Dua Karya Istimewa W.R. Soepratman Pasca Meliput Acara Konggres Perempuan Indonesia Pertama

Sebagian dari kita mengenal sosok W.R. Soepratman sebagai komposer dan pencipta lagu Indonesia Raya. Jarang yang mengenal sosoknya sebagai jurnalis dan penulis novel. Cung! Siapa yang sudah tahu dua profesi Pak Wage ini?

Dua Karya Istimewa W.R. Soepratman Pasca Meliput Acara Konggres Perempuan Indonesia Pertama


Kaget? Berarti ingin lebih banyak baca sejarah dong, ya? Belajar sejarah itu sangat menyenangkan. Menata puzzle kehidupan seseorang yang tak pernah kita temui. Menggali untuk mencari bagian demi bagian lalu dengan apa yang ada, bisa menggambarkan perannya untuk bangsa Indonesia tercinta. Setiap interpretasi, bahkan dari sejarawan terkenal, sangat mungkin untuk diperdebatkan jika ada temuan baru.

Itulah sebabnya setiap kali selesai membaca tulisan sejarah saya akan mencari pembandingnya.

Kali ini saya akan memberikan sisi lain dari komponis terkenal kita ini, sebagai wartawan dan penulis novel. Karena timing-nya, saya pilih setelah hanya pada periode setelah tokoh utama kita ini mengikuti Konggres Wanita tahun 1928. Menetapkan waktu atau periodisasi sangat penting, agar kita tidak mencampuradukkan data sejarah. 

Kali ini hanya untuk karya Wage Rudofl Soepratman (saya sebut Wage saja setelahnya, tanpa mengurangi rasa hormat), maka saya  hanya memfokuskan pada karir jurnalistik dan dua buah karya istimewa berupa lagu dan novel. 


Kelahiran W.R. Soepratman

Jika saya pernah dibuat bingung dengan 2 tanggal lahir di akta dan surat kelahiran, dan ternyata masih pula beda jika digatukkan dengan weton saya, perbedaan tanggal lahir Wage atau W.R. Soepratman juga sama. Kota kelahirannya pun beda.

Ada yang menyebut tanggal lahirnya 9 Maret, di tempat lain disebut 19 Maret. Ada yang menyebut tempat lahir di Purworejo, ada lagi yang menyebut di Jakarta. Nah, lho… yang mana yang benar? Saya juga tidak tahu sih. Tampaknya versi pemerintah adalah 9 Maret, karena Presiden SBY menetapkannya sebagai Hari Musik Indonesia pada tahun 2013. 

Tapi saya mengambil tanggal 9 Maret 1903 di Purworejo. Adapun tanggal 19 Maret 1903 di Jakarta adalah setelah lahir memang dibawa ke Jakarta. Tapi ini juga artinya opsi ketiga. Okelah saya rinci saja tentang TTL yang jadi misteri ini:

  1. W.R. Soepratman lahir pada tanggal 9 Maret 1903 di Jatinegara Jakarta (dulu namanya Meester Cornelis).
  2. W.R. Soepratman lahir pada tanggal 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somogiri, Kecamatan Kaligeseng, Kabupaten Purworejo-Jawa Tengah.




Bukti rumah lahir Wage sudah ‘diamankan’ dan dipugar oleh Bupati Purworejo (Periode 2005-2010), Kelik Sumrahadi. Jadi kita bisa melihat rumah tersebut sampai sekarang. Beda dengan rumah lahir Kartini yang sampai sekarang masih milik seseorang, yang meski tidak ditempati namun tak boleh dibeli. Kabarnya pemilik memasang harga 6 milliar.

Orang-orang seperti Pak Kelik ini merupakan pahlawan yang jarang dikenal. 


Pendidikan W.R. Soepratman 

Saya masih ada sedikit pemberitahuan tentang sekolah W.R. Soepratman, sebelum menginjak ke karirnya sebagai jurnalis. 

Di artikel saya sebelumnya tentang lagu Indonees sebelum menjadi Indonesia Raya saya memberitahu bahwa buku biogragrafi W.R. Soepratman lulus sekolah Ongko Loro (Sekolah Kelas Dua), setelah dikeluarkan dari ELS (sekolah dasar Eropa). Fyi, sekolah Ongko Loro hanya mengajarkan calistung dan memakai bahasa daerah. 



Rasanya saya agak sulit percaya. Apalagi di buku yang sama, dikatakan  bahwa Wage lulus tes KAE (sebuah lembaga kursus bahasa Belanda untuk calon pegawai) pada usia 16 tahun. Ini sesuatu yang bertentangan. 

KAE atau Klein Ambtenaar Examen hanya bisa diikuti oleh lulusan ELS (sekolah dasar Eropa) dan HIS/HCS (sekolah dasar untuk pribumi/Cina kelas atas). Maka saya memberi opsi tengah mungkin bukan sekolah Ongko Loro tapi sekolah Ongko Siji. HIS adalah salah satu bentuk sekolah Ongko Siji (Sekolah Kelas Satu/Eerste School). 

Lilis Nihwan dalam buku W.R. Supratman: Guru Bangsa Indonesia karya memberi sebuah data baru yaitu, W.R. Supratman tamat dari ELS pada tahun 1917. Pada usia 16 tahun dia memperoleh ijazah Klain Ambtenaar Examen (KAE), sebuah lembaga kursus bahasa Belanda.

Meski beda-beda namun semuanyaa sepakat bahwa setelah itu Wage masuk sekolah Normaal School, atau sekolah guru. Ia memang menjadi guru selama di Makassar. 


W.R. Soepratman sebagai jurnalis

Ketika menjadi guru, Wage juga menjadi seorang penulis lepas di Pelita Ra'jat (Pelita Rakyat) dan Pemberita Makassar. Dua media massa yang beraliran nasionalis pada masa itu. Jangan bayangkan nasionalis yang tersurat, ya. Ingat tahunnya dulu kalau mau mengartikan/mengolah sebuah data.

koran pemberita Makassar
Koran pemberita Makassar (https://opac.perpusnas.go.id/uploaded_files/sampul_koleksi/original/Terbitan%20Berkala/376079.JPG?rnd=1225443682)

Kegemaran berbincang dengan para pemuda haluan nasionalis membentuk mental dan sudut pandang Wage tentang negaranya yang dijajah. Nihwan juga menyatakan bahwa pengobar semangat Wage adalah setelah berziarah ke makam Pangeran Diponegoro di Makassar dan seringnya berdiskusi dengan para pamuda.

Tanah Jawa sebagai lumbung pemuda nasionalis menarik perhatian Wage. Ia menjajaki beberapa kota sebelum akhirnya menetap di Batavia (Jakarta) dan meninggal di Surabaya.

Surabaya menjadi kota singgah pertama Wage muda. Mungkin karena ada saudaranya yang menetap di sana. Dari Surabaya ia tinggal di Cimahi, lalu lanjut ke Bandung. Wage menjadi wartawan untuk koran Kaum Muda dan setahun kemudian menjadi pimpinan redaksi Kaum Kita. Keduanya merupakan koran lokal Bandung. 

Kota Batavia menarik hatinya. Ia bekerja di koran Sin Po, sebuah koran beroplah besar dengan pembaca dari Tionghoa Melayu. Koran Sin Po inilah yang pertama kali berani mencetak lirik lagu Indonesia Raja (Indonesia Raya), karena pemiliknya adalah orang kaya raya yang tidak takut korannya dibredel.



Perlu diketahui bahwa Wage pertama kali datang ke acara Konggres Pemuda I (1926), Konggres Pemuda II (1928), dan Konggres Perempuan I (1928) sebagai wartawan Sinpo. Kita tahu, lagu Indonesia Raya diduga tercipta karena gelora dalam acara Konggres Pemuda I (1936) dan pertama kali diperdengarkan pada Konggres Pemuda II (1928). Tak hanya itu, sebagai wartawan Sin Po, Wage juga mendapat tugas meliput dan mewawancarai tokoh-tokoh pergerakan, misalnya Bung Karno, Bung Hatta, dan K.H. Agus Salim. 


Kelahiran lagu Ibu Kita Kartini

Door duisternis tot licht merupakan buku kumpulan surat Kartini pertama, dan terbit dalam bahasa Belanda. Siapa yang membacanya? 

Sobat Cakrawala Susindra harus tahu bahwa bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Indonesia) pada masa itu masih belum banyak dikuasai oleh orang Indonesia pada umumnya. Menurut survey tahun 1930, hanya sekitar 10% dari jumlah penduduk Hindia-Belanda. Tahu dong kalau waktu itu Indonesia masih bernama Hindia-Belanda.

Bahasa Melayu saat itu merupakan lingua franca (bahasa penghubung) di pasar. Bahasa ini diajarkan di sekolah-sekolah dasar kelas dua yang ditujukan untuk rakyat jelata. Tapi jumlah mereka yang sekolah juga teramat sangat minim.

Mereka yang menjadi priyayi atau orang kaya akan memasukkan anaknya ke sekolah dasar Eropa atau ke sekolah dasar bumiputera kelas atas, yang keduanya menggunakan bahasa Belanda sebagai lingua franca. Selain trend, juga untuk masa depan. 



Jadi siapa yang baca Door duisternis tot licht? Tentu para pemuda-pemudi yang tergerak membuat konggres menjadi pembaca potensial. Konggres dilakukan 14 tahun setelah buku tersebut terbit dan mengalami cetak ulang empat kali. Bisa dibayangkan seberapa populernya buku Habis Gelap Terbitlah Terang versi bahasa Belanda tersebut.

Nama Kartini dielu-elukan di acara konggres perempuan yang pertama kali dilakukan di Indonesia tersebut. Roekmini, dengan nama R.Ay. Santoso menjadi tamu kehormatan di sana dan menjadi salah satu pembicara. 

Salah satu tokoh kelahiran konggres ini, Soejatin, adalah seorang penggemar berat ide dan gagasan Kartini. Bisa dikatakan militan, karena ia bahkan berani menyatakan sikap tidak mau menyembah di depan sultan, padahal semua orang pada masa itu pasti menyembah sultan atau para raja Jawa. Beruntung ia memiliki suami menjadi salah satu suami poligini (punya banyak istri) sehingga rumah tangga mereka bertahan selamanya.


Tak jelas apakah karena nama Kartini banyak dielu-elukan di acara ini ataukah memang Wage sudah membaca buku Door duisternis tot licht, yang jelas lagu tersebut tercipta dari acara konggres ini. Lagi-lagi perlu digali apakah benar tercipta pasca konggres atau diperkenalkan saat konggres tersebut. Ada yang mau menelitinya?

Berikut lirik lagunya:

Ibu Kita Kartini

Ibu kita Kartini

Putri sejati 

Putri Indonesia

Harum namanya

Ibu kita Kartini

Pendekar bangsa 

Pendekar kaumnya

Untuk merdeka 

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia 

Sungguh besar cita-citanya

Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini

Putri jauhari 

Putri yang berjasa

Se Indonesia 

Ibu kita Kartini

Putri yang suci 

Putri yang merdeka

Cita-citanya 

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia

 

Sungguh besar cita-citanya

Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini 

Pendekar bangsa

Pendeka kaum ibu

Se-Indonesia

Ibu kita Kartini

Penyuluh budi 

Penyuluh bangsanya

Karena cintanya 

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia 

Sungguh besar cita-citanya 

Bagi Indonesia


W.R. Soepratman sebagai penulis novel

Konggres Perempuan Pertama atau Congres Perempoean Indoesia I diadakan pada tanggal 20-25 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran. Rumah bersejarah ini sekarang menjadi kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya. Letaknya di Jalan Brigjend Katamso 139 Yogyakarta. 

Konggres ini berlangsung dengan semangat perempuan yang ingin membebaskan kaumnya dari adat dan tradisi kolot yang membelenggu perempuan, yaitu: pernikahan dini, poligami, dan dijauhkan dari kesempatan bersekolah.

Bagi yang sulit membayangkan dan masih mengatakan sekolah yang diupayakan oleh Kartini oleh Kartini hanya untuk orang bangsawan dan kelas atas, silakan cari referensi tentang konggres ini. Mayoritas pesertanya adalah mereka yang punya status bangsawan/orang kaya serta lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda. Yang jelas, sesuai dengan semangat Kongres Pemuda pertama, bahasa Melayu (Indonesia) yang dipakai.

Inilah yang diharapkan oleh Kartini pada saat itu, yaitu mendidik mereka yang sudah tidak lagi sibuk dengan kelaparan dan kesengsaraan hidup sehingga kelak mereka akan bergerak untuk menjadi poros pendidikan di kota-kotanya. Hanya mereka yang sudah selesai dengan urusan bekerja membanting tulang dan punya karisme mengumpulkan orang yang bisa membuat upaya membuat sekolah perempuan di seluruh kota di Hindia terwujud. Jadi jangan muntah dan antipati dengan sejarah perempuan yang sering berhubungan dengan perempua berdarah biru ya…..

Apakah tak ada perempuan dari kalangan jelata yang hadir di sana? Oh, tentu saja ada gadis-gadis desa yang berpendidikan. Mungkin mereka beruntung oleh kecerdasan luar biasa sehigga menarik seseorang untuk menyekolahkannya ke sekolah Kelas Satu. Contoh nyata yang bisa kita ambil adalah cerita Kartini tentang ibunya Moerjam yang menyekolahkan seorang gadis desa di Pati, atau saat ia beberapa kali memberi rekomendasi gadis miskin cerdas yang layak sekolah di Kelas Satu kepada Rosa Abendanon.

Jangan langsung merasa muak kalau saya menyebut Kartini di mana-mana. Ini bukan karena saya terlalu memujanya, melainkan inilah spesialisasi saya, dan alasan saya mencari banyak referensi sejarah tentang perempuan. Lagian, bisa dikatakan, teramat sedikit data tentang perempuan lain dan biasanya terselip di antara sejarah biografi tokoh, dan biasanya teramat sangat sedikit dibahas. Membaca satu buku setebal 300 halaman belum tentu dapat beberapa puluh kata.

Itulah sebabnya kita harus banyak menulis agar bisa dicari jejaknya!

Lanjut... 

Kehadiran gadis desa miskin yang ‘tercerahkan’ oleh pendidikan Barat menjadi pemantik lahirnya novel Perawan Desa yang laku keras. Masih ada dua novel unpublished yaitu Darah Muda dan Kaum Fanatik. Kita fokus ke novel Perawan Desa saja yang memang ada bukunya. Setidaknya ada 12 eksemplar yang berhasil selamat. Semoga segera didigitalkan.

Menurut Lilis Nihwan:

“Perawan Desa merupakan novel karya W.R. Soepratman yang pertama. Karya tersebut ditulis dan diangkat dari kisah nyata keadaan mayarakat Indonesia kala itu yang sedang berjuang menyusun kekuatan untuk meraih kemerdekaan. Novel Perawan Desa mulai ditulis tahun 1928. Karya ini terinspirasi atau lahir karena Wage melihat gerakan kaum perempuan di Indonesia. Mereka berasal dari berbagai latar belakang budaya, pengalaman, perkumpulan (organisasi),  dan bahkan lintas agama bersatu padu untuk memberikan yang terbaik buat tanah air Indonesia yang masih dikekang penjajahan. Gerakan kaum perempuan yang dimaksud adalah Kongres Wanita Indonesia I, 22—25 Desember 1928 di Yogyakarta.”

novel perawan desa wr soepratman
Novel Perawan Desa karya W.R. Soepratman


Masih menurut Nihwan, W.R. Supratman sendiri yang membiayai ongkos produksi atau biaya mencetak novel Perawan Desa. Dengan biaya sebesar 125 gulden, W.R. Supratman berhak mendapatkan 2.000 buku. Novel ini dicetak di Gambir-Jakarta.

Sosok Wage sebagai TO (sebagian menyebut sudah jadi buronan) karena lagu Indonesia Raja, ditambah, novel tersebut memang merupakan kritik keras pada pemerintah kolonial, maka pemerintah pada saat itu melarang keras karya-karya Wage. Pemerintah kolonial Belanda menyita semua buku yang beredar, baik di toko buku maupun di percetakan. 

Jangan menyamakan dengan sebuah film tahun 1980 yang dibintangi oleh Yati Surachman, ya. Beda kok. Yang satu ini adalah novelnya Putu Wijaya. Ceritanya tentang gadis cantik penjual telur yang diperk*** oleh anak tokoh masyarakat setempat. Judul aslinya Balada Sum Kuning. Film Perawan Desa besutan sutradara Frank Rorimpandey ini tidak ada hubungannya dengan novel Perempuan Desa kara W.R. Soepratman. 

Tampaknya judul Perawan Desa sangat menarik sehingga ada album lagu berjudul sama dari Jamal Mirdad tahun 1981, menyusul populernya film berjudul sama. Pada tahun ini, mungkin, hanya sedikit orang yang mengingat novel karya W.R. Soepratman berjudul Perawan Desa terbitan tahun 1929, yang menjadi salah satu sumber kebangkitan nasionalisme bangsa Indonesia…..




17 Komentar

  1. Aku jujurnya baru tau ttg novel pak Wage ini, Perawan Desa:o. Bukti kalo pengetahuan sejarah ku juga ga banyak, walopun aku ke museum2 sejarah. Apa bukunya ga diterbitkan ulang setelah zaman kemerdekaan, menjadi buku sastra seperti karangan Marah Roesli dkk di zaman yg sama yaaa. Inget banget dulu selalu ada tugas membaca buku2 sastra. Tapi aku ingat banget ga ada buku WR Soepratman ini dalam list bacaan wajib dari sekolah.

    Membaca tulisan ini, jadi menambah ilmu baru mba. Aku suka membaca hal2 sejarah, atau lebih bagus lagi kalo datang ke museumnya (kalo ada). Buatku museum itu selalu tempat terbaik untuk belajar sejarah sih, dan jadi ga bosan juga kalo memang museumnya sendiri interaktif, dan informatif dengan banyak koleksi lengkap.

    Kalo yang ttg Kartini yg sering berhubungan dengan wanita bangsawan, masuk akal banget sebenernya, secara di zaman itu masyarakat miskin trutama wanita, kecil kemungkinan berpikir ttg perjuangan. Pastilah mereka mereka fokus untuk survive dan urusan perut. Kecuali kayak yg mba tulis, hanya yg beruntung memiliki kecerdasan tinggi dan terlihat Ama bagsawan untuk akhirnya bisa disekolahkan. Jadi wajar kalo ibu Kartini berhubungan dengan para wanita bangsawan.

    Menariiiik tulisannya mba. Apalagi ditulis dengan runut begini dengan penjelasan yg mudah dibaca juga :)

    BalasHapus
  2. jasamu tiada tara :') keren banget

    BalasHapus
  3. Wr soepratman memang seniman tulen ya. Profesi di bidang seni. Mpo salute dan bang bang kalau ada orang pemberani ketemuan sama orang yang pemilik perusahan yang tidak takut koran di tutup sama belanda. Berani menyuarakan hati rakyat kecil

    BalasHapus
  4. Kalau lahirnya tanggal 19 Maret berarti samaan seperti daku, Pisces hehe.
    Seneng baca sejarah WR Soepratman, semoga karya beliau menjadi amal jariyah yang tak terputus

    BalasHapus
  5. Keren ya mbak peranan seorang Pak Wage. Selama ini memang di buku sejarah SD hanya dituliskan beliau itu komponis. Ngga taunya juga seorang jurnalistik.

    BalasHapus
  6. Selama ini tahunya WR Soepratman itu ya pencipta lagu Indonesia Raya. Ternyata dia jurnalis juga, bahkan pernah jadi pemimpin redaksi. Penulis novel juga, yang membiayai sendiri pencetakan novelnya. Ternyata sejak dulu juga sudah ada "penerbit indie" ya, dan Wage sudah menjadi pelakunya

    BalasHapus
  7. Masya Allah, baru tahu saya sosok WR SUpratman sebagai penulis novel. Beliau seorang pejuang melalui karya tulis dan musik. Semangat yang sekarang masih bisa ditiru.

    BalasHapus
  8. Pak WR Supratman ini memang luar biasa, udah aku kagum sama dia karena lagu kebangsaan RI eh ternyata dia juga seorang novelis dan jurnalis. Terimakasih mba infonya

    BalasHapus
  9. Gak kebayang gimana proses menjadi penulis dan mencetak karya sendiri. Ternyata memang ada ya novel hasil karya WR Soepratman. Salfok sama foto Novel Perawan yang ada peringatan di bagian awal 🤭

    BalasHapus
  10. Sejujurnya, saya hanya mengenal Bapak Wage sebagai pencipta lagu Indonesia Raya dan beberapa lagu Nasional lainnya. Agak terkejut ternyata beliau adalah seorang jurnalis dan novelis juga.

    BalasHapus
  11. Melihat wujud syair Indonesia Raya di atas merinding rasanya....begitu gigih dan telatennya literasi orang2 terdahulu sebelum kita. Luar biasa perjuangannya dan memang layak menyandang gelar sebagai pahlawan bangsa.

    BalasHapus
  12. oke.. saya pikir Om WR Supratman memang seorang musikus sekaligus politikus saja.. rupanya penulis juga... Terimakasih sudah memberikan pencerahan kak..

    BalasHapus
  13. Aku tahu kalau Pak WR Supratman jurnalis cuma baru tahu kalau belio juga penulis novel dan baru tahu novelnya pas baca postingan ini, orang dulu emang keren beud

    BalasHapus
  14. Serunya baca sejarah ya ini, jadi tahu sisi lain dari tokoh yang selama dikenal. Tidak salah kalau banyak membaca itu akan jadi bijak karena makin banyak baca makin banyak tau dari berbagai sisi.

    BalasHapus
  15. Asik sekali penjelasan mak Susi ini. Aku pribadi enggak begitu banyak mengulik mengenai sepak terjang Pak Wage. Hanya tahu sebatas beliau pencipta lagu kebangsaan kita. Tapi, ternyata di balik itu, beliau juga termasuk pejuang literasi, ya. Karyanya benar-benar abadi. Saya harus nyari nih biar bisa tau juga tentang novel beliau ini.

    Senggolan kisah Kartini juga cukup nambah wawasanku. Terus, aku pikir, iya juga ya. Perempuan dari rakyat jelata itu pasti sibuk banget. Sibuk untuk menguras keringat demi keberlangsungan hidup mereka. Jadi, fakta menarik mengenai perempuan-perempuan dari kalangan bangsawan yang justru banyak punya andil ini buatku masuk akal banget. Bahkan bisa dibilang, toh masih terjadi kok. Di Bekasi sendiri, terutama di wilayah kabupaten, daerah agak jauh dari kota. Masih banyak loh, perempuan muda yang ternyata enggak lulus sampai sma. Karena udah harus ngurus anak. Bahkan, yang mau mengambil kejar paket pun enggak banyak jumlahnya.


    Mind blowing banget sama tulisannya mak. Banyak hal baru yang aku juga baru tau.

    BalasHapus
  16. Horeee, Mba Susi update soal sejarah lagi. Aq tahu Pak Wage itu jurnalis, tapi gak tahu beliau ternyata juga seorang novelis.

    Kenapa dua novelnya Pak Wage gak dipublikasi setelah merdeka mba? Kalo disita, kalo gak salah saya pernah dengar Belanda dengan itikad baik hendak memulangkan sebagian harta dan peninggalan sejarah Indonesia. Semoga novel-novel Pak Wage ini salah satunya.

    BalasHapus
  17. Wah, pas banget dengan klaim di awal tulisan. Nggak banyak yang tahu kalau beliau Jurnalis. Kaget saya Bu. Waduh, banyak nian yang nggak tau dengan sejarah ini.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)