Surat Perdana Kartini kepada Stella Sangat Powerful!

Membaca kembali surat perdana Kartini kepada Stella atau Estella Zeehandelaar sering membuat saya berdecak karena sangat powerfull. Bagaimana ia dengan rasa percaya diri sekaligus tanpa ragu memposisikan diri sebagai perempuan yang sederajat dengan perempuan lain. Tak ada perempuan Jawa dari negeri terjajah. Tak ada perempuan subordinat yang ditatar agar menguasai ilmu macak, masak, manak. 3 ilmu untuk membahagiakan suami yang ia kuasai dengan baik namun tetap berharap akan bisa memilih sendiri suaminya kelak. Bukan karena dipaksa menikah oleh keluarganya.

Surat Perdana Kartini kepada Stella Sangat Powerful!


Surat perdana Kartini kepada Stella pada tanggal 25 Mei sangat powerful. Sangat kuat. Sangat menggelitik, membuat saya terus membayangkan seperti apakah ia pada masa itu? Berapa banyak yang ia baca sampai bisa menyamakan dirinya dan pemikirannya dengan para perempuan Eropa bahkan ikut menyuarakan pendapatnya. Sobat Cakrawala Susindra tertarik mengetahuinya?

Yuk kita mulai beberapa paragraf saja, karena jika membedah satu surat akan menghabiskan ribuan kata. Saya serius. 

Surat perdana Kartini berisi tentang:

  1. Kesetaraan perempuan
  2. Adat istiadat dan hukum di Jawa
  3. Dari mana asal pendidikan Barat di keluarganya
  4. Pernikahan pada masa itu
  5. Kiprahnya di pameran feminis di Belanda serta dampaknya
  6. Kemenangan melawan adat yang mengikat
  7. Pengaruh negatif peradaban Barat di masyarakat
  8. Opium yang menjadi wabah dan dilindungi oleh pemerintah Belanda
  9. Pendapatnya tentang novel berjudul Hilda van Suylenberg
  10. Perempuan Eropa di Jawa yang tidak tergerak oleh feminisme Barat
  11. Hasil 'prikkaarten' atau penggalangan dana untuk sekolah perempuan yang tidak berhasil
  12. Alasan mengapa ia belajar bahasa Belanda adalah untuk bisa membaca buku yang bukan terjemahan.
  13. Jangan panggil raden ayu, panggil nama saja.

Satu surat dan sangat padat! Untuk mengulas semuanya, mungkin akan sangat membosankan. Apakah perlu dibagi dalam dua postingan? Kita mulai saja dulu.


Paragraf pertama

Kartini mengawali suratnya dengan ucapan:

"Saya sudah lama ingin berkenalan dengan 'gadis modern' -  gadis mandiri yang sangat saya kagumi - yang menjalani hidup dengan percaya diri, ceria dan bersemangat, penuh antusiasme dan komitmen; Bekerja bukan hanya untuk keuntungan dan kebahagiaan sendiri saja, tapi juga menawarkan diri pada masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesama manusia. Saya terbakar oleh kegembiraan tentang era baru ini dan - ya – saya dapat mengatakan bahwa meskipun saya tidak akan mengalaminya di Hindia – namun pemikiran dan perasaan saya saat ini bukan sebagai bagian dari Hindia hari ini, tapi sepenuhnya membagikan pendapat saya sebagai saudara perempuan putih berpikiran maju di Barat yang jauh."


Apa yang kita temukan dari paragraf pertama ini saja?

1. Mendefinisikan 'gadis modern' pada masa itu, sekaligus gadis ideal yang ingin ia capai, yaitu:

a. Gadis yang mandiri, artinya ia ingin bebas dan kebebasan. Dua hal yang mustahil pada masanya karena perempuan berdarah biru sepertinya tidak boleh tampak oleh orang lain kecuali keluarganya sendiri atau calon suami yang sudah direstui oleh ayahnya.

b. Gadis yang percaya diri, ceria, dan bersemangat, artinya gadis yang memiliki pengetahuan cukup, literasi yang baik, berkarya, dan dapat keluar rumah untuk bertemu orang lain.

c. Gadis yang penuh antusias dan komitmen untuk bekerja bagi kesejahteraan masyarakat, artinya perempuan yang berkarya untuk kesejahteraan masyarakat luas dan kebaikan sesama manusia. 


2. Saya terbakar oleh kegembiraan tentang 'era baru' di Eropa. Ia sebagai perempuan dari Hindia ikut merasakan perjuangan perempuan Eropa dalam mendapatkan haknya sebagai perempuan, yaitu memiliki hak yang sama dengan laki-laki serta dapat berperan di bidang hukum dan politik. 


3. Perempuan Hindia (Indonesia) yang setara dengan perempuan Eropa.


Satu paragraf saja dan luar biasa. Saya ikut terbakar semangat setiap kali membaca ulang paragraf ini. Tak heran jika Stella sedemikian terpana dan terus saja mengirimnya surat. Bahkan mengatakan bahwa ia adalah adik yang selalu ia cari.



Paragraf kedua

Paragraf kedua mengukuhkan paragraf pertama tentang bagaimana ia menginginkan dirinya dapat melakukan sesuatu untuk membebaskan perempuan. 


"Dan jika hukum negeri ini mengizinkan, saya sangat ingin mengabdikan diri sepenuhnya pada aktivitas dan usaha yang dilakukan oleh wanita baru di Eropa. Sayangnya, tradisi berabad-abad, yang tidak bisa dipatahkan begitu mudah menahan kami (perempuan) dengan erat di tangan mereka. Suatu hari, tentu saja, tangan itu akan mengizinkan kami pergi, tapi masa itu masih terbentang begitu jauh, begitu jauh dan jauh! Akan tiba masanya, saya tahu; tapi mungkin sampai tiga, empat generasi setelah kami! Oh, Anda tidak akan tahu bagaimana rasanya mendambakan masa ini, era baru ini – masa (yang) Anda (lewati di sana) - dengan sepenuh hati dan jiwa - pada saat yang sama, kami tetap terikat, tangan dan kaki, terikat pada hukum, praktik dan kebiasaan yang tidak mungkin dilepaskan. Praktik dan kebiasaan negara kami bertentangan dengan hal-hal yang ingin saya perkenalkan ke dalam masyarakat sini. Siang dan malam saya merenungkan bagaimana cara untuk bisa lolos dari tradisi dan kebiasaan yang ketat di negara saya …"


"Jika hukum mengizinkan..." Ia mengawali dengan itu. Bukan lagi adat istiadat. Di paragraf lainnya ia menyatakan berani melanggar adat namun ada ikatan lain yaitu keluarga. Hukum di sini yang dimaksudkan adalah agama yang ia anut, yaitu agama Islam. Penasaran apa agama Kartini?

Agama Islam pada masanya jauh berbeda dengan masa sekarang. Pada masa itu Islam dianut oleh mayoritas orang namun sangat sedikit yang benar-benar tahu syariat agama dengan benar. Masih banyak bercampur dengan kehidupan lokal yang tak jauh dari adat istiadat. Masa itu gerakan pemurnian agama Islam sudah mulai terjadi di Jawa, dimulai dari Jawa Barat. Area pesisir seperti Jepara agak terlambat mendapatkan gerakan pemurnian ini.

Gerakan pemurnian apa, sih?

Mengembalikan syariat agama Islam sesuai dengan Al Qur'an dan Hadis. Bukan Islam yang bercampur dengan budaya Jawa sehingga ada banyak pelanggaran. Contoh paling riil adalah seorang laki-laki bisa memiliki 25 istri dan menikah tidak harus dihadiri pengantin perempuan atau laki-laki. Bisa diwakili oleh sebuah benda milik mereka, sehingga bisa saja seorang anak perempuan tahu-tahu sudah menjadi istri seseorang tanpa sepengetahuannya. 

Pada masa itu, posisi perempuan memang sangat lemah. Namun hal itu bukan kesalahannya atau pun kesalahan orangtua, apalagi pemuka agama. Penerjemahan ayat suci Al Qur'an belum sebaik sekarang, juga informasinya. Jarak, transportasi, dan lainnya memang masih menjadi hambatan. 


"Suatu hari, tentu saja, tangan itu akan mengizinkan kami pergi, tapi masa itu masih terbentang begitu jauh, begitu jauh dan jauh! Akan tiba masanya, saya tahu; tapi mungkin sampai tiga, empat generasi setelah kami!"


Ini sebuah optimisme sekaligus rasa pesimis yang kental. Suatu hari, tapi mungkin 3-4 generasi lagi. Itu artinya sekitar tahun 1975-2000. Apakah benar demikian? Bagaimana? Bisa jawab? Bagaimana kondisi perempuan pada rentang tahun ini, apakah sudah sangat baik atau masih terjadi subordinasi? Pada tahun ini terjadi feminisme gelombang ketiga. Kalau referensinya ketemu, saya akan secara khusus membahas sejarah gerakan feminisme di Indonesia.


Kartini mengatakan:

"Siang dan malam saya merenungkan bagaimana cara untuk bisa lolos dari tradisi dan kebiasaan yang ketat di negara saya …"


Paragraf ketiga

Cinta kepada keluarga adalah sesuatu yang tak bisa dilepaskan oleh Kartini dan adi-adiknya. Mereka bisa menentangg adat. Bisa nekat melakukan apa yang menjadi cita-cita mereka. Dicemooh, dihina, atau mengerjakan pekerjaan yang menurunkan derajat, mereka tak peduli. Bahkan menjadi suster di sebuah misi kemanusiaan di Mojowarno agar bisa belajar menjadi bidan pun ok. Mereka yang biasa dilayani akan melayani orang-orang kecil sebagai bagian yang lebih besar, yaitu kesejahteraan masyarakat. 


"Tradisi Timur kokoh dan kuat selama ratusan tahun ini, saya bisa melepaskannya, menghancurkannya, namun ada lagi ikatan lain, yang lebih kuat dan kokoh daripada tradisi berabad-abad yang mengikat saya: cinta yang saya miliki untuk orang-orang yang memberi saya hidup, kepada siapa saya berutang segalanya - segala sesuatu. Apakah saya memiliki hak untuk menghancurkan hati orang-orang yang tidak mengharap apapun selain cinta dan kebaikan sepanjang hidup saya dan yang telah mengepung saya dengan perhatian lembut? Saya akan menghancurkan hati mereka jika saya memenuhi keinginan ini dan melakukan apa yang selalu saya rasakan sepanjang setiap detak jantung, dengan setiap nafas yang saya ambil."


Bisa dipahami bahwa mereka sedemikian ingin segera bergerak namun tak ingin menyakiti keluarga. Izin mereka sangat penting. Bertahun-tahun mereka berupaya membujuk keluarga, agar merelakan 3 anaknya keluar rumah bukan sebagai istri tapi sebagai orang yang membantu sesamanya. 

Banyak hal baik yang telah mereka capai dengan izin orangtua mereka, namun menikah adalah impian semua orangtua, sehingga sulit bagi mereka untuk merelakan. Pada akhirnya memang pernikahan memecah Tiga Saudara menjadi dua....

Mengapa Abendanon mengedit tulisan Kartini? Mau tahu?

Paragraf empat dan kelima

"Bukan hanya suara-suara dari luar, dari Eropa beradab dan bereformasi yang pernah saya dengar, yang membuat saya merindukan perubahan pada situasi sekarang. Sudah di masa kanak-kanak, ketika kata 'emansipasi' belum beresonansi di telinga saya; ketika masih belum ada artinya bagi saya, ketika artikel dan buku yang membahasnya masih jauh dari jangkauan, di sana terbangun kerinduan yang berangsur-angsur menjadi lebih kuat dan kuat: kerinduan akan bebas dan kebebasan. Kerinduan ini berseru nyaring di kondisi di lingkungan saya, situasi yang membuat hati hancur dan membuat saya menangis dengan duka tanpa nama."


Kerinduan akan kebebasan yang dirasakan oleh Kartini bukan berasal dari Barat, namun dari dirinya sendiri yang merasa terkekang. Ketika berusia 12,5 tahun ia tidak diizinkan sekolah lagi. Institusi belajar yang sangat ia sukai tiba-tiba menjadi sesuatu yang jauh. Tradisi pingitan yang tua membuatnya harus selalu di rumah, dengan batas area pribadi keluarga. Tak ada lagi kesempatan untuk ke pendopo apalagi keluar rumah. Ia merasa terpenjara.

Sebelum memasuki masa pingitan, Kartini bukan hanya diizinkan keluar namun juga sering diajak tournee bergantian dengan saudara lainnya. Ayahnya adalah bupati yang sangat mencintai anak dan warganya. Mengajak anak saat kunjungan ke daerah banjir atau saat panen menjadi caranya mendidik anak agar tahu seperti apa tugas seorang pemimpin dan seorang bangsawan yang mengayomi rakyat kecil.

Sebelum ia tahu apa itu emansipasi, ia sudah merindukan kebebasan dan kemerdekaan. Ia ingin diizinkan kembali sekolah, kembali bertemu orang-orang, kembali ke kehidupan masa kecilnya yang bebas dan merdeka. 

Keinginan itu akhirnya menemukan jalannya, yaitu ia diizinkan membaca buku dan media cetak apapun, bahkan selalu disediakan stok buku terbaru melalui lestromel atau kotak bacaan yang disewakan selama kurun waktu tertentu. Pada masa itu tak harus membeli buku untuk membaca, bisa menyewanya. Ia juga diizinkan berkirim surat dengan teman-teman sekolahnya dan teman pena lainnya.

Ternyata buku bacaan dan berkirim kabar dengan teman membuatnya semakin merindukan kebebasan dan kemerdekaan bagi semua perempuan. Iya! Kartini tidak berbicara tentang dirinya sendiri tapi untuk semua perempuan yang pada masa itu menurutnya masih menderita dengan poligami dan ketidakmandirian mereka. Salah satu musuh terbesar perempuan adalah ketakutan mereka untuk berdikari, karena dididik keluarga untuk mengandalkan suaminya dalam segala hal. Makanya memilih suami adalah pekerjaan berat bagi orangtua yang sama sekali tidak melibatkan anaknya yang akan menikah.


"Dan suara-suara dari luar, yang semakin kencang, membuahi benih yang telah tertanam di hati, melalui perasaan mendalam yang saya rasakan untuk penderitaan orang lain yang sangat saya cintai; menyebabkan mereka bertunas, mengakar kuat, tumbuh dan berkembang."



Paragraf keenam dan selanjutnya

Paragraf satu sampai lima adalah pembuka yang kuat untuk sebuah surat, yang membuat pembacanya mungkin terkaget-kaget sehingga autoberdiri dari kursinya. Sebuah surat yang powerful dari seorang perempuan dari Tanah Jajahan, perempuan yang berasal dari Timur jauh yang dikenal tak pernah bersuara bahkan tak pernah menampakkan diri. Secara harfiah, memang perempuan pada masa itu takkan keluar jika ada tamu, bahkan untuk menyajikan minum atau sajian lainnya.

Paragraf keenam sampai akhir berisi poin-poin sebagaimana saya sebutkan di atas. Secara makna memang sama powerful dan informatifnya. Ada sedikit nada sinis ketika membahas tentang pengaruh kebudayaan Barat bagi masyarakatnya, misalnya:

"Di dalam masyarakat bumiputra, syukurlah, kami belum harus berjuang melawan minuman iblis - tapi saya khawatir, saya takut - maafkan saya – bila peradaban Barat menjadi mapan di sini, kami juga harus berhadapan dengan kejahatan itu. Peradaban adalah berkah namun juga memiliki sisi yang lebih gelap. Dorongan untuk meniru melekat pada manusia, saya percaya. Massa meniru kebiasaan para penanda mereka, yang pada gilirannya mengikuti kelas yang lebih tinggi dan akhirnya meniru orang-orang di puncak - orang Eropa."


Baca juga: Jasa Kartini terhadap perkembangan seni ukir di Indonesia 

Feminisme Muslim

Saya akan memberikan sedikit bonus tentang feminisme muslim yang berkembang pada kisaran masa hidup Kartini yang saat ini suratnya sedang saya bahas. Sayangnya saat ini saya lupa mengutip dari mana. Akan saya tambahkan setelah ingat.

Gerakan feminisme yang berkembang di Barat membawa angin segar bagi negara-negara Islam seperti Mesir, Iran, Turki, Indonesia, dan lain-lain. Aisyah Taimurah, Huda Sya’rawi, Nabawiyah Musa, dan Hifni Nasif dari Mesir, Zaenab Fawwaz dari Libanon, Rokayah Sakhwat Hossain dari India, RA Kartini dari Jawa, Emile Rute dari Zanbibar, Taj as-Salthanah dari Iran, dan Fatma Aliye dari Turki adalah beberapa nama yang dapat disebut untuk rentang akhir abad ke-19. Lebih tepatnya disebut oleh Margom Badran.

Mereka para perempuan yang memperjuangkan ketidakadilan gender melalui tulisan artikel, kolom, buku, esai, cerpen dan lainnya. Media yang diperkenalkan dan digunakan oleh mereka yang hidup di Barat.

Perjuangan mereka diteruskan oleh feminis yang lain seperti: Nawal as-Sa’dawi, Lathifaah Azzayyat, dan Inji al-Fatun dari Mesir, Fatima Mernissi dari Maroko, Riffah Hasaan dari Palestina, Assia Djebar dari Aljazair, Furukh Farruzad dari Iran, Huda Na’imani dari Libanon, Fauziah Abu Khalid dari Saudi Arabiyah, dan Asghar Ali Enginer dari India. Dari Indonesia ada Mansur Fakih, Masdar Farid Mas’udi, Siti Ruhaini Dzuhayatin, Wardah Hafidz, NurulAgustina, dan Ratna Megawangi. 

Para feminis muda di atas kebanyakan menggugat kembali penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang cenderung diskriminatif pada perempuan. Mereka beranggapan bahwa penafsiran dan para mufassir yang menginterpretasikan tentang perempuan lebih dominasi pihak laki-laki yang cenderung bias terhadap pihak perempuan. Oleh sebab itu, pembahasan lebih lanjut akan memaparkan beberapa gugatan kaum feminis muslim tentang beberapa ayat Al-Qur’an yang cenderung misoginis. 


Mengapa disebut feminis muslim

Istilah feminis muslim digunakan di sini karena orang yang menyuarakan tentang keadilan perempuan adalah orang yang beragama Islam. Di samping itu, gugatan para feminis ini banyak menekankan pada kajian teks-teks agama. Para feminis muslim berasumsi bahwa pemahaman agama yang saat ini berkembang di masyarakat adalah pemahaman agama yang telah membentuk budaya dan pandangan yang menimbulkan ketidakadilan jender. 

Oleh sebab itu, para feminis muslim banyak melakukan gugatan bahkan pembongkaran terhadap penafsiran ulama masa lalu yang dijadikan dasar sebagai penafsiran paling benar. Mayoritas feminis muslim ini menafsirkan kembali ayat-ayat AlQur’an maupun Hadis sejalan dengan semangat menegakkan keadilan bagi kaum perempuan. 


Buku Surat Kartini Terlengkap dan Gratis

Benar saja, sudah sangat panjang. Bahkan panjang sekali....

Saya pernah menjanjikan link buku kumpulan surat-surat Kartini terlengkap yang pernah ada, gratis dan legal. Buku karya Pak Joost Cote tersebut memang telah diizinkan untuk diunduh secara gratis untuk semua orang yang ingin membaca surat Kartini dan mengenalnya lebih dekat. 

Adalah Pak Joost, seorang peneliti sejarah senior dari Monarch University dari Melbourne Australia yang menerjemahkan dan menulis buku setebal 902 lembar ini. Beliau banyak sekali menulis tentang modernitas di era kolonial dan Kartini menjadi salah satu subyek yang menarik karena mewakili modernitas itu sendiri.

Dalam suratnya, tampak mobilitas Kartini dan keluarga, bagaimana mereka memanfaatkan teknologi masa itu dan masih banyak lagi. Lebih dari dua dekade, sehingga karya beliau memang amat sangat banyak. Saya termasuk yang sangat beruntung karena membaca beberapa dan bertemu secara langsung di sebuah acara. 

Salah satu kenangan saya adalah makan nasi kotak bersebelahan dan beliau menjawab pertanyaan saya, di sebuah art gallery di Jepara. Beliau dengan sukacita selalu menunggu acara Kartinian yang bersifat akademis.



Sepatah kata dari Pak Joost Coté: 

"I am very pleased to learn that Monash University Publishing has decided to make this extensive collection of the writings of Raden Ajeng Kartini available free to a global readership. Kartini: The Complete Writings 1898–1904 demonstrates how Kartini strategically employed correspondence at the beginning of the 20th century to generate a wide circle of influential contacts in her campaign to gain political attention and support for her campaign for Javanese emancipation. The volume also reveals the many literary modes through which Kartini gave voice to her aims and ideals, as a writer of ethnographic papers and political tracts, and author of a number of published short stories. Not least, it reveals a Javanese intellectual widely read in contemporary Dutch literary and political genres. Reading Kartini will make clear why the world should remember her."

Ingin segera membacanya? Klik link di bawah ini. Jika ingin menyebarkan, pakai link asli ya, please. Dan jangan diperdagangkan. Ada buku yang bisa dibeli, kok. Beliau sudah sangat baik kepada kita, menyerahkan hasil penelitian bertahun-tahun untuk dibaca oleh semua orang.

Pak Joost, maturnuwun sanget!

Buku Kartini: The Complete Writing 1899-1904


Kalau teman-teman suka sejarah, bisa membuka kategori sejarah atau kategori Kartini. Saya yang ditulis dengan ringan. Selamat membaca dan selamat menyelami hati seorang perempuan yang pernah berjuang dengan segenap jiwa dan raga untuk membuat kita semua bisa sekolah, membaca, dan menentukan nasib kita sendiri. Mungkin hanya sebuah cahaya, namun nyata menerangi kita.

24 Komentar

  1. Kartini memang awesome ya mba!
    tampak mobilitas Kartini dan keluarga, bagaimana mereka memanfaatkan teknologi masa itu dan masih banyak lagi. Lebih dari dua dekade, sehingga karya beliau memang amat sangat banyak

    BalasHapus
  2. Untung aku lahir di zaman modern. Kbayang bosannya kalau ngapa-ngapain dilarang. Sekolah dilarang, traveling dilarang, kerja dilarang. Bisa mati bosan

    BalasHapus
  3. Membaca ulasan surat perdana kartini pada Stella ini, dalem banget ya Mbak. dan makin mengkukuh kekaguman saya pada sosok beliau, di masa itu pola pemikiran Kartini sudah sangat-sangat futuristik, dan memiliki kemampuan bahasa asing yang luar biasa.

    Btw, saya punya salah satu buku tentang kartini dan jadi malu karena sampe sekarang belum selesai membacanya.

    BalasHapus
  4. Postingan yang bagus bunda. Ini bener2 ya Sir Joost Coté baik banget ngejadiin penelitiannya bertaun-taun bisa dinikmati oleh banyak orang secara gratis dan legal pula.
    Auto download mbak. Ibu Kartini ini emang menarik buat dikenal lebih dekat lagi sosoknya. Perjuangannya dan semangatnya benar2 menginspirasi seluruh perempuan

    BalasHapus
  5. Wow aq baru kali ini baca surat2nya Kartini. Kaget juga yang budaya pernikahan bisa dihadiri tanpa orangnya, cukup barangnya. Gila sih kalau aku bilang. Anyway, sekarang kita juga masih berjuang melawan berbagai diskriminasi terutama di ketenagakerjaan

    BalasHapus
  6. Kartini memang selalu mengagumkan , bisa jadi sumber inspirasi bagi semua perempuan Indonesia. Pemikiran beliau sudah luas dan maju.

    BalasHapus
  7. Serem banget yaa..
    Zaman dulu mendadak sudah menjadi istri seseorang itu...bikin wanita merasa direndahkan. Bagaimana ini hukum yang berlakusaat itu yaa..mungkin poliandri kah?

    Salut dengan orangtua Kartini yang mampu mendidik anak-anaknya tumbuh dengan pemikiran yang luas dan revolusionis.

    BalasHapus
  8. Kartini memang sosok perempuan yang cerdas dan berpikir selangkah lebih maju. Makanya tidak heran jika ia menjadi sosok inspirasi bagi para wanita di Indonesia.

    Wah Mba Susi keren nih sudah bertemu langsung dengan Pak Joost. Memang Josss deh Pak Joost ini, rela membagikan tulisan gratisnya yang penuh perjuangan...

    BalasHapus
  9. Wah berkat kartini maka kesetaraan gender juga bisa terwujud sampai sekarang ini. Dari sosok kartini juga perempuan diajak untuk jadi lebih supel, lebih berpendidikan ya kak? hebat sosok yang satu ini, penuh insporatif untuk wanita di Indonesia.

    BalasHapus
  10. MasyaAllah nggak banyak yang tahu isi suratnya termasuk aku sendiri mba, maturnuwun ya mbak sudah banyak diartikan aku lemah english nih mba. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua aamiin

    BalasHapus
  11. Terimaksaih telah menuangkan isi surat Ibu Kartini dalam tulisannya Mbak. Sangat membuka wawasan. Dari tulisan-tulisan ibu Kartini sangat tampak bahwa beliau memang perempuan yang berpikiran terbuka di masanya. Tentu semua itu diperoleh melalui pendidikan. Agama dan adat yang bercampur dimasa itu memang seringkali membuat salah paham. Hanya sedikit yang bisa sampai apda pemikiran untuk merubahnya. Salah satunya Ibu Kartini. ditunggu tulisan-tulisans elanjutnya Mbak.

    BalasHapus
  12. Saya juga penasaran seperti apa sosok Kartini di masa itu. Mengapa Kartini begitu berani dan pede menulis surat itu pada temannya yang beda jauh latar belakangnya. Tulisannya padat dan penuh makna. Kalau di masa sekarang, entah menjabat sebagai apa ya seorang Kartini? Hehe. Luar biasa.
    Makasih sharingnya, Mbak :)

    BalasHapus
  13. Setiap membaca kisah tentang kartini ini saya mesti merinding loh mbak. Gimana ya? Pada zamannya Kartini sudah mengenal emansipasi wanita dan itu luar biasa sekali. Tidak salah jika Kartini disebut pahlawan ya. Meskipun sebenarnya ada banyak pahlawan wanita yang juga dengan pemikiran mereka berjuang untuk kaum wanita

    BalasHapus
  14. Ah baru baca dikit dari tulisan Kaka Eny terharu dan kagum bgt sama perjuangan R.A Kartini dlu yaaa . Eny mau baca sampai selesai pengen tau apa aja pesan moral yg bisa dipetik

    BalasHapus
  15. Kartini memang salah satu perempuan inspiratif yang berjasa atas kemajuan dan kesetaraan perempuan di Indonesia. Nggak heran jika isi suratnya terlihat berpendidikan dan memiliki visi misi jauh ke depan, melampaui wanita pada zamannya.

    BalasHapus
  16. Wah luar biasa memang surat Kartini ini
    Aku punya sebuah buku tentang surat-surat Kartini dan tak hentinya aku berdecak kagum. Pemikiran Kartini pada masa itu jauh melampaui jamannya
    Ketika perempuan lain hanya nrimo dan tak berani bersuara, Kartini sudah memanfaatkan kemampuannya untuk terhubung dengan dunia yang luas
    Semoga kita bisa meneladani semangatnya

    BalasHapus
  17. Akhir-akhir ini setiap bulan April ramai mempertanyakan tentang Kartini sebagai pejuang. Membaca surat-surat Kartini, ya memang beliau pantas sebagai pejuang. Pejuang bagi perempuan Indonesia untuk sebuah kesetaraan.

    BalasHapus
  18. Salah satu wanita hebat yg dimiliki Indonesia. Hebatnya pemikiran beliau dimasa itu ditulis dan dibukukan sehingga kita bisa merasakan kondisi dan posisi wanita pada masa itu

    BalasHapus
  19. wah aku jadi tau nih mba tentang isi surat pertama Kartini ya dengan teman penanya, dari situ ternyata mereka saling bertukar pengetahuan dan cikal bakal emansipasi wanita di Indonesia

    BalasHapus
  20. Total surat perdana Kartini kepada Stella ini ada berapa lembar tulis tangan mba? Menarik sekali mengingat bahasannya lengkap dan padat.

    Gadis mandiri itu ingin kebebasan (kebebasan yang terukur tentunya ya), percaya diri, ceria, semangat, dan antusiasi serta berkomitmen untuk kesejahteraan masyarakat.

    Saya rasa impian dan penggambaran Kartini ini sudah banyak dicapai perempuan-perempuan Indonesia zaman sekarang mba. Meski tentu masih banyak yang belum bisa menjadi dirinya sendiri. Kita lihat sekarang sudah banyak bertumbuh enterpreneur-enterpreneur perempuan, pemimpin-pemimpin perempuan, menteri-menteri perempuan, dan perempuan bisa masuk lapangan kerja apa saja, termasuk lapangan kerja yang stigmanya hanya bisa ditempati laki-laki.

    BalasHapus
  21. Pengetahuan Kartini ternyata melampaui zaman ya. Pantas pemikiran-pemikirannya terus digali oleh aktivis perempuan. Meski sering disalahpahami, toh pemikirannya tetap menginspirasi banyak orang.

    BalasHapus
  22. Keadaan perempuan zaman dulu dengan sekarang memang memiliki perbedaan yang besar. Tapi, bukan berarti tidak ada perempuan yang terkungkung seperti zaman dulu di masa sekrang, hanya saja saat ini lebih sedikit dan akses untuk melakukan banyak hal lebih mudah. Sampai sekarang begitu salut dengan Kartini yang menjadi perempuan tangguh pada zamannya.

    BalasHapus
  23. Sosok Kartini ini bener-bener panutan banget ya untuk para wanita, dia pemberani, mandiri dan punay pemikiran realistis ya kak.

    BalasHapus
  24. MasyaAllah pantas saja beliau menjadi pahlawan nasional karena kiprahnya yang bukan hanya memikirkan diri sendiri tapi nasib kaumnya sesama perempuan Indonesia baik di masanya dan masa yang akan datang. Salut dengan semangat dan perjuangan beliau.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)