Indonees, Lagu Ciptaan W.R. Soepratman Sebelum Menjadi Indonesia Raya

Indonees Indonees, lagu ini pertama kali diperdengarkan di Konggres Pemuda II. Tanpa Lirik tentu saja, karena konggres tersebut terlaksana dengan pengawasan ketat dari pemerintah kolonial. Bagaimana lagu Indonees Indonees itu menjadi Indonesia Raya? Ini sekelumit kisahnya.

Indonees, Lagu Ciptaan WR Soepratman Sebelum Menjadi Indonesia Raya



Sebentar lagi adalah peringatan Hari Sumpah Pemuda, tepatnya pada 28 Oktober. Mari kita mengenal sosok Wage Rudolf Soepratman lebih dekat.


Rudofl tapi Indonesia tulen

19 Maret 1903 di Purworejo, Wage Soepratman lahir. Putra dari Djoemeno Senen Sastrosoehardjo alias Abdoelmoein dan Siti Senen. Ia lahir di masa ketika masih sedikit sekali pemuda Indonesia mendapatkan pendidikan. Seorang Gubernur Jenderal yang dinyatakan pro rakyat – sebelum digantikan Van der Wijk - berusaha mengurangi beban ELS sehingga membuat sekolah khusus warga lokal. Saya memilih menyebutnya bumiputra daripada pribumi. 

Namanya Cornelis Pijnacker Hordijk. Menurut yang pernah saya baca (tapi lupa di mana) dia peduli pada rakyat yang dipimpinnya terutama di bidang pendidikan. Hordijk adalah profesor hukum saat menjabat jadi orang nomor satu di negara koloni bernama Hindia. 

Salah satu yang dikenang darinya adalah kelahiran sekolah untuk orang-orang bumiputra; sekolah Kelas Satu (Eerste Klasse School) dan Sekolah Kelas Dua atau Tweede Inlandsche School. Beberapa orang kelas jelata menyebut sekolah ini sebagai Sekolah Ongko Loro.  Kata ‘kelas’ di sini mengacu pada status atau derajat murid yang diterima. 

Sekolah ini tidak mendapat sambutan baik di masyarakat yang sudah seabad lebih menjadi kaum terjajah sehingga sudah nyaman dengan kebodohan dan sibuk dengan kesengsaraannya. Pemerintahnya cukup persuasif alias memaksa sekolah agar mempunyai murid. Mari kita bicarakan sejarah pendidikan negara kita lain waktu saja.

Tak dijelaskan sekolah mana yang diambil oleh Roekijem Soepratijah, mbakyu mbarep-nya Wage, tapi dialah yang mengasuh adiknya itu bersama dengan suami Belandaya, Willem Mauritius Van Eldik. Orang yang mau menikah dengan orang Belanda (mungkin Indo) tentu minimal sudah mengenyam bangku sekolah.


Pengarang yang menginspirasi saya

Ibu Wage dan Roekijem meninggal dunia sejak Wage masih kecil. Si adik kecil ini diboyong saudaranya itu ke Makassar pada tahun 1914. Mereka suka (dan pemain) biola. Wage kecil bisa menguasai musik dawai tersebut dengan cepat. Tahun 1920 Van Eldik membuat grup musik Black and White Jazz Band. Nama tersebut dipilih karena pemain band-nya adalah campuran antara si kulit putih dan si kulit sawo matang. 

Menurut Rasid Alfarizi dalam Fajar News, Van Eldik adalah instruktur di Batalion XIX berpangkat sersan. Ia mengangkat Wage sebagai anak angkat agar bisa sekolah di sekolah dasar Eropa atau ELS. Kepanjangan dari Europeesche Lagere School. Sekolah ini aslinya khusus untuk orang Belanda dan Eropa pada umumnya. . Saat itu keluarga kecil ini sudah memiliki seorang putra bernama Fredinand van Eldik.

Non Eropa boleh sekolah di ELS dengan syarat dan ketentuan yang berat. Setidaknya dari hasil penelusuran saya akan sekolah ini – bagian dari mempelajari sekolah Kartini – ada dua syarat utama yaitu bisa berbahasa Belanda dasar dan sanggup membayar. 

Alasan yang terakhir ini termasuk sangat berat, karena bea sekolah menjadi bagian dari deskriminasi yang parah. Sebagai ilustrasi saja, orang Eropa (termasuk Indo) membayar 1 bagian, anak pangreh praja membayar 2 bagian, sedangkan anak yang bukan kedua golongan di atas membayar 4 bagian.

Mengapa saya jelaskan? Karena saya ingin menambahkan informasi tentang hal ini. Dalam buku-buku sejarah W.R. Soepratman selalu dikatakan bahwa namanya ditambah Rudolf agar bisa masuk ELS namun setelah 'ketahuan' ia dikeluarkan. Bagian yang terakhir ini perlu ditambah sedikit. 

Menurut saya, Van Eldik mengakui Wage sebagai anak Indo, agar bisa membayar sekolah Wage dengan biaya yang jauh lebih murah bahkan gratis. Contoh jika dikonversi zaman sekarang, ia membayar satu juta per bulan sebagai keturunan Belanda. Bahkan banyak yang gratis tis tis tis. Saat ketahuan, maka SPP-nya empat juta per bulan. Keluar adalah jalan yang tak bisa ditawar karena ekonomi keluarga muda ini tentunya tidaklah turah-turah sehingga bisa hidup mewah. 

Menurut biografi yang banyak beredar, Wage belajar di sekolah Kelas Dua alias Sekolah Ongko Loro. Namun di tempat lain dijelaskan bahwa ia bisa mengambil ujian AE (Klein Ambtenaar Examen). Semacam ujian menjadi pegawai negeri. mereka yang bisa ikut ujian ini haruslah lulusan HIS (sekolah dasar kelas satu) dan sederajat.

Ok, segitu saja. Saya hanya mau klarifikasi pendidikan yang ditempuh oleh Wage saja, sekaligus menjelaskan tentang namanya yang ada kesan Barat padahal Timur tulen.


Mengapa Selalu Kartini dan Bukan Cut Nyak Dien?


Lagu Indonees

Kapan lagu Indonesia Raya diciptakan, mungkin perlu menggali lebih dalam dan saya tak melakukan hal yang sulit dilakukan para sejarawan senior. Bukan spesialisasi saya. Saya lebih fokus pada sejarah perempuan. Jadi, sejarah semacam artikel kali ini adalah sripilan karena saya butuh meluaskan pandangan. Karena itulah saya sebut blog ini Cakrawala Susindra karena pandangan luas dan pembahasan komprehensif lah yang saya fokuskan.

Antar sejarawan mengklaim waktu yang berbeda.

Menurut rumornya, lagu ini diciptakan pada tahun 1926. Dikatakan, Wage terinspirasi pada pidato Mohammad Tabrani yang berkali-kali melantangkan, “Rakyat Indonesia bersatulah!”

Alwi merevisi keterangan ini, dengan mengatakan saat konggres pertama itu Wage ingin menyumbangkan lagu namun ragu. Lagu itu tercipta sebelum 1926, yaitu saat ada artikel di majalah Timboel (Solo) yang menyatakan, “Alangkah baeknya kaloe ada salah saorang dari pemoeda Indonesia jang bisa tjiptaken lagoe kebangsaan Indonesia, sebab laen-laen bangsa semoea telah memiliki lagoe kebangsaannja masing-masing!”

Satu yang jelas bahwa embrio lagu Indonesia Raya diperdengarkan secara publik di gedung Indonesische Clubgebouw, di jalan Kramat Raya No. 106 Jakarta. Tentu seizin dari Soegondo Djojopoespo, dengan syarat tanpa lirik sama sekali. 

Kongress Pemuda tersebut dilakukan pada tahun 1928. Tahu dong kalau waktu itu masih jauh dari merdeka. Bahkan bisa dikatakan baru fajarnya Indonesia. Jadi konggres tersebut masih dibayangi mata-mata pemerintah kolonial. Bahasa lugasnya “Kita masih dijajah, gaess.”

Lagu tersebut berjudul Indonees Indonees. Liriknya punya 2 kata terlarang yang bisa-bisa langsung didor oleh polisi saat itu, yaitu Indonees (bacanya Indonesia) dan merdeka

Lagu itu langsung boom! dan dinyanyikan di mana saja. Banyak organisasi kepanduan mempopulerkan lagu tersebut. Setelah PNI Partai Nasional Indonesia menggunakannya sebagai lagu penggugah semangat pada konggres partai, banyak partai lainnya mengikuti trend ini. Tahun 1930 lagu ini resmi jad lagu terlarang.

Wage meninggal tahun 1938. Tepatnya tanggal 17 Agustus 1938. Lagu tersebut menjadi sedemikian viral pada zamannya sehingga hidup penciptanya menjadi tidak tenang. Dia  masuk daftar orang yang diawasi dengan ketat. Mungkin beberapa kali masuk penjara, seperti 10 hari sebelum meninggal ia sempat ditangkap dan masuk penjara karena lagu Matahari Terbit diperdengarkan di Radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep) Surabaya. Meski tak lama, namun saat itu kesehatannya benar-benar buruk sehingga akhirnya beliau meninggal pada tanggal pada 17 Agustus 1938 (Rabu Wage) W.R. Soepratman meninggal dunia di Jalan Mangga No. 21 Tambak Sari Surabaya karena gangguan jantung.


Indonees, menjadi Indonesia Raya

Indonees, itulah judul awalnya. Tak ada kata merdeka. Kata yang asli adalah moelia. Beberapa perubahan tampak seperti di bawah ini:

“Indones, Indones, moelia, moelia, tanahkoe, neg’riku yang koecinta” menjadi “Indonesia Raja, Merdeka, merdeka; Tanahku, neg’riku jang kutjinta!” 

“Indones, Indones, Moelia, Moelia, Hidoeplah Indonesia Raja” diubah menjadi “Indonesia Raja, Merdeka, merdeka, Hiduplah Indonesia Raja


Di bawah ini adalah lirik aslinya.


Nguri-Uri Bahasa Melayu di Hari Kebangkitan Nasional 2021


Tampak di atas judul, tertulis SIN PO. Bukan SINDO ya, meski terlihat demikian. Ada sejarahnya sendiri. Dan ini kaitannya dengan kiprah orang Tionghoa dalam membantu kemerdekaan kita.


Lagu tanpa lirik yang dimainkan oleh Wage di Sumpah Pemuda berhasil membuat banyak peserta yang merinding dan menaikkan semangat untuk memerdekakan diri. Namun pers pada masa itu tak berani menerbitkan lirik lagu tersebut meski pengarangnya sendiri yang datang. 

Surat kabar harian Sin Po yang menerbitkan pertama kali, tepatnya pada tanggal 10 November 1928, pada Wekelijksche Editie (Sin Po Edisi Mingguan). Setahun kemudian Wage mengganti judul syair menjadi “Indonesia Raja” melalui surat kabar ini kembali.

Namun ada klaim lagi bahwa yang mengubah judul adalah panitia persiapan kemerdekaan. Dikatakan bahwa: 

“Pada tahun 1944, sebuah panitia yang ditugaskan mempersiapkan kemerdekaan ditugaskan mencari lagu Kebangsaan. Panitia yang dipimpin oleh Sukarno itulah yang beberapa kali mengubah lirik dan judul lagu itu. Pada tanggal 8 September 1944, sebuah keputusan rapat memutuskan mengubah judul lagu itu dari Indonees, Indonees menjadi Indonesia Raya.”


Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Saya jarang menangis tapi jika menyanyikan lagu ini air mata saya pasti menganak sungai, dan saya tidak malu. Bahkan saat menonton siaran tunda webinar Jalur Rempah dan ada sesi menyanyikan lagu ini (September tahun ini) saya masih mengeluarkan air mata berderai-derai.

Ajaib sekali. 

Seharusnya lagu Indonesia Raya 3 Stanza menjadi lagu yang sering dikumandangkan di upacara. Jangan merasa terlalu lama, karena dampaknya luar biasa. Kita akan dibuat bertanya-tanya, “bakti apa yang sudah kulakukan untuk negeri tercintaku??”

Sayangnya sejauh yang saya tahu, hanya di acaranya Direktorat Sejarah lah lagu versi lengkap ini dipakai. Meski Kemendikbud sendiri pernah memberikan ajakan kembali ke versi lengkap, namun kelihatannya masih sangat terbatas yang menjawab ajakan ini.



Surat Perdana Kartini kepada Stella Sangat Powerful!


Berikut lirik Indonesia Raya 3 Stanza:

Lirik Lagu Indonesia Raya Stanza I 

Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku, Di sanalah Aku Berdiri, Jadi Pandu Ibuku,

Indonesia Kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku, Marilah Kita Berseru, Indonesia Bersatu.

Hiduplah Tanahku, Hiduplah Negeriku, Bangsaku, Rakyatku, Semuanya,

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Untuk Indonesia Raya.

Reff:

Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Tanahku, Negriku yang Kucinta,

Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya


Stanza II

Indonesia Tanah Yang Mulia, Tanah Kita yang Kaya, Di sanalah Aku Berdiri, Untuk Slama-lamanya,

Indonesia Tanah Pusaka, Pusaka Kita Semuanya, Marilah kita Mendoa, Indonesia Bahagia,

Suburlah Tanahnya, Suburlah Jiwanya, Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya.

Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya, Untuk Indonesia Raya.


Reff:

Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Tanahku, Negriku yang Kucinta,

Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya


Stanza III

Indonesia Tanah Yang Suci, Tanah Kita Yang Sakti, Di sanalah Aku Berdiri, N’jaga Ibu Sejati,

Indonesia, Tanah Berseri, Tanah Yang Aku Sayangi, Marilah Kita Berjanji, Indonesia Abadi,

S’lamatlah Rakyatnya, Slamatlah Putranya, Pulaunya, Lautnya, Semuanya.

Majulah Negrinya, Majulah Pandunya, Untuk Indonesia Raya,



Luar biasa sekali, bagaimana sebuah lagu bisa menggugah kesadaran diri untuk berbangsa dan bernegara, dan bahkan selewat pergantian abad pun syair ini masih menjadi mantra yang mengaduk-aduk perasaan ingin berbuat lebih untuk Indonesia. 

Sekian dulu ya, sobat Cakrawala Susindra, artikel sejarah kita kali ini. Semoga bisa membuat para pembaca gelisah dan ingin segera bergerak untuk memerdekaan diri sekitarnya. Tentu arti merdeka pada masa penjajahan tidaklah sama dengan masa pandemi sekarang. 



Beberapa sumber:

https://www.berdikarionline.com/supratman-dan-kisah-lagu-indonesia-raya/

https://fajar.co.id/2020/04/08/kisah-supratman-di-makassar-tambah-rudolf-tiba-di-rajawali/

https://fajar.co.id/2020/04/12/kisah-wr-supratman-saat-jadi-guru-sekolah-pribumi/

https://tirto.id/sumpah-pemuda-dan-kiprah-orang-tionghoa-di-balik-indonesia-raya-c8Jl

https://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/mengulik-biografi-sang-pencipta-lagu-indonesia-raya-wage-rudolf-soepratman/

https://tirto.id/sumpah-pemuda-dan-kiprah-orang-tionghoa-di-balik-indonesia-raya-c8Jl

36 Komentar

  1. Artikel sejarah yang layak dibaca oleh pemuda masa kini yang belum tentu pada tahu kalau dulunya Indonesia itu lirik awalnya adalah Indonees.

    Aku pun mbak, kalau sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat, mata berkaca-kaca.

    BalasHapus
  2. MAsyallah sejarah yang tidak boleh kita tidak tahu ini ya, Mba. Aku juga baru baca ini dan ada beberapa yang aku gak tahu. Ini lagu dari aku kecil hingga dewasa, kalau lagi dinyanyikan dada rasanya berkobar-kobar semangat dan haru biru, Btw fotonya dapat aja, mba, kece

    BalasHapus
  3. Mbaaa..membaca eh bukan..menyanyikan Indonesia Raya 3 stanza ini akupun merinding dan terharu.. seperti saat menyanyikan lagu Bagimu Negeri..

    BalasHapus
  4. Perjalanan yg panjang ya untuk jadi lagu Indonesia Raya. Jadi tambah pengetahuan juga tentang pendidikan beliau, aku kira memang belajar di sekolah orang belanda, ternya keluar ya setelah ketahuan, pernah dengar yg 3 stanza dan bikin merinding

    BalasHapus
  5. MasyaAllah, selama ini hanya bisa menyanyikan lagunya dan hanya sedikit tahu tentang Wage Rudolf Supratman. Terimakasih sharingnya

    BalasHapus
  6. Wah selain nggak ada kata merdeka juga raya ya . Aku bacanya sambil nyanyiin. Lagu yang selalu bangga aku nyanyiin dengan sikap hormat setiap hadir di acara yang ada menyanyikan lagu Indonesia Raya

    BalasHapus
  7. Membaca ini langsung teringat sejarah ya,saya hanya mengetahui beberapa informasinya aja saat sekolah dan sekarang ketika mengajar anak-anak. Begini jadi rindu upacara tiap hari senin deh karena biasanya nyanyi Indonesia Raya.

    BalasHapus
  8. ya karena Kartini nama yang jamak ya di Indonesia. Bisa diterima semua. Kalau udah pake "cut" itu sudah jelas, udahlah aceh, ningrat pula. Jadi primordialismenya cukup kental.

    BalasHapus
  9. Menarik banget artikelnya mbak Susi. Jujur, baru tahu lho kalau lagu Indonesia Raya mulanya bernama Indonees, padahal udah segede gaban gini wkwkwk

    BalasHapus
  10. Unsur sejarahnya lengkap sekali Mbak MasyaaAllah. Banyak hal yang baru saya tahu. Saya juga terkadang merinding dengan lagu kebangsaan, rasanya gimana gitu.

    BalasHapus
  11. Saya juga merasakan hal yang serupa mbak, kalau lagi mendengar atau menyanyikan lagu Indonesia Raya rasanya ada getaran sendiri. Dan aku baru tahu juga tentang sejarah Lagu Kebangsaan kita..Terima kasihh ceritanyaa..

    BalasHapus
  12. Whuaa, jadi nambah pengetahuan lagi nih kenapa namanya pake Rudolf, kirain juga ada turunan2 londo gitu MbaSus. Baca tulisan ini bak membaca sejarah yang lama dan selalu terkenang, siapa yang ga kenal dengan WR Supratman pencipta lagu kebangsaan .
    Hiks, merinding kalo menyannyiaknnya. Lagu wajib di setiap event Relawan TIK pasti awal acara nyanyi lagu ini dengan bangga dan terharuu.

    BalasHapus
  13. Informasi yang aku baru tahu dan hanya ada di blog kak Susi.
    Aku rasa, informasi seperti ini bakalan bagus banget kak Susi jadikan buku.
    Behind on the old story...eh sejarah itu ternyata mengasyikkan.

    Usia lagu Indonesia Raya yang sudah sangat tua sekali dan yang melatar belakangi terciptanya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

    BalasHapus
  14. Dan terima kasih atas artikel bermanfaat ini mba, pertama saya baru tahu dulunya lagu Indonesia Raya adalah Indonees Indonees, kedua saya baru tahu adanya Stanza I, II dan III.

    dan memang benar lagu ini tak lekang oleh waktu, sampai kapapun dengerin lagu Indonesia Raya selalu bangga :)

    BalasHapus
  15. Pertama kali tahu kalau ada sampai 3 stanza saat SMP itupun salah satu guru yang mutar, guru IPA malah. Lagu ini enak banget didengernya dan penuh semangat, sebanding sama perjuangan membuatnya.

    BalasHapus
  16. Mbaa, aku sempat bingung kenapa bapak Wage namanya ada rudolfnya. Jaman dulu sekolah itu sulitnya luar biasa ya sampe kayak gitu. Alhamdulillah sekarang udah merdeka dan dengan tantangan waktu yg beda. Aku jg baru tau dulunya itu moelia moelia..tiap nyanyiin lagu ini kayak bayangin sejarah gimana klo hidup pas dijajah yaaa..

    BalasHapus
  17. Saya baru sekitar 3 tahun tahu lagu Indonesia Raya itu 3 Stanza mbak, saat nyanyi mata berderai, ada yang berkecamuk dalam dada.

    Ini artikel yang super kaya mbak, makasih banyak banget sudah berbagi sejarah Tuan Wage Rudolf Supratman dan lagu Indonesia raya

    BalasHapus
  18. Nasib manusia ya Mbak, berbelok suka-suka. Andaikan Wage tetap diasuh oleh orang tuanya, namqnya belum tentu dikenang sebagai penggagas Indonesia Raya ya. Atau bahkan mungkin beda lagi, dia jadi jendral sebagai penggagas Indonesia merdeka. Makanya saya suka banget baca biografi seperti ini ;)

    BalasHapus
  19. MasyaAllah mbak, keren banget artikelnya. Salut mbak, mengulik sejarah pastinya berat dan sulit. Harus banyak naskah yang harus dibaca. Tapi mbak bisa menuliskannya kembali dengan bagus banget dan mudah dimengerti. Artikelnya ini patut dibaca oleh semua yang mencintai sejarah Indonesia.

    BalasHapus
  20. Berarti yang menyekolahkan Wage itu sebetulnya pamannya ya yang orang Belanda. Semoga Allah memberkahi orang Belanda yang mengijinkan anaknya menikahi Roekijem dan membesarkan keponakannya yang turunan Hindia tulen dan kemudian menjadi pencipta lagu Indonesia Raya itu.

    BalasHapus
  21. Haru tiap dengar lagu Indonesia dikumandangkan. WR Supratman memang ada bakat musik ya dari kecil

    BalasHapus
  22. Sejak jalan-jalan virtual ke beberapa museum perjuangan di Jakarta, aku jadi menonton film tokoh sejarah, kak Susi.
    Salah satunya ada film yang mengangkat tokoh W.R Supratman ini.
    Tapi tentu sudut pandangnya banyak yang menyesuaikan kebutuhan film, jadinya..

    BalasHapus
  23. Ada rasa haru setiap mendengarkan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mengingat perjuangan para pejuang demi meraih kemerdekaan. Dan menyadari betapa kaya raya Indonesia ini.Dengan ragam budaya dan kekayaan alamnya. Lalu terbesit tanya, apa yang sudah kulakukan untuk Indonesia?

    BalasHapus
  24. Selalu suka deh dengan tulisan-tulisan yang berbau sejarah seperti ini. Terima kasih ya Mba, sudah menulis tentang ini.

    BalasHapus
  25. Aku membaca, meresapi dalam dalam. Itulah kenapa saat menyanyikan lagu Indonesia Raya langsung nyess sampai ke hati. Buat saya yang belum pernah memberikan apa-apa jadi ikut terharu jika lagu ini dikumandangkan saat perhelatan akbar atau pemeberian penghargaan prestasi ajang dunia. Terima kasih sudah menulis biografi W.R Soepratman ya mbak.

    BalasHapus
  26. Aku sempat nonton film nya mbak. Dan memang perjuangan banget jadi orang yang dikenal di masa itu. Harus melarikan diri dan sembunyi. Lagu indonesia raya 3 stanza liriknya dalam sekali ya

    BalasHapus
  27. Aku suka banget kalau mbak Susi udah menulis tentang tokoh2 pahlawan Indonesia, kali ini soal bapak WR Soepratman.
    Jadi tahu kalau beliau yatim piatu sejak kecil dan diasuh oleh kakaknya yang menikahi org Belanda. Jd tahu juga mengapa kok namanya kebarat2an.
    Ah jd pengen baca lebih soal hidup para pahlawan lainnya tengkyu mbak

    BalasHapus
  28. Aaah ternyata gitu to asal muasal nama Rudolf. Biar bisa disekolahkan di sekolah Belanda ternyata ya. Sedih loh mba kalau ingat jaman semono, kita jadi orang kelas bawah di negeri sendiri. Alhamdulillah sekarang udah enggak ya. Masih lebih baik dibandingkan orang India di tanah Amerika yang sampai sekarang masih dipandang sebelah mata.

    BalasHapus
  29. Udah terlanjur kebiasaan pakai lagu dengan stanza I aja sih ya mbak, jadi saya pun masih belum hafal sampai stanza III.
    Nah, di TV udah pernah beberapa kali dengar juga penyanyi menyanyikan hingga syair ke 3 itu.
    Sayangnya di sekolah kok belum juga dibiasakan, masih aja syair 1. Kelamaan kali ya kalau upacara sampai syair ke3, hehe
    Btw, saya jadi tahu nih sejarah pendidikan Dr.Wage
    Dulu pernah sih baca tapi ya lupa-lupa ingat

    BalasHapus
  30. Kalau nggak salah ada filmnya ya ini Mbak dan sedihnya Wag meninggal muda dan dia nggak tahu kalau lagunya menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia.. Semoga jadi anak jariyah beliau, Al Fatihah...

    BalasHapus
  31. Saya pernah membaca sejarah Indonesia Raya dan kisah hidup WR Supratman ini Museum Sumpah Pemuda di daerah Cikini. Di sana lumayan lengkap juga ulaannya dan ada yang bentuk audio gitu, jadi kayak pengunjung kayak didongengi.

    BalasHapus
  32. Jasanya Van Eldik ini sungguh besar bagi W.R. Soepratman, baca sejarah masa lalu jadi lebih bersyukur hidup di zaman sekarang yang serba mudah. Bisa sekolah tinggi sampai ke negeri seberang dan bebeas dari penindasan penjajah.

    Lagu Indonesia raya 3 stanza harusnya lebih sering dinyanyikan waktu upacara bendera di bebagai tempat ya agar orang-orang makin ingat.

    BalasHapus
  33. Ya Allah, pengetahuan sejarahku cetek banget. Baru tahu kalau awaknya Indonees bukan Indonesia Raya. Artikel ini layak jd referensi sejarah. Thanks mbak

    BalasHapus
  34. Wah ternyata ngga se-simple itu sebuah Lagu Indonesia Raya tercipta ya.. Ada filosofi yang membuat merinding karena haru. Baca sejarah tentang Negara ini sungguh indah banget diwaktu luang, beda kalau lagi pelajaran sejarah. Ntah mengapa -_-

    BalasHapus
  35. Sama mbak, saya juga terharu setiap kali mendengar lagu Indonesia Raya 3 stanza. Salut ya dengan kerja keras pak WR supratman membuat lagu yang menjadi cikal bakal lagu Indonesia Raya.

    BalasHapus
  36. Wooow... so that's the complete story yaaa mba. Luar biasa memang perjalanannya ya dan thanks for sharing it

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)