Menikmati Sore di Masjid Agung Bandung

Sudah lama sekali saya penasaran dengan Masjid Agung Bandung. Sejak pemberitaan awal mengenai keunikan dan keistimewaannya di TV. Saya ingin, suatu hari, bisa menikmati sore di Masjid Agung Bandung. Alhamdulillah. Berkah Allah tiada tara, ketika lagi-lagi kerentek hati saya diijabah. Saat Evi menawari saya menginap ke Bandung pasca Munas Warung Blogger, saya mendapatkan “Yes moment!”. Apalagi saat izin diberikan suami. Alhamdulillah, akhirnya Bandung menjadi tambahan destinasi wisata yang pernah saya kunjungi sebagai bloger. 
Kenangan di alun-alun dan Masjid Agung Bandung bulan kemarin


Tanggal 11 Februari lalu, Warung Blogger mengadakan Munas WB #untukWByanglebihbaik atau Musyawarah Besar Warung Blogger. Pasti tahu kan, komunitas yang satu ini? Yup, komunitas blogger yang sudah tua di Indonesia tetapi tetap bertahan dengan konsep aslinya, yaitu media cangkrukan warganya. Sekarang Warung Blogger sudah seperti baru lagi. Konsep lama dipertahankan, konsep terkini ditambahkan. Nah, pasca Munas WB ini, saya bertolak ke Bandung pada tanggal 12 Februari, di kala senja menyapa. Sampai Stasiun Bandung pada jam 9 malam. 

Singkat cerita, saya tinggal beberapa hari di Bandung. Di rumahnya Evi yang penuh buku! Saya seperti dilempar ke surganya kutu buku saat melihat koleksi bukunya. Terutama koleksi buku sejarah. Saya langsung berdoa semoga bisa membeli buku-buku sejarah juga. Saya membayangkan di kamar saya ada satu rak yang isinya buku sejarah semua. Oh la.. la…

Stok buku melipmah ini pula yang membuat saya enggan keluar rumah. Kayaknya, Bandung menjadi kurang menarik lagi, karena ada subyek yang membuat saya betah. Syukurlah saya cukup waras untuk berlaku sebagai tamu, yaitu mengizinkan pemilik rumah menjamu saya dengan wisata yang paling dekat, menarik perhatian saya, dan yang jelas, tak seberapa lama. Karena otak saya sudah teralihkan pada buku sejarah kopi, sejarah pendidikan wanita di Bandung, dan sejarah kota lama. Satu buku, yaitu Suma Oriental sudah saya lalap pada malam pertama sampai di Bandung. Hanya di bagian yang berhubungan dengan sejarah Jawa dan Japara saja. Saya tidur jam 2 dini hari dengan pikiran penuh sejarah. Siang ini, ah ya, saya baru ngeuh kalau belum menuliskan apapun tentang perjalanan ke sini. 


Masjid Agung Bandung adalah masjid Propinsi Jawa Barat. Tak heran jika sangat megah dan indah. Lokasinya juga strategis sekali, yaitu di alun-alun kota Bandung. Dan pengunjung hariannya sangat banyak! Sangat jepretable. Nuansa Arabnya terasa kental. Bangunan masjid seluas 8.575 meter persegi mendeskripsikan sendiri seberapa megahnya. Apalagi arsitektur dan ornamen masjidnya bisa membuat pelancong seperti saya berdecak kagum. Psst.. masjid ini bisa menampung 13000 jamaah. Wow! Kabarnya, dua menara setinggi 81 meter di sana, dibuka untuk umum pada hari Sabtu dan Minggu. Saya pakai kata kabarnya, karena memang belum mencoba sendiri dan hanya membaca sekilas dari Wikipedia Sejarah Masjid Agung Bandung.
Bicara sejarah, masjid ini rupanya dibangun pada tahun 1812. Renovasi beberapa kali dilakukan, menyesuaikan zaman dan jumlah jamaah pastinya. Perombakan paling akbar mungkin terjadi di tahun 2001-2003 lalu, sehingga jadi masjid yang kita ketahui saat ini. Sangat arabic, ya. Padahal aslinya sangat sunda. 


Saya sempat mengintip-intip bentuk Masjid Agung Bandung pada abad XIX. Bentuknya masih berupa tajug dengan atap bertingkat 3. Sebuah kolam terdapat di depannya. Hmm… mau tak mau saya membayangkan pola masjid pada abad XV-XVII yang juga sering ditambahi kolam. Entah apa kaitannya dengan budaya candi dan atau kebiasaan bangsawan zaman dahulu yang suka memelihara kura-kura di kolam istana. Saya tak mau berspekulasi. Tapi tipe semacam ini menjadi begitu mudah ditemui jika mencari sejarah masjid lama. Tapi saya yakin, kok, kalau masjid Agung Bandung ini tak ada unsur candinya. Karena zaman pembuatannya sudah jauh selisih tahunnya. 

Agaknya, sampai pertengahan medio abad ke XX, bentuk atap masjid masih limasan. Tahun 1930 baru dilakukan perombakan besar di bagian atap dan penambahan dua menara. Tahun itu adalah tahun giat-giatnya merombak struktur bangunan masjid. Mungkin salah satu maksudnya agar lebih indah, ya. Wallahu a'lam bishawab. Karena bicara masjid, saya tak boleh banyak berspekulasi teori. Yang jelas, pada tahun 1927 -1929 pula, masjid Mantingan dirombak sampai bentuknya menjadi sekarang. Juga beberapa masjid lainnya . Daftarnya cukup banyak. 

Yah.. begitulah saya sekarang. Tiba-tiba selalu mencari sejarahnya. Harap dimaklumi, karena mainan baru. Huhuhu… 

Balik ke sore yang indah di Masjid Agung Bandung, antara saya dan duo kembarnya TwiVers atau Twins Universe. TwiVers adalah komunitas bagi anak kembar dan siapa pun yg tertarik dengan anak kembar. Berdiri sebagai grup support dan wadah berkarya. Kepoin saja blognya www.twivers.com. Saya anggota tidak resmi meskipun kembar. Hihihi....

Bersama Eva dan Evi TwiVers. Eva yang berhijab
Eva dan Evi ini sungguh kompak. Dan mereka berdua sangat memanjakan saya. Kami menelusuri masjid dan sekitarnya. Berhenti sejenak untuk foto-foto. Demi kenangan. Dan terbukalah kembali rahasia saya yang agak sulit diajak foto cantik. Lokasi foto diambil di alun-alun Bandung, dengan masjid sebagai background. Juga sebuah tulisan Bandung yang iconic

Rumput sintetisnya membuat alun-alun Bandung selalu cantik. Tak rusak saat banyak orang yang bermain-main di sana. Juga tidak membuat kotor baju ketika anak-anak bermain bola. Saya tidak tahu jika di sini menyediakan fasilitas arena bermain anak, perpustakaan, dan WiFi. Baru tahu ketika persiapan pulang dan kopdar dengan MakYul yang melegenda seantero PojokWB dengan panggilan Baginda. 


Dari Bandung, kami makan mi kocok yang lezat di dekat situ dan meneruskan jalan-jalan di sekitar jalan KAA serta Braga. Agaknya saya perlu membuat banyak tulisan tentang perjalanan ke Bandung dulu untuk merekonstruksi sejarah Blog Susindra. 

Sampai jumpa di tulisan yang lain ya. Semoga posting tentang Masjid Agung Bandung ini menginspirasimu. Aamiin.

Share:

2 comments:

  1. Terakhir ke sini tahun 2014. Itupun ketemu mantan *eh keceplosan hahahhahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkekekek.... Mantanmu pasti menyesal Mas

      Delete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)

Sahabat Susindra