Indonees Indonees, lagu ini pertama kali diperdengarkan di Konggres Pemuda II. Tanpa Lirik tentu saja, karena konggres tersebut terlaksana dengan pengawasan ketat dari pemerintah kolonial. Bagaimana lagu Indonees Indonees itu menjadi Indonesia Raya? Ini sekelumit kisahnya.

Indonees, Lagu Ciptaan WR Soepratman Sebelum Menjadi Indonesia Raya



Sebentar lagi adalah peringatan Hari Sumpah Pemuda, tepatnya pada 28 Oktober. Mari kita mengenal sosok Wage Rudolf Soepratman lebih dekat.


Rudofl tapi Indonesia tulen

19 Maret 1903 di Purworejo, Wage Soepratman lahir. Putra dari Djoemeno Senen Sastrosoehardjo alias Abdoelmoein dan Siti Senen. Ia lahir di masa ketika masih sedikit sekali pemuda Indonesia mendapatkan pendidikan. Seorang Gubernur Jenderal yang dinyatakan pro rakyat – sebelum digantikan Van der Wijk - berusaha mengurangi beban ELS sehingga membuat sekolah khusus warga lokal. Saya memilih menyebutnya bumiputra daripada pribumi. 

Namanya Cornelis Pijnacker Hordijk. Menurut yang pernah saya baca (tapi lupa di mana) dia peduli pada rakyat yang dipimpinnya terutama di bidang pendidikan. Hordijk adalah profesor hukum saat menjabat jadi orang nomor satu di negara koloni bernama Hindia. 

Salah satu yang dikenang darinya adalah kelahiran sekolah untuk orang-orang bumiputra; sekolah Kelas Satu (Eerste Klasse School) dan Sekolah Kelas Dua atau Tweede Inlandsche School. Beberapa orang kelas jelata menyebut sekolah ini sebagai Sekolah Ongko Loro.  Kata ‘kelas’ di sini mengacu pada status atau derajat murid yang diterima. 

Sekolah ini tidak mendapat sambutan baik di masyarakat yang sudah seabad lebih menjadi kaum terjajah sehingga sudah nyaman dengan kebodohan dan sibuk dengan kesengsaraannya. Pemerintahnya cukup persuasif alias memaksa sekolah agar mempunyai murid. Mari kita bicarakan sejarah pendidikan negara kita lain waktu saja.

Tak dijelaskan sekolah mana yang diambil oleh Roekijem Soepratijah, mbakyu mbarep-nya Wage, tapi dialah yang mengasuh adiknya itu bersama dengan suami Belandaya, Willem Mauritius Van Eldik. Orang yang mau menikah dengan orang Belanda (mungkin Indo) tentu minimal sudah mengenyam bangku sekolah.


Pengarang yang menginspirasi saya

Ibu Wage dan Roekijem meninggal dunia sejak Wage masih kecil. Si adik kecil ini diboyong saudaranya itu ke Makassar pada tahun 1914. Mereka suka (dan pemain) biola. Wage kecil bisa menguasai musik dawai tersebut dengan cepat. Tahun 1920 Van Eldik membuat grup musik Black and White Jazz Band. Nama tersebut dipilih karena pemain band-nya adalah campuran antara si kulit putih dan si kulit sawo matang. 

Menurut Rasid Alfarizi dalam Fajar News, Van Eldik adalah instruktur di Batalion XIX berpangkat sersan. Ia mengangkat Wage sebagai anak angkat agar bisa sekolah di sekolah dasar Eropa atau ELS. Kepanjangan dari Europeesche Lagere School. Sekolah ini aslinya khusus untuk orang Belanda dan Eropa pada umumnya. . Saat itu keluarga kecil ini sudah memiliki seorang putra bernama Fredinand van Eldik.

Non Eropa boleh sekolah di ELS dengan syarat dan ketentuan yang berat. Setidaknya dari hasil penelusuran saya akan sekolah ini – bagian dari mempelajari sekolah Kartini – ada dua syarat utama yaitu bisa berbahasa Belanda dasar dan sanggup membayar. 

Alasan yang terakhir ini termasuk sangat berat, karena bea sekolah menjadi bagian dari deskriminasi yang parah. Sebagai ilustrasi saja, orang Eropa (termasuk Indo) membayar 1 bagian, anak pangreh praja membayar 2 bagian, sedangkan anak yang bukan kedua golongan di atas membayar 4 bagian.

Mengapa saya jelaskan? Karena saya ingin menambahkan informasi tentang hal ini. Dalam buku-buku sejarah W.R. Soepratman selalu dikatakan bahwa namanya ditambah Rudolf agar bisa masuk ELS namun setelah 'ketahuan' ia dikeluarkan. Bagian yang terakhir ini perlu ditambah sedikit. 

Menurut saya, Van Eldik mengakui Wage sebagai anak Indo, agar bisa membayar sekolah Wage dengan biaya yang jauh lebih murah bahkan gratis. Contoh jika dikonversi zaman sekarang, ia membayar satu juta per bulan sebagai keturunan Belanda. Bahkan banyak yang gratis tis tis tis. Saat ketahuan, maka SPP-nya empat juta per bulan. Keluar adalah jalan yang tak bisa ditawar karena ekonomi keluarga muda ini tentunya tidaklah turah-turah sehingga bisa hidup mewah. 

Menurut biografi yang banyak beredar, Wage belajar di sekolah Kelas Dua alias Sekolah Ongko Loro. Namun di tempat lain dijelaskan bahwa ia bisa mengambil ujian AE (Klein Ambtenaar Examen). Semacam ujian menjadi pegawai negeri. mereka yang bisa ikut ujian ini haruslah lulusan HIS (sekolah dasar kelas satu) dan sederajat.

Ok, segitu saja. Saya hanya mau klarifikasi pendidikan yang ditempuh oleh Wage saja, sekaligus menjelaskan tentang namanya yang ada kesan Barat padahal Timur tulen.


Mengapa Selalu Kartini dan Bukan Cut Nyak Dien?


Lagu Indonees

Kapan lagu Indonesia Raya diciptakan, mungkin perlu menggali lebih dalam dan saya tak melakukan hal yang sulit dilakukan para sejarawan senior. Bukan spesialisasi saya. Saya lebih fokus pada sejarah perempuan. Jadi, sejarah semacam artikel kali ini adalah sripilan karena saya butuh meluaskan pandangan. Karena itulah saya sebut blog ini Cakrawala Susindra karena pandangan luas dan pembahasan komprehensif lah yang saya fokuskan.

Antar sejarawan mengklaim waktu yang berbeda.

Menurut rumornya, lagu ini diciptakan pada tahun 1926. Dikatakan, Wage terinspirasi pada pidato Mohammad Tabrani yang berkali-kali melantangkan, “Rakyat Indonesia bersatulah!”

Alwi merevisi keterangan ini, dengan mengatakan saat konggres pertama itu Wage ingin menyumbangkan lagu namun ragu. Lagu itu tercipta sebelum 1926, yaitu saat ada artikel di majalah Timboel (Solo) yang menyatakan, “Alangkah baeknya kaloe ada salah saorang dari pemoeda Indonesia jang bisa tjiptaken lagoe kebangsaan Indonesia, sebab laen-laen bangsa semoea telah memiliki lagoe kebangsaannja masing-masing!”

Satu yang jelas bahwa embrio lagu Indonesia Raya diperdengarkan secara publik di gedung Indonesische Clubgebouw, di jalan Kramat Raya No. 106 Jakarta. Tentu seizin dari Soegondo Djojopoespo, dengan syarat tanpa lirik sama sekali. 

Kongress Pemuda tersebut dilakukan pada tahun 1928. Tahu dong kalau waktu itu masih jauh dari merdeka. Bahkan bisa dikatakan baru fajarnya Indonesia. Jadi konggres tersebut masih dibayangi mata-mata pemerintah kolonial. Bahasa lugasnya “Kita masih dijajah, gaess.”

Lagu tersebut berjudul Indonees Indonees. Liriknya punya 2 kata terlarang yang bisa-bisa langsung didor oleh polisi saat itu, yaitu Indonees (bacanya Indonesia) dan merdeka

Lagu itu langsung boom! dan dinyanyikan di mana saja. Banyak organisasi kepanduan mempopulerkan lagu tersebut. Setelah PNI Partai Nasional Indonesia menggunakannya sebagai lagu penggugah semangat pada konggres partai, banyak partai lainnya mengikuti trend ini. Tahun 1930 lagu ini resmi jad lagu terlarang.

Wage meninggal tahun 1938. Tepatnya tanggal 17 Agustus 1938. Lagu tersebut menjadi sedemikian viral pada zamannya sehingga hidup penciptanya menjadi tidak tenang. Dia  masuk daftar orang yang diawasi dengan ketat. Mungkin beberapa kali masuk penjara, seperti 10 hari sebelum meninggal ia sempat ditangkap dan masuk penjara karena lagu Matahari Terbit diperdengarkan di Radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep) Surabaya. Meski tak lama, namun saat itu kesehatannya benar-benar buruk sehingga akhirnya beliau meninggal pada tanggal pada 17 Agustus 1938 (Rabu Wage) W.R. Soepratman meninggal dunia di Jalan Mangga No. 21 Tambak Sari Surabaya karena gangguan jantung.


Indonees, menjadi Indonesia Raya

Indonees, itulah judul awalnya. Tak ada kata merdeka. Kata yang asli adalah moelia. Beberapa perubahan tampak seperti di bawah ini:

“Indones, Indones, moelia, moelia, tanahkoe, neg’riku yang koecinta” menjadi “Indonesia Raja, Merdeka, merdeka; Tanahku, neg’riku jang kutjinta!” 

“Indones, Indones, Moelia, Moelia, Hidoeplah Indonesia Raja” diubah menjadi “Indonesia Raja, Merdeka, merdeka, Hiduplah Indonesia Raja


Di bawah ini adalah lirik aslinya.


Nguri-Uri Bahasa Melayu di Hari Kebangkitan Nasional 2021


Tampak di atas judul, tertulis SIN PO. Bukan SINDO ya, meski terlihat demikian. Ada sejarahnya sendiri. Dan ini kaitannya dengan kiprah orang Tionghoa dalam membantu kemerdekaan kita.


Lagu tanpa lirik yang dimainkan oleh Wage di Sumpah Pemuda berhasil membuat banyak peserta yang merinding dan menaikkan semangat untuk memerdekakan diri. Namun pers pada masa itu tak berani menerbitkan lirik lagu tersebut meski pengarangnya sendiri yang datang. 

Surat kabar harian Sin Po yang menerbitkan pertama kali, tepatnya pada tanggal 10 November 1928, pada Wekelijksche Editie (Sin Po Edisi Mingguan). Setahun kemudian Wage mengganti judul syair menjadi “Indonesia Raja” melalui surat kabar ini kembali.

Namun ada klaim lagi bahwa yang mengubah judul adalah panitia persiapan kemerdekaan. Dikatakan bahwa: 

“Pada tahun 1944, sebuah panitia yang ditugaskan mempersiapkan kemerdekaan ditugaskan mencari lagu Kebangsaan. Panitia yang dipimpin oleh Sukarno itulah yang beberapa kali mengubah lirik dan judul lagu itu. Pada tanggal 8 September 1944, sebuah keputusan rapat memutuskan mengubah judul lagu itu dari Indonees, Indonees menjadi Indonesia Raya.”


Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Saya jarang menangis tapi jika menyanyikan lagu ini air mata saya pasti menganak sungai, dan saya tidak malu. Bahkan saat menonton siaran tunda webinar Jalur Rempah dan ada sesi menyanyikan lagu ini (September tahun ini) saya masih mengeluarkan air mata berderai-derai.

Ajaib sekali. 

Seharusnya lagu Indonesia Raya 3 Stanza menjadi lagu yang sering dikumandangkan di upacara. Jangan merasa terlalu lama, karena dampaknya luar biasa. Kita akan dibuat bertanya-tanya, “bakti apa yang sudah kulakukan untuk negeri tercintaku??”

Sayangnya sejauh yang saya tahu, hanya di acaranya Direktorat Sejarah lah lagu versi lengkap ini dipakai. Meski Kemendikbud sendiri pernah memberikan ajakan kembali ke versi lengkap, namun kelihatannya masih sangat terbatas yang menjawab ajakan ini.



Surat Perdana Kartini kepada Stella Sangat Powerful!


Berikut lirik Indonesia Raya 3 Stanza:

Lirik Lagu Indonesia Raya Stanza I 

Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku, Di sanalah Aku Berdiri, Jadi Pandu Ibuku,

Indonesia Kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku, Marilah Kita Berseru, Indonesia Bersatu.

Hiduplah Tanahku, Hiduplah Negeriku, Bangsaku, Rakyatku, Semuanya,

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Untuk Indonesia Raya.

Reff:

Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Tanahku, Negriku yang Kucinta,

Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya


Stanza II

Indonesia Tanah Yang Mulia, Tanah Kita yang Kaya, Di sanalah Aku Berdiri, Untuk Slama-lamanya,

Indonesia Tanah Pusaka, Pusaka Kita Semuanya, Marilah kita Mendoa, Indonesia Bahagia,

Suburlah Tanahnya, Suburlah Jiwanya, Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya.

Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya, Untuk Indonesia Raya.


Reff:

Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Tanahku, Negriku yang Kucinta,

Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya


Stanza III

Indonesia Tanah Yang Suci, Tanah Kita Yang Sakti, Di sanalah Aku Berdiri, N’jaga Ibu Sejati,

Indonesia, Tanah Berseri, Tanah Yang Aku Sayangi, Marilah Kita Berjanji, Indonesia Abadi,

S’lamatlah Rakyatnya, Slamatlah Putranya, Pulaunya, Lautnya, Semuanya.

Majulah Negrinya, Majulah Pandunya, Untuk Indonesia Raya,



Luar biasa sekali, bagaimana sebuah lagu bisa menggugah kesadaran diri untuk berbangsa dan bernegara, dan bahkan selewat pergantian abad pun syair ini masih menjadi mantra yang mengaduk-aduk perasaan ingin berbuat lebih untuk Indonesia. 

Sekian dulu ya, sobat Cakrawala Susindra, artikel sejarah kita kali ini. Semoga bisa membuat para pembaca gelisah dan ingin segera bergerak untuk memerdekaan diri sekitarnya. Tentu arti merdeka pada masa penjajahan tidaklah sama dengan masa pandemi sekarang. 



Beberapa sumber:

https://www.berdikarionline.com/supratman-dan-kisah-lagu-indonesia-raya/

https://fajar.co.id/2020/04/08/kisah-supratman-di-makassar-tambah-rudolf-tiba-di-rajawali/

https://fajar.co.id/2020/04/12/kisah-wr-supratman-saat-jadi-guru-sekolah-pribumi/

https://tirto.id/sumpah-pemuda-dan-kiprah-orang-tionghoa-di-balik-indonesia-raya-c8Jl

https://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/mengulik-biografi-sang-pencipta-lagu-indonesia-raya-wage-rudolf-soepratman/

https://tirto.id/sumpah-pemuda-dan-kiprah-orang-tionghoa-di-balik-indonesia-raya-c8Jl