳霏, banyak yang matanya berbinar. Kemistri Ju Jingyi dan Zhang Zhehan pernah menghipnotis para penggemar. Mereka berdua sudah seperti sebuah janji kalau drama akan digarap bagus. 

Saat menonton ini, awalnya saya agak bingung. Apa maksudnya karena si dua tokoh utama mengalami kejadian dan ternyata mimpi. Ternyata memang, inti kisah ini adalah keduanya punya semacam ikatan dalam bentuk mimpi. Ju Jingyi sebagai Fu Rong bermimpi mendapat banyak kesulitan karena menikah dengan Duke Su, sementara Duke Su sendiri bermimpi mengalami kecelakaan yang mengambil jiwanya. Yang satu mimpi romantisme gadis remaja, yang satunya mimpi seorang pejuang perang. Sederhana, kelihatannya, tapi bukan drama Cina kalau tidak dikembangkan secara megah dan kolosal.


Sinopsis Blooms at Ruyi Pavilion

Fu Rong adalah anak seorang menteri kerajaan yang berhubungan dengan bahan berjenis besi-besian. Mungkin menteri pertambangan atau semacamnya. Sayangnya tak dibahas secara mendalam. Mereka hanya konsern dengan sebuah bangunan ibadat lawas yang tiba-tiba tersambar petir dan terbakar. Keluarga Fu, kita bisa menyebutnya demikian.

Fu Rong punya saudara perempuan yang sangat cantik jelita dan sangat terdidik bernama Fu Xuan. Sosok yang sempurna tiada tara. Beda jauhlah dengan Fu Rong yang gegabah, tomboi kelas akut dan sering mengandalkan otot. Tapi kalau kecantikan, memang Fu Rong yang menang. Hanya saja, di masa lampau, siapa coba yang mau punya menantu gadis pecicilan?

Nah, Fu Rong mendadak punya kemampuan melihat masa depan melalui mimpi sejak dirinya jatuh dari pohon. Mimpinya seram, dia menikah dan mengalami perundungan di sana. Dia jelas tidak mau mengalami hal itu. Menurut kepercayaan, dia harus mencuri celana orang yang tidak mau dinikahi dan membakarnya. Untuk memutus rantai jodoh.

Kemistri Ju Jingyi dan Zhang Zhehan dalam dracin blooms at ruyi pavilyun
Kemistri Ju Jingyi dan Zhang Zhehan

Duke Su, atau Xu Jin, adalah Pangeran Su yang harus menjadi sosok pelindung kerajaan. Dia dikirim ke medan perang sejak kecil. Menurut yang kita ketahui nanti, karena dia ceroboh saat menjaga lilin dan di saat itu permaisuri yang sakit meninggal pada saat yang sama. Jadi seakan dihubungkan gitu, sehingga dia dikirim ke medan perang untuk menyelamatkannya dari keusilan netijen zaman lampau berupa gerombolan menteri oposisi. 

Saya agak kurang paham di sini, menyelamatkan putranya dari gerombolan menteri serigala ke medan perang, yang notabene malah jauh lebih kejam dan menakutkan.

Wes pokoke intinya gitu.

Dua tokoh kita ini saling berusaha menjauh tapi malah ketemu terus. Fu Rong yang ingin mencuri celana Pangeran eh Duke Su dikira mata-mata pembunuh. Hubungan mereka akhirnya cair saat Fu Rong berusaha mencari bukti bahwa calon Iparnya, Qi Ce adalah orang jahat. Meski saat melakukannya ia harus melukai sahabat perempuan satu-satunya Qi Zu. Qi Zu ini adalah adiknya Qi Ce. Keduanya anak mantan orang kaya yang secara keuangan sering dibantu oleh keluarga Fu.

Qi Ce ini lho, sudah dibaiki, lamarannya diterima, kok malah mengambil pekerjaan sampingan sebagai otak percobaan pembunuhan anak raja. Qi Zhu juga nyebelin, sudah dibaiki, malah jadi salah satu musuh utama sebagai syarat menjadi Putri QingPing. Yaaa... gara-gara kematian ibu dan masnya itu, dia dendam tiada tara pada sahabatnya Fu Rong.

Byuh! Saya baru menceritakan berapa tokoh kok sudah sepanjang ini. Hahahaha.

Masih ada pemilik Pavilyun Ruyi  yang misterius, bernama Liu Ru Yi. Fu Rong dan Fu Xuan adalah murid di pavilyun yang berkedok sebagai penjual perhiasan itu. Saya agak curiga sedari awal, dari cara melihatnya yang seperti anjing penyelidik. Apalagi saat ia tiba-tiba dipenjara karena mengirimkan perhiasan bertema burung peoni. Pada keterangan awal dari pelayannya, “Nyonya sudah lama tidak membiarkan ornamen peoni itu.” 

Nah, lho... kenapa kah? Dasar saya penyuka Detektif Poirot. Saya mencium sesuatu yang mencurigakan dan itu benar. Apakah? Tonton sendiri aja. Yang jelas super seru, sih. 

Ada beberapa tokoh utama yang seru juga, lho. Masih ada Pangeran An (Xu Ping), adik raja alias Pamannya Duke Su. Dia pria paling ganteng di kerajaan dan paling berbudi karena karya seninya yang level dewa. Ibaratnya, bersendawa saja semua kagum. Wkwkwk. Perfect prince, yang super cuek, dingin dan penyendiri, tapi kalah kalau disandingkan dengan Nong Nong. You know lah, tentunya si Fu Rong. Nama kecilnya gitu.

Beruntung amat si Fu Rong, dua calon raja mengejar dia, dan dia berusaha agar jangan sampai menikah dengan pangeran karena sudah pasti hanya akan jadi selir. Dia tak mau dipoligami, lebih tidak mau lagi jadi selir yang bisa dimarahi oleh istri lain dari suaminya. 

Duke An menyimpan dendam membara karena mengira keponakannya membunuh ibunya. Makanya dia jadi tokoh antagonis di sini. Ganteng-ganteng antagonis....

Masih ada tokoh imut lagi, yang dipanggil Litle Marquis. Namanya Wu Bai Qi. Dia anak bangsawan terpandang yang ingin jadi jenderal tapi juga buka toko perhiasan. Apa tidak bertentangan, coba. Nah, si bapaknya ini termasuk antagonis yang mempermainkan hidup para pemeran utama kita. Biasa... karena harta dan tahta.

Masih ada banyak pemain pendukung, yang menjalin cerita dengan kerumitan khas drama Cina.....



Review Blooms at Ruyi Pavilyun

Kalau tidak suka menonton drama dengan cerita rumit, memang sebaiknya jangan menonton drama Cina. Eposidenya panjang. Kali ini hanya 40 episode. Termasuk standar. Biasanya sih 50, 52, 56, 58. Beda dengan Drakor yang hanya 16 episode. 

Tapi kalau saya pribadi sih, drama cina selalu menawarkan latar cerita yang indah, sinematografi yang memanjakan mata, dan tata busana yang sangat menarik. Saya selalu suka dengan gaya rumah di drama kolosal Cina karena sarat dengan cerita sejarah. 

Beberapa bisa jadi bahan imajinasi saya dalam menginterpretasi arsitektur bangunan pada masa lampau. Yah, mau tidak mau sejarah Indonesia berselingkuh dengan sejarah Cina. Di semua kota pesisir pasti ada pecinan. Dan pecinan itu sudah ada bahkan sejak sebelum kota tersebut disebut kota. Jauh sebelum ada bangunan kabupaten, biasanya. Sebagian besar bangunan bersejarah di Indonesia juga diarsitekturi oleh orang-orang Cina yang pada masa itu menyebar ke seluruh dunia karena negaranya diambil alih bangsa mancu. Beberapa dari mereka memang bekerja, lebih banyak lagi yang menjadi budak.

Beda lagi dengan pedagang Cina yang menetap di Nusantara sejak berabad lampau sebelumnya, mereka memang berdagang dan menetap di sekitar dermaga kuno. 

Yang suka meneliti sejarah kota atau sejarah lokal akan melihat tentang keberadaan kaum etnis Cina di kotanya sebagai bagian dari pembentuk sejarah kota. Yang nggak sih akan selalu saja bertahan dengan politik devide et impera-nya VOC yang membuat kita bermusuhan dengan orang Cina. Lha, sebagian dari mereka memang mengerjakan dirty job-nya para penguasa sejak masa kerajaan sampai masa penjajahan, yaitu sebagai penarik pajak. Tugas ini diberikan pada bupati sejak masa Tanam Paksa, meski sebagian saja. Hayo siapa yang suka sinau sejarah?

Drama Blooms at Ruyi Paviliun juga menawarkan bangunan rumah nan indah. Rumah yang berupa kumpulan bangunan dengan arsitektur megah dan taman yang indah. Beberapa taman sangat istimewa sehingga si pemain tampak seperti dewi. 

Bicara tata busana? Lebih istimewa lagi. Biasanya memang sesuai dengan pemahaman mereka akan trend busana pada zaman yang dipilih sebagai latar cerita. Kalau suka menonton dracin akan paham maksud saya. 

Memang tidak tematik seperti drakor, tapi dracin juga punya kekhasan, misalnya saat harus menyelesaikan tantangan membuat perhiasan untuk selir raja. Beberapa episode akan menceritakan detail pengerjaan.

Makanan juga hampir selalu jadi alat untuk mencairkan suasana, dan Cina lawas punya masakan yang unik-unik. Drama tahun 2008, berjudul Scarlet Heart, selain bertema kehidupan masa dinasti Qing juga menceritakan tentang kehidupan seorang pembuat teh bagi raja. Drama ini mengilhami banyak orang tentang bunga-bungaan yang bisa dijadikan cha alias teh bunga

Drama yang bagus ini menceritakan kisah cinta pangeran XVIII dinasti Mancuria dengan seorang gadis dari masa depan. Si gadis jatuh hati padanya meski tahu si pangeran kelak akan mati karena perebutan kekuasaan. Demi membantunya, dia jadi gadis pembuat teh, yang pastinya hampir selalu di samping raja. Namun lama-lama dia jatuh cinta parah pada pangeran IV yang ia tahu dari sejarah, akan jadi kaisar paling cemerlang di masanya. Dia berusaha menjauh karena takut dan merasa mencurangi nasib. 

Ada drama lain yang menjadi kebalikan kisah cinta ini, judulnya Dreaming Back to Qing Yun, diceritakan tentang lawan Pangeran VIII, yaitu Pangeran XIII yang jatuh cinta pada perempuan dari masa depan, yang bekerja sebagai arsitek. Si perempuan cerdas ini seperti seharusnya, terjebak pada perebutan tahta, bahkan dicintai oleh si Pangeran IV yang akan jadi kaisar. Tema minornya tentang arsitektur. Begitulah. Selalu ada hal yang bisa dipelajari. 

Dan saya belum pernah menulis review dan sinopsinya di blog mana pun....

Kalau mau yang agak berat ya teror psikologis yang dihadapi oleh para keturunan raja/kaisar. Mereka akan dirawat dengan semua yang terbaik sampai akhirnya diadu untuk menjadi yang terbaik dengan hadiah kekuasaan absolut. Yang kalah kalau tidak mengasingkan diri, diasingkan, atau dibunuh. Ya nggak eksplisit, gitu, tapi dari pemahaman akan sejarahnya. Saya memang suka mengawinkan sejarah dengan drama kolosal Cina. Eh terbalik. Mengawinkan drama kolosal dengan sejarah.

Drama Cina The Blooms at Ruyi Pavilion tayang mulai 21 Oktober 2020 lalu. Saya menontonnya di Kanal YouTube resmi iQiyi. Rencananya sih habis bulan ini. Sebagai penonton gratisan, kudu sabar ya. Meski di aplikasi resmi para pemilik akun VIP sudah nonton episode ke-18, di versi gratisnya baru 8 episode. Kalau mau nonton di aplikasi, tayangnya hari Rabu, Kamis dan Jumat. Lamanya menonton hanya 45 menit saja. Lumayan pendek, lah ya. 

Oh iya, drama iQiyi dengan genre sejarah, romansa dan misteri ini punya subtopik yang bikin penasaran, yaitu perempuan berkuasa, perempuan kaya, bangsawan yang sombong tapi dipuja para wanita, ramalan masa depan, rencana pemberontakan kerajaan, pengantin kabur, politik istana dan perempuan berotak jenius. 

Subtopik di atas mengingatkan saya pada cinta Xu Rong dan Fu Yu Zhan di drama Cina Wanita antara Tahta atau Legend of Two Sisters in the Chaos di WeTV. Silakan klik tautannya untuk sampai ke sana.


Belum juga ada bocoran akhir kisah mereka. Nama marganya hampir sama, ya. Oh iya, drama Legend of Two Sisters in the Chaos juga masih on going, lho. Masih sangat hangat. Tentang pergantian tahta kekaisaran Cina dan peran para perempuan di belakang mereka. Perempuan dan kuasa memang satu paket, kalau perempuannya cerdas atau berotot. Kebetulan kakak adik Fu ini punya karakter sama di dua drama Cina ini.


Kisah drama ini berlatar masa kerajaan. Kalau mau cerita berlatar sebelum masehi, yaitu pada fase awal pembentukan kerajaan, ada The Twin Flower Legend yang pastinya sangat bagus. Semua review film dan drama saya ada di satu kategori film dan banyak film bagus di sana, lintas negara. Saya suka mereview semua film/drama yang menurut saya bagus dan layak diceritakan. Klik FILM saja, kalau mau random, atau klik tulisan yang berwarna merah tua untuk sampai ke artikel yang khusus.

Oh ya, kalau sobat semua suka nonton drama Cina, saya ada beberapa sinopsisnya:
Blossom in Heart (Begonia Rouge)
Wanita Antara Tahta (Legend of Two Sisters in Chaos)
Dan masih banyak lagi di kategori Film.

Update ending Blooms at Ruyi Pavilyun

Setahu saya, drama Blooms at Ruyi Pavilyun hanya sampai 40 episode, dan happy ending. Fu Rong tidak mati. Ternyata, demi para fans yang tak mau drama ini tamat, maka dibuatkan Blooms at Ruyi Pavilyun versi modern. Duke Su dan Fu Rong berada di masa sekarang. Hanya saja, Fu Rong tidak mengingat masa lalunya. Ia hanya tahu bahwa dirinya jatuh cinta pada bosnya yang gantengnya selangit tapi dinginnya seperti Greenland. 
Seperti biasa, ada kelucuaan-kelucuan yang membuat drama ini betah ditonton. Intinya ada di persiapan pameran produk perhiasan dengan tema dulu dan nanti. Fu Rong jadi ingat pada masa lalunya, dan drama ditutup dengan pengakuan Duke Su bahwa ia menanti dan menjaganya selama seribu tahun. 

Mungkin dia vampir.....

Ending awal, yang ke-40 sebenarnya agak mengecewakan bagi saya. Si tokoh antagonis menyesali perbuatannya karena tahu bahwa ibunya belum meninggal. Saya lebih suka ending yang mengambang saja. Misalnya berhenti di instalasi astronomi seperti pada episode 40. Tambahan 5 episode malah merusak segalanya. 
Menurut saya. Lebih baik dibuat drama lainnya, misalnya Blooms at Ruyi Pavilyun season II dengan setting masa depan. 


Semua foto diambil dari https://mydramalist.com/38587-the-way-of-favours/photos