Jangan meminjam impian orang lain, itulah kesan yang saya tangkap saat menonton film Soulmate (2023). Kesan yang saya tangkap pertama kali ketika menonton film Soul Mate (2016). Keduanya punya judul nyaris sama, bukan sebuah kebetulan, karena yang satu adalah adaptasi dari yang lainnya, dan keduanya berasal dari novel yang sama.




Sebuah film yang bagus. Tak boleh dilewatkan. Apalagi bukan tema yang biasa. 

Tema persahabatan antara dua perempuan bukan tema favorit sineas, karena penggarapannya lebih sulit. Penonton/pembaca lebih mudah larut dalam cerita jika dibumbui cinta. 

Suatu kebetulan kemarin saya menulis persahabatan 3 pendekar di jianghu atau dunia persilatan dalam artikel Mysterious Lotus Casebook, kali ini persahabatan perempuan yang bisa terjadi di mana saja di dunia nyata. 

Judul ini memang tiba-tiba menyusup masuk dan mendesak minta diulas setelah membaca Sediksi. Ada yang sudah kenal belum, sama portal media online satu ini? Banyak tulisan di sana yang bagus-bagus, mendalam ulasannya. Kalau menilik dari informasinya sih, memang diciptakan sebagai ruang diskursus peristiwa maupun isu yang sedang terjadi di masyarakat.

Mari kita lanjutkan tulisan ini.


Sinopsis Soulmate (2023)

Ahn Mi So adalah gadis malang. Ia selalu berpindah sekolah, sampai akhirnya "menetap" agak lama karena punya sahabat karib bernama Go Ha Eun. Keluarga Go memperlakukannya dengan baik sehingga ibunya Mi So bisa pergi dan tak pernah kembali. Mi So meski sendirian tapi tak sampai sebatangkara. 

Meski terlihat riang dan suka berpetualang, namun peristiwa masa kecilnya itu sangat membekas. Itu terlihat dari cita-citanya untuk mati pada usia 27 tahun seperti Janis Joplin. Meskipun mungkin dia juga tidak berpikir mengakhiri hidup seperti JJ.

Dia mengamini pandangan orang sekitarnya yang mengasihaninya sebagai anak yang tidak beruntung. Hal ini terungkap dari percakapan saat di gua. Ia meminta sedikit keberuntungan. Saat meminta jimat Jin Woo juga alasannya agar ia juga punya keberuntungan hidup.

Percakapan dan ciuman; dua sumber malapetaka persahabatan Mi So - Ha Eun. Ha Eun melihat mereka berciuman. 


penyebab pertengkaran Mi So dan Ha Eun


Setelah peristiwa di gua itu, tali persahabatan mereka sudah putus. Bagaimanapun upaya mereka menyambung tetap tak berhasil. Meskipun saling berkirim surat cukup intens yang menandakan keduanya masih mau menjalin komunikasi.

Mi So memilih merantau bersama pacarnya. Setelah putus, ia ingin berkelana ke tempat-tempat wisata impiannya. Tak terbatas Korea namun sampai ke luar negeri. Namun anak malang itu tak berhasil meraih impiannya karena tak ada dana. Ia hanya menjadi ART. 

Entah apa motifnya, Mi So mengirim surat seakan dirinya sedang berkelana sesuai impiannya. Rutin mengirimi kabar dan gambar pada Ha Eun yang merasa bosan dengan hidupnya yang terlalu biasa: belajar sesuai rute masa depan yang dibuat oleh ayah-ibunya.

Bagaimana hubungan Ha Eun dengan pacarnya?

Hubungan Ha Eun dengan Ham Jin Wo cukup baik meskipun Ha Eun selalu mengingat peristiwa di gua dan kalung jimat. Dia tetap merasa cinta kekasihnya itu tidak tulus. 

Suatu hari, setelah bertahun-tahun jaraknya, Mi So dan Ha Eun akhirnya bertemu dan mereka melakukan perjalanan wisata bersama. Perjalanan ini menjadi sumber keretakan paling parah karena cara hidup keduanya berbeda. 

Mi So terbiasa menginap di losmen kecil yang kumuh sedangkan Ha Eun lebih suka di hotel yang empuk ranjangnya. Masalah makan juga demikian. Mereka bertengkar hebat di restoran. Mereka berpisah dengan amarah. 

Perpisahan tersebut seperti sebuah puncak dari keinginan terdalam mereka: Mi So ingin hidup normal, kuliah lalu berkarier, sedangkan Ha Eun ingin menjalani kehidupan bohemian seperti cerita [bohong] Mi So saat berkelana. Mereka masing-masing menginginkan kehidupan dan impian sahabatnya.

Mereka bertukar impian dan kehidupan... 


Review Film Soulmate (2023)

Persahabatan Mi So dan Ha Eun sungguh indah dan bertahan selamanya. Meskipun mereka memendam kemarahan di dalam dada pada satu sama lain. Mereka selalu siap kembali merajut persahabatan tersebut setiap kali bertemu. 

Keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda. Ha Eun meskipun bukan dari keluarga kaya raya, namun tak perlu cemas besok akan makan apa. Ayah dan ibunya masih hidup serta sangat menyayanginya.

Berbeda dengan Mi So yang tak punya apa-apa dan siapa-siapa. Hidup sebatangkara dengan impiannya untuk hidup bebas. Kesebatangkaraan Mi So bisa dibayangkan saat ia mengatakan, "Kamu tinggal di menara gading makanya tak pernah tahu."


Mungkin pada dasarnya memang keduanya punya dua kesamaan yaitu ingin hidup bebas dan suka menggambar. Kalau Ham Jin Wo ditambahkan, berarti ada tiga kesamaan. 

Dari gambar, lebih tepatnya lukisan, kisah Mi So - Ha Eun diceritakan. Sebagaimana pembukanya, Mi So yang sudah berusia 30an dimintai tolong sebuah galeri untuk mencari alamat Ha Eun karena beberapa lukisannya akan dipamerkan. Pasalnya salah satu gambar adalah dirinya di waktu muda. Dari situlah cerita mengalir dengan alur maju mundur. Penonton akan mudah mengenali dari gaya rambut.

Film ini berkisar pada kehidupan dua perempuan ini. Kehadiran Ham Jin Woo sebagai pacar Ha Eun hanya menempati posisi sekunder. 

Mengapa Mi So memutuskan "berkelana", penonton bisa menebak pastinya bahwa ia takut dengan keinginan dirinya sendiri. Ia takut mencintai Ham Jin Woo. Pesan ini ditampilkan secara implisit namun terbaca dengan jelas.

Ha Eun juga menerjemahkan demikian. Ia selalu didera prasangka bahwa hati pacarnya sudah membelok ke sahabatnya. Ia sibuk menekan mindernya sejak kecil, bahkan merasa cemburu saat ibunya menunjukkan perhatian pada sahabatnya.

Ia menjadi agak terobsesi untuk mengambil jalur yang sama dengan yang diambil oleh Mi So karena ia selalu merasa tidak seberuntung itu. Dia bahkan melarikan diri dari pernikahannya demi bisa mendapatkan impian barunya.

Bagaimana dengan Jin Woo? Kekasih Ha Eun ini agak sulit dimengerti. Mungkin ia memang tipe konvensional yang penuh perhitungan. Terlihat saat scene adu BH, Ha Eun mengatakan pacarnya lebih suka yang konvensional. 

Scene ini memperlihatkan karakter Jin Woo adalah lebih menggunakan logika daripada hati siapa pasangannya, sehingga wajar jika memilih Ha Eun. Masa depan mapan lebih utama baginya. Itu juga terlihat dari pilihan kampus kedokteran, yang membuat  Ha Eun sering membayangkan kekasihnya itu bertemu sahabatnya.

Tapi apakah Jin Woo tidak mencintai Mi So? Mungkin pernah masuk ke pertimbangan. Mungkin pernah ada cinta pada pandangan pertama, namunyang segera padam saat tahu kehidupan bebas yang disukai Mi So bukanlah impiannya.

Setidaknya penjelasan ini lebih masuk akal dalam menjawab perbedaan kekuatan karakter antara tokoh dalam Soulmate (2023) yang lebih ringan dibandingkan karakter dalam Soul Mate (2016) yang diadaptasinya.

Oh iya, berikut daftar pemain utamanya:

Kim Da Mi sebagai Ahn Mi So

Jeon So Nee sebagai Go Ha Eun

Byeon Woo Seok sebagai Ham Jin Woo


Overal, sangat bagus. Saya agak menyesal menonton yang versi Cina dulu karena secara penggambaran karakter dan akting memang lebih bagus. Jika saya menonton versi Korea dulu, saya tidak akan menggunakan dua kacamata.




Tapi jujur saja ada sedikit catatan kritis dari saya mengenai lukisan yang menjadi pondasi cerita. Mi So dan Ha Eun punya karakter bertolak belakang. Jenis lukisan mereka beda. Karakter sapuan juga akan sangat berpengaruh pada lukisan. 

Orang yang berjiwa bebas dan orang yang ingin jiwanya bebas kalau berkolaborasi dalam satu lukisan akan beda sapuan kuasnya. Pasti terlihat kalau lukisan dibuat oleh lebih dari satu orang. 

Dan di film ini hasil lukisan awal dari seperti ini menjadi sempurna. Logisnya kurator akan langsung tahu bahwa lukisan ini bukan milik Ha Eun seorang.

Menurut saya begitu, ya.


Film Cina Soul Mate (2016) 

Cerita film Soulmate di atas merupakan adaptasi dari film Soul Mate versi Zhou Dong Yu (An Seng), Ma Si Chun (Qi Yue), dan Toby Lee (Su Jia Min) yang rilis tahun 2016 lalu. Ceritanya sedikit diubah sana-sini namun plot besarnya sama, bahkan mungkin 80% sama. Perbedaan tentu ada, misalnya:

1. Media kenangan Soulmate adalah lukisan sedangkan Soul Mate adalah web novel yang akan difilmkan.

2. Benda pemersatu di Soulmate adalah anting-anting, di Soul Mate anting hanya hadiah terima kasih pada ibu sahabatnya.

3. Ha Eun jadi guru sementara Qi Yue jadi pegawai bank

4. Mi So tidak benar-benar jalan-jalan seperti di surat, sedangkan An Seng benar-benar melakukannya.


Saya cukup memahami mengapa ada yang mengatakan adaptasi Soul Mate menjadi Soulmate tidak berhasil. Dalam hal ini saya setuju dengan Anatasia Anjani di sediksi.com yang berjudul Review Film Soulmate Korea 2023: Tak Sebagus Versi Aslinya.

Bisa dikatakan, tokoh An Seng memang sangat bold. Sangat kuat dan nekat, serta tahu apa yang ia mau. Dia benar-benar sangat menikmati hidupnya meskipun tetap saja akhirnya setelah 5 tahun menjadi lelah dan ubannya mulai terlihat. 

Demi bisa berpetualang, ia mencari uang dan teman share cost. Ia pergi ke luar negeri dengan cara bekerja di kapal cruise. Kelelahan ia ceritakan dengan riang. Ketika tidur di jalan kedinginan ia katakan bumi sangat luas dan ia bisa tidur di mana saja. 

Perjalanan ini menegaskan bahwa memang tak pernah ada apa-apa antara dirinya dengan kekasih sahabatnya. Bahwa sahabatnya itu hanya membayangkan terlalu banyak karena punya sensitivitas penulis novel yang berbakat. Terlihat dari web novel kisah mereka yang akan difilmkan. 

Karakter Qi Yue juga lebih dieksplor, sehingga kita akan melihat sakit hati pertamanya itu benar-benar dahsyat sehingga bisa nyaris menghapus persahabatan mereka yang sudah seperti manusia dan bayangannya. 

Baik Ha Eun maupun Qi Yue memang dua orang yang terlalu peka. Sebenarnya mereka introvert, namun menjadi berani karena pengaruh sahabat mereka, dan keinginan menciptakan alter ego seperti sahabatnya itu. Makanya kemudian mereka (kedua versi) memilih berkelana, menyusuri jejak yang pernah ditulis dalam surat.

Di sinilah pesan kuat yang saya tangkap: jangan sampai meminjam impian orang lain hanya karena selalu merasa minder, tidak cukup baik dan tidak cukup dicintai. Padahal jelas bahwa baik Ha Eun maupun Qi Yue bisa dikatakan tinggal di menara gading seperti Rapunzel, jika dibandingkan dengan Mi So/An Seng yang rela mecium pantat lelaki tak dikenal saat taruhan demi uang untuk makan.

Ada dua hal yang luput digarap dalam Soulmate, yang pertama, yaitu isu gender yang selalu dimunculkan dalam drama Cina. "Perempuan itu akan selalu jadi obyek yang menderita di dunia patriarki." Setidaknya kalimat "lebih sulit menjadi anak perempuan" muncul 4 kali dalam 4 scene dan ditekankan lagi pada narasi Qi Yue tak punya ruang lagi di kota asalnya gara-gara ditinggal kabur oleh Jia Ming. 

Yang kedua adalah mitos tentang takdir. Meski di versi Korea menggunakan jimat, namun akhir cerita dilogika sebagai konsekuensi logis dari pilihan Mi So dan Ha Eun. Versi Cina secara grafis diperlihatkan dalam bentuk pertalian takdir yang diwakili oleh rambut yang dikepang. 



Byuh.. ternyata sangat panjang! Sesuatu yang dilakukan karena suka kadang memang seperti ini, ya. Terlalu menggebu dan lupa waktu. Wkwkwk

Semoga semuanya suka pada review Soulmate ala-ala Susindra ini. Lain waktu mungkin harus secara khusus membahas yang versi Cina, meskipun mayoritas sudah terwakili di sini,