Yakinlah, Tak Ada Kebaikan yang Terbuang Percuma

Sahabat saya, Noorma, mempunyai 3 nikmat yang ingin ia syukuri di bulan ini, yaitu bulan lahir, bulan pernikahan, dan bulan ia mengetahui dirinya positif hamil. Luar biasa. Selamat ya Noorma... semoga kebaikan selalu mendampingimu dan keluarga. Aamiin ya rabbal aalamiin. Sebagai hadiah kecil, saya buatkan sebuah posting khusus untukmu. Semoga kamu suka. Temanya, sesuai yang kau minta, “Kebaikan Tak Selalu baik Di Mata Orang Lain.” Semoga Noorma dan teman-teman suka. 


Saya percaya, setiap orang, setiap hari, selalu berbuat kebaikan. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jikalau kita mau dan sanggup menghitungnya, saya yakin jumlahnya puluhan. Bahkan bisa seratusan jika kita aktif berkegiatan di luar.  Iya, setiap hari, kita membuat puluhan kebaikan yang kita sadari atau tidak kita sadari. Catatan lebih panjang lagi dipegang oleh malaikat Roqib yang bahkan mencatat kebaikan kita mulai dari niat. Mulai dari niat! 

Tak perlu mencoba mengingatnya. Bukan karena sia-sia, tetapi lebih baik berbuat seribu kebaikan dan melupakannya. Jika kita mengingatnya dengan cara salah, bisa menjadi blunder bagi kita sendiri. Kebaikan bisa menjadi riya’. Lebih celaka lagi jika kemudian menjadikan kita sombong atau bahkan takabur. “Jika bukan karena uang bulanan dariku, mana bisa kau jadi sarjana!” contohnya seperti itu. Pun sebaliknya,  jika dirasa kebaikan dibalas dengan buruk oleh penerimanya, mungkin kita bisa sakit hati dan terluka. Makanya, lebih baik lakukan lebih banyak kebaikan tanpa mengingatnya. 

Saya manusia biasa, sama seperti teman-teman yang lain. Adakalanya saya khilaf dan tanpa sadar memamerkan kebaikan. Adakalanya, saya terganggu oleh balasan buruk dari kebaikan yang saya berikan. Adakalanya saya sedih, dan bertanya, mengapa kebaikan tak selalu berarti baik bagi orang lain? 

Saya ingin menceritakan sebuah kisah perselisihan kecil yang bagi saya sangat patut disayangkan. Niat hati saya berbuat suatu pengorbanan kecil bagi semua pihak yang terlibat, tetapi ternyata penerimaannya berbeda. Malah sangat mengejutkan.

Saya bersahabat dengan banyak teman komunitas di Jepara. Di sini sangat lazim satu orang mengikuti 1-5 komunitas. Orangnya juga itu-itu saja. “Lo lagi lo lagi”, begitu candaan kami sambil tertawa. Berkomunitas, tentu saja berarti bergrup di whatsapp. Grup chating komunitas Jepara saya sampai bulan lalu ada 6, syukurlah sekarang tinggal 3. Dalam kondisi seperti itu, beberapa menjadi teman sangat baik dan erat. 

Sebut saja namanya Na. Tentu saja bukan nama sebenarnya. Kami sudah berada di beberapa grup/komunitas yang sama. Kami tergabung di 5 grup chat whatsapp

Saya sangat menghargai persahabatan kami. Suatu kebanggan saya bisa mengenal dan dekat dengannya. Ia wanita hebat yang sangat aktif di Jepara. Kata pendatang bukan jadi halangan. Ketika suatu hari Na membawa konsep kegiatan pendidikan yang saya tunggu-tunggu kehadirannya di Jepara, saya menyambut dengan sukacita. Singkat kata, dengan proses seleksi ketat, alhamdulillah saya menjadi panitia. Suka hati? Sangat. Ini sesuatu yang sangat saya tunggu. Harapan saya sangat membuncah, dan saya memiliki ledakan ide yang bagi saya itu menyenangkan.

Perselisihan justru dimulai dari grup whatsapp. Na sangat aktif berkegiatan sering share di grup kepanitiaan, sebut saja Y. Setiap hari ia menulis ratusan chat tertulis di grup. Sebagian besar berupa koordinasi grup/komunitas lain yang sebenarnya ada grupnya sendiri. Mungkin bagi Na, di sana atau sini sama saja. Toh yang baca orangnya sama saja. Koordinasi acara A, B, dan C di grup Y. Beberapa kali saya mengingatkan agar membahas di grup yang sesuai. Ada saat saya begitu lelah, saya dengan jengkel meminta tolong ketua divisi mengirimkan ringkasan chat (jika ada) dan disambut dengan kemarahan Na dan ketua divisi saya. Persahabatan kami mulai terancam. Di grup inti maupun grup divisi sama-sama "panas". Teman-teman mulai merasa. Suasana di grup Y juga mulai tidak kondusif. Dingin dan panas bergantian. Ketika kata ‘aku’ sudah berganti dengan ‘saya’, 'kamu' dengan 'Anda', saya tahu, ada sesuatu yang salah. 


Ketika saya sebagai ketua di grup X mengundang Na dan dijawab “OK” saja lalu ia heboh di grup Y tentang syarat memakai rok yang sangat mengganggu sementara saya di grup itu, saya tahu, api sudah membara. Dan dar!  30 menit sebelum acara dimulai ia batalkan di chat grup Y (yang seharusnya di chat pribadi) dengan alasan sibuk mencuci piring dan tak bisa memakai rok. Padahal itu adalah undangan menjadi audiens untuk Bupati Jepara. Saya sadar, tembok yang tercipta semakin tebal dan tinggi. Saya tak nyaman ketika ‘aku’ diganti ‘saya’, ‘kamu’ dibalas ‘Anda’. 

Lebih tak enak lagi “dingin” yang sulit diabaikan jika bertemu muka. Saya bisa memaklumi, itu hanya percikan emosi. Akan tetapi, selayaknya anak-anak bertengkar, semesta sekitar ikut terpecah dan memihak. Maaf jika saya memakai analogi anak-anak, karena saya sendiri pun saat itu seperti kanak-kanak yang tak tahu harus bagaimana lagi agar bisa duduk nyaman.

Entahlah... saya tak terlalu ingat Minggu itu. Diawali dengan melihat pembukaan kepanitiaan serupa di kota Kudus. Bagi saya, menjadi panitia di mana saja itu sama saja. Jepara atau Kudus tiada beda. Karena merasa tak etis jika mendaftar di kota lain tetapi tetap menjadi panitia di Jepara, maka saya memutuskan pamit pada pagi itu juga. Malamnya saya mendaftar ke kepanitiaan Kudus. Entah diterima atau tidak, bagi saya tak jadi masalah. Di kepanitiaan Jepara, suasana pertemuan luring dan daring tetap tak mengenakkan hati. Bahkan tanpa mendaftar ke Kudus pun saya sudah berniat mundur sejak insiden Saya dan Anda. Mungkin saya terlalu perasa, tetapi pertemuan dingin sangat terlihat, bahkan bagi teman-teman yang tak tahu apa yang terjadi.  Maka demi mempertahankan persahabatan, saya memutuskan mundur dari grup Y. Demi kebaikan saya, demi dia, dan demi mereka.

Tentu saja, hasilnya bisa ditebak, kerenggangan makin nyata. Saya mencoba memahami situasi yang terjadi dan di luar kendali. Hanya keputusan kecil, namun imbasnya meluas. Kesalahan saya adalah saya tidak mengantisipasinya. Saya pun tak berusaha maksimal untuk berbaikan. Mungkin karena saya pikir time heals dan itu hanya keputusan kecil yang bukan tiba-tiba. ‘Pertemuan dingin’ selama 2 minggu bukan hal yang membanggakan, sehingga memutus rantai pertemuan adalah solusi praktis menurut saya.


Begitulah... jika bisa dikatakan sebagai "kebaikan kecil yang tak selalu baik di mata orang lain.” Konflik yang tak bisa diabaikan. Ini adalah kesalahan yang terjadi terkait dengan managemen konflik. Iya, saya perlu managemen konflik. Dan ini catatan saya setelah menelaah apa yang terjadi dan menemukan manajemen konflik ala saya:

1. Sadarilah, jika berhubungan dengan orang lain, konflik bisa terjadi sewaktu-waktu.
2. Kita tak selalu bisa bicara baik-baik dengan teman konflik kita. Maka sabar menjadi kuncinya. Sabar menanti emosi mereda, dan sabar menerima limpahan emosinya.
3. Hindari situasi yang memicu perdebatan.
4. Tetap tenang, jangan membela diri, jangan pula menjelaskan apa yang terjadi dari sisimu. Kamu akan seperti berbicara dengan tembok (yang mungkin bisa menonjok).
5. Tenangkan diri dengan menghindarinya beberapa lama. Menjauh tak selalu jadi solusi, namun stidaknya jadi solusi.
6. Jangan ikut-ikutan marah, karena situasi akan sulit terkendali.
7. Cobalah menjadi dirinya, dan coba pahami.
8. Di beberapa situasi, abaikan dia dulu, jauhi dulu.
9. Bersiaplah menghadapi situasi atau perubahan emosi tak terduga.
10. Fokus pada hal positif yang bisa dipetik dari konflik
11. Bicarakan dengan pihak ketiga, tapi jangan pasangan. Cari pihak netral yang bisa membantu.
12. Tetapkan batasan toleransi.
13. Bersiaplah berhenti jika tiba saatnya. Ikhlaskan. Mungkin itu yang terbaik bagi semua.
14. Kembali ke angka satu lagi jika layak diperjuangkan.


Ah.. andai saya menunggu sampai batas maksimal sebelum memutuskan berhenti... Yah, tentu saja ada rasa sesal di hati melihat perkembangan saat ini. Tetapi biarlah... saya belum siap mengulang dari angka satu lagi. Fokus saya saat ini adalah masalah keluarga kecil saya yang tak hendak saya buka di sini. Yang jelas, saya akan salut sekali jika teman-teman gigih mencoba empat belas managemen konflik ala saya di atas. Bagaimana dengan saya? Saya pegang kalimat sakti di bawah ini:

Yakinlah, Tak Ada Kebaikan yang Terbuang Percuma

Dan

Bukanlah kesabaran jika masih memiliki batas. Bukanlah keikhlasan jika masih merasa sakit.


Apakah saya sabar dan ikhlas? Silakan simpulkan sendiri ya.... Yang jelas saya tidak hendak membenarkan diri sendiri. Tetapi tentu saja kembali ke penerimaan pembaca. Bagi saya itu adalah pengorbanan kecil. Saya mundur, tidak akan menggoyahkan teman-teman. Saya bertahan, mungkin suasana semakin panas dan terpecah belah. Mundur adalah kebaikan kecil yang bisa saya berikan bagi teman-teman, yang sayangnya ternyata tidak baik di mata mereka. Untuk itu, saya meminta maaf. 

Satu hal yang pasti, saya yakin, tak ada kebaikan yang terbuang percuma. Saya menjadi lebih fokus pada keluarga dan lebih banyak di rumah. Teman-teman juga menjadi lebih bersatu, karena saya yakin, ada pelajaran tersendiri mengapa sampai ada anggota yang mengundurkan diri. Yang terpenting saya tetap membantu sebisa saya, meski tak lagi menjadi panitia. Meski sampai sekarang curiga dan bara masih terasa.

Maaf juga jika saya menjabarkan di sini. Ini bukan pembenaran. Ini adalah tulisan kecil untuk meramaikan giveaway teman baik saya di Semarang/Pekalongan. Ini adalah sebuah pembelajaran, bahwa tak semua yang baik berakhir baik.  Yuk, cerita tentang “Kebaikan Tak Selalu Baik di Mata Orang Lain” 

PS: Semua foto dari pixabay - situs foto gratis kualitas profesional
Share:

29 comments:

  1. Naaaa nyindir aku....
    perasaaaaa
    peras sajaaa
    perang yuk

    managemennya boleh juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kau si kenapa perasa nian? Hih... pulang dari muncak kok sensi di sini. Capek yo? Sinio tak pijitin

      Delete
  2. Hwaaaa....
    Cucok banget ceritanya.
    Aku kesindir dikit *perasa* :D :D

    Kalo aku pernah keluar masuk grup gitu karena merasa ga sinkron antara kegiatan di grup dan di dunia nyata. Meski awalnya ragu tapi akhirnya bisa keluar tanpa masuk lagi hingga sekarang. Bedanya sih aku ga pernah bertatap muka dengan mereka, jadi lebih mudah buat move on (haish, kaya pacaran aja).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ulya kalau merasa tersindir berarti sangat perasa sampai cenderung mengada-ada. Hahahaha.... ups..
      Ini bahan renungan untuk hajat lomba menulis di blog teman.

      Delete
  3. Ya mapun jiah dimana2 jadi perasa makanan :) wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiah kan memang selalu jiah. Jadi perasa di mana2 agar gurih dan cokotable. Hahahahaha

      Delete
  4. Menahan untuk tidak membela diri itu yang sulit, Mbak. Kadang kita terlalu menggebu untuk menceritakan yang sebenarnya walaupun (mungkin adakalanya kita berada pada posisi yang salah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak. Pembelaan diri sering tiada guna.

      Delete
  5. dlm berkelompok atau berkomunitas memang wajar ya mba ada friksi, karena memang ada berbagai macam kepala di dalamnya. Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala tiap org berbeda. Semoga semuanya akan kembali membaik ya mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali Mbak. Resiko berkomunitas itu. Makanya saya menyebut mundurnya saya demi kebaikan bersama

      Delete
  6. turut sedih mendengarnya Mba Susi :(
    semoga kesalahpahaman ini segera berakhir dan hubungannya membaik kembali, amin..

    ReplyDelete
  7. mbaaa susiiii... I love youuuu :*

    Thanks ;)

    ReplyDelete
  8. Bagaimana kelanjutan hubungan persahabatan dengan si Na, Mbak? Eman-eman banget ya, persahabatan yang terbangun lama akhirnya retak hanya karena kesalahpahaman kecil.
    Semoga hubungannya kembali membaik, ya, Mbak.. Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... itulah harapan saya Mas. persahabatan lebih berharga.

      Delete
  9. baru mau komen eh.. jiah dah komen di awal... hahaha.. padahal tadinya mau nanya, satu group ama Jiah juga nggak tuh orang? hehehehe.... (komen apa aku ini?)

    ReplyDelete
  10. Wow amazing banget tulisannya, bisa menjadi pembelajaran bersama. Smga yg tersisa hanya aura positif untuk mulai persahabatan baru antara kamu dan Na. Dan kata saya menjadi aku anda menjadi kamu

    ReplyDelete
  11. Saya yakin, tak ada kebaikan yang terbuang percuma. Kebaikan itu seperti air hujan, yang selalu turun dari langit, membasahi bumi, memberi kesegaran udara, mengalir sampai jauh, mengalir sampai laut, lalu kembali ke langit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah meneruskan jadi kalimat indah.

      Delete
  12. Terharu baca kisahnya. Sangat disayangkan hanya karena hal sepele sebenernya tapi sampe bisa merenggangkan tali persahabatan. Cuma bener sih, Mbak, tidak ada kebaikan yang terbuang percuma. Sekecil apapun kebaikan tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas. Bisa jadi pelajaran bagi saya dan teman-teman.

      Delete
  13. Bukanlah kesabaran jika masih memiliki batas ... Yey! Suka Quote yang ini!!!

    ReplyDelete
  14. Amat sangat setuju, lupakan kebaikan apapun yang telah kita lakukan. Krn tak ada yg percuma di setiap kebaikan.

    ReplyDelete
  15. Mbak Susi, semoga mbak Susi dengan Na sudah bisa baik kembali hubungannya yaa, mesti pun sudah tidak satu keorganisasian.

    Bw..bw.. :)

    ReplyDelete
  16. Benar Mam, tidak ada kebaikan yang sia-sia.. Dan sabar itu, batasnya sampai samudera surut. :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra