Aku bukan PKI - Cermin Blogger Bhakti Pertiwi

Dinda mengurung diri di kamar. Tak enak makan, tak enak tidur. Semua energinya terbetot pada rasa malu yang akan menghantuinya selamanya.

3 hari yang lalu seluruh keluarga Danang Hadisutjipta datang ke rumah Dinda untuk acara nangsangi. Setelah 1 tahun berpacaran, Dinda dan Danang telah mantap berumahtangga tahun ini. Dua buah mobil mengantar bapak, ibu, kakek, serta paman dan Bibi Danang. Semua tersenyum sumringah, baik para tamu maupun para among tamu.

Aneka makanan dan minuman telah tersedia di meja. Percakapan maupun gurauan basa-basi terus saja mengalir antara kedua calon keluarga yang sebentar lagi akan bersatu. Tiba-tiba kakek Danang berbicara, “Aku tidak tahu kalau calon cucu-mantuku adalah cucu seorang PKI.”

Suasana seketika hening. Semua orang saling pandang. Ada yang bingung, ada yang tersinggung. Sebuah luka lama yang tak pernah sembuh tiba-tiba berdarah kembali. Setelah berbasa-basi, rombongan keluarga Danusutjipto pamit pulang tanpa menyentuh nasi serta lauk-pauk yang telah tersedia. Beberapa kerabat yang ikut menjadi among tamu juga turut berpamitan meninggalkan Dinda yang menangis tersedu-sedu mengetahui rencana masa depannya telah pergi.

Ibu Dinda memeluk putri tunggalnya sambil berlinang air mata. Bapak Danuardja menundukkan kepala. Semburat merah ungu terlihat jelas di wajahnya.

“Dinda, ibu tahu ini menyakitkanmu, tapi kamu harus menerimanya dengan lapang dada, nak.”

Dinda menggigit bibir sejenak “ Seumur hidup menanggung malu disebut keluarga PKI. Malu karena gagal menikah juga karena disebut PKI. Apa salahku, bu? Aku bukan PKI.” Dinda tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena dadanya sesak. “Mengapa kakek harus menjadi PKI dulu? Meninggalkan kita semua dengan dosanya. Dia sungguh beruntung tidak menerima penghinaan ini. Dia sudah mati. Kita yang hidup? Seumur hidup dicela. Dihina.”

“Jangan begitu, nak. Tidak semua orang sepicik itu. Buktinya keluarga ibu dulu menerima pinangan bapakmu.” Hibur ibu Dinda.

“Dan ibu juga tidak menyangka kan jika seluruh keturunan ibu akan dikutuk sebagai PKI?!” Seru Dinda kasar.

“Nak, ibu tidak malu menikah dengan bapakmu meski harus disebut keluarga PKI. Karena ibu tahu, bapakmu adalah pemuda sholeh, santun, menghormati wanita dan jelas-jelas bukan PKI.” Ibu mendesah sedih. “Jangan menimpakan kesalahan pada kami, orang tuamu. Apalagi pada kakekmu, nak. Istighfar-lah.”

“Sudah 45 tahun, dan mereka tetap tidak memaafkan kesalahan kakekmu.” Kata Bapak serak. “Paak.. beristirahatlah dengan tenang. Semua amalanmu diterima Allah. Dan kami yang kau tinggalkan dilapangkan dari segala ujian ini.” Airmata merebak disudut mata bapak.

“Bapak juga pernah menyesalinya.” Bapak menarik nafas panjang. “Tapi kita adalah WNI yang mencintai negeri kita, Indonesia. Kita tetap mengabdi dan membela bangsa." Bapak menghela nafas. "Bapak tetap cinta Indonesia meski bapak tetap dicap sebagai anak PKI. Bapak harap kamu pun begitu.”

“Hapus air matamu, nak.” Kata ibu. “Jika Danang benar jodohmu, dia tetap akan menikah denganmu. Jika bukan, akan ada lelaki baik yang menyuntingmu.” Ibu tersenyum diantara kilau air mata di pipi. “Tidak semua orang mencela kita sebagai PKI, nak. Tidak semua. Seluruh warga desa menerima kita. Jika keluarga Danang pulang, mungkin karena mereka terkejut dan malu. Sabar ya, nak. Jangan lupa berdoa.”

Sudah tiga hari, dan Dinda tetap sulit berdamai pada dirinya sendiri. Mungkin esok, mungkin lusa, Dinda akan dapat kembali berdiri tegak.

Fiksi kecil ini hanya sebagai pengingat bahwa di luar sana masih ada segelintir WNI yang dicap PKI karena kesalahan keluarganya serta  masyarakat yang belum lupa pun memaafkan kekejaman PKI tanpa ingin menghakimi kelompok mana yang benar.

*****

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Mba Nia, Teh Lidya, Pakde Abdul Cholik.
Yang disponsori oleh: 

http://www.kios108.com/
http://halobalita.fitrian.net/
http://topcardiotrainer.com/
http://littleostore.com/

Share:

30 comments:

  1. Padahal PKI tidak sepenuhnya salah ya mba, bahkan beberapa data yg pernah saya baca mereka adalah 'korban' yg dijadikan kambing hitam oleh politisi saat itu. Wallohu alam.

    Gudlak ngontesnya mba Sus, fiksi yg magis ;)

    ReplyDelete
  2. Kalo saya bukan cucu PKI. Tp di Madiun ada monumen PKI di Kresek. Tak jarang (sering) tiap kenalan ama orang dan ngaku Madiun, orang itu pasti ngomong "wuih madiun kota PKI, ga brani neko2 ama mbak'e nich". Sebenarnya PKI asal usulnya drmn toh? Xixixi

    ReplyDelete
  3. waah,, ternyata masih ada juga yg ngungkit2 masa lampau ttg PKI, alhamdulillah di daerah saya sepertinya sudah tidak ada yang seperti itu.
    yang lalu biarlah berlalu, seharusnya dijadikan pembelajaran saja ke depannya, bukan untuk mengungkit-ngungkitnya lagi. Kasian yg tidak tahu apa-apa..

    semoga sukses bu ngontesnya... merdekaaa. :D

    ReplyDelete
  4. wah saya baru tahu ada yang masih dicap PKI

    ReplyDelete
  5. Wah mantap mbak..bener bener ini mewakili curahan hati banyak orang yang jaman dulu terhakimi, saya masih ingat banget stigma stigma yagn melekat kepada keluarga eks PKI kasihan ....dan rasanya tidak manusiawi..semoga kita tidak lagi..merdeka sebenar benarnya merdeka :)
    semoga berjaya yah mbak :)

    ReplyDelete
  6. Terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kontes CBBP
    Artikel sudah lengkap....
    Siap untuk dinilai oleh tim Juri...
    Salam hangat dari Jakarta....

    ReplyDelete
  7. ini 45 tahun yang lalu, tapi masih membekas sampai sekarang...semoga beruntung mbak

    ReplyDelete
  8. @Semua:
    Isu PKI masih ada sampai sekarang - setidaknya sampai TAP MPRS No 25/1966 belum dicabut. Imbasnya juga masih ada sampai sekarang. Mereka yang memiliki keluarga terduga PKI tidak mendapat hak memilih/dipilih pada pemilu. Tidak diperkenankan menjadi PNS. Dan semua masih berlaku sampai sekarang.
    Ketika Gusdur menjadi presiden, pernah melontarkan wacana mencabut TAP MPRS no 25/1966 namun tidak berhasil karena lebih banyak yang menentang.
    Well, itu kenyataan di sekitar kita dan layak diangkat meski hanya cerita fiksi.

    ReplyDelete
  9. wlo ini reka'an mba susi semata, tapi saya percaya kok klo di luar sana masih banyak yang mengalami seperti cerita di atas. miris memang, tapi cuma bisa prihatin kan :(

    ada hal lain yang saya mau bold dari cerita itu, yaitu ucapan sang ibu bahwa jika memang jodoh maka takkan kemana, ucapan klise dan seringnya cuma lewat di bibir, padahal kalau dimaknai, menurut saya mestinya Dinda bersyukur karena dengan begitu dia tak perlu menikah dengan keluarga picik. tapi pasti sulit :)

    sukses kontesnya ya mba!

    ReplyDelete
  10. Hmmm...budaya men-cap sesuatu karena leluhurnya...Sering banget kayaknya yah mbak? Nggak bisa pake kacamata obyektifnya.

    Menurutku PKI memang kejam pada zamannya,namun menghakimi dan mem-blacklist keturunan ex-PKI jauh lebih kejam,wallahualam

    ReplyDelete
  11. wah :O masih ada ya cerita begini di masyarakat nyata ckckck :O

    ReplyDelete
  12. seseorang yg saya kenal baik, pernah di hukum 4 tahun krn fitnah seorang teman, dihukum tanpa ada proses sama sekali, sampai dibebaskan.
    Akhirnya waktu yang bicara, bahwa dia memang tidak bersalah, terbukti dia bisa menerima pensiun sampe saat ini ...
    Salah seorang anaknya pun sempat jadi bahan ledekan bahkan dimusuhi teman2 sekelasnya saat SD.
    Tapi skr, hiduo keluarga ini bahagia, karena kebenaran selalu berpihak ...

    ReplyDelete
  13. memang kasihan kalau semua ketrunan PKI di cap sama dengan atasnnya,,berarti negri ini belum MERDEKA.....

    ReplyDelete
  14. “Jika Danang benar jodohmu, dia tetap akan menikah denganmu. Jika bukan, akan ada lelaki baik yang menyuntingmu.”

    kalimat yang belakang itu kelihatnnya nyindir aku deh mbak Sus hahaha

    Sukses mbak untuk kontesnya

    ReplyDelete
  15. kesalahan orang-orang masa lalu harus ditanggung anak cucu ya kasihan sekali

    ReplyDelete
  16. memang masih banyak manusia2 yang suka men-cap manusia2 lain dengan cap yang buruk2. padahal belum tentu cap dia sendiri bagus;(

    sukses yaa ^^

    ReplyDelete
  17. Kasihan, kesalahan yang diakibatkan nenek moyang harus menimpa keturunannya.
    bagus sekali mba, saingan berat nih :)
    sukses yah mba :)

    ReplyDelete
  18. semua makhluk di hadapan Allah adalah sama :)

    ReplyDelete
  19. Wiiii.... ikutan kontes jugaa.... ceritanya baguusss... semoga menang ya mbaakkk....

    ReplyDelete
  20. iya ya.., kesalahan yang ditanggung keturunan dan keluarga..

    semoga menang ya mba..

    ReplyDelete
  21. Mbak Nique: Ini hanya fiksi meski di luar sana, yakin sekali ada kejadian seperti ini.

    Mbak Putri: Itulah intinya, ingin mengajak kita semua aware dan menyadari kejadian sekitar kita. Ini lebih dari kata cinta Indonesia. Ini adalah wujud keprihatinan bahwa ada pelanggaran ham berat di negara kita yang sampai 45 tahun belum tuntas.
    DAN SEMOGA CEPAT TUNTAS AGAR KITA DAPAT MERDEKA DALAM ARTI YANG SEBENARNYA

    ReplyDelete
  22. Tiara: Hidup tidak selalu adil, sayang.

    Mbak Dey: membaca cerita seperti ini mengingatkan pada berita2 di TV. Yah, potret buram kita. Semoga tak ada lagi.

    mas Sofyan: Kita sudah merdeka dalam arti sebenarnya. Jika ada beberapa yang belum, kita tak bisa mencap kita belum merdeka.

    Lozz: Mungkin hanya kebetulan? *_^

    ReplyDelete
  23. Mbak Lidya, mbak Ita, Entik & Bangau Putih (Doh! lupa lagi namamu, mbak): semoga kita dijauhkan dari golongan itu. Amin.

    Majalah masjid: Yah, semua manusia diciptakan sama. Pilihan kita lah yang membedakan.

    Enno: Amin. Terima kasih ya.

    ReplyDelete
  24. Kasian ya, dosa masa lalu nenek moyang masih terus menghantui. Sampai kapan anak cucu ini mendapat stempel PKI? HIks....

    Sukses kontesnya, Jeng :D

    ReplyDelete
  25. Jangan ada yang berusaha mencabut TAP MPRS itu. Jarak antara Peristiwa 1926-1948-1965 lama, namun kejadian itu muncul dan berulang,bukan.Latent.
    Mereka akan muncul dalam bentuknya yang baru,yang kadang tak ada yang menyadarinya.
    Pemerintah memang harus tetap waspada.

    Salam hangat

    ReplyDelete
  26. Gitu ya pakde? Essensinya TAP MPRS itu setahu saya bukan hanya tentang pembubaran PKI (hingga jika dicabut akan membuat mereka bangkit lagi). Seingat saya juga tentang pencabutan hak-hak WNI bagi seluruh keturunan PKI.
    Yah, menurut pendapat saya pribadi, sebaiknya direvisi saja terutama yang mengatur tentang pelarangan bagi anak cucu keturunan PKI untuk mendapatkan hak mereka sebagai WNI yaitu tidak boleh kuliah, ikut pemilu, jadi PNS.

    Ah, saya hanya ingin membuat fiksi sederhana yang ternyata tidak sederhana. ^_^

    ReplyDelete
  27. Penulis yang rajin...

    #suksesTerus kak

    ReplyDelete
  28. Dampak pki masih trasa sampai skrang .... saya merasa terintimidasi ... karna kakek saya terdaftar sebagai anggota pki...padahal dia tidak tahu emnahu tentang pki ...yg kalla itu rumahnya di tempeli stiker palu arit dan tidak tahu yg menempeli siapa ...dan di koramil kakek saya terdftar sbg pki .... dampaknya dari ayah saya tidak bisa menjadi pns ... dan skrng saya tidak bisa menikah dengan anggota tni..padahal kami skluarga tidak tahu menahu tntang pki.. dimana letak keadilan yang katanya indonesia adalah negara demokrasi ... bukankah menikah dan digaji oleh negara adalah hak asasi manusia..... saya kecewa dengan negara ini

    ReplyDelete
  29. Ini mirip kisah saya... Negara ini sungguh tdak adil.... Saya lahir tahun 1993 sdangkn pki itu 1965... Saya tau apa ttg hal seperti itu saya tdk tau apa apa ttpi saya yg hrus mngungnya karena nenek d tuduh pki. Sekarang pernikahan saya terancam gagal... Dmna keadilan d ngara ini mana????

    ReplyDelete
  30. Cerita mbk dinda bukan sekedar viksi atau karangan belaka, tapi itu bner adanya, karena saya juga merasakan hal yang sama,rencana ya saya akan menikah desember mendatang,tapi semua ya sirna sudah karena kata nya kakek saya terduga pki... rasa hancur lebur semua ya,keluarga saya kaget bukan kepalang dengan adanya berita ini,rasa tak percaya jika hal ini terjadi?? Berkas pengajuan nikah kantor saya terhenti begitu saja, setelah perjuangan panjng mengeurus surat- surat yang ada Semua ya terasa sirna begitu saja.4 tahun saya bertunangan terasa sia..sia.. hal seperti ini kemna kami harus mengadu..saya merasa tidak ada keadilan untuk saya..saya merasa kecewa kepada negara ini karena seorang cucu yang tak berdosa harus menanggung beban ini semua...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra