Saat menerima email pengumuman pemenang Kadin blog competition, saya sudah langsung bersorak. “Hore! Bisa ajak Giandra ke Jakarta!” dan oleh panitia diizinkan. Tapi bapaknya Gi mengingatkan, ada virus corona yang harus diwaspadai. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Eh iya, oleh karena pentingnya mencegah coronavirus masuk ke Jepara, ada 5 instruksi PLT Bupati Jepara, lho. Sebenarnya, apa sih coronavirus itu? Kayaknya banyak hoax yang beredar, ya?



Dunia dikejutkan dengan munculnya sebuah virus lama rasa baru bernama virus Corona pada akhir tahun 2019. Tepatnya pada tanggal 31 Desember. Sebuah laporan dari Wuhan Cina menggegerkan dunia. Setelah memastikan bahwa virus ini sangat berbahaya, dan rawan digampangkan karena gejalanya mirip flu, maka pemerintah segera mengambil tindakan. Tak terkecuali Pemerintah Kabupaten Jepara. 5 instruksi PLT Bupati Jepara segera diedarkan sebagai bagian dari pencegahan, karena banyaknya WNA di kota kecil ini, dan jumlah WNA dari Tiongkok termasuk besar.

Kok PLT Bupati?

5 instruksi PLT Bupati Jepara, disebut demikian karena saat ini beliau memang belum dilantik menjadi bupati. Informasi terakhir yang saya tahu, akhir Januari 2020 pelantikannya. Akan tetapi tampaknya belum, karena menunggu saya siap datang meliput. Eh... becandaaaa....

Semoga segera ya, Mas Andi! 

Kok Mas? Beliau maunya dipanggil begitu agar akrab dengan warganya.
Manuuut....



Psst.. beliau ini Bupati Jepara yang sangat baik. Idaman bagi tipe pembaharu, termasuk saya. Makanya saya rajin retweet. Juga cukup mengikuti informasi beliau. 

Para bupati sebelumnya? No way. Hawa ORBA masih terasa.

Uhuk! Maafken saya yang mantan pendemo ’98 ini.

Ini kali pertama saya sukarela memantau dan membantu tugas pemerintah setempat. Alsannya karena saya klik dan memang beliau layak dibantu. Jadi blogger dan medsoc anthusiast, ya saya bantu sebagaimana peran saya. Sebagai perempuan peneliti sejarah ya saya bantu kulik sejarah lokal Jepara. Sebagai pemerhati anak... ya saya lakukan juga. 

Sebenarnya... aneka peran di atas sudah saya lakukan sejak 5 tahun terakhir ini.

Antisipasi Virus Corona di Jepara

Jepara memang kota kecil, di ujung utara pulau Jawa. Tapi, geliat industri di sini cukup kuat. Pabrik-pabrik mebel, konveksi, sepatu, pengolahan kayu, pengolahan limbah kayu, dan masih banyak lagi, melibatkan warga negara asing (WNA) dan tenaga kerja asing (TKA). 

Banyak WNA yang memutuskan tinggal di Jepara dengan alasan dekat dengan Caribbean van Java. Alasan lain, Jepara itu tenang. Masyarakatnya pandai ngecakke atau membuat suatu karya dengan biaya berapa pun. Kreatif dan inovatif. Soal gaji, tipe yang nerima ing pandum. Saya tersenyum saat teman-teman WOJO (grup Wong Jeporo) mengeluhkan demo tiap hari buruh.



Banyaknya jumlah WNA dan TKA membuat pemerintah harus tanggap sehingga perlu membuat antisipasi virus corona. Ada 5 instruksi yang perlu dilakukan, yaitu:
  1. DKK agar melakukan sosialisasi, termasuk ke WNA dan TKA, terkait Virus Corona, termasuk anjuran penggunaan masker bagi mereka.
  2. Hasil pemantauan WNA Tiongkok di Jepara agar dilaporkan perkembangannya kepada DKK Provinsi Jawa Tengah.
  3. Seluruh rumah sakit di Kabupaten Jepara wajib menerima pasien, menyediakan ruang isolasi, dan obat yang diperlukan.
  4. Rumah sakit wajib menyiapkan posko informasi, konsultasi, dan pemeriksaan pasien Corona. Serta, SOP proses pengiriman sampel usap tenggorokan dan hidung pasien.
  5. Jika ditemukan pasien terkena virus Corona, segera lapor ke DKK untuk tindakan meminimalisir penyebaran virus.

Layanan hotline virus Corona Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara:

(0291) 429 119
0811 2716 119

081 22 616 119

Apa itu virus Corona?


Virus Corona adalah nama beken coronavirus yang telah ditemukan sebelumnya. Awalnya virus ini berkembang dari binatang ke binatang. Disebut corona karena bentuknya mirip crown atau mahkota. Coronavirus adalah kumpulan virus yang menginfeksi sistem pernapasan. 

Virus Corona pertama kali dilaporkan di Wuhan Cina pada tanggal 31 Desember 2019. Itulah sebabnya disebut virus 2019-nCoV atau 2019 Novel Coronavirus. 

Virus ini membuat penderita mengalami gangguan pernafasan. Beberapa menjadi pneumonia akut, dan ada kasus kematian penderitanya. Tak mengherankan jika sejak laporan pertama langsung terjadi kehebohan di dunia. Penyebarannya sangat cepat, dan gejalanya mirip influenza. Sebuah penyakit umum yang masih disepelekan oleh banyak orang. Termasuk saya, yang menyepelekan flu. Siapa sih yang tidak pernah kena flu? Hujan-hujanan sebentar langsung meler. Padahal, itu pertanda bahwa sebenarnya virus flu hidup makmur di tubuh kita sehingga mudah terpanggil keluar.

Apa bahayanya virus Corona?

Virus Corona atau Coronavirus menyebabkan inkesi pernapasan berat, itulah yang membuatnya sangat berbahaya. Pneumonia, MERS (Middle-east Respiratory Syndrome) dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) adalah 3 penyakit super berbahaya yang bisa dipicu oleh virus Corona. Memang 1 keluarga. 



Sekarang paham, kan, mengapa ada ketakutan massal, bahkan akhirnya muncul teori konspirasi bahwa ini adalah senjata biologis Amerika Serikat. Ya Allah... para penyuka teori konspirasi memang kreatif membuat isu, ya. Baiknya sih kita tak perlu sampai Amerikaphobia, lah. 

Yang berbahaya dari virus ini adalah tingkat kecuekan masyarakat kebanyakan. Gejalanya sangat mirip flu, sehingga rawan disepelekan. Hidung berair, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, demam, adalah paket komplit penderita flu. Nah, jika ditambah dengan demam tinggi, batuk berdahak sampai berdarah, sesak napas, serta nyeri di dada, saatnya WASPADA. Segera ke tenaga medis terdekat, baiknya langsung ke rumah sakit. Tapi... mungkin lebih baik langsung hubungi DKK terdekat untuk memangkas waktu dan birokrasi. Tak perlu bawa tulisan SAYA SUSPECT CORONA, kaaan... agar cepat ditangani.

Ingat 5 gejala flu ini, ya... 

1. Demam tinggi,
2. Batuk (berdahak, bahkan sampai berdarah),
3. Sesak napas/napas terlalu cepat,
4. Sakit tenggorokan,
5. Badan letih dan lesu.

Yang paling berbahaya adalah, belum ada vaksin 2019-nCoV!



Bagaimana cara melindungi diri jika ada anggota keluarga yang terkena?

Tentu sedih sekali ya, jika ada anggota keluarga yang terkena atau dikarantina karena dicurigai. Tapi jangan lama-lama bersedih. Kita tetap harus move on, dan yang paling penting, menjaga kesehatan. 

Saya ada 5 tips bagi para petugas kesehatan (Nakes) yang juga harus dilakukan para caregiver pasien Coronavirus.

1. Hindari kontak/jarak dekat dengan penderita ISPA. 

Wah, bisa saya bayangkan repotnya tidak melakukan kontak. Tapi ya kalau kita mau tetap sehat dan mengurus keperluan si sakit, harus patuh, ya.


2. Gunakan alat pelindung diri. 

Nah, ini cara meminimalisir kontak, nih. Gunakan masker dan sarung tangan. Saya pernah beli sarung tangan lateks seharga Rp50.000,- untuk satu wadah isi 100 (atau 50? Ya Allah saya lupa.). Sekali pakai lalu buang di wadah pembuangan khusus ya. Setelah itu kubur/bakar. Opsi bakar saya masukkan karena saya tinggal di desa yang masih lega tanah pekarangannga dan rindang dengan pepohonan.

3. Sering cuci tangan dengan sabun.

Jangan lupa cuci tangan dengan sabun atau pakai antiseptik, setelah kontak langsung dengan si sakit atau berada di lingkungan si sakit.

4. Patuhi etika batuk

Ingatkan orang yang sedang terkena ISPA agar menerapkan etika batuk untuk mencegah penyebaran penyakit dari dirinya. Ini sangat penting tapi jarang diketahui. 

Etika Batuk

Saya baru tahu ada etika batuk saat Mbak kader kesehatan menjelaskan di PKK, sekitar 6 minggu lalu. Saat itu kami kembali diingatkan pada pentingnya memperhatikan lingkungan sekitar dan bersama-sama mengatasi TBC. Jadi, kami diajari untuk segera lapor jika ada keluarga atau tetangga yang batuk berdahaknya tidak sembuh-sembuh. Mungkin ia suspect TBC. Penyakit yang satu ini menular dan gejalanya juga seperti flu biasa.

Nah, saat itulah kami diajarkan etika batuk, yaitu:

  1. Pakai masker saat keluar rumah.
  2. Rajin cuci tangan dengan sabun atau antiseptik 
  3. Tutup mulut dan hidung dengan lengan baju bagian atas saat batuk/bersin.
  4. Jangan menutup dengan tangan saat batuk/bersin


Pencegahan virus Corona

Saat virus ini merebak, di grup emak-emak sudah dibagikan infografis yang mudah dipahami. Salah satunya adalah pencegahan. Ini 6 pencegahan virus Corona menurut Germas (Gerakan Masyarakat)
1. Sering cuci tangan pakai sabun,
2. Gunakan masker bila batuk atau pilek,
3. Konsumsi gizi seimbang, perbanyak sayur dan buah,
4. Olahraga dan istirahat cukup,
5. Jangan konsumsi daging yang tidak dimasak,
6. Bila batuk dan pilek, sesak napas, segera ke rumas sakit atau Puskesmas.
IDKI menambah 2 lagi, yaitu:
7. Kenakan masker N95
8. Lakukan vaksinasi yang sudah tersedia

Kelompok yang harus diwaspadai

Ini juga bagian dari pencegahan dan agar membuang parnoisme ups perasaan cemas berlebihan yang telanjur dirasakan oleh masyarakat setelah virus ini merebak. 

Ada beberapa kelompok/orang yang harus melakukan evaluasi mandiri atau dievaluasi bersama oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Tentu melalui mekanisme yang benar, bukan asal curiga lalu menggedor rumah tetangga untuk memeriksa. Ingat, buang rasa takut berlebihan dan jauhi hoax!



Ini yang harus dievaluasi:
1. Demam degan gejala saluran pernapasan bawah,
2. Dalam waktu 14 hari sebelum munculnya gejala, terdapat riwayat bepergian ke Wuhan Cina
3. Dalam waktu 14 hari sebelum munculnya gejala, melakukan kontak dengan orang yang dalam investigasi 2019-nCov
4. Dalam 14 hari melakukan kontak dengan pasien 2019-nCoV.

Mereka ini perlu diperiksa dan melaporkan diri ke dinas kesehatan setempat. 
Jangan takut dan cemas. Kita jadi pahlawan bagi keluarga dan lingkungan jika berani melaporkan diri untuk mengetahui kondisi diri. Bonusnya, kita bisa sehat kembali, begitu juga keluarga tercinta kita, kaaan???

Aslinya, saya sedang mengobservasi dan mengevaluasi seluruh keluarga termasuk saya. 5 dan 6 hari lalu saya melakukan perjalanan udara, dari 2 bandara internasional. Menurut cerita teman-teman, pemeriksaan di bandara internasional bagi penumpang peerbangan internasional kurang cermat. Hanya pemeriksaan termal dan pernyataan tidak sakit. Oh, ya, saya sudah menceritakan perjalanan dan kesan akan Menara Kadin yang medah itu.

Saya sebagai ibu yang salah satu perannya sebagai dokter utama keluarga untuk bagian prevention dan evaluasi, harus sadar diri bahwa bisa juga saya tanpa sadar melakukan kontak melalui pegangan elevator (kenapa saya masih saja otomatis memegang pegangan elevator!). Misalnya...



Saya sampai rumah jam 10.30 malam, langsung memasukkan semua baju yang saya pakai ke ember tersendiri, mandi sebersih mungkin, 2 kali sabun. Agar Bayi Gi aman. Dia kan masih anak ASI. 

2 hari kemudian, dia bongkar tas perjalanan saya. Saya langsung berteriak dalam hati, “Aduh! Kenapa tidak segera saya cuci!”

Ya sudah, akhirnya saya siaga flu di rumah. Sampai sekarang.

Saat si mbarep flu, saya observasi benar demmanya, jumlah napasnya, wajahnya. Saya juga sedang flu karena pertahanan tubuh agak lemah. Tapi... ini sih karena kelelahan yang sangat dan sedang bokek sehingga tak bisa menghadiahi diri dengan makanan bergizi. 

Modus!
Ya sudah, begitu saja, informasi dan cerita mbaldrah saya kali ini. Intinya adalah, kita semua harus waspada pada virus Corona atau 2019-nCoV dengan cara cerdas. Jangan kebanyakan sarapan hoax. Cari instruksi Pemerintah Kabupatenmu, Catat dan patuhi, agar semua sehat. Ini berlaku untuk semua virus/bakteri yang mungkin akan merebak di kemudian hari. Ingat, kita berada di akhir zaman. Ups.... Wush... saatnya saya menanti tanggapanmu di komentar, ya.